Biografi Singkat Muhammad Sayyid Thantawi : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Muhammad Sayyid Thantawi : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran


Biografi Singkat Muhammad Sayyid Thantawi | Profil Muhammad Sayyid Thantawi | Pendidikan Muhammad Sayyid Thantawi | Karya Muhammad Sayyid Thantawi | Pemikiran Muhammad Sayyid Thantawi | Wislahcom | Referensi |

Profil Muhammad Sayyid Thantawi

Nama lengkapnya beliau adalah Muhammad Sayyid Atiyah al-Thanthawi. Nama terakhirnya (Thanthawi) dinisbahkan kepada kota Thantha sebuah provinsi di Mesir. Beliau dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Sulaim al-Syarqiyyah, Shahaq, Mesir pada tanggal 14 Jumada al-Ula 1347 H, bertepatan dengan tanggal 28 Oktober 1928.

Sejak kecil ia digembleng oleh orang tuanya untuk menjadi panutan ummat, maka tak heran, di umur yang masih anak-anak, beliau sudah hafal al-Quran. Setelah selesai dengan al-Quran, beliau meneruskan pendidikannya di Ma’had alIskandariyyah al-Diny pada tahun 1944. Setelah tamat dari pendidikan menengah, ia melanjutkan kuliah di fakultas Ushuludin (Theology) di Universitas al-Azhar yang menjadi lumbung ilmu sejak dahulu pada tahun 1958. Tak tanggung-tanggung, beliau menyelesaikan sampai jenjang doktoral di fakultas yang sama, jurusan tafsir dan hadis, dengan mendapatkan predikat cumlaude pada tahun 1966.



Pada tanggal 8 Dzulqa’dah 1416 bertepatan dengan tanggal 27 Maret 1996, Muhammad Sayyid Thanthawi diangkat menjadi Grand Syeikh Al-Azhar. Beliau adalah Syeikh Al-Azhar ke-43. Amanah ini ia laksanakan dengan baik sampai akhir hidupnya. Beliau merampungkan program Syeikh Abdul Halim Mahmud (Syekh al-Azhar ke-40), yaitu mengembalikan seluruh harta al-Azhar yang telah dirampas oleh pemerintah Mesir selama ratusan tahun sejak kepemimpinan Isma’il Pasha.

Pendidikan Muhammad Sayyid Thantawi

Proses belajarnya pertama kali dimulai dari desanya. Setelah hafal al-Quran di Madrasah Iskandariyah pada tahun 1944, ia meneruskan pendidikannya ke Fakultas Ushuluddin di Universitas al-Azhar, dan selesai pada tahun 1958. Pada tahun 1959, beliau menyelesaikan pendidikan takhassus-nya di Al-Azhar. kemudian, pada tahun 1966, ia menamatkan pendidikan doktoralnya di fakultas yang sama konsentrasi tafsir dan hadis dengan nilai mumtaz (cumlaude), dengan judul tesis “Banu Israil fi al-Qur’an wa al-Sunah”.

Karya Muhammad Sayyid Thantawi

Semasa hidupnya, Muhammad Sayyid Thanthawi telah banyak menghasilkan karya-karya yang sangat berguna bagi khazanah keilmuwan Islam, di antara karya-karyanya yang terkenal adalah:



  • Adab al-Hiwar fi al-Islam. Buku ini membahas tentang tata cara dialog dalam Islam, Thanthawi mengatakan bahwa dialog adalah proses pemahaman yang harus diiringi dengan harmonisasi dan negosiasi. Metode ini menurutnya telah diterapkan oleh para Nabi dalam dakwah mereka kepada umat. Beliau menyebutkan bahwa dialog dan debat, diskusi dan review antara orang-orang dalam hal-hal tertentu, telah diulang dalam al-Quran, lebih dari 1.700 kali.
  • Kitab Fiqh al-Muyassar. Dalam buku ini Grand Imam Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi, merakit bab-bab fiqih berdasarkan al-Quran dan Sunnah, dan didasarkan pada buku-buku fiqih lainnya, baik yang kuno maupun kontemporer, sehingga menjadikan buku ini mudah dibaca dan dipahami. Buku fiqih ini layak dibaca bagi mereka yang ingin mendapatkan kemudahan dalam masalah-masalah fiqih.
  • Al-Qishshah fi al-Qur’an. Ini adalah buku yang mengutarakan kisah-kisah dalam al-Quran serta hikmah dari kisah-kisah tersebut. Mulai dari cerita para Nabi seperti Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa, sampai kepada kisah-kisah klasik seperti Ashab al-Kahfi, Zulkarnain dan lain-lain. Buku ini ditutup dengan kisah Nabi Muhammad Saw serta mukjizat (al-Quran) yang dibawanya.
  • Banu Israil fi al-Qur’an. Buku ini terdiri dari dua jilid. Dalam buku ini Muhammad Sayyid Thanthawi berbicara tentang banyak hal yang berkaitan dengan Bani Israil. Pada jilid pertama Thanthawi berbicara tentang sejarah perjalanan Bani Israil. Thanthawi juga menguraikan bagaimana metodologi al-Quran dalam berdakwah kepada Ahlu al-Kitab, juga tentang kaum Yahudi dengan segala permasalahnnya pada masa Rasulullah. Adapun dalam jilid kedua Thanthawi menguraikan tentang kesalahan-kesalahan ajaran Bani Israil dan bagaimana al-Quran memberikan pencerahan terhadapa ajaran tersebut, tentang janji-janji Allah Swt kepada mereka dan juga tentang Palestina.
  • Al-Tafsir al-Wassith. Tafsir ini memerlukan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikannya. Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim mulai ditulis pada tahun 1397 H./ 1976 M, dan selesai ditulis di Nasr City, Kairo pada Jumat pagi 26 Rabi‟ al-Awal 1407 H., bertepatan dengan tanggal 28 November 1986 M. Kitab ini terdiri dari 15 jilid, dengan menafsirkan alQur‟an al-Karim dari surat al-Fatihah sampai dengan surat al-Nas, atau penafsiran berdasarkan urutan ayat sesuai yang tertera dalam mushaf alQur‟an. Selain karya-karya di atas, Muhammad Sayyid Thanthawi juga memiliki karya-karya lain yang sangat banyak. Karya-karya ini menggambarkan bagaimana keluasan ilmu dan kontribusi Thanthawi dalam dunia keilmuwan Islam. Di antaranya adalah: al-Du’a’, al-Saraya al-Hurriyyah fi ‘Ahdi al-Nabiy, al-Ijtihad fi al-Ahkam al-Syari’ah, Ahkam al-Haj wa Umrah, al-Hukm al-Syar’iy fi Ahdats alHalij, Tanzhim al-Usrah wa Ra’y al-Din fih, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, al- ‘Aqidah wa al-Akhlaq, Isyruna Su’al wa Jawab, Fatawa Syar’iyyah, Manhaj alQur’an fi Bina’ al-Mujtama’, Risalah al-Shiyam, al-Mar’ah fi al-Islam bi alMusyarakah, dan lain-lain.

Pemikiran Muhammad Sayyid Thantawi

  • Aborsi

Dia telah mengeluarkan sebuah fatwa yang membolehkan aborsi dalam kasus seorang wanita telah dibuat menjadi hamil melewati pemerkosaan, meskipun ini menciptakan kontroversi dan Mufti Ali Gomaa berucap Thanthawy keliru, dan yang terlepas dari bagaimana kehidupan diciptakan, setelah 120 hari melaksanakan aborsi dibuat menjadi haram, dilarang.

