Biografi Singkat Mohammad Hatta, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

  • Whatsapp
Biografi Tokoh Lengkap

Biografi Mohammad Hatta | Biografi Singkat Mohammad Hatta | Profil Mohammad Hatta | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Mohammad Hatta: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Mohammad Hatta Lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukitinggi. Nama Mohammad Hatta berasal dari Muhammad Athar yang diambil dari nama lengkap seorang tokoh Muslim, yaitu (Ahmad Ibn) Muhammad (Ibn Abd Al-Karim Ibn) Ata-Ilah Al-Sakandari, pengarang kitab Al-Hikmah. Mohammad Hatta juga mempunyai nama panggilan, dan Orang-orang di Bukitinggi biasa mempanggil dengan nama Athar. Kota Bukittinggi tempat kelahiran Mohammad Hatta adalah sebuah kota kecil yang dihimpit dataran tinggi Agam. Letaknya sangat indah di ujung kaki Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, di sebelah Utara kelihatan pula melingkung cabang-cabang Bukit Barisan, ngarai dan gunung-gunung serta Bukit-bukit Barisan yang sangat indah.

Keluarga Hatta adalah keluarga yang berlatar surau di Batu Hampar. Sebagaimana dalam tradisi Surau, kerja dagang juga menjadi kebiasaan mereka. Ayah Hatta, Haji Muhammad Djamil adalah putra Syech Abdulrahman, sedangkan ibu Hatta, Siti Salehah adalah putri dari Ilysah gelar Bagindo Marah dan Aminah, keduanya juga memiliki panggilan Khas dari Hatta yaitu Pak Gaek dan Mak Gaek. Hatta adalah anak bungsu dari dua bersaudara, kakak Hatta bernama Rafiah.

Keluarga besar ayah Hatta sebagain besar adalah ulama. Kakek Hatta, Syaikh Abdurrahman adalah seorang ulama besar, pemilik surau dan pengasuh tarikat Naqsabandiyah di Batu Hampar, Payakumbuh. Tetapi beda dengan ayah Hatta, Mohammad Djamil tidak mengikuti jejak ayahnya Syaikh Abdurrahman menjadi ulama, melaikan mengikuti jejak orang tua ibu Hatta yang begelut dengan menjadi pedagang. Walaupun Mohammad Djamil tidak melanjutkan jejak ayahnya menjadi ulama, namun dalam dirinya pengaruh agama tidak bisa lepas dari dirinya. Memang sejak kecil ayah Hatta sudah dididik agama, baik ibadah maupun perilakunya, dengan sangat berdisiplin.



Ibu Hatta, Siti Salehah brasal dari kalangan pedagang. Kakek Hatta dari ibu bernama Ilyas gelar Bagindo Marah, yang biasa Hatta panggil dengan nama Pak Gaek. Pak Gaek adalah seorang pedagang besar, sampai ke Sawahlunto dan Lubuk Sikaping. Pak Gaek juga memiliki kontrak usaha jasa pos dari pemerintahan kolonial. Beberapa paman Hatta juga menjadi seorang pengusaha besar di Jakarta, di daerah Senen, “Djohan Djohor”. Pada umur 8 bulan ayah Hatta meninggal dunia diusia 30 tahun. Maka dari itulah Hatta tidak begitu mengenal sosok ayahnya. Tetapi menurut cerita orang, termasuk ibunya, Hatta sangat mirip dengan sosok ayahnya. Ibu Hatta juga mengatakan bahwa “Hatta potret hidup dari ayahnya.” Setelah lama suaminya meninggal dunia, ibu Hatta Siti Salehah bertemu dengan Haji Ning, beliau adalah seorang pedagang dari Palembang. Tidak lama kemudian akhirnya ibu Hatta menikah lagi yang kedua kalinya dengan Haji Ning.

Keluarga di Bukitinggi pada waktu itu berkumpul dalam satu rumah. Sebelum adik-adik Hatta lahir, seisi rumah terdiri dari buyut Hatta yang dipanggil nenek, Pak Gaek dan Nenek Hatta Aminah. Ayah tiri Hatta tinggal di rumah hanya pada hari minggu saja karena beliau pusat kerjanya di Padang, ibu Hatta, pamannya yang dipanggil Mak Alieh dan istrinya, paman Hatta yang paling muda Idris, kakak Hatta Rafiah dan Hatta sendiri. Rumah yang bertingkat itu cukup luas bagi keluarga Hatta dan juga masih ada tempat bagi pelayan dan pembantu rumah tangga yang tinggal di dalam. Pelayan pada waktu itu bukanlah pelayan yang biasa didapati pada masa sekarang, melainkan anak-anak orang dari tempat jauhjauh yang diserahkan kepada keluarga Hatta untuk dididik dalam mengurus rumah tangga dan diperlakukan sebagai anggota keluarga.

Setelah adik-adik Hatta lahir, empat orang jumlahnya, dan paman Hatta juga memiliki dua orang anak, Pak Gaek mendirikan rumah baru sederet letaknya untuk ibu dan paman-paman Hatta serta untuk anak-anak beliau yang berjumlah tiga. Tanah tempat pendirian tiga rumah itu kepunyaan Mak Alieh, untuk cucunya, masih ada ada lagi rumah “usang”. Sampai berumur lima tahun lebih Hatta menyangka bahwa Haji Ning adalah Ayahnya. Beliau memperlakukan Hatta begitu baik sehingga Hatta tak mendugga Haji Ning ayah tirinya. Setelah adikadik Hatta lahir, ayah tiri Hatta tak sedikitpun berubah sikapnya terhadap Hatta. Dari seibu sebapak hanya dua orang saja dilahirkan, Mohammad Hatta dan kakaknya perempuannya Rafiah. Umur Hatta dan kakaknya cuma berselisih dua tahun. Setelah ibunya menikah dengan Haji Ning, pernikahan merekea melahirkan empat anak, jadi semua enam bersaudara, tetapi cuma satu-satunya anak laki-laiki yaitu Mohammad Hatta.

