Biografi Singkat Muhammad Rasyid Ridha, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

  • Whatsapp
Biografi Tokoh Lengkap

Biografi Muhammad Rasyid Ridha | Biografi Singkat Muhammad Rasyid Ridha | Profil Muhammad Rasyid Ridha | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Muhammad Rasyid Ridha : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha adalah salah satu seorang tokoh pembaharu di dunia Islam pada masa modern. Nama lengkapnya adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Muhammad Syam Al-Din Al-Qalamuny. Ia lahir pada tanggal 27 Jumadzil ula tahun 1282 H atau pada tahun 1865 M, disuatu desa bernama Qalamun di Libanon yang letaknya tidak jauh sekitar 4km dari kota Tripoli (Suria). Ia adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari sayyidina Husain, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah saw, dan sekaligus cucu dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, di depan namanya memakai gelar “ Sayyid ”. Kadang-kadang ia juga sering dipanggil “ Syaikh “ walaupun gelar demikian sangat jarang dipakai. Hal ini dikarenakan keluarga Rasyid Ridha dikenal oleh lingkungannya sebagai keluarga yang sangat taat beragama serta menguasai ilmu-ilmu agama.

Salah seorang kakek dari Rasyid Ridha, yaitu Syaikh Sayyid Ahmad, sedemikian patuhnya dan wara’-nya sehingga seluruh waktunya hanya digunakan terdekat dan para ulama’, itu pun hanya pada waktu-waktu tertentu yaitu antara ashar dan magrib. Ketika Rasyid Ridha remaja, ayahnya telah mewarisi kedudukan, wibawa serta ilmu sang kakek, sehingga Rasyid Ridha banyak terpengaruh dan belajar dari ayahnya sendiri, seperti yang dituliskan olehnya dalam buku hariannya yang dikutip oleh Ibrahim Ahmad Al-Adawi :

“….ketika saya mencapai umur remaja, saya melihat di rumah kami pemuka-pemuka agama kristen dari Tripoli dan Libanon. Bahkan saya lihat pula pendeta-pendeta, khususnya pada hari-hari raya. Saya melihat ayahku rahimahullah berbasa-basi dengan mereka sabagaimana beliau berbasa-basi dengan penguasa dan pemuka-pemuka masyarakat Islam. Ayahku menyebut apa yang beliau ketahui tentang kebaikan-kebaikan meraka. Ini adalah salah satu sebab mengapa saya menganjurkan untuk bertoleransi serta mencari titik temu dan kerja sama antara semua penduduk negeri atas dasar keadilan, kebajikan yang dibenarkan oleh agama, demi kemajuan negara”.



Ayahnya seorang ulama dan penganut tarekat Syadzilliah, karena itu Rasyid Ridha pada waktu kecilnya selalu mengenakan jubah dan sorban, bertelekun dalam pengajian dan wirid sebagaimana kebiasaan pengikut tarekat Syadzilliah.

Selama masa pendidikan ini, Rasyid Ridha membagi waktunya antara ilmu dan ibadah, pada salah satu bagian masjid milik keluarganya. Masjid tempat kakeknya (Syaikh Sayyid Ahmad) berkhalwat dan membaca, oleh Rasyid Ridha dijadikan tempat untuk belajar dan beribadah. Ibunya mengatakan “semenjak Muhammad dewasa, saya tidak pernah melihat dia tidur, karena ia baru tidur sesudah kami tidur dan bangun sebelum kami bangun”.

Cara hidup yang demikian itu menjadikan adiknya yang bernama Sayyid Shaleh, pernah berkata “saya tadinya menganggap saudara saya, Rasyid adalah seorang Nabi. Tetapi ketika saya mengetahui bahwa Nabi kita Muhammad saw adalah penutup seluruh Nabi, saya menjadi yakin kalau dia adalah seorang wali”.

Bukan hanya keluarganya saja yang menghormatinya, tetapi penduduk kampungnya juga sering kali mendatangi Rasyid Ridha untuk meminta “ berkatnya “. Hal ini terlihat bahwa Rasyid Ridha sangat dicintai dan dihormati oleh orang-orang di sekelilingnya. Rasyid Ridha pernah menulis di dalam buku hariannya “aku selalu berusaha agar jiwaku suci dan hatiku jernih, supaya aku siap menerima ilmu yang bersifat ilham, serta berusaha agar jiwaku bersih sehingga mampu menerima segala pengetahuan yang dituangkan ke dalamnya”.

