Biografi Singkat Syekh Yasin Al-Fadani, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

  • Whatsapp
Biografi Tokoh Lengkap

Biografi Syekh Yasin Al-Fadani | Biografi Singkat Syekh Yasin Al-Fadani | Profil Syekh Yasin Al-Fadani | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Syekh Yasin Al-Fadani: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Muhammad Yâsîn al-Fâdânî al-Makki. Dilihat dari namanya, al-Fâdânî, maka dapat diketahui bahwa beliau masih punya hubungan dekat dengan kota Padang Sumatera Barat, sedang al-Makkî menunjuk kepada kota Makkah Arab Saudi. Memang benar bahwa beliau adalah seorang ulama yang mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan kota Padang karena orang tua dan nenek moyangnya berasal dari sana, akan tetapi beliau sendiri dilahirkan di kota Makkah.

Ayah Syekh Yâsîn bernama Isa dan kakeknya bernama Udik. Sedangkan anaknya bernama Muhammad dan Faydh. Oleh karenanya Syekh mendapat laqab (julukan) Abu al-Faydh, ayahnya Faidh. Saudara Syekh Yâsîn bernama Muhammad Thaha dan Ibrâhîm.


Muhammad Yâsîn dilahirkan di Kota Makkah pada tahun 1335 H/1917 M dan meninggal pada tahun 1410 H/ 1990 M. Muhammad Yâsîn dibesarkan dalam keluarga yang relijius dan dalam tradisi keilmuan yang kuat. Ayahnya yang bernama Isa adalah seorang alim terutama dalam bidang ilmu hadis. Ia pernah mendapatkan ijazah dari ‘Abdullah Ibn Ibrâhim as- Sûdâni, seorang guru dari Madrasah al-Falâh dan di Masjidil Haram, dari Muhammad Mukhtâr Ibn ‘Athârid al-Boghori al-Makki pada tahun 1348 H, kelahiran Bogor yang mengajar di Masjid al-Haram selama lebih kurang 28 tahun, mulai 1321 H/ 1903 M hingga tahun 1349 H/1930 M (1862-1930), dan dari para Syekh terkenal di Masjidil Haram.

Kedua saudaranya, Muhammad Thâha dan Ibrâhim, juga seorang yang alim dan keduanya pernah mendapatkan ijazah dari Abu al-Mahâsin al- Bayrutî dan dari Syams ad-Dîn Muhammad Ibn Ibrâhîm al- Miski. Sedangkan Muhammad Thaha sendiri adalah lulusan Madrasah Dâr al-‘Ulûm ad-Dîniyah tahun 1358 H.

Pendidikan Syaikh Yasin Al-Fadani

Syekh Yâsîn menimba ilmu, mula-mula dari ayahnya sendiri, Syaikh ‘Isa al-Fâdânî, lalu kepada pamannya, Syekh Mahmûd al-Fâdânî. Setelah itu melanjutkan pendidikannya di Madrasah Shawlathiyyah (1346 H) dan akhirnya di Dar al-‘Ulûm ad-Dîniyyah, Makkah (tamat 1353 H).

Kedua madrasah ini sangat terkenal dan banyak murid nusantara yang belajar di sana. Madrasah Shawlathiyyah adalah Madrasah yang didirikan oleh seorang tokoh perempuan dari India, Shaulah al-Nisâ’, pada 1874, karena itu disebut Shawlathiyyah. Pengelolaan madrasah itu diserahkan kepada seorang ulama militan yang dikenal karena polemik-polemiknya melawan para misionaris Kristen di India dan menjadi salah seorang pemimpin pemberontakan anti-Inggris pada tahun 1857, yaitu Rahmatullah ibn Khalîl al-’Utsmânî.

Sedangkan pendirian Madrasah Dâr al-‘Ulûm berlatar belakang kejadian yang menyinggung rasa nasionalisme Syekh Yâsîn dan murid- murid Indonesia lainnya. Ada suatu kejadian di madrasah Shawlatiyah yang membuat Syekh Yâsîn marah dan kemudian memutuskan untuk keluar. Pada suatu hari, seorang guru di madrasah itu merobek koran berbahasa Indonesia yang dibaca oleh sejumlah mahasiswa asal Indonesia. Guru itu juga mengejek aspirasi nasonalis orang-orang Indonesia dengan mengatakan bahwa bangsa bodoh yang memakai bahasa seperti itu tak akan bisa meraih kemerdekaan. Kejadian ini disaksikan langsung oleh Syekh Yâsîn, dan tentu saja membuatnya marah dan memutuskan untuk keluar dari madrasah itu. Ia kemudian terlibat dalam usaha-usaha untuk mendirikan madrasah terpisah guna menampung mahasiswa asal Indonesia. Berdirilah Madrasah Dâr al-‘Ulûm ad-Dîniyyah pada 1934. Ada sekitar 120 santri Jawa (istilah Jawa saat itu mencakup seluruh kawasan Indonesia, Melayu, bahkan juga Thailand Selatan) yang pindah ke madrasah baru itu, termasuk Syekh Yâsîn sendiri.


