Biografi Ir. Soekarno | Biografi Singkat Ir. Soekarno | Profil Ir. Soekarno | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com |
Biografi Singkat Ir. Soekarno : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
Soekarno lahir di Blitar pada tanggal 6 Juni 1901. Saat Soekarno lahir diberi nama Kusno Sosro Karno. Ayahnya Raden Sukemi Sosrodiharjo, orang Jawa dan bekerja sebagai mantri guru di Sekolah Rakyat di Singaraja, Bali. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, wanita keturunan bangsawan Bali (berasal dari Kasta Brahma) asal Buleleng, Bali. Darah biru mengalir di tubuh Soekarno, ayahnya keturunan sultan Kediri sedangkan ibunya keponakan raja terakhir dari Singaraja.
Soekarno kecil sering sakit–sakitan, hal itu terlihat bahwa dulu ia sering terserang penyakit disentri dan malaria. Hal tersebut membuat ayahnya berpikir untuk mengganti nama Kusno menjadi Karno. Alasan ayahnya mengubah menjadi Karno disamping agar tidak sakit-sakitan, adalah ayahnya sangat mengagumi sosok Karno, salah satu tokoh pewayangan dalam cerita Mahabharata yang digambarkan sebagai pahlawan besar dalam cerita klasik Hindhu tersebut. Karno juga tokoh yang setia kawan, memilki keyakinan yang kuat, berani dan sakti.
Soekarno dibesarkan ditengah–tengah keluarga miskin. Tetapi hal itu tak menjadikannya sebuah mimpi buruk dalam kehidupan masa kecil Soekarno. Hal itu dikisahkan pada malam lebaran semua teman–temannya bermain petasan, tapi Soekarno kecil hanya bisa berbaring di tempat tidurnya yang kecil. Hatinya sedih karena ia tidak dapat bersuka ria bersama teman–temannya, dikarenakan kondisi dan keadaan keluarganya yang serba kekurangan secara materi.
Soekarno juga memilki eksistensi yang kuat, terbukti disaat bermain bersama teman-temannya, ia selalu menjadi pemimpin dalam permainannya tersebut. Bahkan ketika ia sudah mulai masuk dalam HBS (Hoogere Burger School), setelah ia lulus dari sekolah Bumiputera. Kemudian ia dititipkan ayahnya kepada seorang teman yang dapat merubah pemikiran dan tindakannya. Pendiri SI (Sarekat Islam) yaitu HOS. Cokroaminoto di Surabaya. Di rumah Cokroaminoto Soekarno tinggal selama di Surabaya. Sebuah kamar kecil, tidak ada pintu dan tidak ada jendela. Hanya sebuah meja kecil unjtuk meletakkan buku–buku, sebuah kursi kayu, gantungan baju dan sehelai tikar rumput. Tak ada bantal dan tak ada kasur.
Sebagaimana diakuinya, bahwa pak Cokro panggilan Karno untuk Cokroaminoto adalah orang yang mampu mengubah hidup dan duniannya. Menurut Soekarno, pak Cokro adalah seseorang yang pandai berpidato, kharismatik dan berwawasan luas. Dia selalu mendengarkan diskusi pak Cokro dan tamu–tamunya, termasuk kalangan kiri (komunis) seperti Alimin dan Muso yang kelak menjadi pendiri PKI (Partai Komunis Indonesia). Hal itu digunakan sebagai sandaran Bung Karno untuk mengarahkan pembangunan Indonesia.
Masa-Masa Memimpin Indonesia
Pada tahun 1921 bung Karno lulus dari HBS. Dan melanjutkan studinya di Bandung untuk belajar ilmu teknik. Di Bandung inilah bung Karno tetap melanjutkan semangat perjuangannya melawan penjajah. Ia banyak tampil sebagai tokoh yang berani melawan penjajah. Kematangan politiknya teraktualisasi menggantikan keberadaan PKI dan pejuang radikal lainnya yang telah dilumpuhkan oleh Belanda. Pada tahun 1926 pak Karno lulus dan menjadi sarjana teknik. Tapi ia masih tetap bersemangat dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mengkotbahkan nasionalis kepada rakyat Indonesia.
Pada tahun 1927 pak Karno mendirikan PNI. Tujuan PNI adalah mencapai kemerdekaan secara sepenuhnya. Tahun 1928, pak Karno dan partainya begitu aktif dalam melakukan propaganda dan sering tampil dengan pidato-pidatonya yang berapi-api dan menggugah. Karno mendapat julukan ”Singa Podium”, sebuah julukan yang dulu dilekatkan pada Cokroaminoto oleh banyak orang.