Dalam rangka menyucikan jiwa inilah Rasyid Ridha menghindari makan makanan yang lezat-lezat atau tidur di atas kasur, mengikuti tata cara yang dilakukan oleh para sufi. Sikap ini dihasilkan oleh kekagumannya membaca kitab Ihya’ Ulum Al-Din karya Al-Ghazali yang dibacanya berulang-ulang hingga benar-benar mempengaruhi jiwa dan tingkah lakunya, sampai-sampai menurut Rasyid Ridha, ia pernah merasakan seakan-akan mampu berjalan di atas air atau terbang di udara.

Pendidikan dan Pengalaman Muhammad Rasyid Ridha

Selain belajar dari kedua orang tuanya sendiri, Rasyid Ridha juga belajar kepada sekian banyak guru. Semasa kecilnya Rasyid Ridha di masukkan oleh orang tuanya di madrasah tradisional di kampungnya Qalamun untuk belajar menulis, berhitung dan belajar mengenal huruf serta membaca Alquran. Setelah tamat sekolah di madrasah tradisional, pada tahun 1882 M Rasyid Ridha dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pelajaran ke Al-Madrasah Al-Wataniah Al-Islamiah (Sekolah Nasional Islam) di Tripoli, Libanon. Ketika belajar di sana, Rasyid Ridha diajarkan pelajaran nahwu, sharaf, aqidah, fiqh, ilmu hitung dan ilmu bumi. Selain itu di madrasah tersebut juga diajarkan mata pelajaran bahasa Arab, bahasa Turki dan bahasa Perancis, serta termasuk pengetahuan agama dan pengetahuan modern. Mereka yang belajar disana dididik dan dipersiapkan untuk menjadi pegawai-pegawai pemerintah.

Sekolah ini didirikan Al-Syaikh Husain Al-Jisr, ia dalah seorang ulam Islam yang telah dipengaruhi oleh ide-ide modern. Pada saat itu, missi Kristen sedang gencar-gencarnya dijalankan, diantaranya dengan mendirikan sekolah-sekolah Kristen modern. Sekolah Kristen modern ini telah banyak menarik perhatian orang tua untuk memasukkan anak-anak mereka belajar di sana. Dalam usaha menandingi sekolah Kristen tersebut, Al-Syaikh Husain Al-Jisr mendirikan Sekolah Nasional Islam tersebut. Namun, Sekolah Nasional Islam ini tidak bertahan lama, karena tidak didukung oleh pemerintah kerajaan Usmani yang masih berhaluan konservatif. Akibatnya, Rasyid Ridha pun harus rela meninggalkan bangku pendidikan tersebut dengan pindah ke sekolah agama lain yang ada di Tripoli. Kendati demikian, hubungannya dengan Al-Syaikh Husain Al-Jisr yang beraliran modern itu selalu berhubungan dengan baik.

Baca Juga :   Biografi Singkat Ibnu Masarrah : Profil, Pendidikan, Karya, dan Pemikiran

Lewat hubungan baik itulah, Rasyid Ridha lebih jauh berkelana dengan ide-ide pembaharuan dikarenakan Al-Syaikh Husain Al-Jisr amat berhasrat memompa semangat muda Rasyid Ridha yang memang meminati berat alur pemikiran baru. Selain mendapat bimbingan dari gurunya Al-Syaikh Husain Al-Jisr, ia juga dipengaruhi oleh ide-ide pembaharuan yang dicetuskan oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, melalui majalah Al-‘urwat Al-wutsqa’. Semasa dewasanya Rasyid Ridha berniat untuk menggabungkan diri dengan Al-Afghani di Istambul tetapi niat itu tak terwujud. Sewaktu Muhammad Abduh berada dalam pembuangan di Beirut, Rasyid Ridha mendapat kesempatan baik untuk berjumpa dan berdialog dengan murid Al-Afghani yang terdekat ini. Perjumpaan dengan Muhammad Abduh ini meninggalkan kesan yang baik dalam dirinya.

