Biografi Singkat Muhammad Iqbal : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Muhammad Iqbal : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran


Biografi Singkat Muhammad Iqbal | Profil Muhammad Iqbal | Pendidikan Muhammad Iqbal | Karya Muhammad Iqbal | Pemikiran Muhammad Iqbal | Wislahcom | Referensi |

Profil Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab. Mengenai tahun kelahirannya terdapat perbedaan pendapat, pertama pendapat yang didukung oleh Miss Luce-Claude Maitre, Osman Raliby dan Bahrum Rangkuti yang mengatakan bahwa Iqbal lahir pada tanggal 22 Februari 1873, sementara pendapat yang kedua dikemukakan W.C Smith yang mengatakan bahwa Iqbal lahir pada tahun 1876. Sedangkan J. Mark dari Universitas Praha mengatakan bahwa Iqbal lahir pada tanggal 9 November 1876.

Sedangkan dalam buku yang berisi tentang Seminar Pemikiran Islam yang ber-tema “Iqbal dan Pembentukan Semula Identiti Muslim” or Iqbal and The Revivification Of The Muslim Identity, tertulis bahwa Iqbal lahir pada 9 November 1877 di Punjab.



Muhammad Nur, orang tua Iqbal, ia adalah seorang pegawai negeri, tetapi berhenti dan beralih profesi sebagai pedagang. Dia adalah seorang yang saleh dan memiliki kecendrungan yang kuat pada mistik dari Punjab Iqbal pindah ke Lahore, salah satu kota besar di India. Di kota ini Iqbal masuk Government College untuk meneruskan studinya. Pada tahun 1897 dia berhasil meraih gelar Bachelor of Art dan diberi kesempatan untuk meneruskannya ke program Master di Universitas yang sama. Di sinilah Iqbal berkenalan dengan Sir Thomas Arnold, dosennya pada mata kuliah filsafat Islam.Dari dialah Iqbal banyak mengetahui bentuk dan seluk beluk filsafat Barat.

Setelah ia berhasil memperoleh gelar B.A. pada tahun 1897, ia masih berkeinginan untuk melanjutkan studinya ketingkat yang lebih tinggi. Akhirnya meraih gelar M.A dalam Filsafat pada tahun 1899. Setelah Iqbal menyelesaikan studinya di Government College Lahore, ia di angkat menjadi staf dosen di perguruan tinggi pemerintah (Government College) menjadi pengajar di bidang ilmu sejarah dan filsafat di samping bahasa Inggris.

Karena keluasan wawasan ilmu pengetahuan, keluhuran moral serta pandangannya, menjadikan ia sangat terkenal dan di pandang sebagai seorang pengajar yang berbakat. Keinginan Iqbal untuk menanamkan nilai-nilai kebudayaan Islam dengan menggunakan persajakan justru sebagai alat penjelma semata. Iqbal memang penyair yang hendak menggabungkan suatu pesan, dia telah mempelajari rahasia kehidupan dan inginlah dia menyampaikan rahasia ini kepada umat Islam.



Pada tahun 1905 atas anjuran nasehat dan dorongan T.W Arnold seorang orientalis yang berkebangsaan Inggris yang merupakan salah satu guru Iqbal di Goverent College, akhirnya dapat mempangaruhi Iqbal untuk dapat melanjutkan studi pada Universitas Cambridge London. Dari dia juga Iqbal memperoleh prinsip dan teknik penelitian modern serta kritik Barat terhadap disiplin pengetahuan kuno. Dari Mir Hassan, Iqbal mengenal nilai- nilai tinggi dalam dunia Timur, dan dari Sir Thomas Arnold, dia mengenal nilai-nilai kultural dan filsafat Barat. Setelah itu, Iqbal mengajar bahasa Arab di Universitas Oriental College, Lahore, menjadi assisten professor bahasa Inggris tidak tetap di Islamic College dan Government College di Lahore.

Dalam salah satu pidatonya, Iqbal pernah mengingatkan bahwa persatuan India, sulit untuk dicapai kecuali dengan adanya pengakuan dari suatu kelompok lain serta adanya kerja sama. Dalam pada itu, Iqbal menolak pendapat renan yang mendasarkan terbentuknya suatu bangsa tidak di bentuk oleh kelompok-kelompok atau tanah air, namun oleh perasaan yang menyatukan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Tahun 1931-1932, Iqbal ikut dalam Konfrensi Meja Bundar di London membahas konstitusi baru bagi India. Pada tahun berikutnya ia mengikuti Konfrensi Meja Bundar ketiga kalinya di London. Waktu ia kembali lewat Spanyol untuk menyaksikan peninggalan-peninggalan kaum Muslimin di Negara tersebut. Semasa inilah puisi-puisi dan sajak-sajaknya digubahnya dan diterbitkan dalam Bal-I Jibril, salah satu karyanya yang terkenal.



Pada tahun 1935, isterinya meninggal dunia. Hal ini membuat Iqbal lemah dan sedih berkepanjangan, padahal Pakistan masih membutuhkan karya-karyanya. Berbagai penyakit menyerang tubuhnyanamun ia tetap gigih dalam berkarya, mengubah sajak-sajaknya dan terus menerus menuliskan karya-karyanya tak pernah kenal kata lelah. Pada tahun 1938, sakitnya semakin parah dan ia merasa ajalnya semakin dekat, ia tetap mampu memberikan pesan kepada sahabat-sahabatnya:

Ku katakan kepadamu tanda seorang mukmin

Bila maut datang, akan merekah senyum di bibir

Melodi selamat tinggal akan menggema atau tidak

Nafiri akan berbunyi dari Hejaz atau tidak

Hari faqir ini telah sampai pada batasannya Pujangga yang lain akan datang atau tidak!”

Akhirnya ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 M tahun dan 63 H Iqbal meninggal dunia

Pendidikan Muhammad Iqbal

Ketika Iqbal tumbuh, India sedang terkoyak-koyak oleh Kasta, oleh pertentangan Muslim-Hindu, yang dipertajam dengan munculnya Arya Samay yang mewakili ekstrimis Hindu, juga terbaginya loyalitas di antara Muslim dan Hindu dari budaya lama ke budaya baru. Perlawanan India terhadap imperialis Inggris masih terus berjalan, lahirnya Muslim modern di satu sisi, dan hilangnya kekuatan, keagungan, kekayaan dan gairah hidup di sisi lain, pada waktu itu, turut membentuk dan mewarnai diri Iqbal muda.