Selain pendidikan formal, Syekh Yâsîn juga banyak berguru kepada para ulama besar Timur Tengah. Diantaranya beliau belajar ilmu Hadist pada Syekh ‘Umar Hamdân, pada Syekh Muhammad ‘Ali bin Husayn al-Mâliki, Syekh ‘Umar Bajunaid, mufti Syâfi’iyyah Makkah, lalu pada Syekh Sa’îd bin Muhammad al-Yamâni, dan Syekh Hassan al-Yamâni. Dalam disiplin ilmu Ushul fiqh, beliau menimba ilmu diantaranya pada Syekh Muhsin Ibn ‘Ali al-Falimbâni al-Makki (ulama keturunan Palembang yang tinggal di Makah), Sayyid ‘Alwi bin ‘Abbâs al-Mâliki al-Makki (ayah kandung Sayyid Muhammad, ulama Sunni Kontemporer dari Arab Saudi) dan banyak ulama berpengaruh lainnya. Bahkan disebutkan bahwa jumlah gurunya mencapai kisaran 700 orang, lelaki maupun perempuan.

Kehidupan sehari-hari Muhammad Yâsîn selalu diperuntukkan untuk ilmu. Di segala tempat dan kesempatan selalu dimanfaatkan untuk mencari ilmu. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya Syekh yang menjadi gurunya dari berbagai madrasah seperti Madrasah ash-Shawlathiyah, Madrasah Dâr al-‘Ulûm, Masjidil Haram, Madrasah al-Falâh, dan lainlain. Selain itu ia juga berguru kepada Syekh yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam, seperti dari Yaman, Beirut, Damaskus, Indonesia, Mesir, Tunisia, Turki, dan lain- lain. Dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk mencari ilmu dengan berbagai cara, seperti berikut: Pertama, belajar secara formal di suatu madrasah, seperti di Madrasah ash-Shawlatiyah dan Madrasah Dar al-‘Ulûm ad-Dîniyah. Kedua, belajar pada Syekh yang membuka halaqah di Masjid al- Haram atau kuttab di rumahnya. Ketiga, mendatangi Syekh tertentu dari berbagai daerah untuk mendapatkan hadis ketika mereka melaksanakan ibadah haji atau pada kesempatan yang lainnya, seperti ketika ia mendapatkan ijazah dari Kyai Bâqir al-Jogjawi saat beliau berkunjung untuk menghadiri Ihtifâl an- Nihâ`i di Madrasah Dâr al-‘Ulûm, atau mendatangi seorang Syekh di rumah atau penginapannya. Keempat, melalui surat menyurat, seperti yang beliau lakukan untuk Syekh dari negeri yang jauh seperti Yaman, Irak, Indonesia dan lain-lain.

Baca Juga :   Biografi Singkat Nurcholis Madjid (Cak Nur) : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Pada bulan 27 Ramadan 1354 H Syekh Muhammad Yâsîn bin ‘Isa al- Fâdânî menyelesaikan kitab berjudul Janî ats-Tsamar Syarh Manzhûmah Manâzil al-Qamar yang merupakan syarahan karya al- ‘Allâmah Khalîfah Ibn Ahmad an-Nabhâni al-Falaki. Sebenarnya sebelum kitab tersebut disyarah oleh Syekh Muhammad Yâsîn bin Isa al-Fâdânî, ia terlebih dulu pernah diberi taqrirât (memberi pujian dan keterangan untuk memperkukuhkan sesuatu perkara) pada bagian bawahnya oleh Sayid Muhsin al-Masâwi.