Soekarno dengan semangatnya yang berapi-api dalam memperjuangkan kemerdekaan, membuat pihak penjajah marah dan akhirnya pak Karno dipenjara. Bung Karno pernah dipenjara di Sukamiskin, di Bengkulu yang akhirnya ia disana berkenalan dengan tokoh Muhammadiyah. Dan ia juga pernah diasingkan di pulau Ende, di pulau inilah semangat keIslamannya semakin terasah. Perjuangannya dalam mewujudkan kemerdekaan banyak melewati kesulitan. Peristiwa rengasdengklok yang pada akhirnya membawa Indonesia dalam kemerdekaan.
Soekarno dalam mengantarkan Indoensia merdeka memiliki dua strategi yang cukup baik. Pertama dengan cara membangun kesiapan mental bangsa Indonesia dan yang kedua dengan cara menagkap peluang untuk merdeka. Cara yang pertama dengan membangun kesiapan mental bangsa tidaklah mudah, karena proses transformasi dari negeri yang terjajah menjadi negeri merdeka tentunya melalui tahapan-tahapan yang panjang serta upaya-upaya yang luar biasa. Awalnya Soekarno melakukannya dengan mendekati lingkungan terdekat yaitu organisasinya, Soekarno tak segan-segan membantu kawan-kawan organisasinya dalam berbagi masalah serta selalu memberikan solusi yang solutif, dengan tujuan untuk memperoleh kepercayaan dari kawan-kawannya. Kemudian Soekarno mulai mencoba mengubah pola pikir rakyatnya yang semula berorientasi ke arah pemerintahan Jepang menuju pandangan Indonesia merdeka. Hal itu dilakukan dengan cara orasi dalam berbagai banyak kesempatan, tujuannya agar pesan yang disampaikan dapat membekas dalam jiwa para pendengarnya. Setelah itu, Soekarno tak lupa berdiskusi dengan tokoh-tokoh bangsa yang memiliki pengaruh, baik dari kalangan sesama pejuang ataupun dari kalangan Jepang dan sekutu, termasuk bertemu dengan rakyat secara periodik. Hal itu semua dilakukan Soekarno untuk membangun mental bangsa agar menjadi bangsa yang sesuai dengan tujuan kemerdekaan Indonesia.
Setelah membentuk mental bangsa yang diharapakan semua kalangan rakyat Indonesia, strategi yang kedua adalah dengan menangkap peluang untuk merdeka. Salah satu peluang yang utama adalah adanya kekacauan-kekacauan politik dunia, yang menimbulkan pecahnya Perang Dunia II yang juga menyababkan posisi Jepang melemah di Asia Raya. Kekalahan telak Jepang dirasakan ketika Hiroshima dan Nagasaki diporakporandakan dengan dijatuhi Bom Atom oleh sekutu.
Semangat dalam mempertahankan kemerdekaan semakin sulit saat Soekarno ditunjuk sebagai presiden bersama Moh. Hatta yang melalui berbagai rintangan. Tujuan Soekarno untuk memimpin dengan sepenuh hati dilakukannya dengan baik, filosofi keseimbanga, akomodasi, dan menjaga hubungan dengan batin karena kepemimpinan ialah dua hubungan antar mereka yang beraspirasi untuk memimpin dan mereka yang memilih untuk mengikuti.
Penjajah tak henti–hentinya melakukan perlawanan kepada Soekarno. Rakyat Indonesia dengan semangat kemerdekaan, rela mengorbankan hidupnya demi Indonesia. Peristiwa agresi militer Belanda I dan II membawa posisi Indonesia semakin sulit. Perjuangan diplomasi tetap ditempuh Bung Soekarno, mulai perjanjian Linggarjati, KMB (Konferensi Meja Bundar), Renville dan lainnya membuat posisi Indonesia dalam aspek geografis semakin sempit. Pemberontakan daerah mulai bermunculan, dari peristiwa Sepuluh November di Surabaya, pertempuran 5 hari di Semarang, peristiwa Bandung Lautan api, dan lainnya adalah wujud semangat rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang akan direbut kembali oleh penjajah.