Iqbal sudah menunjukkan keistimewaan sebagai pelajar dan penyair sebelum pergi ke Lahore, pada 1895, untuk belajar di College Pemerintah (Government College). Di sana ia belajar kebudayaan Islam dan kesusasteraan literatur Arab dari seorang orientalis terkemuka, Sir Thomas Arnold. Pada pergantian abad ia memperoleh gelar master dalam filsafat dan mulai memberi kuliah Filsafat dan bahasa Inggris di tempat ia kuliah sekaligus menulis puisi bergaya tradisional tentang alam dan cinta dalam lirik khas Urdu.

Tulisan-tulisannya mencerminkan pertumbuhannya sebagai seorang Muslim, studinya tentang kebudayan Islam, minatnya terhadap tasawuf melalui ayahnya, ketertarikannya terhadap kebangkitan Islam masa itu (Sayid Akhmad Khan dan Jamaluddin al-Afghani) dan komitmennya pada nasionalisme India berdasarkan solidaritas Muslim-Hindu.

Atas saran gurunya, Sir Thomas Arnold, Iqbal melanjutkan studi ke luar negeri. Di Inggris, melalui Trinity College Universitas Cambridge Iqbal di bawah bimbingan Prof. Mc. Taggart memperoleh materi tentang Hegel, Kant, dan kepercayaan tentang pribadi yang abadi. Sedangkan dari James Ward, Iqbal menerima materi doktrin pluralisme spiritual. Kedua guru Iqbal juga memberikan materi mengenai empirisme Inggris, rasionalisme Jerman, Spinoza Belanda, doktirn Nietzsche dan Marxis, romanticism, lembaga dan ideologi politik Eropa, serta konsep-konsep dan tradisi hukumnya.

Dari universitas ini Iqbal memperoleh gelar di bidang filsafat moral. Selama di Cambridge, Iqbal aktif dalam pertemuan dengan masyarakat Muslim termasuk Muslim India yang berada di Inggris. Ia mengajukan ide tentang perubahan kongres di India menjadi Pan-Islam. Secara intens ia menemui para ilmuan dan mengadakan berbagai diskursus tentang persoalnpersoalan ilmu pengetahuan dan filsafat, dan terus menimba ilmu dalam aneka macam ilmu di perspustakan-perpustakaan Cambridge, London dan Berlin.

Ia menyampaikan kuliah tentang Islam berkenaan dengan tasawuf, pengaruh Islam terhadap peradaban Eropa, demokrasi Islam dan intelek manusia. Iqbal melanjutkan studi ke Jerman di universitas Munich untuk meyelesaikan gelar doktornya di bidang filsafat. Disertasi Iqbal dengan judul The Development of Metaphysic in Persia selesai pada 4 November 1907 di bawah bimbingan F. Homel. Ini merupakan karya filsafat di mana kemampuan Iqbal dalam meneliti dan keluasannya dalam bidang filsafat diakui orang untuk pertama kalinya. Iqbal kembali lagi ke London untuk mempelajari hukum dan lulus keadvokatan. Untuk beberapa lama ia juga masuk di School of Political Sciences.

Hasil perjalanan intelektualnya di dunia Barat mendorong Iqbal untuk merumuskan kembali pemikiran-pemikirannya yang ia sumbangkan kepada umat Islam, khususnya di India Pakistan. Setidaknya, ada tiga hal yang mendorongnya untuk berbuat demikian. Pertama, vitalitas yang luar biasa dan aktivitas kehidupan orang Barat. Kedua, ia memperoleh visi tentang banyak hal yang belum diimpikan oleh dunia Timur, tetapi sudah dikerjakan oleh Barat.

Sebenarnya, potensi dunia Timur cukup memungkinkan untuk itu, bahkan bisa lebih dari itu. Ketiga, kehidupan orang Eropa yang individualistik dan materialistik sering memunculkan kompetisi yang keras tanpa mengenal nilai-nilai etika dan moral, membuat Iqbal mengkritik Barat. Baginya, banyak hal yang positif dari Eropa, tetapi Eropa bukanlah contoh yang baik. Dalam beberapa hal, Eropa memang baik, tetapi Islam mengajarkan lebih baik.

Menjelang kembali dari Eropa, Iqbal menulis sajak-sajak yang membuka zaman baru seperti Syikwa dan Jawab Syikwa (Keluhan dan Jawaban terhadap Keluhan) yang menjadi saksi tentang perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ia merumuskan risalahnya untuk pertama kali dalam Asrar-i Khudi (Rahasia Pribadi), memberikan gambaran tentang tema pusat filsafat Iqbal tentang individualitas. Rumusi Bekhudi (Misteri Peniadaan Diri) membicarakan tentang kebangkitan kembali setiap individu dalam masyarakat Islam yang sejati. Bangi Dara (Panggilan Lonceng), sebuah kumpulan sajak dalam bahasa Urdu, Thought and Reflection of Iqbal yang diedit oleh S.A. Vahid mengungkapkan konsep Iqbal tentang negara Islam dan masih banyak lagi. Karya filsafat Iqbal yang terpenting dan cukup terkenal adalah The Reconsruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam).

Karya Muhammad Iqbal

Karya Iqbal cukup banyak dan bervariasi. Ada karyanya yang berbentuk prosa, puisi, surat-surat jawaban pada orang lain yang mengkritiknya atas berbagai konsep, dan pengantar atas karya orang lain. Bahasa yang digunakan Iqbal dlam mengekspresikan gagasangagasannya pun bervariasi pula, seperti: bahasa Arab, bahasa Urdu, bahasa Persi, dan bahasa Inggris. Berikut merupakan rincian karya-karya Iqbal :