Selama bertahun-tahun Syekh Yâsîn aktif mengajar dan memberi kuliah di Masjidil Haram dan Dâr al-‘Ulûm ad-Dîniyyah, Makkah, terutama pada mata kuliah ilmu Hadits. Pada tiap-tiap bulan Ramadhan selalu membaca dan mengijazahkan salah satu diantara Kutub al-Sittah (6 kitab utama ilmu Hadits). Hal itu berlangsung lebih kurang 15 tahun.

Muhammad Yâsîn kemudian menjadi seorang yang alim dan disegani bahkan disebut-sebut sebagai ‘allâmah dan merupakan salah satu dari dua orang muhaddits (ahli hadis) terbesar abad ke-XIV H sampai abad ke- XV H. Dan termasuk salah satu ulama Jawi yang mengajar di Masjidil Haram. Pada tahun 1384 H/1964 M, Muhammad Yâsîn dipercaya untuk menjadi kepala Madrasah di Madrasah Dâr al-‘Ulûm yang keempat sampai pada tahun 1410 H/1990 M.

Selain itu beliau juga dianggap sebagai perintis Madrasah Banât (sekolah perempuan), yakni Madrasah Ibtidaiyah putri di Syamiyyak Makkah pada bulan Rabiul Awal tahun 1362 H. Perjalanan Madrasah banat ini dari tahun ke tahun berkembang pesat, hal ini terbukti semakin banyaknya pelajar dan alumni, karena Madrasah banat ini adalah yang pertama di kota Makkah bahkan di kerajaan Saudi Arabia, sehingga pada tahun 1347 H didirikan Ma’had Mu’allimât.

Semasa dia masih hidup, banyak jamaah haji Indonesia yang selalu menyempatkan mampir di madrasah yang dikepalainya. Syekh Yâsîn juga memelihara relasi dengan sejumlah kiai di Indonesia, bahkan menuliskan semacam thabâqat/tarâjum atau biografi sejumlah kiyai di tanah air. Dia sempat hadir dalam Muktamar NU ke-26 di Semarang pada 1979. Pada kesempatan itulah dia menyempatkan diri untuk mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa Tengah.

Di kalangan santri Indonesia, Syekh Yâsîn dikenal sebagai “benteng” doktrin Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah di tanah Haramayn berhadapan dengan kampanye agresif ideologi Wahabi yang disokong oleh pemerintah Saudi.

Guru-Guru Syekh Yâsîn

Dalam pembahasan sebelumnya disebutkan bahwa jumlah guru Syekh Yâsîn mencapai kisaran 700 orang, lelaki maupun perempuan, sedangkan Muhammad Mukhtâr ad-Dîn al-Falimbânî dalam kitab Bulûgh al-Amâni menyebutkan 172 orang, baik guru yang ada di Madrasah Shawlathiyah, Madrasah Dâr al-‘Ulûm, Madrasah al-Falâh, Masjidil Haram, di Madinah, Yaman, Iraq, Asia Tenggara dan lain sebaganiya. Di sini penulis tidak akan menyebutkan mereka semua satu persatu, akan tetapi hanya sebagian guru saja terutama guru yang beliau cantumkan dalam kitab al-Arba’ûna Hadîtsan dan guru yang berasal dari wilayah Nusantara. Mereka diantaranya adalah:

Di Madrasah ash-Shawlatiyah diantaranya adalah:

  1. Abu Hafsh ‘Umar Ibn Hamdân al-Mahrusi at-Tûnisi al- Madani (w. 1368 H), syaikh di Madrasah ash-Shawlatiyah dan di Masjidil Haram Makkah, bergelar Muhaddits al-Haramayn asy- Syarîfayn dan bermazhab Maliki. Syekh Yâsîn menimba ilmu dari beliau dalam jangka waktu yang lama baik di Madrasah Shawlathiyah maupun di Masjidil Haram Makkah dan mendapatkan Ijazah dari beliau pada tanggal 2 Shafar 1360 H.
  2. Syekh ‘Abdullah Ibn Muhammad Ghâzî al-Hindi al-Makki (w. 1365 H), Kepala Perpustakaan Madrasah Shawlathiyyah Makkah dan Syaikh di Masjidil Haram dan bermazhab Hanafi. Beliau juga seorang muhaddits, musnid (ahli sanad), dan ahli sejarah. Syekh Yâsîn mendapatkan Ijazah dari beliau pada 19 Rabiul Awal 1362 H.
  3. Syekh ‘Abd ar-Rahmân Ibn Karîm Bakhs al-Hindi, Syekh di Madrasah Shawlathiyah dan Masjidil Haram Makkah dan bermazhab Hanafi. Seorang ahli hadits (muhaddits) dan ahli bahasa Arab. Beliau wafat sebagai syahid pada 1368 H di Makkah. Syekh Yâsîn mendapatkan Ijazah dari beliau pada 18 Rabiul Tsani 1360 H.