Pengalaman sebagai anak laki-laki satu-satunya sudah menjadikan Hatta sebagai tumpahan kasih sayang, perhatian dan anak yang paling diberi pengawasan yang ketat oleh keluarga ibunya, yang sudah terbukti membentuk Hatta sebagai yang taat, teratur dan berdisiplin. Latar keluarga ibunya yang kehidupannya berkecimpung sebagai pedagang, serta bertahun-tahun tinggal bersama ayah tirinya yang juga sebagai pedagang, telah mempengaruhi untuk meminati masalah-masalah ekonomi, sedangkan dari latar belakang ayahnya yang pemuka Islam, khususnya bimbingan agama dari paman Arsyad, telah meninggalkan dasar-dasar pemahaman agama yang kuat dalam diri Hatta. Tidak mengherankan jika kelak nanti Hatta tumbuh menjadi pemeluk Islam yang kuat tapi rasional, sekaligus sarjana ekonomi yang disegani.

Latar Belakang Pendidikan

Untuk masalah pendidikan, tampaknya Hatta sudah dipersiapkan oleh keluarganya tentang pendidikannya kelak. Dengan hal itu Hatta dimasukan di sekolah rakyat yang menjadi latihan murid-murid sekolah raja, tetapi setelah Hatta mendaftarkan di sekolah rakyat, Hatta belum bisa diterima karena umurnya belum mencapai enam tahun. Karena pada waktu itu tidak mudah untuk masuk sekolah. Contohnya di sekolah rakyat, kepala sekolah memberikan peraturan, untuk mengetahui siswa sudah enam tahun. Siswa harus bisa menjangkau pucuk telinga kiri dengan tangan kanan melalui kepala.

Karena Pak Gaek ingin sekali Hatta sekolah, akhirnya Hatta dimasukan ke sekolah Belanda swasta milik Tuan Ledeboer. (Foto Hatta waktu berangkat ke sekolah dapat dilihat di lampiran pertama halaman 109) Biasanya yang sekolah di sana adalah anak-anak yang sudah selesai di sekolah rakyat selama lima tahun. Karena harus bermula dari bawah dulu Hatta harus memulai dari belajar menulis dan membaca terlebih dahulu. Setelah selesai menamatkan pendidikan di sekolah privat Belanda selama tujuh bulan, khususnya untuk memacu kemampuan Hatta dalam membaca dan menulis, akhirnya Hatta baru diterima belajar di sekolah rakyat yang letaknya di Bukitinggi.

Selain menerima pendidikan di sekolah, Hatta juga belajar mengaji setiap malam sehabis magrib. Hatta belajar mengaji di surau Syekh Mohammad Jamil Jambek bersama teman-teman sebayanya. Pengajian di surau, ditekankan pada penguasaan bacaan yang mencakup ketepatan mengucapkan huruf-huruf, atau panjang pendek (tajwid), dengungan dan irama. Hatta cepat dalam mengenal dan menghapal huruf-huruf arab, dan cepat pandai membaca Juz Amma. Tetapi Hatta mengakui dia lemah dalam menguasai irama, padahal sudah berulang kali Hatta diajarkan tapi selalu salah. Dengan kekurangan Hatta tak bisa berirama akhirnya Hatta diperbolehkan membaca dengan nada yang hampir tak berlagu. Bagaimanapun pelajaran mengaji mampu memupuk semangat keagamaan dan kekeluargaan.

Setelah Hatta mengenyam pendidikan selama enam sampai tujuh bulan lamanya, ada kabar baik dari Pak Gaek, dia diberi pesan dari guru Thaib di sekolah rakyat, bahwa di kelas satu masih banyak tempat yang kosong. Umur Hatta juga sudah mencapai enam tahun dan dia sudah diperbolehkan unutk masuk sekolah. Selama belajar di sekolah Belanda Hatta sudah bisa membaca dan menulis, maka dari itu Hatta sudah mempunyai modal untuk masuk di sekolah rakyat.

Selama belajar di kelas satu, Hatta hanya melewati dengan waktu empat bulan saja. Karena selama empat bulan Hatta selalu mendapatkan nilai yang bagus, Hatta langsung naik ke kelas dua, satu kelas dengan kakak satu-satunya Rafah. Walaupun kakaknya lebih tua dua tahun dari Hatta, permulaan bersekolah dan mengaji itu sama. Karena pada waktu itu anak laki-laki menjadi ukuran. Petang harinya Hatta melanjutkan sekolah berbahasa Belanda dengan seorang guru sekolah Belanda milik Tuan Janzen. Dalam hal berhitung, Hatta memang selalu terbelakang saat waktu di kelas, sebab sewaktu di rumah Hatta tak pernah mempelajarinya. Tetapi, berkat bantuan kakaknya, ketinggalan itu dapat dikejar dan sesudah vakansi bulan puasa, Hatta bersama kakaknya naik ke kelas dua.

Hatta mulai tercengang ketika dia mulai duduk di kelas, karena di antara kawan-kawannya ada yang sudah berumur 16 tahun dan sudah ikut bermain sepak bola dengan orang yang lebih dewasa. Hanya ada empat atau lima orang, selain Hatta dan kakaknya, yang berumur 10 tahun. Hal ini telah menunjukan betapa rendahnya penghargaan orang pada waktu itu terhadap sekolah pemerintah. Selama dua tahun Hatta belajar di sekolah rakyat, sampai pertengahan kelas tiga. Hatta pindah ke sekolah Belanda dan diterima di kelas dua, sesuai dengan tingkat pengetahuannya dalam bahasa Belanda.

Awalnya Hatta enggan pindah ke sekolah Belanda, karena dia takut kehilangan teman-teman sepermainan di sekolah, yang semuanya adalah anakanak bangsa sendiri. Tetapi, bujukan-bujukan mulai menghantui diri Hatta, mulai dari guru sekolah sorenya, Tuan Jansen, dan Paman Saleh membujuk Hatta supaya pindah sekolah. Guru Thaib juga memberikan nasihat yang serupa untuk pindah sekolah. Anak Guru Thaib yang bernama Zaubin yang sudah duduk di kelas empat di sekolah rakyat, akan pindah ke sekolah Belanda dan duduk bersama Hatta di kelas dua.

Setahun sesudah hal itu, saat Hatta duduk di kelas tiga, Pak Gaek akan menjalankan ibadah Haji ke Mekkah dan Hatta akan dibawa menurut rencana yang sudah lama ditetapkan, tetapi beberapa minggu sebelum keberangkatan Pak Gaek ke Mekkah, ada desakan dari ibu dan pamanya, supaya jangan Hatta yang ikut ke Mekkah, melaikan pamannya yang bungsu, Idris, karena Hatta dianggap belum cukup umurnya untuk pergi ke Mekkah, sedangkan pengajian AL- Quran juga belum tamat. Menurut pamannya lebih baik Hatta tamat sekolah terlebih dahulu. Sesudah khatam Quran, Hatta mulai mengaji Nahu dengan mengerti sedikit-sedikit bahasa Arab, barulah pergi ke Mekkah dan kemudian ke Kairo. Alasan tersebut akhirnya bisa diterima oleh Pak Gaek dan ia berangkat ke Mekkah dengan Idris, paman Hatta.