  1. The Development of Metaphysic in Persia adalah karya disertasinya yang terbit pada tahun 1908 di London. Isi pokok buku itu adalah deskripsi mengenai sejarah pemikiran keagamaan di Persia sejak Zoroaster hingga sufisme Mulla Hadi dan Sabzawar yang hidup pada abad ke-18. Pemikiran keagamaan sejak yang paling kuno di Persia hingga yang terakhir merupakan kesinambungan pemikiran Islamis, bagian kedua menjelaskan kebudayaan Barat dan berbagai manifestasinya, dan bagian ketiga menjelaskan munculnya Islam hingga peran Turki dalam Perang Dunia Pertama dan kemenangan Turki dalam perang kemerdekaan dari tekanan-tekanan Barat. Artinya, pemikiran keagamaan Mulla Hadi dan Sabzawar mempunyai akar Zoroasterianisme.
  2. Asrar-i Al-Khud diterbitkan oleh pengarangnya pada tahun 1915). Buku ekspresi puisi yang menggunakan bahasa Persia ini menjelaskan bagaimana seseorang dapat mencapai predikat insan kamil. Dalam buku ini Iqbal menekankan pentingnya ego dan penegasan dirinya. Dia percaya bahwa moralitas individu dan bangsa sangat ditentukan oleh jawaban yang diberikan atas pertanyaan: “Apakah sebenarnya hakikat ego itu?”. Penekanan ini dimaksudkan sebagian untuk menyeimbangkan satu kecenderungan tertentu dalam pemikiran dan spiritualitas Timur yang menekankan sudut pandang kesatuan, yang memandang kemaujudan diri seseorang hanya sebuah bayangan menyesatkan
  3. Rumuz-i Bikhudi (Secrets of Non-Ego) diterbitkan oleh pengarangnta pada tahun 1918 di Lahore (Iqbal, 1993: 18). Bahasa Persia sebagai pengantar buku tersebut. Buku ini merupakan kelanjutan pemikiran mengenai insan kamil. Insan kamil harus bekerja sama dengan pribadi-probadi lain untuk mewujudkan kerajaan Tuhan di bumi. Jika insan kamil hidup menyendiri, tenaganya suatu waktu akan sirna. Arti leksikal Rumuz-i Bikhudi adalah peniadaan diri.
  4. Payam-i Masyriq (pesan dari Timur) menggunakan pengantar bahasa Persia. Buku ini terbit pada tahun 1923 di Lahore Tema pokok buku ini adalah menjelaskan cara berfikir Timur dalam hal ini Islam, dan kekeliruan cara berfikir Barat.
  5. Bang-in Dara terbit di Lahore pada tahun 1924. Bahasa yang digunakan dalam buku ini adalah bahasa Urdu. Arti harfiah judul buku ini adalah Genta Lonceng. Secara keseluruhan buku ini dibagi tiga bagian. Bagian pertama buku ini bertemakan nasionalistik dan patriotik yang bercorak humanis.
  6. Zaboor-i ‘Ajam (Taman Rahasia Baru) terbit di Lahore pada tahun 1927. Bahasa pengantarnya adalah Persia. Tema sentral buku ini antara lain mengenai konsep makrifat. Pengang buku ini sinis terhadap konsep makrifat sufisme klasik. Buku ini diakhiri uraian mengenai perbudakan.
  7. Tulisan Iqbal terbesar dalam bidang filsafat dan berbentuk prosa adalah The Reconstruction of Thought in Islam. Buku ini terbit di Londodn pada tahun 1934. Ada tujuh bagian dalam buku ini, yaitu: (1) pengalaman dan pengetahuan keagamaan, (2) pembuktian secara filosofis mengenai pengalaman keagamaan, (3) konsepsi tentang Tuhan dan sembahyang, (4) tentang ego-insani, kemerdekaan, dan keabadiannya (5) jiwa dan kebudayaan Islam, (6) prinsip gerakan dalam struktur Islam, dan (7) bahwa agama bukan sekedar mungkin, tetapi pasti ada kritik terhadap Hegel, filusuf besar idealisme Jerman.
  8. Javid Nama tertulis dalam bahasa Persia, terbit pada tahun 1932 di Lahore. Buku ini menjelaskan tentang pertualangan rohani ke berbagai planet. Pengarang buku ini mengadakan dialog dengan para pemikir, sufi, fiolosof, politikus, maupun pahlawan. Bagian akhirbuku ini berisi pesan kepada anaknya, Javid Nama dan generasi baru.
  9. Pasche Bayad Kard Aye Aqwam-i Sarq mengandung arti leksikal „apakah yang kau lakukan wahai rakyat timur? buku ini terbit di Lahore pada tahun 1936. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Persia. Untaian syair-syair dalam buku ini menjelaskan tentang perang di Ethiopia, Liga bangsa-bangsa, pesan matahari, kebijakan Musa, kebijakan Firaun, tak ada Tuhan selain Allah, kemiskinan, tokohtokoh bebas, rahasia-rahasia syariat, dan nasehat untuk bangsa Arab.
  10. Musafir tertulis dalam bahasa Persia. Buku ini terbit di Lahore pada tahun 1936. Inspirasi penulisan buku ini didapat oleh pengarang ketika mengadakan perjalanan ke Turki dan Afganistan. Di dalam buku ini, pengarang menggambarkan pengalamannya ketika mengunjungi makam Sultan Mahmud al-Gaznawi Yamin al-Dawlat, Sinai perintis penyair tasawuf berbahasa Persia, Amin al-Dawlat putera Subuktikin, dan Ahmad Syahbaba yang bergelar Durani. Buku ini juga mengandung pesan kepada Sultan Nadir Syah dan anaknya Zahir Syah, maupun kepada suku-suku bangsa Afganistan mengenai bagaimana baiknya menjalani hidup berbangsa , bernegara, dan beragama.
  11. Bal-i Jibril (Sayap Jibril) tertulis dalam bahasa Urdu. Buku ini terbit pada tahun 1938 di Lahore. Tema-tema buku ini antara lain: doa di Masjid Kordofa, M‟tamid Ibn „Ibad dalam penjara, pohon kurma yang pertama yang ditanam oleh Abd al-Rahman al-Dakhl di Andalusia, Spanyol, doa Thariq bin Ziyad, ucapan selamat malaikat kepada Adam ketika orang ini ke luar surga, dan di makam Napoleon Bonaparte maupun Musolini.
  12. Zarb-i Kalim (Pukulan Nabi Musa) terbit dalam bahasa Urdu di Lahore pada tahun 1937. Pengarang menggambarkan tentang: Islam, wanita, politik, dan seni rupa.