Gurunya di Madrasah Dâr al-‘Ulûm ad-Dîniyah diantaranya adalah:

  1. Syekh Muhammad ‘Ali Ibn Husain Ibn Ibrâhim Ibn Husayn Ibn ‘Âbid al-Mâliki al-Makki (w. 1368 H). Beliau adalah seorang Syekh di Madrasah Dâr al-‘Ulûm ad-Dîniyah dan di Masjidil Haram, dan bergelar Sibawayh Zamânihi (Imam Sibawayh pada zamannya) Beliau adalah penulis Tadrîb ath- Thulâb fi Qawâ’id al-I’râb, Tahdzîb al-Furûq, dan al-Qawâ’id as-Saniyah fi al-Asrâr al-Fiqhiyyah.
  2. Syekh Ibrâhîm Ibn Dâwud ‘Abd al-Qâdhi al-Fathâni, selain di Madrasah Dâr al-‘Ulum beliau juga mengajar di Masjid al- Harâm.
  3. Syekh Husayn Ibn ‘Abd al-Ghanî al-Falimbâni al-Makki, selain di Madrasah Dâr al-‘Ulûm beliau juga mengajar di Masjidil Haram.

Gurunya di Madrasah al-Falâh Makkah diantaranya salah satunya adalah Syekh ‘Abdullâh Ibn Ibrâhîm al-Qursyi al-Sûdâni, selain di Madrasah al-Falâh beliau juga mengajar di Masjidil Haram. Beliau juga guru dari Muhammad ‘Isa al-Fâdânî, ayah Syekh Yâsîn .

Gurunya di Masjidil Haram dan di rumah diantaranya adalah:


  1. Syekh ‘Umar Ibn Abi Bakr Ibn ‘Abdillah Bajunaid al-Kindi al-Makki (w. 1354 H), seorang muhaddits dan ahli fiqih.
  2. Syekh Abu al-Yaman Sa’id Ibn Muhammad Ibn Ahmad al- Akhlawdi yang terkenal dengan Yamani al-Makki (w. 1354 H), seorang muhaddits dan ahli fiqih. Selain sebagai seorang pengajar di Masjidil Haram beliau juga Imam di Maqâm Ibrâhim.
  3. Syekh Burhân ad-Dîn Ibrâhîm Ibn ‘Abdillah Yarsyâh ad- Dihlawi al-Kutbî al-Makki, seorang muhaddits, ahli Ushul Fiqih dan ahli bahasa. Beliau dijuluki al-Lihyâni karena jenggotnya yang tebal dan al-Kutubî karena berprofesi sebagai penjual kitab di tokonya di Makkah. Beliau berumur panjang (mu’ammar) karena wafat pada usia 103 tahun pada 18 Ramadhan 1354 H.
  4. Syekh Muhammad ‘Abd as-Sattâr Ibn ‘Abd al-Wahhâb Ibn Khidyâr ash-Shiddiqi al-Makki ad-Dihlawi (w. 1355 H), seorang muhaddits dan musnid (ahli sanad), serta bermazhab Hanafi.
  5. Syekh ‘Ubaidullah Ibn al-Islâm as-Sanadi ad-Diwbandi (w. 1363 H), tinggal di kota Makkah selama 15 tahun.
  6. Sayyid Muhammad al-Marzûqi Ibn ‘Abd ar-Rahmân Ibn Mahjûb (w. 1365 H), seorang Syekh bermazhab Hanafi di Masjidil Haram. Syekh Yâsîn pernah mendapatkan ijazah dari beliau pada 17 Shafar 1363 H.
  7. Syekh ‘Umar ibn Husain ad-Dâghistâni al-Makki asy-Syâfi’I (w. 1365 H), seorang alim dan ahli fiqih serta Syekh di Masjidil Haram. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada 29 Rabiul Tsani 1360 H.
  8. Bahâ` ad-Dîn Ibn ‘Abdillâh Ibn ‘Abd al-Hakîm al-Kâbûli al- Afghâni, wafat pada tahun 1352 H di Makkah.
  9. Asy-Syihâb Ahmad Ibn ‘Abdillâh al-Mukhallalâti asy-Syâmi al-Makki (w. 1362 H). Seorang ahli hadits dan ahli qira’at ini adalah pemilik dan direktur Madrasah al-Ahmadiyah di Makkah.
  10. Sayyid ‘Idrus Ibn Sâlim al-Bârr al-Makki, seorang ahli hadits dan ahli fiqih. Saudara Sayyid Abu Bakr Ibn Sâlim ‘Idrus al- Bârr al-Makki.
  11. Syekh Abu al-Hasan ‘Ali Ibn Fâlih Ibn Muhammad Ibn Fâlih azh-Zhâhiri al-Muhannawi al-Madani al-Makki (w. 1364 H), seorang wahli hadits dan ahli sanad. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada 18 Dzulqa’dah 1352 H.
  12. Syekh ‘Ali Ibn ‘Abdillâh Ibn Arsyad Ibn ‘Abdillâh al-Banjari al-Makki (w. 1370 H), cucu Syekh Muhammad Arsyad al- Banjari, seorang ahli fiqih dan Syekh di Masjidil Haram. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada 2 Jumadil Ula 1360 H.
  13. Sayyid ‘Abd al-Muhsin Ibn Muhammad Amin Ridhwân al- Madani (w. 1380 H), seorang pengajar di Masjidil Haram di Bâb an-Nabi.
  14. Syekh al-Kiyahi Bâqir Ibn Muhammad Nûr Ibn Fâdhil Ibn Ibrâhim al-Jogjawi al-Makki (w. 1363 H), Syekh di Masjidil Haram. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada 23-2- 1359 H.
  15. Syekh al-Kiyâhi ‘Abd al-Muhîth Ibn Ya’qûb Ibn Fanji as- Sidarjawi al-Makki, lahir di Sidoarjo tetapi wafat dan dimakamkan di Jeddah pada bulan Dzul Qa’dah 1383 H.
Baca Juga :   Sejarah Singkat Kota Palangka Raya (Sejarah dan Profil)