Kemudian muncul gerakan DI / TII pada tahun 1948 dibawah pimpinan Kartosuwirjo, yang meginginkan Indonesia menjadi negara Islam. Hal itu berlangsung bersamaan dengan pemberontakan kiri di Madiun. Peristiwa–peristiwa lainnya seperti perubahan sistem pemerintahan menjadi parlementer, konflik Irian barat, konflik dengan Malaysia, bergabungnya dengan PBB, aktif dalam perdamaian dunia yaitu pada saat perang dunia ke II antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dan peristiwa Supersemar yang membawa Soekarno dalam masa akhir. Jatuhnya Soekarno pun tidak lepas dari kasus–kasus (antagonisme politik) yang ada semasa ia menjadi presiden. Situasi yang tidak menentu pada tahun 1965, yaitu peristiwa pembantaian massal yang mengakibatkan terbunuhnya enam jendral TNI yang dikenal dengan peristiwa G30S PKI. Akhirnya banyak demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai kalangan, misalnya mahasiswa KAMMI dan KAPI bertujuan meyampaikan isi TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat) salah satunya berisi PKI harus dibubarkan.
Wafatnya Soekarno
Tahun 1965 boleh jadi merupakan titik balik bagi Soekarno. James Luluhim menyebutkan tanggal 1 Oktober 1965 sebagai titik yang menentukan hidup Soekarno di masa lanjut, presiden Soekarno bukan lagi merupakan satu-satunya pemimpin tertinggi di Indonesia. Pada hari yang sama, Soeharto telah memegang kendali AD dari tangan Ahmad Yani. Soeharto yang memiliki tindakan-tindakan yang sangat berlebihan, dengan kekuasaannya tersebut Soeharto membuat keputusan-keputusan secara sepihak melakukan pelarangan kepada Pangdam Jaya V kepada presiden dan Soeharto juga menggagalkan usaha Soekarno untuk memberikan perintah kepada Mayjen Pangad Pranoto Rekso Samudra. Tanpa kompromi panjang, Soeharto menetapkan diri sebagai panglima ABRI. Di saat yang sama, ia pun tak memberi izin Pranoto Rekso Samudra untuk memenuhi panggilan Soekarno. Disisi lain keberadaan Soekarno justru menimbulkan kontroversi banyak pihak. Muncul tuduhan mengenai keterlibatannya dalam G30S PKI.
Hal-hal yang dilakukan Soeharto terus-menurus memojokkan Soekarno, bagaimana Soeharto membuat isu tentang PKI sebagai organisasi yang akan merongrong Pancasila sebagai ideologi bangsa, ia terus mendesak agar Soekarno membubarkan PKI. Tapi Soekarno memiliki analisa lain mengenai PKI, PKI hanyalah sebuah organisasi politik yang mampu menjadi oposisi negara, PKI tidak melakukan kesalahan dalam hiruk-pikuknya politik di Indonesia. Soeharto terus mencari titik kelemahan Soekarno dan akhirnya keluar surat perintah Sebelas Maret yang menandai beralihnya kekuasaan negara dari Soekarno ke Soeharto yang menuai banyak perdebatan.
Guncangan-guncangan politik yang terjadi di Indonesia membuat Soekarno tertekan secara psikisnya. Soekarno khawatir dengan nasib rakyatnya yang telah digemblengnya selama bertahun-tahun ia sadar dengan posisinya yang tidak mungkin lagi dapat kembali seperti semula, munculnya Supersemar adalah wujud pengorbanan Soekarno terhadap rakyat Indonesia, Soekarno mengatakan,
“Biarlah aku lepaskan jabatan kepresidenanku daripada harus menyaksikan perang saudara yang nantinya bisa dimanfaatkan kekuatan-kekuatan Nekolim”
Semua peristiwa yang menimpa Soekarno saat ia sudah tak lagi menjadi presiden membuat kondisi kesehatannya kian menurun. Saat ia dirawat di Wisma Yaso, RSPAD dan RS Siti Khadijah yang semua terdapat rekaman catatan medis Soekarno dan hal itu juga yang membenarkan bahwa Soekarno meninggal tidak dibunuh. Akhirnya pada tanggal 21 Juni 1970 Sang Proklamator menghembuskan nafasnya yang terkahir. Dokter tak bisa berkata apa-apa ketika kondisi Soekarno sangat kritis. Sebelum Soekarno meninggal, ia sempat berkata pada anaknya Megawati. Lirih, tapi cukup bisa didengar,
“Anakku, simpan segala yang kau tahu, jangan kau ceritakan deritaku dan sakitku kepada rakyat, biarkan aku menjadi korban asal Indonesia bersatu. Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, dan keutuhan, dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”
Tuhan memang telah menentukan segalanya. Ahad 21 Juni 1970 pukul 07.00 WIB, sang Proklamator itu menutup mata selamanya, hal ini dituturkan oleh dr. Mahar Mardjono. Soekarno telah tiada, ia sudah lepas dari semua rasa sakit yang selama hampir 5 tahun menggerogoti. Soekarno telah sampai pada penantian, gerbang nirwana kematian, dan memulai ’kehidupan baru’, seiring dengan ketenangan yang abadi, tidur panjang yang menandakan kepulangan kepada sang khalik. Tak ada lagi siksa, lara, dan kecewa yang tergambar diwajahnya. Semua memutih, seiring lepasnya nyawa dari raga, menyatu dalam jasad yang beku. Itulah Soekarno Putra Sang Fajar, Singa Podium, Paduka Yang Mulia, pemilik 26 gelar Doktor Honoris Causa. Semuanya lepas, teriring ucap duka kehilangan.