  13. Ar-Maghan-i Hijaz (Hadiah dari Hijaz) terbit dalam bahasa Urdu pada tahun 1937 di Lahore. Sebagian di antaranya berbahasa Persia, yaitu bertema: kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada umat manusia, dan kepada teman seperjalanan. Bagian bahasa Urdu berisi tentang majelis permusyawaratan Iblis dan dialog iblis dengan para pendukungnya. Isi dialog iblis adalah kekhawatiran munculnya kebangkitan Islam. Pengarang memaksudkan iblis dan para pendukungnya adalah paham demokrasi ala Barat dan Komunisme.
  14. Koleksi-koleksi syair yang tidak diterbitkan oleh pengarangnya sendiri, kemudian koleksi-koleksi tersebut diterbitkan orang lain. Karya Iqbal dalam bentuk ini antara lain :
    1. Kulliyat-i Iqbal. Abdurrazaq Heyderabati adalah orang yang mempublikasikan karya itu tanpa seizin Iqbal. Karya itu terbit pada tahun 1923.
    2. Baqiyat-i Iqbal diterbitkan oleh nawa-i Waqt pada tahun 1954 di Lahore.
    3. Rakh-i Safar diterbitkan oleh Haris Anwar pada tahun 1952.
    4. Sette Poisi Ine dite de Muhammad Iqbal. Karya ini diterbitkan oleh Bausani pada tahun 1953.
    5. Islahat-i Iqbal: Iqbal ke Bazi Nazmun ke Ibtida‟imen terbit pada tahun 1953 di Lahore. Tabarrukat-i Iqbal terbit pada tahun 1959. Ketiganya diterbitkan oleh Muhammad Bashir al-Haq Dinsawi.
    6. There Poems of Iqbal diterbitkan oleh Indonesian Culture pada tahun 1954.
    7. Suraui Rafta’ diterbitkan oleh Ghulam Rasul Mehr dan Shadiq Ali Dilawari di Karachi (tanpa ada keterangan tahun penerbitan).
    8. Akhbari Iqbal diterbitkan oleh K. Hassan Nizami pada tahun 1918 di Lahore.
  15. Karya Iqbal dalam bentuk artikel atau sambutan kata pengantar terhadap karya-karya orang lain. Karya Iqbal semacam ini di antaranya :
    1. Doctrine of Absolute Unity as Explained karya Abdul Karim alJaylani, tulisan ini ia terbitkan pada tahun 1900.
    2. Ilm-i Iqtishad (ilmu ekonomi) ditulisnya pada tahun 1961.
    3. Islam and Khilafat diterbitkan dalam majalah Sociological Review di London pada tahun 1908.
    4. Urdu Zaban Panjab men diterbitkan dalam majalah Mahzan edisi Oktober 1902 dan dimuat juga dalam Madamin-i Iqbal.
    5. Islam as a Moral and Political Ideal adalah artikel Iqbal yang disampaikan oada Himayat-i Islam (Lembaga dakwah Islam) pada tahun 1910. Artikel itu juga direproduksi dalam bahasa Indonesia oleh PT. Al-Ma‟arif Jakarta.
    6. Ceramah Iqbal di Aligarh pada tahun 1910 disusun kembali oleh Maulana Zafar Ali Khan dengan judul Millat-i Baida per ek‟Umroni Nazar. Tulisan ini dimuat pada Cencus of India pada tahun 1911 volume XIV.
    7. Stray Reflection, a Note Book of Allama Iqbal merupakan himpunan pernyataan-pernyataan Iqbal yang diedit oleh Javid Iqbal (anak Iqbal sendiri).
    8. Political Thought in Islam dimuat dalam majalah Hindustan Review edisi Desember 1910 Januari 1911.
    9. Our Prophet‟s Critism if Contemporary Arabic Poetri dimuat dalam majalah The Bew Era Alahabat pada tahun 1915.
    10. Urdu Coure adalah sebuah artikel yang ditulis Iqbal bersama Hakim Suja‟ pada tahun 1924.
    11. Note on Muslim Democracy adalah artikel yang Iqbal tulis bersama Hakim Suja‟ pada tahun 1916.
    12. Self in the Light Relativity dimuat dalam The Cressent Lahore pada tahun 1925.
    13. Indian Review di Madras pad tahun 1927 memuat artikel Iqbal yang berjudul Inner Syithesis of Life.
    14. Mc. Taggart‟s Philosophy dimuat dalam majalah Muslil Revial edisi September 1932.
    15. On Corporeal Resurrection after Death dimuat dalam Indian Art and Letters, VI.
    16. Iqbal memberikan kata pengantar pada buku Muraqqayi Chuhtay karya M.A. Rahmah Chuhtay.
    17. Iqbal memberikan kata pengantar pada buku A History of Persian Navigation karangan Hadi Hasan.
    18. Iqbal memberikan kata pengantar pada buku Afganistan a Brief Survey karangan Jamaludin Ahmad dan Muhammad Abdul Azizi.
  16. Koleksi-koleksi artikel dan kumpulan surat-surat Iqbal. Bentuk karya yang demikian itu milik orang lain. Karya Iqbal yang semacam ini diantaranya:
    1. Madamin-i Iqbal milik Tasadduq Husein, merupakan kumpulan lima buah artikel Iqbal
    2. Speeches and Statment of Iqbal kumpulan karangan milik Samlo yang diterbitkan pada tahun 1945
    3. Kumpulan surat Iqbal milik Syaikh Muhammad Atta. Kolektor memberikan judul koleksinya itu dengan Iqbal Name.
    4. Maktubat-i Iqbal diedit oleh Nazir Nisai dan diterbitkan di Karachi pada Iqbal Academy. Berisi 182 surat mengenai berbagai subjek seperti penyakit Iqbal dan pengobatannya, dan penerbitan karya-karyanya. (Iqbal, 1992: 167)
    5. Letters of Iqbal to Jinnah berisi ide-ide Iqbal mengenai pembentukan negara Pakistan. Koleksi ini berisi tiga belas surat yang dikirim oleh Iqbal kepada Muhammad Ali Jinnah, antara Mei 1936 sampai November 1937, yang memperlihatkan pandangannya mengenai masa depan politik masyarakat Muslim India.(Iqbal, 1992: 66)
    6. Iqbal Letters to Atiya Begum adalah surat Iqbal kepada sahabat karibnya Atia Begum.
    7. Maktib-i Iqbal milik Muhammad Niyazuddin, merupakan kumpulan surat Iqbal untuknya
    8. Kumpulan surat Iqbal mengenai politik nasional yang dikirimkan kepada Rais Ahmad Jafri diberi judul Our Siyasati Milli. Koleksi ini kemudian diterbitkan oleh Ahmad Jafri pada tahun 1960.
    9. Kumpulan surat Iqbal pada Reinold Alayne Nocholson mengenai penerjemahan Asrar-i Khudi ke dalam bahasa Inggris.
    10. Kumpulan surat Iqbal yang ditujukan kepada Dixon berisi sanggahannya bahwa konsep insan kamilnya menggunakan Uber mens”nya Neitche.
    11. Tiga buah amanar Iqbal yang dibukukan oleh razia Farhat Bano dengan judul Kutubat-i Iqbal terbit di Dehli pada tahun 1946.