Baca Juga :   Biografi Singkat Syaikhona Kholil Bangkalan, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Memasuki tahun ketiga, Hatta dipindahkan ke sekolah dasar tujuh tahun khusus untuk anak-anak Belanda, ELS (Europese lagere School, sekolah dasar untuk orang kulit putih), di Bukitinggi. Tidak lama sekolah di ELS, memasuki kelas lima pada pertengahan tahun 1913, Hatta pindah ke sekolah ELS di Padang. Penyebab Hatta pindah sekolah ke ELS di Padang yaitu, tiga bulan sebelum vakansi besar murid-murid kelas empat yang bermaksud akan menempuh kemudian ujian masuk HBS boleh mengambil pelajaran privat dalam bahasa Perancis. Pelajaran itu diberikan oleh seorang guru sekolah Belanda pada sore hari, tiga kali seminggu. Kebetulan pada waktu itu Pak Gaek sudah memperoleh persetujuan dari tuan Chevalier, seorang komisi pos, bahwa ia akan mengajarkan bahasa Inggris kepada Hatta. Menurut Pak Gaek, bahasa Inggris lebih penting dan lebih perlu daripada bahasa Prancis sebab bahasa perniagaan. Maka dari itu Hatta tidak jadi mengikuti pelajaran bahasa Prancis.

Setelah tiga bulan Hatta belajar bahasa Inggris, tuan Chevalier dipindahkan kerja ke Batavia. Pindah belajar bahasa Perancis, Hatta sudah ketinggalan tiga bulan. Maka, diputuskan oleh orang tua Hatta untuk pindah sekolah ke Padang sesudah vakansi. Setelah ke padang, ada sekolah Belanda pertama yang mengajarkan bahsa Perancis sebagai mata pelajaran kelas lima. Pak Gaek akhirnya mengusahakan supaya Hatta bisa masuk dikleas lima. Selama Hatta bersekolah di situ dari kelas lima sampai kelas enam hanya ada tiga anak orang Indonesia yang satu kelas sama Hatta, di sekolah ini Hatta hitung cuma ada tujuh anak orang Indonesia. Kebanyakan anak-anak Indonesia yang boleh masuk di sekolah Belanda diterima pada sekolah Belanda kedua yang sederajat dengan sekolah-sekolah Belanda lainya seluruh Sumatera.

Selama di Padang Hatta tinggal bersama Pak Gaek, karena sejak beliau pulang dari Mekkah dan urusan pekerjaannya lebih banyak di Padang dari pada di Bukitinggi, beliau juga mendirikan rumah tangganya yang kedua. Hatta tidak suka dengan kelakuan pak Gaek, yang menikah lagi dengan orang lain, sedangkan umurnya sudah lebih dari 50 tahun. Dua tahun Hatta menetap bersama Pak Gaek dan istri mudanya, Hatta dipindahkan ke rumah ayah tirinya, Haji Ning, karena rumahnya lebih dekat dengan sekolah Hatta.

Selama hidup di padang Hatta juga meluangkan waktunya berkumpul dengan teman-temannya dan bergabung dalam suatu klub sepak bola pribumi. Setelah mulanya menjadi anggota biasa, akhirnya Hatta dipilih sebagai bendahara, lalu juga menjadi sekertaris di klub tersebut. Hatta memang mengetahui kegiatan seperti itu, disamping untuk memuaskan hobinya, sebagai proses pembelajaran dalam kehidupan berorganisasi dan bekerja dalam kelompok untuk kepentingan bersama. Meskipun asik dalam kegiatan bermainnya, Hatta tidak pernah mengabaikan sekolahnya. Kedua hal ini dapat di lakukan, karena Hatta sudah terbiasa hidup berdisiplin.

Pada pertengahan tahun 1916 Hatta berhasil menyelesaikan pendidikan di ELS Padang. Hatta lulus dengan mendapatkan nilai yang bagus. Setelah lulus di ELS Padang, kemudian Hatta mengikuti ujian HBS, sekolah menengah lima tahun. Dengan kerja kerasnya, akhirnya Hatta lulus dalam ujian HBS (Hogere Burger School). Tetapi, dalam kenyataannya Hatta tidak diperbolehkan oleh ibunya sekolah di HBS di Batavia karena Hatta dianggap umurnya masih terlalu muda. Setelah melalui kekecewaan, akhirnya Hatta mematuhi saran ibunya dan memilih melanjutan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Orderwijs : Pendidikan Dasar Lebih Lanjut) Padang. (Foto Hatta waktu di sekolah MULO dapat dilihat di lampiran ketiga halaman 111) Dalam benak Hatta keinginan melanjutkan ke HBS masih ada, Hatta berkeinginan setelah lulus di MULO Hatta akan melanjutkan ke HBS. Hatta juga merasa berat berbuat seperti itu, sebab Hatta akan rugi setahun. Murid tamatan MULO yang diterima di HBS pada kelas tiga sudah diajarkan ilmu kimia, sedangkan di MULO ilmu kimia tidak diajarkan. Dengan hal itu Hatta merasa untuk pertama kali menghadapi “krisis” pelajaran.

Waktu Hatta masuk ke MULO di Padang, sudah banyak anak-anak Indonesia yang bersekolah di MULO. Sekolah itu terbuka bagi murid-murid yang datang dari sekolah Belanda dua dan yang berasal dari HIS. Mereka diterima dan dibebaskan dari pelajaran bahasa Perancis. Sebelum itu, hanya murid-murid sekolah Belanda pertama yang dapat melanjutkan pelajarannya di sekolah MULO. Sejak dua tahun terbuka kesempatan bagi murid-murid tamatan HIS untuk masuk sekolah MULO, tetapi dengan melalui voorklas, kelas permulaan dua tahun lamanya. Titik berat pelajaran pada kelas permulaan yang terletak pada bahasa Belanda sekali pun matta pelajaran yang lain tidak diabaikan.