Pemikiran dan Gerakan Politik Soekarno
Di rumah Pak Cokrolah Soekarno mengerti tentang ilmu agama, fiqh, syariah, belajar mengaji dan lain–lainnya. Pak Cokro yang pada saat itu sebagai pendiri SI (Sarekat Islam) membuat Soekarno banyak belajar dari pak Cokro lewat cara berdiskusi, mendengarkan tausiahnya, meskipun Pak Cokro tidak memiliki pemahaman tentang Islam secara tekstual. Soekarno juga banyak membaca buku-buku Islam milik Pak Cokro. Soekarno dikenal sebagai ”kutu buku”. Tokoh Islam yang dianggap mempengaruhi pemikiran Islam Soekarno adalah KH. Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta yang dikenal dengan ajaran TBC (Tahayul Bid’ah Churafat) dan Ahmad Hassan yaitu pemimpin Persatuan Islam (Persis), yang ia kenal sejak ia sekolah di Bandung. Hal itu tercermin dari setiap aktifitas termasuk pemikiran dan gerakan politiknya. Pada saat ia di buang di pulau Ende, jiwa keIslamannya semakin terasah dengan baik. Pemikirannya tentang rasioanlisme Islam terasah pada saat dibuang ke pulau tersebut. Disana ia banyak membaca macam-macam buku. Menurutnya al Quran tidak cukup hanya dipahami dengan membaca kitab-kitab tafsir klasik saja. Ia juga mengirimkan surat kepada sahabatnya, bernama A. Hasan sebagai seorang aktivis Muhammadiyah Bandung. Melaui surat yang dikirimkan dari Ende, Soekarno meminta dikirimi buku–buku yang berjudul pengajaran shalat, utusan Wahabi, Al–Muchtar, debat Talqien dan buku Islam modern yaitu Spirit of Islam. ”Surat-surat Islam dari Ende”, kumpulan surat Soekarno pada A. Hassan diacu sebagai wakil sah dari pemikiran Islam Soekarno. Surat–surat tersebut berisi bagaimana cara pandang Soekarno tentang Islam mulai dari masalah tabir sampai dengan hubungan Islam dengan negara hingga saat ini menjadi perdebatan dikalangan pemikir Islam. Meskipun Soekarno adalah seorang nasionalis dan dapat dikatakan sekuler, ada juga yang mengatakan Soekarno adalah sosialis – religius.
Pemikiran Soekarno tentang persatuan dan kesatuan banyak dipengaruhi oleh pemikiran Pak Cokro. Itu terlihat dari idenya tentang NASAKOM (nasionalis, agamis dan komunis). Pemahaman Soekarno mengenai Islam lebih dari sekedar orang pada umumnya. Ia mempelajari buku Islam yang ditulis oleh cendikiawan muslim dan para orientalis yang biasanya memiliki gagasan kritis tentang Islam. Gagasan Soekarno tergolong baru dan segar pada saat itu. Ia lebih modern dan maju dari pada tokoh agama Islam di masanya. Pada saat di buang di Bengkulu, ia juga berkenalan dengan tokoh Muhammadiyah.