Pemikiran  Muhammad Iqbal

Ketuhanan

Ketuhanan merupakan persoalan yang fundamental bagi setiap orang. Sebab permasalahan ketuhanan menjadi tiik acuan seseorang dalam bersikap dan bertindak.

Tentang persoalan ketuhanan menurut Hasyimsyah Nasution, Iqbal mengalami tiga fase:

  1. Fase ini terjadi dari tahun 1901 hingga kira-kira tahun 1908. Pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai mistikus-panteistik. Hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik yang berkembang di wilayah Persia, lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti Ibnu Arabi. Puncak kekaguman itu terlihat jelas dalam disertasi doktoralnya yang berjudul Development of Metaphysic in Persia. Pada tahapan ini Iqbal meyakini bahwa Tuhan merupakan Keindahan Abadi, keberadaan-Nya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului segala sesuatu, bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Dia menyatakan diriNya di langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, di semua tempat dan keadaan. Tuhan sebagai Keindahan Abadi menarik segala sesuatu, seperti magnet menarik besi. Tuhan sekaligus menjadi penyebab gerak dari segala sesuatu. Kekuatan pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas, dan kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, esensi dan ideal segala sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan individu adalah seperti halnya setetes air.
  2. Fase ini terjadi pada tahun 1908 hingga tahun 1920. Pada fase ini Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari Keindahan beserta efisiensinya, serta kausalitas akhirnya. Sebaliknya tumbuh keyakinan akan keabadian cinta, hasrat dan upaya atau gerak. Kondisi ini menurut Hasyimsyah tergambar dalam karya Iqbal yang berjudul Haqiqat-IHusna (Hakikat Keindahan). Pada tahap ini, Iqbal tertarik pada Jalaludin Rumi yang dijadikannya sebagai pembimbing rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi dianggap sebagai Keindahan luar, tetapi sebagai keakuan abadi, sementara keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di samping keesaanNya. Sebab itu, Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan. Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang terindera, tetapi dalam pribadi yang terbatas. Karena itu, usaha mendekatkan diri kepada Tuhan hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada. Sebaliknya, manusia harus menyerap dirinya ke dalam Tuhan, menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya, dan kemungkinan ini tidakterbatas. Dengan menyerap Tuhan ke dalam diri, tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi seper ego, dia naik tingkat menjadi wakil Tuhan. Lebih jauh Syarif menjelaskan bahwa dalam fase ini untuk mendekati Tuhan, tidak perlu dengan merendah-rendahkan diri atau dengan doa, tetapi dengan himmah tenaga yang menggelora menjelmakan sifat-sifat uluhiyyah dan diri.
  3. Fase ini berlangsung dari tahun 1920 sampai 1938. Fase ini merupakan pengembangan dari fase yang kedua di mana fase yang ketiga ini Iqbal mematangkan konsep ketuhanannya. Dalam fase ini, Iqbal berpendapat bahwa Tuhan adalah “Hakikat sebagai suatu keseluruhan”, dan hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual, dalam arti suatu individu dan suatu ego. Tegasnya, Ia adalah ego mutlak, karena dia meliputi segalanya serta tidak ada sesuatu apapun di luar Dia. Dia merupakan sumber segala kehidupan dan sumber dari mana ego-eego bermula, yang menunjang adanya kehidupan itu.

Tuhan sebagai individualitas dan Ego mutlak ia sandarkan pada surat al-Ikhlas sebagai berikut:

“Katakanlah bahwa Allah itu esa. Allah adalah tempat bergantung. Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada suatu pun yang menyamaiNya” (QS. 112:1-4).

Abdul Hakim menjelaskan bahwa dalam surat al-Ikhlas tersebut terkandung sifat yang khas dan unik seperti berada atas pengaruh antagonisme reproduksi. Maksud antagonisme reproduksi dapat dijelaskan sebagai individu yang akan menjadi sempurna bila keadaan organisme itu tak satupun yang terpisah. Reproduksi demikian takkan dapat terjadi, sebab reproduksi harus muncul satu individu baru berasal dari individu yang pertama. Jika reproduksi harus memunculkan individu baru berarti menciptakan lawan bagi individu lama tersebut.

Iqbal juga membantah tentang Tuhan yang dimetaforakan sebagai cahaya yang diberikan oleh Farnell. Iqbal berpendapat bahwa ayat yang dikutip oleh farnell hanya sebagian. Ayat tersebut lebih lengkapnya adalah sebagai berikut:

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah Misykat, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. 24:35.)

Tentang ayat di atas, Iqbal menyatakan bahwa kalimat pembukaan ayat di atas mengesankan adanya usaha menghindari konsepsi tentang Tuhan. Tetapi jika diselidiki arti metafor cahaya pada surat tersebut, akan tampaklah suatu kesan yang sama sekali bertentangan. Metafor itu pada perkembangan selanjutnya artinya lebih dimaksudkan untuk menghindari timbulnya gambaran tentang suatu unsur kosmis yang tak terbentuk, dengan melukiskan cahaya itu sebagai sebuah api, yang kemudian lebih diindividualisasi dengan meletakkannya dalam sebuah gelas yang laksana sebutir bintang berbentuk indah. Lebih jauh Iqbal menjelaskan bahwa ilmu fisika modern menjelaskan bahwa kecepatan cahaya adalah tak terlampaui dan hal ini berlaku sama bagi setiap peninjau walaupun mereka menggunakan sistem penyelidikan gerakan apa pun juga. Dengan demikian, di dunia perubahan, cahaya merupakan pendekatan yang paling mirip dengan Yang Mutlak. Oleh sebab itu metafor cahaya seperti yanng dikenakan pada konsep tentang Tuhan dalam tinjauan pengetahuan modern harus dipakai untuk menyatakan Kemutlakan dan bukan Kemahadiran Tuhan, yang mudah terseret ke arah penafsiran panteistik.

Ego

Ego atau Khudi dalam bahasa urdu merupakan tema yang sentral dalam pemikiran filsafat Iqbal. Seluruh sistem pemikiran Iqbal tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan sebagai ego. Khudi merupakan turunan atau bentuk kecil dari kata Khuda yang berarti Tuhan, sedang Khudi sendiri berarti diri, pribadi atau ego.