Rasyid Ridha mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuan itu ketika masih berada di Suriah, tetapi usaha-usahanya mendapat tantangan dari pihak kerajaan Usmani. Ia merasa terikat dan tidak bebas, sehingga ia memutuskan pindah ke Mesir pada bulan Januari tahun 1898 M. Selama di Mesir Rasyid Ridha berkesempatan untuk memperdalam pengetahuan, sekaligus menggali langsung inti gerakan-gerakan pembaharuan di Mesir. Berbeda dengan keadaan mahasiswa umumnya di Al-Azhar yang lebih banyak patuh dibidang keilmuan, sedangkan Rasyid Ridha mempunyai jiwa yang kritis dan suka mengadakan perbincangan yang mendalam terhadap suatu bidang ilmu. Hal ini secara tidak langsung, memang merupakan pengaruh dari pemikiran Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Bagi Rasyid Ridha jelas bahwa sikap kritis intelektual perlu sekali dipupuk secara dini. Dengan demikian hasratnya untuk mendalami ilmu agama agar bisa lebih matang lagi, dan tantangan seperti itu pula yang mendorong untuk dapat secepatnya menebarkan benih pembaharuan agar lebih meresap lagi.

Ketika Rasyid Ridha di Mesir, ia selalu bertemu dengan Muhammad Abduh. Pertemuan ini dijadikan waktu yang penting bagi Rasyid Ridha untuk memperdalam pengetahuannya dalam pembaharuan Islam. Sebulan setelah bertemu dengan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha menyampaikan keinginannya untuk menerbitkan majalah yang nantinya diberi nama Al-Manar. Tujuan Rasyid Ridha dalam menerbitkan majalah Al-Manar yaitu untuk mengadakan pembaharuan melalui media cetak yang di dalamnya berisikan bidang agama, sosial, ekonomi, memberantas takhyul dan faham bidah yang masuk ke dalam kalangan umat Islam. Serta menghilangkan faham fatalisme, faham-faham salah yang dibawa oleh tarekat tasawuf, meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam terhadap permainan politik negara Barat.

Pada mulanya Muhammad Abduh tidak menyetujui gagasan ini, dikarenakan pada saat itu di Mesir sudah cukup banyak media masa, apalagi persoalan yang akan diolah diduga kurang menarik perhatian umum. Namun Rasyid Ridha menyatakan tekadnya, walaupun harus menanggung kerugian material selama satu sampai dua tahun setelah penerbitan itu. Akhirnya Muhammad Abduh merestui dan memilih nama Al-Manar dari sekian banyak nama yang diusukan oleh Rasyid Ridha.

Majalah Al-Manar terbit pertama kali pada 22 Syawal 1315 H / 17 Maret 1898 M. Majalah ini terbit mingguan sebanyak delapan halaman.120 Majalah ini banyak menyiarkan ide-ide Muhammad Abduh. Muhammad Abduh memberikan ide-ide dan gagasannya kepada Rasyid Ridha dan kemudian Rasyid Ridha yang menguraikan dan menyiarkannya kepada masyarakat umum melalui lembaran-lembaran majalah AlManar. Walaupun demikian, ide-ide Al-Manar juga berisikan artikel-artikel yang dikarang Muhammad Abduh sendiri dan juga ditulis oleh rekan-rekan pengarang lain.

Rasyid Ridha melihat perlunya diadakan tafsir modern dari Alquran, yang kemudian tafsiran itu disesuaikan dengan ide-ide yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh. Keterangan-keterangan yang disampaikan Muahmmad Abduh, kemudian dicatat untuk seterusnya disusun dalam bentuk karangan teratur. Apa yang Rasyid Ridha tulis diserahkan kepada Muhammad Abduh utntuk diperiksa. Setelah mendapat persetujuan karangan tersebut ia siarkan dalam majalah Al-Manar. Dengan demikian, timbullah apa yang kemudian dikenal dengan Tafsir Al-Manar. Muhammad Abduh memberikan kuliah-kuliah tafsir ini sampai ia meninggal di tahun 1905 M. Setelah gurunya meninggal, Rasyid Ridha meneruskan penulisan sesuai dengan jiwa dan ide yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh. Muhammad Abduh sempat memberikan tafsiran sampai dengan ayat 125 dari surat An-Nisa’ (Jilid III dari Tafsir Al-Manar) dan yang selanjutnya adalah tafsiran Rasyid Ridha sendiri.

Sewaktu masih ditanah airnya, Rasyid Ridha pernah memasuki lapangan politik dan setelah pindah ke Mesir ia ingin meneruskan kegiatan politiknya. Namun, atas nasehat Muhammad Abduh, ia menjauhi lapangan politik. Setelah Muhammad Abduh meninggal dunia, barulah ia kembali ke ranah politik dan memulai menulis dan membuat karangan-karangan yang menentang pemerintah absolut kerajaan Usmani. Kritik terhadap para imperium terutama Inggris dan Perancis yang saat itu ingin membagi-bagi dunia Arab di bawah kekuasaan mereka masing-masing.