Pemikirannya tentang nasionalis atau kebangsaan dan tanah air merupakan suatu kesatuan yang tak mampu dipisahkan. Ia memandang semuanya itu sebagai ”Ibu Indonesia” yang memberikan seluruh isi alamnya untuk hidup kita semua. Itu sebabnya ia mengajak kita semua untuk mencintainya dan menghambakan diri kepadanya. Nasionalisme menurut Soekarno merupakan sebuah kekuatan bagi bangsa-bangsa yang terjajah yang kelak akan membuka masa gemilang bagi bangsa tersebut. Dengan nasionalisme lah bangsa Indonesia akan mendirikan syarat-syarat hidup mereka yang bersifat kebatinan dan kebendaan. Ternyata, dengan semangat nasionalisme Soekarno kehidupan nasionalisme yang statis, karena ditekan oleh kolonialisme, berubah menjadi nasionalisme yang dinamis.
Pemikiran Islamnya berkaitan dengan sosialisasi ide tentang agama mulai dari masa kecil hingga pergumulannya dengan pemikiran Islam dari membaca buku dan diskusi dengan berbagai tokoh. Sebagai seorang yang lahir dari keluarga penganut aliran kejawen, bapaknya adalah seorang theosof dan ibunya adalah seorang bangsawan Bali yang beragama Hindhu, yang menyebabkan Soekarno tidak pernah mendapatkan pelajaran agama secara formal maupun informal.
Selain itu bung Karno juga dipengaruhi oleh gerakan modernisasi Islam ala Kemal Attaturk di Turki. Bung Karno juga banyak dipengaruhi oleh berbagai pemikiran Islam radikal yang berkembang di Indonesia. Yaitu Haji Misbach, seorang tokoh PKI yang awalnya adalah tokoh mubaligh Muhammadiyah, yang tetap teguh memegang Islam saat ini ia menjadi komunis sejati. Membaca pemikiran Islam bung karno seakan–akan ada jejak–jejak persetubuhan komunis dan Islam. Yang pada sekitar empat dekade sebelumnya pernah digaungkan oleh haji Misbach. Pemikiran Islam modernis Soekarno yang agak bernuansa radikal kiri, berisi tentang penafsiran tentang Islam yang kolot (feodal). Dan ia sendiri menafsirkan pemikiran Islam berdasarkan rasionalitasnya.
Menurutnya, rasionalisme itu tidak bertentangan dengan Islam. Hal tersebut terlihat dalam salah satu suratnya, bahwa sesuatu hal yang bersikap gaib sebenarnya harus dan dapat kita kenali dengan akal, tujuannya adalah memperkaya cara berpikir kita sebab sesuatu hal yang tidak masuk akal tidak dapat diterima masyarakat.
Konsep Marxisme telah pula memperngaruhi pemikiran Soekarno. Hal tersebut tampak di dalam cara PNI menyusun strategi perjuangannya, yaitu bersifat non-kooperasi, massa aksi, dan ”machtvorming” atau pembentukan kekuatan yang revolusioner. Bentuk-bentuk tersebut adalah bentuk-bentuk perlawanan kaum Proletar dalam konsepsi marxisme (emansipasi dalam wujud sosialis), dalam menghadapi kaum Borjuis kapitalis. Cara perjuangan kaum marxisme nampaknya mempengaruhi Soekarno dalam menggerakkan nasionalismenya.
Gerakan politik Islam Soekarno tidak terlalu tampak. Karena ideologi nasionalisme Soekarno lebih mendominasi dari pada sisi keIslamannya. Terlihat pada setiap orasinya, pidato–pidatonya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia jarang menggunakan istilah–istilah Islam. Lain halnya dengan Bung Tomo yang terkenal dengan ”falsafah Allahhu Akbar”, SM. Kartosuwirjo dengan gerakan DII/ TII nya. Kiranya perlu ditegaskan bahwa Soekarno tidak memasuki barisan umat Islam Indonesia sebagai orang munafik. Ia percaya kepada Allah, menunaikan ibadah sholat dan ibadah puasa dengan keyakinan yang sesungguhnya bahwa itu lah ”Islam”. Soekarno selalu memberikan semangat untuk mempertahankan dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Tujannya bukan kembali kebangkitan Islam seperti halnya, Natsir, Agus Salim, dan Hassan.