Banyak di dalam literatur Urdu maupun Persia yang menyebutkan bahwa istilah Khudi mengandung arti keangkuhan (vanity) serta kemegahan (pemp). Tetapi Iqbal menggunakan istilah tersebut untuk menunjukkan suatu kemandirian, personalitas serta individualitas. Dengan konsep Khudi tersebut, Iqbal hendak menunjukkan bahwa diri atau individual merupakan entitas yang bersifat real dan fundamental yang merupakan dasar serta sentral dari seluruh organisasi kehidupan. Bagi Iqbal, ego tidak dimaksudkan untuk menunjuk individualitas semata, melainkan kehidupan itu sendiri merupakan bentuk real dan kehidupan itu sendiri berada dalam bentuk individu.

Iqbal bersajak dalam Asrar-I Khudi :

Bentuk Kejadian ialah akibat dari Khudi

 Apa saja yang kau lihat ialah rahasia Khudi

 Dijelmakannya alam cita dan pikiran murni

 Ratusan alam terlingkup dalam intisarinya

 Iqbal mengatakan bahwa Tuhan merupakan Ego mutlak atau Ego tertinggi (Ultimate-Ego), dan dari Ego tertinggi itulah ego-ego bermula. Alam semesta beserta seluruh isinnya, sejak dari gerakan mekanik dari apa yang dinamakan sebagai atom materi sampai kepada gerakan pikiran bebas dalam ego manusia merupakan penjelmaan diri (self-revelation) dari Ego tertinggi. Setiap atom tenaga Ilahiat, betapa kecil pun adalah skala wujud (scale of existance) merupakan suatu ego.41 Bagi Iqbal, ego seperti tangga nada yang memiliki berbagai tingkatan. Semakin ke atas, maka ego akan mendekati kesempurnaan.

Menurut Iqbal, realitas yang ada merujuk pada wujud Tuhan, manusia dan alam, tetapi realitas yang ada dan sebenarnya adalah wujud dari realitas absolut, wujud absolut atau ego mutlak. Dengan demikian, realitas absolut, wujud absolut atau ego mutlak merupakan realitas yang eksistensi wujudnya pasti ada dan mustahil tidak ada. Sesungguhnya, realitas absolut atau ego mutlak merupakan keseluruhan dari hakikat dan realitas. Realitas absolut, ego tertinggi atau ego mutlak juga terkandung di dalamnya ego-ego terbatas dalam wujudnya tanpa menghapus eksistensi ego-ego terbatas.

Karakteristik ego yang membedakan dari ego yang lain adalah kesendiriannya yang esensial, di sinilah letak keunikan ego. Di sinilah kodrat ego, Iqbal menjelaskan bahwa meskipun antara satu ego dengan yang lainnya mampu berhubungan tetapi antara satu ego dengan yang lainnya, ia tidak melebur dalam ego yang yang lain, tetapi dia tetap pada eksistensinya sendiri.

Selanjutnya Iqbal berpendapat bahwa di antara ciptaan Tuhan, hanyalah insan yang paling sadar akan realitasnya. Ego insan pada tataran menentukan martabat sesuatu dalam ukuran wujud, mempunyai kehendak kreatif. Kehendak kreatif merupakan sesuatu yang bertujuan, dan diri selalu bergerak ke arah yang pada gilirannya mencerminkan pada sebuah pilihan diri yang sadar sehingga dapat mengubah dunia.

Kehendak kreatif wajib untuk selalu dikembangkan untuk dapat mengubah dunia, sebab ketika kehendak kreatif tidak mau dikembangkan maka dalam dirinya akan mengeras dan menjadi benda mati. Iqbal selalu menekankan agar setiap manusia sebagai makhluk yang bebas untuk mampu mengasah kehendak kreatif dan terlibat langsung dalam berbagai perubahan dunia.

Di sinilah letak keunggulan manusia dari makhluk yang lain. Iqbal berkata dalam sajaknya:

Segala sesuatu dipenuhi harapan untuk menyatakan diri

 Tiap atom merupakan tuas kebesaran!

 Hidup tanpa gejolak meramalkan kematian

 Dengan menyempurnakan diri….

 Insan mengarahkan pandang pada Tuhan!

 Kekuatan Khudi mengubah biji sawi setinggi gunung

 Kelemahannya menciutkan gunug sekecil biji sawi

 Engkaulah semata….

Realitas di alam semesta

Selain Engkau hanyalah maya belaka  

Iqbal selalu menekankan diri untuk selalu aktif, dengan mengatakan bahwa kekuatan ego dapat mengubah biji sawi menjadi setinggi gunung serta kelemahan ego dapat menciutkan bahwa gunung sekecil biji sawi.

Insan Kamil

Puncak pemikiran Iqbal tentang ego adalah Insan Kamil atau yang biasa disebut dengan manusia ideal. Tentang manusia ideal, ada beberapa ayat al-Quran yang memotivasi manusia untuk sampai kepada predikat ideal tersebut, antara lain Surat al-Baqarah ayat ke 123:

“Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.”

Dalam ayat yang lain, tepatnya surat al-An‟am ayat ke-164, Allah swt berfirman: Katakanlah: “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (QS. 6:164)

Kedua ayat di atas menggambarkan bagaimana nasib manusia untuk memikul beban-bebannya masing-masing, seorang diri mempertanggungjawabkan segala perilaku dan perbuatan yang telah mereka lakukan. Oleh sebab itu, manusia dituntut untuk menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Untuk berbuat kebaikan harus dimulai dari diri sendiri, dan tentunya diri yang bisa melakukan berbagai kebaikan yaitu manusia yang sampai pada predikat Insan Kamil.

Pemikiran Iqbal tentang Insan Kamil ada di dalam karya puisinya yang berjudul Asrar-I-Khudi sebagaimana yang sudah penulis kemukakan dalam pembahasan yang lalu. Insan Kamil merupakan khalifah (wakil) Tuhan di bumi ini. Pada diri seorang manusia ideal terjalin berbagai unsur jiwa yang kontradiktif.

Unsur-unsur tersebut disatukan oleh kekuatan kerja yang besar yang didukung oleh pikiran, ingatan, akal budi, imajinasi serta temperamen yang berpadu dalam dirinya, sehingga ketidakselaran kehidupan mental menjadi keharmonisan dalam dirinya. Seorang manusia ideal mencintai kesulitan dalam perkembangan hidupnya. Kehendaknya merupakan kehendak Ilahi.