Pada kelas satu kelasnya untuk pertama kalinya dipisah. Murid-murid dari sekolah Belanda pertama dimasukan ke kelas IA, di mana pelajaran bahasa Perancis diajarkan sebagai sambungan pelajaran yang telah diperoleh di sekolah Belanda pertama. Murid-murid yang datang dari sekolah Belanda kedua, yang tidak mengikuti pelajaran bahasa Perancis, ditempatkan di kelas IB. Pada pertengahan tahun 1918, datang keputusan pemeritah bahwa mulai dengan tahun pelajaran 1918/1919 murid MULO di Padang akan diberi kesempatan mengikuti pelajaran agama satu jam seminggu menurut agamanya masing-masing. Unutk yang beragama Islam akan diajarkan oleh Haji Abdul Ahmad, murid-murid yang beragama Protestan dari seorang domine, dan bagi murid-murid yang beragama Katolik akan diajarkan oleh seorang pastor

Sejak Hatta duduk di kelas dua MULO, perhatiannya terhadap masalahmasalah di luar pelajaran sekolah bertambah besar. Sejak Sarikat Usaha memperjuangkan agama di sekolah MULO, Hatta sudah berhubungan dengan perkumpulan tersebut. Terutama dengan sekretarisnya, Engku Taher Marah Sutan, seorang idealis yang giat berkerja dengan tidak kenal lelah. Kalau tidak ada dia, Sarikat Usaha tidak menjadi pusat pertemuan orang-orang terkemuka serta kaum cerdik pandai di Padang. Hampir setiap hari Hatta datang ke perkumpulan Sarikat Usaha untuk mengasah otaknya dengan masalah-masalah yang tidak diajarkan di MULO.

Pada bulan Mei 1919 Hatta lulus dalam ujian MULO dan terbukalah jalan bagi Hatta unutk melanjutkan sekolahnya di Batavia. Tetapi, ada saja yang menganjurkan Hatta untuk meneruskan bersama Alimudin dan Kalimalikul Adil. Alimudin tiga tahun lebih dahulu dari Hatta tamat dari sekolah MULO, Kalimalikul Adil setahun lebih dahulu. Kedua-duanya tekenal sebagai murid yang pintar. Tetapi, Hatta memilih Prins Hendrik School (PHS), Sekolah Dagang Menengah lima tahun. Dasarnya tiga tahun di HBS dan di atas itu dua tahun jurusan dagang. Bagi murid yang sudah lulus di MULO dapat diterima di kelas empat atau juga disebut kelas pertama bagi dagang. Ada syarat untuk masuk ke kelas itu, ia mesti mengejar yang setahun dalam mata pelajaran kimia. Sebab itu Hatta tidak jadi melanjutkan pelajaran ke HBS sebab di HBS Hatta akan diterima hanya di kelas tiga. Sudah tergambar di matanya bahwa ia harus mengatasi ketinggalan itu. Telah nyata bagi Hatta bahwa kalau di Batavia, ia harus membatasi dirinya dari permainan olahraga dan mengutamakan pelajaran spesial untuk kimia.

Pada dasarnya sekolah menengah di Batavia mulaih libur besar dalam bulan Juli. Maksud Hatta, ia akan pergi pada pertengahan Juni 1919 ke Batavia sebab ada kabar bahwa PHS akan mulai pelajaran pada 1 Juli. Pada pertengahan Juni 1919 Hatta pergi ke Batavia. Setelah dua hari berada di Batavia, Hatta mulai mendaftar ke sekolah PHS (Prins Hendrik School) untuk mendaftarkan dirinya sebagai murid, bagi sekolah dagangnya. Sekolah PHS juga terdapat pula Sekolah Menengah Pelayaran. Kedua bagian pendidikan itu letaknya berhadapan.

Setelah satu minggu duduk di bangku PHS kelas satu bagin dagang, Hatta merasakan perbedaan cara guru mengajarkan di PHS dan di MULO. Waktu sekolah di MULO pelajaran itu seperti dituangkan oleh guru ke otak murid, sedangkan di PHS lebih banyak disuruh menangkap apa yang diutarakan guru berdasarkan pada buku pelajaran. Guru memperingatkan supaya bagian yang akan diterangkan itu terlebih dahulu di baca di rumah, sebelum guru menerangkan di sekolah.

Setelah lama menempuh pendidikan di PHS, pada bulan Mei 1921 Hatta berhasil menamatkan sekolahnya di PHS, bahkan memperoleh rang king tiga. Ada 21 orang lulus dan 3 orang lainya jatuh. Dengan demikian cita-cita Hatta untuk melanjutkan sekolah ke negeri Belanda tampaknya akan menjadi kenyataan. Tetapi, secara kebetulan Mak Etek Ayub yang sejak semula sudah berjanji akan membiayai pendidikannya ke Rotterdam mengalami kebangkrutan dalam usaha dagangnya, bahkan Mak Etek Ayub sempat masuk penjara. Disisi lain Hatta juga tergoda untuk mengisi lapangan kerja yang waktu itu terbuka luas dan dengan gaji yang menggiurkan untuk tamatan sekolah menengah. Dua hal itu yang membuat Hatta ragu-ragu untuk melanjutkan pendidikannya ke Rotterdam. Setelah mendengar nasihat dan dukungan dari bekas gurunya di PHS, Dr. De Kock, juga dari Mak Etek Ayub sendiri dan jaminan akan memperoleh beasiswa dari Van Deventer Stichting, akhirnya Hatta memutuskan untuk tetap berangkat ke Negeri Belanda.

Pada 3 Agustus 1921 Hatta berangkat ke Negeri Belanda saat Hatta berumur 19 tahun. (Foto Hatta pada waktu di Belanda dapat dilihat di lampiran kelima halaman 113) Pada tanggal 5 September 1921 Hatta sampai di Belanda dan langsung merapat ke Rotterdam. Hatta memang akan mendaftarkan diri di Sekolah Tinggi Dagang (Handels Hoge School) di kota itu. Proses pendaftaran, persiapan kuliah, dan terutama, penyesuaian fisik dan mental dengan suatu kehiduapam masyarakat Eropa dilaluinya dengan lancar. Pengalaman bergaul dengan keluarga Belanda sejak masa kecil di Bukitinggi sampai pendidikan menengah di Padang dan Batavia agaknya telah menyiapkan Hatta untuk menjalani suasana kehidupan masyarakat Barat tanpa kejutan budaya yang berarti. Hatta bahkan mampu memahami budaya dan peradaban Barat dengan lebih baik dan menyerap segi positif dari budaya dan peradaban Barat seperti berfikir rasional, kerapian dan berpakaian, sikap correct, tertib dan disiplin terhadap waktu.