Gurunya di Madinah diantaranya adalah:

  1. Syekh Muhammad ‘Abd al-Bâqî Ibn al-Mulla ‘Ali al-Ayyûbi al- Anshâri al-Laktsawi al-Madani (w. 1363 H). Beliau adalah seorang ahli hadits agung dan Syekh di Masjid an-Nabawi Madinah. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada tanggal 9 Jumadil Tsaniyah 1353 H, lalu pada tanggal 2 Jumadil Ula 1359 H, dan pada 27 Jumadil Ula 1360 H.
  2. Syekh ‘Abd al-Qâdir Ibn Tawfîq Syalabi ath-Tharâbulisi al- Madani (w. 1369 H), seorang muhaddits dan Syekh bermazhab Hanafi di Masjid an-Nabawi. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada tanggal 26 Jumadil Tsaniyah 1358 H dan pada tanggal 26 Muharram 1362 H
  3. Syekh ‘Ali Ibn ‘Abdillah ath-Thayyib al-Anshâri al-Madani (w. 1359 H), seorang ahli hadits dan ahli fiqih serta menjabat sebagai amin al-fatwa di Madinah. Syekh Yâsîn pernah berkumpul dengan beliau dan mendapatkan ijazah pada tanggal 27 Dzul Qa’dah 1356 H.
  4. Allamah Syekh ‘Abd al-Hayy Ibn ‘Abd ar-Rahmân Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Ibrâhim Abu Khudhayr al- Madani, seorang ahli hadits tinggal di kota Madinah, dan terkenal dengan sebutan Abu Khudhair al-Madani. Syekh Yasin pernah mendapatkan ijazah lafzhiyah dan secara wijadah.

Gurunya di Yaman diantaranya adalah:

  1. Sayyid Ahmad Idrîsi Ibn Muhammad Ibn Sulaymân al-Ahdal az- Zubaydî (w. 1357 H), seorang mufti kota Zubayd Yaman menggantikan saudaranya. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada awal bulan Rabi’ Tsani 1356 H.
  2. Husayn Ibn ‘Ali Ibn Muhammad al-‘Amri ash-Shan’âni, seorang ahli sanad dan qadhi di Yaman. Beliau wafat pada usia 93 tahun pada tanggal 2 Syawal 1361 H. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada akhir bulan Jumadil Ula 1356 H.
  3. Sayyid ‘Abd ar-Rahmân Ibn ‘Ubaidillah ibn Muhsin Ibn ‘Alwi as- Siqâf (w. 1375 H), seorang mufti di ad-Diyâr al-Hadhramiyah. Syekh Yâsîn mendapatkan ijâzah lafzhiyah di Masjidil Haram dan ijâzah kitâbiyah yang dikirimkan pada tangal 14 Syawal 1362 H dari Sion Yaman.
  4. Syekh Muhammad Ibn ‘Iwadh Bafadhil at-Tarîmî di Makkah, datang ke kota Makkah beberapa kali untuk menunaikan ibadah haji, dan pada musim haji terakhir Syekh Yâsîn banyak menghadiri majlis beliau dan mendapatkan ijazah dari beliau.

Gurunya di Syam diantaranya adalah:

  1. Sayyid Badr ad-Dîn Ibn Yûsuf al-Maghribi al-Ashl ad-Dimasyqi (w. 1354 H), seorang Syekh pengajar hadis di al-Jâmi’ al-`Umawî dan Dâr al-Hadîts al-Asyrafiyah di Syam. Syekh Yâsîn menulis surat dari Makkah kepada beliau di Syam meminta ijazah dari beliau, yang akhirnya dikabulkan dan ijazah ditulis sebanyak tiga kali.
  2. Syekh Muhammad Abu al-Khayr Ibn Muhammad al-Maydâni ad- Dimasyqi (w. 1380 H), seorang ahli hadis dari kota Damaskus, ahli ibadah, dan ahli fiqih bermazhab Hanafi. Beliau datang ke kota Makkah untuk melaksanakan haji pada tahun 1361 H yang dimanfaatkan Syekh Yâsîn untuk menimba ilmunya dengan menghadiri beberapa majlisnya, hingga mendapatkan ijazah pada 12 Dzul Hijjah 1361 H dan pada tahun 1362 H.
  3. Syekh Mahmûd Ibn Rasyîd Ibn Muhammad al-‘Aththâr ad- Dimasyqi w. 1363 H), seorang ahli hadis, ahli sanad, ahli fiqih, dan ahli tahqiq. Beliau juga seorang Syekh yang mengajar di Madrasah Dâr al-Hadîts al-Asyrafiyah di Damaskus. Syekh Yâsîn menemuinya pada musim haji 1361 H dan mendengarkan beberapa hadisnya, hingga mendapatkan ijazah pada tanggal 17 Dzul Hijjah 1361 H.

Gurunya di Mesir diantaranya adalah:

  1. Syekh Muhammad Ibn Ibrâhim Ibn ‘Ali al-Humaydi al-Azhari al- Mishri (w. 1353 H), beliau bermazhab Maliki dan seorang pengajar di Universitas al-Azhar dan Masjid al-Husayni Mesir.
  2. Sayyid Ahmad Ibn Muhammad Rafi’ ath-Thahthawi al-Hanafi al- Mishri (w. 1355 H), seorang ahli tahqiq dan ahli sanad dari Diyâr al- Mishriyah. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah dari beliau pada tanggal 15 Dzul Qa’dah 1353 H di Kairo.
Baca Juga :   Biografi Singkat KH. Abdul Hannan Ma’shum, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Gurunya di Iraq:

  1. Syekh Jamîl Shidqî Ibn Muhammad Faidhi Ibn Mulla Ahmad Bâbân az-Zuhâwi al-Baghdâdi (w. 1354 H/1936 M) terkenal sebagai seorang filosof kota Baghdad abad XX. Syekh Yâsîn mengirimkan surat melalui pos memohon ijazah dari beliau, yang kemudian dikab-ulkan pada 8 Syawal 1353 H.
  2. Sayyid Ibrâhim Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn ‘Abdillah Ibn Rajab ar-Râwi (w. 1365 H/1946 M), seorang Syekh dari Jamâ’ah Rifâ’iyah di Baghdad.

Gurunya di India:

  1. Syekh Husain Ahmad Ibn Habîb Allâh al-Faydh Abâdi (w. 1377 H) terkenal dengan al-Madani, seorang Syekh ahli hadis dari Diwband dan penulis kitab Naqsy Hayâh. Syekh Yâsîn mendapatkan ijazah pada tanggal 24 Syawal 1372 H.
  2. Syekh Muhammad Anûr Syâh Ibn Mu’azhzham Syâh al-Hâsyimi al- Kasymâri (w. 1352 H), penulis Ta’liqât ‘ala Shahîh Muslim.