Menurut Effendi, Insan Kamil menurut Iqbal adalah seorang mukmin sejati yang dalam dirinya terdapat kekuatan, wawasan, perbuatan serta kebijaksanaan. Sifat-sifat luhur ini di dalam wujudnya yang tertinggi tercemin dalam akhlak nabawi.

 Iqbal menjelaskan tentang Insan Kamil dalam sajaknya sebagai berikut:

Hiasilah dirimu dengan rona Ilahi

Hormati dan Jayakan Cinta

Tabiat orang Islam diliputi kasih

Muslim yang tak bercinta menjadi kafir

Pada Allah bergantung dapatnya ia melihat atau tiada

Makannya, minum dan tidurnya

 Dalam kemauannya iradah Ilahi membekam

 Betapa seorang dapat percaya akan kata lain?

 Dia berkemah di medan “Laa Ilaaha Illalah”

 Di dunia ini dia menjelma menjadi saksi terhadap manusia

 Martabatnya tinggi ditunjukkan oleh Rasullah

 Diutus bagi manusia dan jin

 Oleh kesaksian yang sangat hakiki

 Tinggallah katamu dan carilah nilai Ruhaniyat

 Tuangkan Nur Ilahi atas gelita amalmu

 Meski mengenakan baju kerajaan

 Dia hidup penaka purba

 Hiduplah waspada dan renungkan Tuhan

 Apa saja pun kau lakukan, Jadikanlah tujuanmu

 Agar setiap ketika kau kian dekat kepada-Nya

 Supaya menjelma kejayaan sifat Ilahi.

Seorang mukmin yang telah memperoleh predikat sebagai Insan Kamil tidak akan menjadikan agamanya sebagai dogma yang kikuk. Seluruh hidupnya dijalani dengan penuh semangat dan penuh kreatifitas yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Rahasia dirinya adalah Laa Ilaaha Illallah yang menjadikannya mampu menguasai dirinya. Iqbal bersajak:

 Hidup tidak boleh berhenti pada Laa Ilaah

 Alam semesta bergerak menuju Illallah

 Nafi dan Itsbat keduanya diperlukan bangsa dunia

 Nafi tanpa Itsbat berarti kematian

 Bagaimana Khalil bisa matang dalam cinta

 Sebelum Nafi menunjukkan jalan menuju Itsbat

 O kau yang suka berbantah di kamar kecil

 Serukan kalimat Nafi Laa Ilaah di depan Namrud

Apa yang kau cari tak seharga dua butir jelai

Resapi olehmu tenaga kata tiada Tuhan selain Allah

Dia yang memiliki pedang Nafi di tangannya

Akan menjadi penguasa penguasa alam semesta

Figur Insan Kamil menurut Iqbal adalah diri Nabi Muhammad saw yang seluruh hidupnya adalah untuk menegakkan Kalimatullah, menegakkan kemanusiaan dengan penuh semangat dan kreativitas. Lebih jauh menurut Iqbal, bahwa Rasulullah ketika memperoleh pengalaman spiritual yang setinggi-tingginya, tetapi Rasulullah mau kembali dan menjadi bermanfaat bagi manusia yang lainnya, berbeda dengan orang kebatinan yang ketika ia sampai pada pengalaman spiritualitas yang tinggi, ia tidak mau kembali, andaikan ia kembali, kembalinya tiada banyak yang berarti bagi manusia yang lain.

Menurut Iqbal, tujuan daripada keseluruhan hidup adalah membentuk Insan Kamil, dan setiap individu haruslah berusaha untuk mencapainya. Oleh karena itu Iqbal memberikan berbagai faktor tentang apa saja yang dapat memperkuat ego dan apa saja yang dapat memperlemah ego.

Menurut Iqbal, orang yang dapat memperkuat egonya adalah orang yang sudah mencapai derajat Insan Kamil. Faktor yang dapat memperkuat ego, menurut Muhammad Iqbal adalah sebagai berikut :

  • Isyq-o-muhabbat (Cinta Kasih) Cinta Kasih menurut Iqbal adalah keinginan untuk mengasimilasi dan mengabsorsi sifat-sifat utama dari yang dikasihi. Bentuk cinta kasih yang paling tinggi adalah menciptakan nilai-nilai dan cita-cita serta berusaha mewujudkannya. Cinta kasih mampu mengkonsentrasikan kekuatan-kekuatan diri dan menambah intensitas kekuatan-kekuatan itu.

Dalam surat yang dikirim oleh Iqbal kepada Profesor Necholson, Iqbal menulis:

Istilah ini (Cinta) dipergunakan dalam arti yang sangat luas dan berarti keinginan untuk melarutkan diri dan meresapkan diri. Bentuknya yang paling tinggi ialah menciptakan nilai-nilai dan cita-cita, dan usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dan cita-cita itu. Cinta mempribadikan subyek yang mengasihi dan obyek yang dikasihi.

Menurut Iqbal, cinta kasih ini mempunyai hubungan erat dengan ego. Cinta dapat mempengaruhi sebuah ego. Iqbal berkata dalam sajaknya:

Mata bersinar bernama ego

Ialah pancaran hidup di bawah debu kita

Cinta membuatnya lebih abadi

Lebih hidup, lebih segar, lebih semarak

Bentuklah segenggam tanahmu menjadi emas

Cium ambang pintu manusia sempurna

Dari anggur cinta memancarkan banyak nilai spiritual

Di antara lambang-lambang cinta ialah taat membuta

Jadilah pencinta dalam abadi taat setia kekasih

Itulah kau dapat jerat dan tawan Tuhan.

Dalam sajak yang lain, Iqbal berkata:

Titik berpendar kemilau yang namanya pribadi

Ialah nyala hidup di bawah kita

Oleh cinta pribadi kita kian abadi

Lebih hidup, lebih nyala, dan lebih kemilau

Dari cinta menjelma pancaran wujudnya

Dan perkembangan kemungkinan yang tidak diketahui semula

Fitrahnya mengumpulkan api dari cinta

Cinta mengajarinya menerangi dunia semesta

Cinta tidak takut pada elang dan pisau belati

Cinta tidak berasal dari air dan bumi

Cinta menjadikan perang dan damai di dunia

 Sumber hidup adalah kemilau pedang cinta

 Tebing yang paling keras gemetar oleh cinta

 Cinta Ilahi akhirnya mewujudkan Tuhan

Belajarlah bercinta

Dan berusahalah supaya kau dicintai.