Baca Juga :   Biografi Singkat Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya



Hari selasa ketiga bulan September, sehari sesudah Hatta diterima menjadi mahasiswa. Dari segala mata pelajaran ada yang diwajibkan, ada yang fakultatif, ada yang tambahan saja unutk meluaskan pandangan. Hatta pun tertarik kepada kuliah tambahan, kuliah tentang Tata Negara yang diajarkan oleh Profesor Oppenheim, yang menjadi ketua perkumpulan otonomi untuk Hindia Belanda. Beliau mulanya adalah Guru Besar Tata Negara di Leiden dan Guru Besar Luar Biasa untuk ilmu itu di Rotterdam.

Beberapa tahun sebelum Hatta sampai di Rotterdam, ia sudah mengundurkan diri sebagai guru besar karena umurnya sudah 70 tahun. Atas permintaan banyak mahasiswa, kuliahnya di Rotterdam diteruskan dengan nama “ Ceramah Profesor Oppenheim” tentang Ilmu Tata Negara. Caranya membrikan kuliah sangatlah menarik. Sayangnya Profesor Oppenheim menghentikan kuliahnya pada akhir tahun pelajaran 1921-1922 karena umurnya sudah genap 76 tahun, hanya setahun saja Hatta mengikuti perkuliahannya.

Kuliah yang sangat menarik pula ialah kuliah Profesor F. De Vries. Ia mengajarkan pokok-pokok Ilmu Ekonomi, yang disebut waktu itu “Ekonomi Teoretika”. Logikanya, suasana kalimatnya begitu menarik perhatian sehingga mata pelajaran yang diberikannya itu dipandang di Rotterdam sebagai pusat Ilmu Ekonomi. Ia mengajarkan Ekonomi Teoretika tidak saja pada pendidikan kandidat, tetapi juga pada pendidikan doktoral. Empat atau lima tahun berturutturut ia mendidik seorang mahasiswa ekonomi, sebelum mencapai tingkat doktorandus. Setiap tahun kuliahnya diperbaikinya, susunan kata-katanya dan cara memecahkan masalahnya.

Pada waktu itu pelajaran kandidat ekonomi dibagi dua golongan. Golongan yang pertama yaitu pendidikan biasa dan umum. Bagian kedua disebut pendidikan Ekonomi Kolonial. Untuk bagian ini, mahasiswa dibebaskan dari mengikuti kuliah Sejarah Ekonomi dan beberapa bagian dari Organisasi Ekonomi. sebagai gantinya, mahasiswa yang mengikuti pelajaran Ekonomi Kolonial wajib mempelajari lima mata pelajaran sepesial yang berhubungan dengan Hindia Belanda, yaitu Ekonomi Kolonial, Politik Kolonial, Etnologi, Pengetahuan Barang, Teknologi dan Kimianya, serta Bahasa Melayu

Untuk pelajaran Ekonomi Kolonial diajarkan oleh Lektor Gonggrijp. Sebelum diangkat menjadi lektor untuk mata pelajaran tersebut, ia mengajar sebagai kontrolir di Hindia Belanda. Dalam jabatan itu, ia mempelajari masalah-masalah ekonomi Hindia Belanda, yang dianggapnya berlainan dasar dan coraknya dari ekonomi benua Barat. Waktu pulang perlop ke negeri Belanda ia menguraikan di beberapa tempat pendapatnya tentang ekonomi kolonial, sambil mengikuti beberapa kuliah di Leiden.

Politik Kolonial diajarkan oleh D.G. Stubbe dengan jabatan Guru Besar Luar Biasa. Sebelumnya, ia adalah guru di Nederlands-Indische Bestuurs-academie. Mata pelajaran Etnologi diajarkan oleh Guru Besar Luar Biasa J.C. Van Eerde, Guru Besar di Universitas Amsterdam. Pengetahuan Barang Dagang serta Teknologi, dan Kimianya diajarkan oleh Prof. Verkade, Guru Besar di HandelsHogeschool, Rotterdam. Bahasa Melayu diajarkan oleh Prof. C. Spat, guru besar di Koninkilijke Militare Academie di Breda. Dari beberapa mata pelajaran yang sudah ada, Hatta memilih untuk mengikuti pelajaran bagian Ekonomi Kolonial, dengan tidak melepasakan pelajaran tentang Sejarah Ekonomi dan beberapa bagian dari Organisasi Ekonomi, yang dibebaskan bagi mahasiswa yang mengikuti bagian pelajaran Ekonomi Kolonial. Dengan niat Hatta untuk mencapai yang dia harapkan, Hatta mengatur waktu belajarnya dengan semaksimal mungkin, suapaya dapat menempuh ujian dengan tepat waktu. Selain tekun dalam perkuliahannya, Hatta juga aktif dalam organisais Indsche Vereniging (Perkumpullan Hindia), dan di organisi ini Hatta menjabat sebagai bendaharnya.

Setelah lama Hatta mengikuti perkuliahan, pada bulan Mei menghadapi masa penghabisan dengan menempuh ujian untuk memperoleh diploma handleseconomie, terbagi atas dua bagian. Bagian pertama Hatta akan diuji oleh Prof. Mr. F. De Vries, tentang ekonomi teoretika, Prof. G.M. Verrijn Stuart tentang uang, kredit dan bank, serta politik peninggalan dan perhubungan, Prof. Mr. Dr. H.R. Ribbius tentang hukum dagang. Setelah satu jam lamanya mengikuti ujian Hatta dipersilahkan untuk menungggu di luar. Belum lima menit Hatta keluar dari ruang ujian Hatta dipanggil untuk masuk. Ketua komisi ujian memberitaukan bahwa Hatta, lulus dalam ujian pertama dan memperbolehkan untuk menempuh ujian bagian kedua. Seminggu setelah mengikuti ujian pertama Hatta menempuh ujian hondlseconomie bagian kedua. Tetapi dalam ujan kedua Hatta gagal melakukanya karena hasilnya tidak memuaskan menurut pengujinya. Sebab itu, Hatta diminta kembali diuji tiga bulan lagi. Setelah tiga bulan menunggu akhirnya pada tanggal 27 November 1923 Hatta lulus ujian bagian kedua dengan tidak keberatan.