Gurunya di Asia Tenggara:

  1. Sayyid ‘Ali Ibn ‘Abd ar-Rahmân al-Habsyi al-Kuwitâni, lahir di Kwitang, Jakarta, pada 20 Jamadil Awwal 1286 H/20 April 1870 M dan wafat di Jakarta pada 1388 H atau 23 Oktober 1968 dalam usia 102 tahun.
  2. Sayyid ‘Alawi Ibn Thahir Ibn ‘Abdillah Ibn Thâhâ al-Haddâd Mufti Johor.
  3. Syekh ‘Abdullah Azharî Ibn Muhammad Azharî Ibn ‘Abdullah al- Falimbânî al-Makkî.
  4. Kiyai Marzûqi Ibn Mirshâd Ibn Nawm Ibn Thayyib al-Fathâni al- Batawi (w. 1353 H).
  5. Kiyai Muhammad Manshûr Ibn ‘Abd al-Hamîd Ibn Muhammad Damirî al-Batâwi.
  6. ‘Ali Ibn Husayn Ibn Muhammad al-‘Aththâs Syikini Jakarta (w. 1396 H).
  7. Kiyai Jam’ân Ibn Samûn al-Tangerâni (w. 1381 H).
  8. Syekh Arsyad Ibn As’ad Ibn Mushthafa al-Bantani al-Makki (w. 1353 H).
  9. Kiyai Bakri Ibn Sayyid Ibn Arsyad Kraton al-Bantani (w. 1395. H)
  10. Kyai Ahmad Baidhawi Ibn ‘Abd al-‘Aziz al-Lasemî.
  11. Kyai Ma’shûm Ibn Ahmad Ibn ‘Abd al-Karîm al-Lâsemî.
  12. Kyai Ihsan Ibn ‘Abdullah Ibn Muhammad Shâlih Ibn ‘Abd ar- Rahmân al-Jamfesî (w. 1374 H).
  13. Kyai Ahmad Marzûqi Ibn Hâmid Ibn Hasan as-Sawahâni as- Surabâwi (w. 1355 H).
  14. Kyai Muhammad Hâsyîm Ibn Asy’arî al-Jombâni atau KH Hasyim Asy’ari (w. 1388 H).
  15. Kyai ‘Abd al-Wahwab Ibn Hasbullah al-Jombâni atau KH Wahab Hasbullah.
  16. Kyai Shidiq Ibn ‘Abdillâh Ibn Shâlih Ibn Muhammad al-Lasemî al- Jambarî.

Gurunya di Maghrib:

  1. Sayyid Ahmad Ibn Muhammad Ibn ash-Shiddîq al-Ghumâri ath- Thanji.
  2. Syekh ‘Abd al-Hâfizh Ibn ath-Thâhir Ibn ‘Abd al-Kabîr al-Fihri al-Fâsi.

Karya-Karya Syekh Yâsîn

Syekh Yâsîn menulis banyak kitab–sebagian besar masih berupa naskah–tentang Hadis, Ushul fiqh, Fiqh, Manthiq, dan Bahasa Arab. Salah satu karya terbesarnya–yang sayangnya masih berupa manuskrip– adalah biografi ulama Makkah sepanjang abad ke-XIII sampai ke-XIV H.

Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya tentang Ilmu Hadits, Ilmu dan Ushul fiqih, ilmu Falak, dan ilmu-ilmu yang lain. Di antara kitab-kitab karya Syekh Yâsîn diantaranya adalah:

Karya-Karya Non-Hadis:

  1. Bughyau al-Mustaq syarah Luma’ Syekh Abu Ishâq 2 Juz
  2. Tatmîm al-Duhul Ta’liqât ‘ala Madkhal al-Wushûl ila al-‘Ilmi al- Ushûl.
  3. Al-Durr al-Nadhîd hawâsyi ‘ala Kitâb al-Tamhîd li al-Asnawî.
  4. Al-Fawâ`id al-Janiyyah hasiyah ‘ala al-Mawâhîb al-Saniyyah ‘ala Qawâ’îd al-Fiqhiyyah
  5. Ta’liqât ‘ala al-Luma’ al-Syekh Abi Ishâq
  6. Idhâ’atu al-Nûr al-Lâmi’ syarah al-Kawkab al-Syâthi’ Jam’u al- Jawâmi
  7. Hâsiyah ‘ala al-Talattufi syarah al-Ta’arruf fi al-Ushul Fiqhi
  8. Nayl al-Ma’mûl Hâsyiyah ‘ala Lubb Ushûl al-Fiqh.
  9. Hâsyiyah ‘alâ al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir fi al-Furû’ al-Fiqhiyyah