Untuk menggagalkan politik Inggris dan Perancis itu, ia mengunjungi beberapa negara Arab guna menjelaskan bahaya politik kerajaan Arab dengan Inggris dan Perancis dalam usaha mereka menjatuhkan kerajaan Usmani. Selanjutnya ia turut memainkan peranan dalam konggres Suria dan dalam perundingan Arab dengan Inggris.

Pemikiran Pembaharuan Islam Muhammad Rasyid Ridha

Dalam catatan atau literatur kontemporer, Rasyid Ridha digambarkan sebagai pejuang muslim yang tidak jauh beda dengan Muhammad Abduh. Muhammad Abduh menilai bahwa tidak ada jalan yang paling ampuh bagi tercapainya pembaharuan di dunia Islam kecuali melalui politik merupakan jalan terpendek, sedangkan pembaharuan melalui pendidikan dan pengajaran sekalipun menempuh jalan yang panjang tapi hasilnya mantap dan langgeng. Oleh sebab itu, antara kedua jalur itu sebenarnya sangat berkaitan. Menurut Rasyid Ridha pembaharuan mutlak harus dilakukan, karena tanpa itu, umat Islam senantiasa berada dalam kejumudan dan akan menjadi umat yang terlantar. Ia melihat bahwa kemunduran umat Islam dan kelemahan mereka disebabkan karena mereka tidak lagi memegang dan menjalankan ajaran Islam yang sebenarnya. Untuk pembahasan lebih lanjut, tentang pemikiran pembaharuan Islam Muhammad Rasyid Ridha dapat dibagi menjadi beberapa bidang :




  • Pembaharuan Bidang Keagamaan

Pemikiran pembaharuan Rasyid Ridha dalam bidang keagamaan bisa dikatakan sama seperti pemikiran Muhammad Abduh. Umat Islam mengalami kemunduran karena tidak menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan banyak faham-faham yang tidak sesuai masuk ke dalam tubuh islam, seperti segala khurafat, takhayul, bidah, jumud dan taklid. Oleh karena itu, menurut analisis Rasyid Ridha ajaran Islam yang murni akan membawa kemajuan umat Islam, itulah sebabnya segala macam khurafat, takhayul, bidah, jumud, taklid, ajaran-ajaran yang nyeleweng dari ajaran Islam harus dikikis dan disingkirkan.

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kabupaten Rokan Hilir (Sejarah dan Profil)

Rasyid Ridha banyak menyoroti masalah Akidah Islam yang hubungannya dengan praktik di tengah umat Islam saat itu. Umumnya, umat Islam mempunyai pengalaman agama berdasarkan taklid. Umat Islam pada saat itu lebih meminati sesuatu hukum atau fatwa yang sudah baku, karena dianggap sebagai kebenaran mutlak. Dengan dasar itu, segala sesuatu sikap yang berbeda akan dianggap tidak sesuai dengan paham ini. Kecenderungan taklid juga akan menimbulkan sikap saling menyalahkan terhadap kelompok yang berbeda. Sampai tingkat yang lebih parah akan membawa pertentangan bahkan permusuhan. Keanekaragaman faham keagamaan yang muncul justru makin memperdalam perpecahan dikalangan umat Islam. Untuk itu umat Islam perlu mencari alternatif faham keagamaan yang dapat membawa kepada arah persatuan, yaitu sebagaimana terdapat di zaman Rasulullah saw.

Selain itu dalam Islam telah banyak masuk unsur bidah yang merugikan bagi perkembangan dan kemajuan umat Islam. Rasyid Ridha sangat menentang keras ajaran syekh-syekh tarekat tentang tidak pentingnya hidup duniawi, puji-pujian dan kepatuhan yang berlebih-lebihan pada syekh dan wali. Menurutnya, umat Islam harus dibawa kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya yaitu, ajaran yang murni dan terhindar dari segala bidah yang menggerogoti ajaran tauhid.

Rasyid Ridha mengatakan Islam murni itu sederhana sekali, sesederhana dalam ibadah dan sederhana dalam muamalahnya. Ibadah kelihatannya berat dan ruwet karena dalam ibadah telah ditambahkan hal-hal yang bukan wajib, tetapi sebenarnya hanya sunnat. Mengenai hal-hal yang sunnat ini nantinya akan muncul perbedaan faham dan akan memicu munculnya kekacauan.