Pada pertengahan September 1925, Hatta ke Handels-HogeSchool Rotterdam untuk mencatatkan dirinya sebagai mahasiswa tahun 1925-1926 sambil memperoleh berbagai keterangan tentang jurusan baru dalam pelajaran doktoral. Setelah membaca program-program perkuliahan doktoral tersebut, Hatta tertarik pada jurusan Hukum Tata Negara dan Hukum Adminstratif yang akan diajarkan oleh Mr. C.W. De Veries. Mata pelajaran yang diambil sebagai mata pelajaran pilihan tentang keuangan negara, akan diajarkan oleh Prof. Mr. D. Van Blom, yang sudah lama mengajarkan Undang-Undang Perusahaan dan Sosial di Rotterdam. Hukum Internasional yang akan Hatta ambil dalam pilihan kedua tetap akan diajarkan oleh prof. Mr. Dr. J.P.A. Fancois, yang sudah dua tahun telah diikuti Hatta. Maksud Hatta semula, ia akan menempuh tentamen padanya pada permulaan kuliah 1925-1926. itu mudah dilakukan bagi Hatta, sebab jabatan yang biasa adalah pada Departemen Luar Negeri di Den Haag, sedangkan di Rotterdam, sejak tahun 1919 ia menjadi guru besar luar biasa untuk mengajarkan Hukum internasional. Selama mengikuti perkuliahan Hatta memberanikan dirinya untuk pulang pergi dari Den Haag ke Rotterdam.

Pada tanggal 20 Desember 1925, sebelum libur Natal bermula, Hatta datang mengunjungi prof. C.W. De Veries di kamar kerjanya untuk menanyakan bukubuku yang harus dipelajarinya untuk tentamen dan ujian doktoral. Sebelum mulai libur natal pada minggu kedua bulan Desember 1925, Hatta akan menempuh tentamen Hukum Internasional pada Prof. Fancois di tempatnya di bironya pada Kementrian Luar Negeri di Den Haag. Setelah diuji kurang dari setengah jam akhirnya Hatta lulus dalam ujian dan berkeinginan untuk menempuh ujian doktoral, tetapi sesudah tahun 1926, karena keinginan Hatta untuk mengikuti jurusan baru Staatkundige Economische Richting dan akhirnya Hatta diperbolehkan meninggalkan bironya. Tetapi di tengah jalan Hatta memutuskan untuk mengundurkan jangka menempuh ujian doktoral dan memilih untuk menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia tahun 1926.

Pada akhir Juni 1932, Hatta melanjutkan studinya untuk menyelesaikan ujan doktoralnya. Ujian dibagi menjadi dua, masing-masing ujian satu jam waktunya. Bagian pertama Hatta akan di uji oleh Prof. Mr. F. De Vires, Prof. Mr. De Verrijin Stuart, dan Prof. Mr. C.W. De Viries. Pada bagian kedua diuji oleh Prof. Mr. C.W, Prof. Mr. Dr. Franciois, dan Prof. Mr. Van Blom. Setelah ujian pertama ditempuh, Hatta dapat menempuh ujian doktoral pertama dan bisa menempuh ujian doktoral yang kedua. Dengan niat yang sudah ada, akhirnya Hatta dapat menyelesaikan ujian yang kedua, dan mendapatkan predikat keberatan. Setelah menyelesaiakan ujian doktoral, Hatta memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Karir Politik

Awal perpolitikan Hatta dimulai saat dia sekolah di Belanda, Hatta bergabung dan aktif dalam organisasi Indische Vereniging (Perkumpulan Hindia), yang sebenarnya adalah organisasi sosial, dan kemudian berubah menjadi organisaisi politik, terutama dengan pengaruh Ki Hadjar Dewantara, Dous Dekker, dan Tjibto Mangunkusumo pada tahun 1913 ketika mereka tidak diperbolehkan bergerak di Indonesia. Pada tahun 1924 Indische Vereniging berganti nama menjadi Indonesische Vereniging atau Perhimpunan Indonesia (PI).

Setelah dipimpin oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional, seperti Ahmad Subardjo, Sutomo, Hermen Kartowisastro, Iwa Koesoema Soemantri, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Sukiman Wirjosandjojo, pada tanggal 17 Januari 1926 pimpinan jatuh ke tangan Hatta. (Foto pengurus Perhimpunan Indonesia (PI) dapat dilihat di lampiran keempat halaman 112) Pada saat Hatta dipilih menjadia Ketua PI, dia menyampaikan pidato inagurasi yang berjudul “Economiche Wereldbouw en Machtstegenstelingen” (Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasan). Setelah PI dibawah pimpinan Hatta banyak memperlihatkan perubahan. Perhimpunana ini banyak memperhatikan perkembangan pergerakan nasional di Indonesia.

Pada tanggal 23 September 1927 Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Abdul Madjid Djojoadhiningrat, ditangkap oleh penguasa Belanda. Mereka dituduh menjadi anggota partai terlarang dan menghasut untuk menentang kerajaan Belanda. Semua tuduhan tersebut ditolak dalam pembelaannya, yang ia beri judul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka). Dalam pembelaannya Hatta juga diantu oleh tiga orang pengacara yang memang bersimpati pada Hatta. Setelah Hatta ditahan beberapa bulan, pada tanggal 22 Maret 1928 Hatta dan ketiga anggotanya dibebaskan oleh pengadilan, karena semua tuduhannya tidak bisa dibuktikan. (Foto Hatta dan ketiga kawannya setelah dibebaskan dari tahanan dapat dilihat di lampiran 114) Setelah bebas dari tahanan, Hatta melepas jabatannya sebagai ketua PI pada tahun 1929, karena akan melanjutkan kuliahnya untuk mengikuti ujuan doktoralnya. Setelah Hatta mengundurkan diri menjadi ketua, PI jatuh kepada pengaruh pihak komunis, termasuk partai komunis Belanda. Setelah tahun 1931, PI yang sudah jatuh ke tangan komunis mengecam keras kebijakan Hatta, dan mengeluarkan dari PI.

Hal yang kedua datang dari Indonesia, Ir. Soekarno dan ketiga temannya dari PNI ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda, karena Soekarno tidak setuju dengan sistem yang ditetapkan pihak Belanda. Tidak lama kemudian PNI di bubarkan oleh pengurus besarnya atas anjuran Mr. Sartono, dan diganti dengan Partai Indonesia (Partindo). Dengan hal itu, para pengikut Hatta di Indonesia juga membuat gerakan tandingan dengan mendirikan Golongan Merdeka yang kemudian beganti menjadi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI).