Kitab-kitab di atas berkenaan dengan ilmu fiqh dan ushul fiqh, sedangkan kitab-kitab Syekh Yâsîn derkenaan dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu falak, balaghah, manthiq, dan lain-lainnya, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Janî al-Tsamar syarah Manzhûmah Manâzil al-Qomar
  2. Al-Muhtadhar al-Muhadzab fi Ihtihrâji al-Awqât wa al-Qabîlah bi al-Rub’i al-Mujîb
  3. Al-Mawâhîb al-Jazîlah syarah Tsamrat al-Wasîlah fi al-Falaki
  4. Tastnîfu al-Sam’i Mukhtashar fi ’ilmi al-Wadh’i
  5. Bulghat al-Musytâq fi’ ilmi al-Isytiqâq.
  6. Manhalu al-Ifâdah hawasi ‘ala Risâlat al-Bahtsi Lathasyi Kubri Zadah
  7. Husnu al-Shiyâghoh syarah kitab Durûsi al-Balâghah.
  8. Risâlah fi al-Manthiqi
  9. Ithâf al-Khalân Tawdhîh Tuhfat al-Ikhwân fi ‘Ilmi al-Bayân li al- Dardiri
  10. Al-Risâlah al-Bayâniyyah ‘ala Thorîqat al-Su`âl wa al-Jawâb

Karya-Karya Hadis dan Isnad

Kitab-kitab tersebut diantaranya adalah:

  1. Al-Arba’ûna Hadîtsan min Arba’îna Kitâban ‘an Arba’îna Syekhan, yang menjadi obyek kajian skripsi ini.
  2. Al-Arba’ûna al-Buldâniyah (al-Arba’ûna Hadîtsan ‘an Arba’îna Syekhan min Arba’îna Madînah). Kitab ini menghimpun empat puluh buah hadis, yang diriwayakan oleh empat puluh Syekh yang berasal dari empat puluh kota.
  3. Arba’ûna Hadîstan Musalsal bi al-Nuhad ila al-Jalâl al- Suyûthî.
  4. Fath al-‘Allâm syarah dari kitab Hadîst Bulûgh al-Marâm 4 juz.
  5. Ad-Durr al-Madhud fi Syarh Sunan Abu Dâwud 3 jilid.

Kitab-kitab di atas berkenaan dengan hadis, sedangkan kitab- kitab Syekh Yasin berkenaan dengan ilmu sanad, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Al-Asânîd al-Makiyyah li Kutub al-Hadîts wa as-Siyar wa asy- Syamâ`il al-Muhammadiyah.
  2. Kifâyat al-Mustafîd lima ‘Alâ min al-`Asânid. Kitab ini menjelaskan jalur-jalur isnad hadis yang dimiliki oleh Syekh Mahfuzh at-Tirmasi.
  3. Al-Maslak al-Jalî. Kitab ini menjelaskan jalur-jalur isnad hadis yang dimiliki oleh Muhammad ‘Ali Ibn Husain al-Makki (w. 1357 H).
  4. Al-Washlu al-Sâti fi Tarjamati wa Asânîd al-Syihâb Ahmad al- Mukhollalati.
  5. Faydh al-Mubdî. Kitab ini berisi ijazah yang diberikan oleh Muhammad Yâsîn kepada Muhammad ‘Awwâd az-Zubaydi pada tahun 1376 H.
  6. Al-Wâfi Badzîl Tidzkâr al-Mashâfi. Kitab ini berisi ijazah yang diperolehnya dari ‘Abdullah Ibn ‘Abd al-Hakîm al-Jarâfi.
  7. Asânîd al-Faqîh. Kitab ini menjelaskan jalur-jalur isnad hadis yang dimilikinya yang bersambung kepada Ahmad Ibn Hajar al- Haytamî.
  8. Ithâf al-Burdah bi Asânîd al-Kutub al-Hadîtsah al-‘Asyrah.
  9. Waraqât li Majmû’ah al-Musalsalât wa al-`Awâ`il wa al-Asânid al-‘Âliyah.

Related posts