Sedangkan soal muamalah, hanya dasar-dasar yang diberikan, seperti keadilan, persamaan, pemerintahan syura. Perincian dan pelaksanaan dari dasar-dasar ini semua diserahkan kepada umat untuk menentukannya. Hukum-hukum fiqih mengenai hidup kemasyarakatan, sungguhpun itu didasarkan atas Alquran dan hadis tidak boleh dianggap absolut dan tidak dapat berubah. Hukum-hukum itu timbul sesuai dengan situasi tempat dan zaman.

Rasyid Ridha juga menganjurkan supaya bertoleransi bermazhab untuk dihidupkan. Dalam hal-hal dasarlah yang perlu dipertahankan kesamaan faham bagi umat Islam, tetapi dalam hal perincian dan bukan dasar diberikan kemerdekaan bagi tiap orang untuk menjelaskan mana yang disetujuinya. Selanjutnya ia menganjurkan pembaharuan dalam bidang hukum dan penyatuan mazhab hukum. Selain itu faktor yang membawa umat Islam mengalami kemunduran adalah sikap fatalisme. Sedangkan salah satu faktor yang membawa masyarakat Barat kepada kemajuan ialah faham dinamika yang terdapat dikalangan mereka. Agar umat Islam tidak lemah, maka mutlak membuang jauh-jauh faham fatalisme tersebut, kemudian menggantikannya dengan faham dinamisme (progres, kemajuan).

Dengan menjunjung tinggi asas kemajuan, secara perlahan umat Islam akan meyakini bahwa faktor nasib dan keberuntungan merupakan kehendak sepenuhya manusia. Dengan kata lain, kemajuan dan perubahan hidup yang dijalani umat Islam, sepenuhnya lebih ditentukan oleh umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu umat Islam harus bersikap aktif. Dinamika dan sikap aktif itu terkandung dalam kata jihad. Jihad dalam arti berusaha keras dan sedia memberi pengorbanan harta bahkan juga jiwa, untuk mencapai tujan perjuangan. Semangat jihad serupa inilah yang menyebabkan umat Islam di zaman klasik dapat menguasai dunia.

Selanjutnya pemahaman ini, akan membawa umat Islam memiliki wawasan rasional dan selalu maksimal dalam menggunakan akal pikiran. Rasyid Ridha juga menghargai akal manusia. Namun, penghargaannya terhadap akal tidak setinggi penghargaan yang di kemukakan oleh gurunya Muhammad Abduh. Menurut Rasyid Ridha akal dapat dipakai terhadap ajaran-ajaran mengenai hidup kemasyarakatan, tetapi tidak terhadap ibadah.

Dalam lapangan ini pula umat Islam memiliki konsep yang disebut dengan ijtihad. Konsep ini akan memacu umat Islam untuk berfikir keras tentang agama dan sosial kemasyarakatannya. Kendati demikian, ijtihad dalam persoalan agama hanya terdapat dalam lapangan muamalah saja. Dalam bidang ibadah, tidak perlu dilakukan ijtihad.

Ijtihad diperlukan hanya untuk soal-soal hidup kemasyarakatan. Terhadap ayat dan hadist yang mengandung arti tegas, tidak diperlukan ijtihad. Akal dapat dipergunakan terhadap ayat dan hadis yang tidak mengandung arti tegas dan terhadap persoalan-persoalan yang tidak tersebut dalam Alquran dan hadis. Oleh karena itu inilah letak dinamika Islam menurut faham Rasyid Ridha.

  • Pembaharuan Bidang Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Peradaban Barat modern menurut Rasyid Ridha didasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam lapangan ini Rasyid Ridha sangat antusias mendukung program Muhammad Abduh untuk melakukan pemasukan ilmu-ilmu umum ke dalam lembaga pendidikan milik umat Islam (sekolah atau madrasah Islam tradisional). Hal itu karena ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan Islam. Untuk kemajuan, umat Islam harus mau menerima peradaban Barat yang ada (ilmu pengetahuan dan teknologi). Bahkan Rasyid Ridha melihat wajib bagi umat Islam mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi modern, asalkan dimanfaatkan dalam hal kebaikan.