Baca Juga :   Sejarah Desa Sagaranten Kabupaten Kuningan (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Setelah selama 11 tahun belajar di Belanda, akhirnya pada tanggal 5 Juli 1932 Hatta tiba di Indonesia. Setelah beberapa hari beristirahat, Hatta mulai memfokuskan dirinya untuk memimpin PNI Baru. Telah terbukti banyak cabangcabang PNI Baru yang berdiri di berbagai kota. Tetapi tak lama kemudian, Hatta dan beberapa anggotanya dari PNI Baru termasuk Sjahrir, ditahan, mulanya di Penjara Glodog, kemudian dibuang ke Digul. Satu tahun Hatta tinggal di Boven Digul, kemudian pada tahun 1936 Hatta dipindahkan ke tempat pembuangan yang lebih aman dan sentosa alamnya, Banda Neira.

Setelah pecah Perang Pasifik (Desember 1941) Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Sukabumi. Setelah bebas dari masa hukuman, Hatta kemudian juga aktif di berbagai organisasi tanah air. Tepat setahun meletusnya Perang Asia Timur Raya, sebuah Rapat umum diadakan di Lapangan Ikada, Jakarta 8 Desember 1942. Hatta diminta berpidato. Hatta Berkata: “Bagi pemuda Indonesia, ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dasar laut dari pada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali”

Kemudian pada 8 Maret 1943, empat Serangkai seprti, Soekarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur, mendirikan Poetera (Pusat Tenaga Rakyat). Poetera sendiri menjaga cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagai tujuan pokok bangsa. Poetera juga berusaha mengubah sistem pendidikan warisan Belanda menjadi sistem yang lebih cocok untuk Indonesia. Poetera sedikit banyak berhasil menggalang persatuan sebagai bangsa, juga meningkatkan kemampuan rakyat.

Pada akhir 1843, membentuk lembaga yang bersifat politik yaitu, Tyuo Sangi-in. Lembaga ini merupakan semacam penasihat bagi pemerintah, terdiri dari orang-orang terkemuka di tingkat daerah maupun nasional. Tingkat nasional dipimpin oleh Soekarno sebagai ketua, Hatta dan Ki Hadjar Dewantara sebagai wakil ketua, tetapi pemerintah mengangkat tokoh lain, seperti Kusumo Utoyo dan Buntaran Martoatmojo. Kemudian, setelah kedudukan Jepang tambah terdesak dalam perang pasifik, 18-21 Juni 1945. Hatta terpilih lagi menjadi wakil Ketua, yang kali ini dibenarkan oleh pemerintah. Namaun, dalam konteks pergerakan rakyat tidak berarti banyak.

Pada November 1943, pimpinan Angkatan Darat Jepang di Indonesia berusaha membuang Hatta ke Tokyo agar dia terpencilkan dari perkembangan perpolitikan. Namun, usaha tersebut gagal, karena perkembangan situasi Perang Pasifik yang terus berlanjut, Termasuk akibat adanya setrategi perang sekutu yang dipimpin oleh Jendral Douglas MacAthur. Setelah kejadian tersebut, Hatta kemudian banyak terlibat pembentukan Badan Penyeledikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibuka pada 28 Mei 1945. Badan ini menyusun rancangan Undang-Undang Dasar yang dapat selesai pada Juli 1945. Selain di BPUPKI Hatta juga mengikuti pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang di bentuk pada awal Agustus 1945. Para anggotanya pun representatif di bandingkan dengan anggota BPUPKI, PPKI mencakup wakil-wakil dari Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia Timur, disamping dari Jawa.

Setelah Jepang bertekuk lutut kepada sekutu dan kemerdekaan Indonesia sudah diambang pintu, para pemuda pernah kecewa kepada Hatta. Pada 5 Agustus 1945, Subadio Sastrosastomo dan Subianto Djojohadikusumo datang membujug Hatta untuk menyerukan pernyataan kemrdekaanan. Hatta dan Soekarno menolak bujukan itu karena mereka terikat kepada janji bahwa pernyataan kemerdekaan adalah hak PPKI, bukan hak Soekarno dan Hatta. Keduanya merasa tidak dapat mengesampingkan Panitia.

Pada 16 Agustus 1945, mulanya akan menyelnggarakan rapat, tetapi pada hari itu Soekarno dan Hatta dipaksa oleh para pemuda ke Rengasdengklok. Pemuda yang memaksa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengkok pun akhirnya setuju dengan saran kedua untuk membawa mereka segera kembali ke Jakarta, pada 16 Agustus malam. Sesampainya di Jakarta mereka berdua mengadakan Rapat Panitia Kemerdekaan, yang tergesa-gesa diadakan malam itu juga di rumah Admiral Maeda di Jalan Imam Bonjol, menghasilkan teks proklamasi yang didikte Hatta dan ditulis oleh Soekarno. Menjelang subuh panitia bubar untuk kembali berkumpul di Pegangsaan Timur 56, untuk menghadiri Proklamasi Kemerdekaaan, yang teksnya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta.

Pada sepuluh pagi tanggal 17 Agustus 1945, akhirnya Proklamsi Kemerdekaan dikumandangkan dan esok harinya dilakukan Pengesahan UUD (1945) yang dihadiri oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan. Keterlibatan dirinya dalam organisasi-organisasi tersebut akhirnya iktut mengantarkan dirinya sebagai proklamator kemerdekaan RI bersama Soekarno. Hatta diangkat aklamasi sebagai wakil persiden pertama RI dan persiden pertama RI dijabat oeleh Soekarno.

Ketika menjadi wakil persiden, Hatta banyak berperan penting dalam perumusan berbagai produk hukum nasioal. Selain itu, Hatta juga turut berperan dalam pembentukan tentara Indonesia. Dengan kesibukan Soekarno yang sering di luar kota, maka semua persoalan penting diserahkan kepada Hatta. Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Hatta pernah berusaha mencari dukungan di dunia internasional untuk mendukung Indonesia menjadi negara merdeka. Dengan usahanya akhirnya India membantu Indonesia dengan cara memrotes dan memberikan resolusi kepada PBB agar Belanda dapat dihukum.

Sorotan Soekarno dan Hatta muncul dalam peristiwa 19 Desember 1948, ketika ibukota RI di Yogyakatra diserang Belanda dan akhirnya Yogyakarta, Komisi Tiga Negara tidak dapat mencegah Belanda untuk menawan Soekarno dan Hatta. Akhirnya pada 1946, Hatta memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Hasil perundingan tersebut Belanda mengakui kedaulatan RI. Berdirilah Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dipimpin oleh Hatta sebagai perdana menterinya. Dalam kurun waktu antara 29 Januari 1949 hingga desember 1949, ia merangkap jabatannya sebagai wakil persiden, perdana menteri, dan sekaligus menjadi mentri pertahanan RIS. Dalam kurun waktu Desember 1949 hingga Agustus 1950, Hatta juga merangkap sebagai menteri luar negri (menlu) RIS.