Pemikiran politik Islam Soekarno ialah Islam hanya mengenal satu kesatuan politik dengan mengambil daerah Darul Islam (dimana umat Islam berdomisili dengan aman dan bebas menjalankan syariah serta ajaran Islam) sebagai teritorialnya, walaupun Islam dianut oleh berbagai bangsa yang memiliki budaya, bahasa dan ras yang berbeda-beda. Kesatuan Islam ini dapat disebut dengan Millat, umat atau jamaah, yang dalam tata pemerintahan Islam mengambil bentuk khilafah. Khalifah merupakan pengatur yang sesungguhnya bagi makhluk manusia. Kerajaannya adalah kerajaan Tuhan di dunia.
Menurut Soekarno, bahwa Islam yang sejati adalah satu religious democrative, satu kerakyatan yang bersandar pada persatuan agama. Islam yang sejati mencantumkan kepada soal khilafah itu beberapa syarat, yang dua diantaranya itu maha penting, maha riil. Khilafah harus dipilih oleh umat Islam dan khalifah harus berkuasa sungguh-sungguh untuk menegakkan dan melindungi Islam diseluruh kalangan umat.
Sikap bung Karno yang cenderung ke arah sekularisme, terlihat pada pemahamannya tentang bentuk negara. Menurutnya, demokrasi akan hidup jika tidak dicampur adukkan dengan agama, dan sebaliknya ada kerugian (demokrasi tidak hidup) jika keduanya dicampur adukkan. Karena itu bagi Soekarno hanya ada dua mengenai hubungan agama dan negara: perasatuan agama dan negara, tapi tanpa demokrasi atau demokrasi tapi negara dipisahkan dari agama. Maksudnya adalah, Soekarno menerima dipisahkannnya agama dan negara, namun yang dimaksudkannya sebagai pemisahan itu adalah secara formal agama tidaklah merupakan bagian dari negara, atau secara formal dicantumkan dalam undang-undangnya bahwa negara adalah negara Islam. Tetapi ia memiliki konsep persatuan agama dan negara tersendiri, dengan cara cita-cita negara dapat bersatu dengan agama meskipun asas konstitusinya memisahkan diri dari agama. Maksudnya adalah negara dipisahkan dari agama, tapi semangat dari para perwakilan dan para badan hukum memilki semangat Islam dan berasal dari utusan Islam. Dan itu dapat dikatakan Islam dapat hidup, subur, Islam yang dinamis, dan bukan Islam yang melempem yang hanya bisa berada bilamana ada asuhan dan perlindungan dari negara saja.
Konsep demokrasi modern sama dengan konsep nasionalisme Soekarno. Tetapi disini terdapat kontradiksi. Bila badan perwakilannya itu semuanya umat Islam tapi dan hukum-hukumnya berlaku berjiwa Islam tapi konsep negaranya memisahkan diri dari Islam. Hal itulah yang menyebabkan kontradiksi pemikiran Islam dan agama Soekarno. Bila agama bersatu dengan negara maka demokrasi tidak akan berlaku, sebaliknya bila demokrasi berlaku maka agama dan negara harus dipisahkan, sementara itu ia juga mengakui bahwa agama Islam mengajarkan demokrasi kepada umatnya.
Pemikiran Soekarno mengenai perempuan juga dipengaruhi oleh semangat sosialis-Marxis. Soekarno begitu mencintai dan menghormati perempuan. Tidak bagi para istrinya, melainkan bagi para perempuan pada umumnya, terlebih pada perempuan-perempuan yang mencintai dan menghargai kerja keras suaminya. Tanpa seorang isteri, suami-suami dipelosok dunia manapun tak akan mampu bertahan dalam kerasnya hidup. Maka Soekarno selalu menulis buku untuk para isterinya sebagai rasa hormat dan terima kasihnya. Dan Soekarno juga tak lupa menulis buku ‘Sarinah’ yang berisi tentang perempuan Indonesia yang dipersembahkan untuk Sarinah. Mengingat jasa Sarinah yang sudah membuat sosok Soekarno menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Kontekstualisasi Pemikiran dan Gerakan Politik Soekarno
Kontekstualisasi pemikiran dan gerakan Islam Soekarno terlihat pada penjabaran diatas. Yang mengatakan bahwa, pemikiran dan gerakannya tidak dapat terlihat secara nyata. Karena disetiap aktifitas politiknya. Bung Karno lebih didominasi oleh ideologi nasionalis dan cenderung pada sekularisme. Pemahamnnya tentang Islam menurut penulis hanya sebatas pemahaman secara tekstual saja. Tapi dalam prakteknya pemahaman Islamnya tidak terlalu mendominasi pemikiran dan gerakannya.