  • Khitan pada wanita

Tantawy menentang khitan pada wanita dan menyebutnya tidak Islami, terutama pada tahun 1997 ketika dia berucap “Ulama Islam sepakat dalam menyetujui bahwa sunat perempuan tidak mempunyai hubungannya dengan agama” dan mengungkapkan putrinya sendiri tidak disunat.

  • Bom bunuh diri

Tantawy telah mengambil sebuah garis terhadap pemboman bunuh diri, dan tidak seperti rekan senegaranyanya Yusuf al-Qaradhawi, dia telah mengutuk penggunaan bom bunuh diri terhadap Israel, menolak pendapat bahwa semua orang Israel yang sah target karena pada tahap tertentu mereka hendak semua membawa pistol. Pada tahun 2003 dia disebut pelaku bom bunuh diri “musuh-musuh Islam”, dan menambahkan: “orang-orang dari keyakinan yang berlainan harus memainkan pekerjaan sama dan absen ke dalam konflik dan permusuhan absen pikiran. Ekstremisme yaitu musuh Islam. Padahal, jihad yaitu diperbolehkan dalam Islam untuk membela seseorang tanah, untuk membantu yang tertindas. Perbedaan selang jihad dalam Islam dan ekstremisme yaitu seperti bumi dan langit.”



  • Sikap terhadap Yahudi

Menurut sejarawan baru, Benny Morris, penafsiran Thanthawy pada Al-Qur’an tentang sikap mereka terhadap orang-orang Yahudi adalah: “Al-Quran menggambarkan orang-orang Yahudi dengan mereka sendiri merosot karakteristik tertentu, yaitu, membunuh nabi-nabi Allah, merusak kata-kata-Nya dengan menaruh mereka dalam tempat yang keliru, memakan harta orang-orang sembrono, menolak untuk menjauhkan diri dari kejahatan yang mereka lakukan, dan sifat-sifat jelek lain yang diakibatkan oleh mereka berakar kebirahan hanya sebagian kecil orang Yahudi tetap kata-kata mereka Tapi tidak semua orang Yahudi yaitu sama. Yang dibuat menjadi Muslim yang patut.”

  • Imam wanita

Tantawy menyelisihi hendak bolehnya perempuan sebagai imam dalam campuran jemaat selama salat Jumat (Jumu’ah), mengatakan ketika seorang wanita “memimpin laki-laki dalam doa itu tidak pantas untuk mereka untuk melihat tubuh wanita yang di depan mereka, “Sayed Tantawi. Dia juga disebut dalam buku Haydar Haydar, ‘Pesta untuk Rumput Laut’, menghujat. Pada tahun 2001, dia mengeluarkan sebuah fatwa yang melarang perempuan bertindak sebagai pengganti ibu atau menerima sperma beku dari suami yang mati.

  • Kontroversi Islam Paus Benediktus XVI

Sebagai tanggapan atas kontroversi Islam Paus Benediktus XVI, dia menyatakan : “Kami tidak keberatan bila Paus memegang pidato lain dan menyalakan buka bahwa apa yang diceritakan kaisar Bizantium keliru. Pada saat yang sama, Paus telah rindu maaf secara buka dan membenarkan apa yang dia katakan”.

  • Agresi 11 September

Berucap tentang agresi September 11, 2001, Thanthawy berkata: “Bukan keberanian dengan perkara apapun untuk membunuh orang yang tidak mempunyai kekeliruan, atau untuk membunuh ribuan orang, termasuk laki-laki dan perempuan dan anak-anak.” Dia berucap bahwa Osama bin Laden’s panggilan untuk sebuah Jihad melawan barat itu “tidak sah dan tidak mengikat umat Islam”, dia menambahkan “Membunuh warga sipil tak berdosa yaitu teroris, teroris yaitu gerakan yang tidak mempunyai satu pun agama agama yang menyetujuinya”. Dia mengatakan di dalam Al-Qur’an “tegasnya melarang hal-hal yang diterapkan oleh Taliban dan al-Qaida”.

Related posts