Setelah perjalanan pemeritahan Indonesia, Hatta meletakan jabatanya sebagai wakil persiden karena berselisihan pendapat dengan Soekarno pada 1 Desember 1959. Sebagai tokoh nasional Dwitunggal, keduanya berada pada garis yang kadang sejalan dan kadang pula berseberangan. Dalam Visi misilah yang membedakan pendapat mereka dalam mengelola negara. Akhirnya, di penghujung tahun 1959, Hatta berhenti dalam jabatan apapun di pemerintahan, dan akhirnya Hatta memutuskan untuk menjadi manusia biasa yang menghadapi hidupnya.

Karya-karya Mohammad Hatta

Mohammad Hatta adalah orang yang sangat produktif, aktif dan memiliki kecerdasan spiritual serta intelektual yang memadai. Dengan kecerdasannya, setiap pemikirannya selalu ia bukukan. Sudah lebih dari 40 buah buku karangan Hatta yang dibukukan. Buku yang ditulis dan pertama kali diterbitkan tahun 1926 semasa di Den Haag Belanda Berjudul “Economische Werelbouw En Macthtstegen Stellingen“ dan karya lain yang terkenal adalah “Portrait of a Patriot“, adapun karya-karya lain diantaranya adalah :

  1. L’ Indonesie et Son Probleme de’t Independence (Indonesia dan Masalah Kemerdekannya tahun 1928.
  2. Indonesia Merdeka (Indonesia Vrijs) tahun 1928.
  3. Tujuan dan Politik PNI, tahun 1931. Bersamaan ini pula selama memimpin PNI Baru, di Jakarta ia sempat menulis buku dengan judul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme pada tahun 1934.

Disamping beberapa karya tersebut ada banyak karya lain yang berupa artikel dan makalah serta naskah pidato yang telah disadur, dicetak dan diterbitkan oleh beberapa tokoh nasional sekarang dan penerbit, diantaranya sebagai berikut :

  1. Rasionalisasi, Surabaya, 1939
  2. Mencari Volkend Bond dari Abad ke Abad, Bukittinggi : Penyiaran Ilmu, 1939.
  3. Bank dalam Masyarakat Indonesia, Bukittinggi : Bank Nasional, 1942.
  4. Beberapa Pasal Ekonomi, Jakarta : Balai Pustaka, 2 Jilid, Jilid I, Cet. Ke-4, tahun 1950 dan Jilid II, Cet. Ke-2, 1951.
  5. Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta : Kementerian Penerangan, 1950
  6. Kooperasi Jembatan ke Demokrasi Ekonomi, Jakarta : Kementrian Penerangan, 1953.
  7. Dasar Politik Luar Negeri Republik Indonesia, Jakarta : Tintamas, 1953.
  8. Meninjau Masalah Kooperasi, Jakarta : Pembangunan, 1954.
  9. Verspreide Geschriften, Jakarta : Van deer Peet, 1952.
  10. Pengantar ke Jalan Ekonomi Perusahaan, Jakarta : Pembangunan, 1955.
  11. Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan, Jakarta : Pembangunan, 1954.
  12. Indonesia’s Foreign Policy, in Foreign Affairs, No. 3, April, 1953.
  13. Kooperasi dan Pembangunan, Jakarta : Kementerian Penerangan, 1956.
  14. The Cooperativ Movement In Indonesie, Ithaca, New York : Cornel University Press, 1956
  15. Lampau dan Datang, Jakarta : Djembatan, 1956.
  16. Meninjau Sumatera Tengah, dalam Pikiran Rakyat, 3 Juni 1957 dan 24 Juni 1957.
  17. Meninjau Tugas Kita, 8 Juli 1957.
  18. Pembentukan Tugas dan Konstitusi, Pikiran Rakyat : bulan 17 April 1957.
  19. Rakyat Terpaksa Menderita akibat Tindakan Gila-gilaan, Indonesia Raya, 27 Desember 1957.
  20. Mari Memperbaiki Nasib Sendiri, 9 Maret 1957.
  21. The Cooperative Movement in Indonesia, Ithaca, New York : The Modern Indonesian Project Sontheast Asia Program : Cornel University Press, 1957.
  22. Diatas Jalan yang Salah, Pikiran Rakyat, 13 Agustus 1957.
  23. Islam Masyarakat Demokrasi dan Perdamaian, terj. L. E. Hakim, Jakarta: Tintamas, 1957.
  24. Kumpulan Pidato-Pidato Selama Berkunjung di RRC, Peking: Kedutaan Besar Republik Indonesia. 1957.
  25. Indonesia Between The Power Bloes, in Foreign Affairs, No. 3 April 1958.
  26. 25 Tahun Koperasi, 1958.
  27. Pendidikan Menengah Koperasi, Yogyakarta : Yayasan Pendidikan Koperasi, 1958.
  28. Demokrasi Kita, Jakarta : Panji Masyarakat, 1960.
  29. Ekonomi Terpimpin, Jakarta : Fasco, 1960.
  30. Colonialism and War Danger, Asian Survey, Nopember, 1961.
  31. Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia, Jakarta : Djambatan, 1963.
  32. Nuzulul Qur’an, Bandung : Angkasa, 1966
  33. Pancasila Jalan Lurus, Bandung : Angkasa 1966.
  34. Peranan Pemuda Menuju Indonesia Merdeka, Bandung : Angkasa, 1966.
  35. Teori Ekonomi, Politik Ekonomi dan Orde Ekonomi, Jakarta : Tintamas, 1967.
  36. Pendidikan Nasional Indonesia, Bogor : Melati, 1968.
  37. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Jakarta : Tintamas, 1969.
  38. Perkembangan Koperasi di Indonesia, 1970-an.
  39. Abadi Indonesia Raya, Jakarta : Kompas, Pedoman, 14 November 1970.
  40. Sesudah 25 Tahun, Jakarta : Djambatan, 1970.
  41. The Putera Reports : Problem in Indonesia Japanese Wartime Cooperation, terj. William. H. Federick, Ithaca New York : Cornel Modern Indonesia Project, 1971.



Related posts