Umat Islam di zaman klasik dapat mencapai kemajuan karena mereka mau maju, belajar dan memanfaatkan akal mereka untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Barat maju karena mau mengambil ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh umat Islam. Dengan demikian, mengambil ilmu pengetahuan Barat modern berarti mengambil kembali ilmu pengetahuan yang pernah dimiliki umat Islam.

Selain itu aktivitas Rasyid Ridha dalam bidang pendidikan selain memasukkan ilmu-ilmu umum ke dalam lembaga pendidikan milik umat Islam, ia juga membentuk lembaga pendididkan yang bernama “al-Dakwah Wal Irsyad” pada tahun 1912 M di kairo, Mesir. Mula-mula ia mendirikan madrasah tersebut di Konstantinopel terutama meminta bantuan pemerintah setempat akan tetapi gagal, karena pada saat itu Rasyid Ridha tidak mendapat dukungan dari pemerintah, akhirnya ia mendirikannya di Kairo, Mesir. Motif mendirikan madrasah ini ialah, karena adanya keluhan-keluhan yang disampaikan melalui pesan surat dari negeri-negeri Islam, diantaranya dari Indonesia, tentang aktivitas missi Kristen di negara-negara mereka. Oleh karena itu, untuk mengimbangi sekolah missi Kristen dipandang perlu mendirikan sekolah missi Islam. Sebab banyak dari kalangan umat Islam yang pada saat itu menyekolahkan anak mereka di sekolah Kristen, karena di sekolah tersebut diajarkan ilmu pengetahuan umum dan teknologi modern.

Baca Juga :   Sejarah Desa Jalaksana Kabupaten Kuningan (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Dengan berdirinya sekolah al-Dakwah Wal Irsyad, diharapkan para lulusan dan sekolah ini akan dikirim ke negara mana saja yang memerlukan bantuan mereka dalam hal pengajaran atau pendidikan dan kenegaraan. Akan tetapi usia sekolah ini tidak panjang, karena situasi perang dunia I.

  • Pembaharuan Bidang Politik dan Sosial Kemasyarakatan

Semua umat bersatu di bawah satu keyakinan, satu sistem moral dan satu sistem pendidikan dan tunduk pada satu sistem hukum. Hukum dan undang-undang tidak dapat dijalankan tanpa kekuasaan pemerintah. Oleh karena itu, untuk kesatuan umat perlu mengambil bentuk negara. Negara yang dianjurkan Rasyid Ridha ialah negara dalam bentuk kekhalifahan. Sebab Rasyid Ridha memiliki program pelaksanaan yaitu menghidupkan kembali sistem kekhalifahan di dalam zaman modern., karena bentuk pemerintahan seperti ini akan membawa kesatuan umat islam.

Kepala negara ialah khalifah. Karena khalifah memiliki kekuasaan legislatif dan harus mempunyai sifat mujtahid. Akan tetapi dalam pada itu khalifah tidak boleh bersifat absolut. Sedangkan para ulama merupakan pembantu-pembantunya yang utama dalam soal memerintah umat.

Untuk mewujudkan kesatuan umat itu ia pada mulanya meletakkan harapan pada kerajaan Usmani, tetapi harapan itu hilang setelah Mustafa Kamal berkuasa di Istambul dan kemudian menghapus sistem pemerintahan khalifah dan berubah menjadi Republik.

Menurut Rasyid Ridha calon khalifah tidak hanya terdiri dari ulama atau ahli agama yang sudah mencapai tingkat mujtahid, tetapi juga dari pemuka-pemuka masyarakat dari berbagai bidang termasuk bidang perdagangan, perindustrian dan sebagainya. Syarat bagi calon khalifah yaitu harus berilmu dan mampu berijtihad.

Syarat untuk dapat menduduki jabatan khalifah adalah berilmu dalam arti menguasai pengetahuan agama dan bahasa Arab, sehingga mampu memahami secara tepat maksud-maksud Alquran dan sunnah Nabi dan teladan-teladan yang diwariskan oleh para pendahulu (salaf) yang saleh, dan yang sudah mencapai tingkat mampu berijtihad secara betul. Untuk mempersiapkan calon-calon khalifah yang memenuhi syarat-syarat tersebut, Rasyid Ridha mengusulkan pendirian suatu lembaga pendidikan tinggi keagamaan untuk mendidik dan mencetak calon-calon khalifah. Dalam lembaga pendidikan ini, diajarkan berbagai cabang ilmu agama Islam, sejarah, ilmu kemasyarakatan dan ajaran-ajaran agama lainnya. Kemudian khalifah dipilih dari antara para lulusan dan lembaga tersebut yaitu mereka yang telah memperlihatkan keunggulan dalam penguasaan ilmu dan kemampuan berijtihad. Pemilihan itu dilakukan dengan bebas dan oleh rekan-rekan sesama lulusan lembaga itu, untuk kemudian dikukuhkan melalui baiat oleh Ahl-al-Halli wa al-Aqdi (orang yang berhak memilih Khalifah/para ahli ilmu khususnya keagamaan dan mengerti permasalahan umat) dari seluruh dunia Islam. Taat kepada khalifah yang dipilih dan kemudian dibaiat dengan cara demikian itu hukumnya wajib bagi tiap muslim.