Toleransi

Toleransi atau sikap tenggang rasa merupakan instrumen yang penting dalam kehidupan. Tanpa adanya sikap toleransi atau tenggang rasa, maka yang ada hanyalah sikap permusuhan di antara manusia.

Bagi Iqbal, dasar dari memupuk dan mempelihara ego adalah menghormati ego dalam diri sendiri dan menghormati ego dalam diri orang lain. Lebih jauh, Iqbal berpendapat bahwa menghormati dan menghargai orang lain berarti memperkuat eksistensi diri sendiri. Aku semakin eksis sebab aku mengakui aku orang lain.

Bagi Iqbal, toleransi merupakan landasan perikemanusiaan yang sesungguhnya, serta semangat keagamaan yang sejati. Seperti yang tertuang dalam puisinya dalam kitab Javid Nama :

Agama adalah damba abadi akan kesempurnaan

Berpangkal pada pengabdian

Berujung pada kasih

Adalah dosa untuk menghancurkan sampah serapah

Mukmin maupun kafir sama-sama makhluk Allah

 Apakah “Adamiyah” itu?

Apakah inti keinsanan?

Inti keinsanan adalah menghormati keinsanan!

Belajarlah untuk menghayati nilai dan makna insani!

Insan ialah penuh cinta

Melangkah di jalan Allah

Yang iman dan tak beriman sama-sama dapat tempat

Bila hati bertiada kasih

Apa gerangan akan terjadi?

Hati akan terkunci rapat-rapat

Terbelenggu di penjara tanah liat

Padahal seluruh semesta

Adalah tempat hati bertahta!  

Betapa dalam makna yang diberikan oleh Iqbal dalam menjunjung tinggi sikap toleransi. Bagi Iqbal, inti kemanusiaan ialah menghormati kemanusiaan sebab manusia yang walaupun ia kafir tetaplah ia sama-sama makhluk Allah.

Kasbi Halal

Menurut Iqbal, Kasb-I Halal mempunyai arti yang luas dan berarti memperoleh benda-benda dan cita-cita melalui usaha dan perjuangan sendiri. Jadi istilah ini mengajak ego untuk hidup penuh usaha dan perjuangan giat, serta menjauhkan pikiran yang memungkiri diri sendiri.

Kasb-I Halal juga berarti mengambil nilai pikiran dari kitab suci Ilahi dengan jalan ijtihad. Sikap hidup Kasb-I Halal juga memotivasi untuk terus-menerus menyempurnakan diri dan beramal selaras dengan kehendak Tuhan. Iqbal bersajak: Dijatuhkan tenaga lengannya Agar disadari tenaganya sendiri Tipuan pada dirinya adalah intisari hidup Penaka kembang mawar Khudi hidup oleh mandi ddalam darah sendiri.

Kerja Kreatif dan Orisinil

Faktor terakhir ini menjadi penyempurna dari faktor sebelumnya, yaitu Kasb-I Halal. Jika dalam Kasb-I Halal Iqbal menekankan kita agar mengajak ego untuk hidup penuh usaha serta perjuangan yang giat, maka usaha serta perjuangan yang giat tersebut haruslah bersifat kreatif dan orisinil.

Iqbal berpesan dalam sajaknya: Jika kau cita, kau lebih tinggi dari langit Kau berkesan merebut dan menakjubkan kalbu insan Perusak yang batal dan palsu dari zaman bahari Penuh dengan gelisah resah, penjelmaan akhir zaman Kita menyala dengan sinar surya keinginan.

Demikianlah faktor-faktor yang dapat memperkuat ego untuk sampai kepada taraf Insan Kamil, yaitu Isyq-o-muhabbat (Cinta Kasih), Faqr, sikap berani, toleransi, Kasb-I Halal serta kerja kreatif dan orisinil. Seseorang yang sudah dapat dikatakan sebagai Insan Kamil atau manusia ideal mempunyai karakteistik yang berbeda dari seseorang yang belum sampai pada predikat tersebut. Iqbal memberi karakteristik bagi seseorang yang sudah mencapai Insan Kamil, karakteristik tersebut adalah:

  1. Mempunyai sifat-sifat Ketuhanan Karakterisik yang pertama ini merupakan karakteristik yang bersifat umum. Menurut Iqbal orang yang sudah sampai pada derajat Insan Kamil adalah orang yang dekat dengan Tuhan, dan orang yang dekat dengan Tuhan pastilah akan memancarkan sifat-sifat ketuhanan. Dalam pemahaman Iqbal, orang yang dekat dengan Tuhan tidak terserap ke dalam Ego Tuhan, Iqbal menolak pandangan para kaum panteistik yang menyatakan ketika ia dekat dengan Tuhan, dia akan fana bersama Tuhan. Bagi Iqbal, seseorang yang dekat dengan Tuhan pasti dapat menyerap sifat-sifat Tuhan untuk bisa dimanifestasikan dalam kehidupannya.
  2. Menjadi Khalifah (Wakil) Tuhan di muka bumi Orang yang dekat dengan Tuhan pastilah dapat mengaplikasikan sifat-sifat ketuhanan dan orang yang dapat mengaplikasikan sifat ketuhanan tersebut dapat menjadi wakil Tuhan di muka bumi ini. Bagi Iqbal, tugas Insan Kamil sebagai wakil Tuhan sangatlah berat, yakni harus menjadi seorang pembaru untuk merubah keadaan zaman dari zaman kegelapan menju zaman yang terang benderang, dan sebagai partner Tuhan, manusia dituntut untuk turut membantu dalam penciptaan yang belum selesai.
  3. Sebagai Individu yang bebas dan kreatif Bagi Iqbal, seseorang yang sudah mencapai derajat Insan Kamil pasti memiliki jiwa yang mandiri, serta memiliki kebebasan yang bertanggung jawab. Sehingga ia memiliki keluasan dalam berkreasi demi terciptanya perubahan dunia yang sangat signifikan. Iqbal meyakini bahwa perkembangan kreatifitas tersebut merupakan atribut keinsanan yang paling tinggi dan selalu terpaut dengan Tuhan.70 Jadi seseorang yang sudah mencapai taraf Insan Kamil haruslah mampu mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki agar mampu memberikan berbagai sentuhan dalam perubahan dunia.

Related posts