Untuk melaksanakan “proyek” menghidupkan kembali lembaga kekhalifahan itu Rasyid Ridha mengusulkan diselenggarakannya suatu muktamar raya Islam di Kairo, Mesir, yang dihadiri oleh wakil-wakil dari semua negara Islam dan seluruh umat Islam. Dengan menambahkan bahwa Mesir adalah satu-satunya negara yang layak menjadi penyelenggara pertemuan akbar Islam seperti itu, tanpa memberikan uraian lebih lanjut tentang alasannya. Muktamar tersebut berlangsung pada tahun 1926 M, tetapi muktamar tersebut berakhir dengan kegagalan. Karena banyak dan kuatnya pertentangan di antara para peserta muktamar dan akhirnya tidak dapat tercapai kesepakatan.

Tentang Nasionalisme yang sedang menggejala pada masa itu, Rasyid Ridha berpendapat bahwa faham Nasionalisme itu bertentangan dengan persaudaraan Islam. Maka ia tidak setuju dengan faham Nasionalisme yang dibawa oleh Mustafa Kemal di Mesir maupun Turki Muda di Turki. Menurutnya persaudaraan Islam tidak mengenal batas baik ras, bangsa, bahasa dan tanah air.

Karya-Karya Rasyid Ridha

Dengan perjuangannya yang luar biasa dalam memompa ide-ide pembaharuan, Rasyid Ridha sangat disegani oleh umat Islam. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah karya ilmiah yang menyertai gagasan-gagasannya, antara lain sebagai berikut :

  1. Al-Hikmah Asy-Syar’iyah fi Muhakamat Al-Dadiriyah wa Al-Rifa’iyah. Buku ini adalah karya pertamanya di waktu ia masih belajar, isinya tentang bantahan kepada Abdul Hadyi Ash-Shayyad yang mengecilkan tokoh sufi besar Abdul Qadir Al-Jailani, juga menjelaskan kekeliruankekeliruan yang dilakukan oleh para penganut tasawuf, tentang busana muslim, sikap meniru non-muslim, Imam Mahdi, masalah dakwah dan kekeramatan.
  2. Al-Azhar dan Al-Manar. Berisikan antara lain, sejarah Al-Azhar, perkembangan dan missinya, serta bantahan terhadap ulama Al-Azhar yang menentang pendapat-pendapatnya.
  3. Tarikh Al-Ustadz Al-Imam, berisikan riwayat hidup Muhammad Abduh dan perkembangan masyarakat Mesir pada masanya.
  4. Nida’ li Al-Jins Al-Lathif, berisikan uraian tentang hak dan kewajibankewajiban wanita.
  5. Zikra Al-Maulid An-Nabawi.
  6. Al-Sunnah wa Al-Syi’ah.
  7. Al-Wahdah Al-Islamiyah.
  8. Haqiqah Al-Riba
  9. Majalah Al-Manar.
  10. Tafsir Al-Manar

Rasyid Ridha juga seorang aktivis politik, ia pernah menjabat sebagai ketua presiden Kongres di Suria pada tahun 1920 M, anggota delegasi Suria-Palestina di Jenewa pada tahun 1921 M, anggota Komite Politik Mesir di Kairo selama masa pemberontakan Suria tahun 1925-1926 M dan menghadiri Konferensi Islam di Makkah tahun 1926 M. Pada masa tuanya, sungguhpun kesehatannya selalui mengalami gangguan, namun ia tidak mau tinggal diam, ia selalui dan masih aktif dalam menjalankan kegiatannya. Akhirnya Rasyid Ridha meninggal dunia di bulan Agustus 1935 M, setelah kembali dari mengantarkan pangeran Su’ud ke kapal di Suez.




Related posts