Di Indonesia pemikiran–pemikiran Soekarno dan gerakannya banyak diilhami masyarakat Indonesia. Soekarnois sebutan bagi pengagum dan orang-orang yang menyimpan jiwa Soekarno dalam hatinya. Soekarnois belum dapat mengilhami sepenuhnya perjuangan dan jiwa proklamator bung Karno. Hal ini dapat dilihat dari salah satu mahasiswa yang menjadi Soekarnois sejak semester II. Mahasiswa itu adalah penulis sendiri. Penulis sadar bahwa bung Karno yang menjadi bapak kebangkitan Asia–Afrika dan Sang putra Fajar, belum dapat menerapkan pemikiran Soekarno dan gerakan Soekarno secara sepenuhnya. Mulai dari jiwa kepemimpinannya, jiwa patriotiknya, ’kutu buku’ yang telah menjadi hobi bung Karno sejak kecil serta kehebatan–kehebatan Soekarno lainnya belum dapat teraktualisakan dengan baik oleh penulis.
Hal itu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, aktivis mahasiswa jaman sebelum dan sesudah kemerdekaan dan pasca reformasi jauh berbeda dan mengalami perubahan, sifat hedonis, ingin lulus tepat waktu dan lainnya adalah salah satu faktor penyebab mahasiswa pada saat ini yang mengaku Soekarnois tidak dapat mengkontekstualisasikan pemikiran serta gerakan Soekarno dengan baik. Intinya adalah bahwa pemikiran politik Islam dan gerakan bung Karno hanya dapat menginspirasi saja, tapi dalam prakteknya para Soekarnois tidak dapat menerapknnya dengan sempurna.
Oleh karena itu perlu adanya konsistensi dari orang–orang pengagum Soekarno untuk sedia mengilhami pemikiran dan gerakannya dalam setiap aktifitasnya, meskipun masa perjuangannya berbeda dengan masa-masa bung Karno. Karena tantangan globalisasi sangat mempengaruhi semua aktifitas mahasiswa. Semoga semangat patriotik dan pemikiran serta gerakan Islam Soekarno dapat menjadi benteng dalam mengisi pembangunan negara yang bersifat progress dan mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia, agar jati diri bangsa tidak dapat diobrak-abrik oleh negara lain. Serta agar kita dapat mengkontekstualisasikan teori dalam realitas saat ini dan dapat membandingkan realitas pada zaman Soekarno dengan realitas pada saat ini.
Karya-karya Soekarno
- Di Bawah Bendera Revolusi jilid I dan II
Sebuah karya fenomenal Soekarno yang berisi tentang pemikiranpemikirannya. Buku ini terdiri dari dua jilid dan pertama kali diterbitkan pada tahun1959, dan mengalami beberapa kali cetak sekitar tahun 1963- 1965.
Buku ini bisa dikatakan sebagai buku semi biografi Soekarno dari lahir, remaja hingga menjabat sebagai seorang presiden pertama Indonesia. Di samping itu pula, buku ini juga berisikan pemikiran-pemikiran Soekarno yang menentang sisa-sisa imperialisme barat yang masih begitu dekat dengan bangsa Indonesia setalah dijajah oleh orang asing selama lebih dari 300 tahun lamanya.
Pandangan dan pemikiran Soekarno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I ini sangat terpengaruh oleh paham Marxisme. Terbukti dengan adanya sebuah tulisan dengan judul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Menurut Soekarno, paham Nasionalisme , Islamisme, dan Marxisme adalah sebuah paham yang digunakan oleh pergerakan rakyat dan menjadi rohnya di seluruh negara Asia.
Dalam pandangannya tersebut, Soekarno merasa prihatin dengan nasib sebagian rakyat Indonesia yang merupakan kaum proletar dan buruh jajahan kaum asing dan kaum kapitalis. Dalam perjalanan selanjutnya, Soekarno banyak terpengaruh dengan paham sosialis dan komunis. Sebagaimana dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, komunis sosialis ini anti borjuis. Dari pemikiran itu, akhirnya berbuah menjadi paham Marhaenisme yang memegang dua prinsip, yaitu sosio-demokrasi dan sosio-nasionalisme.
Selain dari pemikiran di atas, Soekarno juga secara khusus menulis pemikirannya mengenai Islam yang dikenal dengan Surat-Surat Islam dari Ende dan beberapa tulisan mengenai Islam di majalah Panji Islam tahun 1940. Ada juga tulisan dalam buku ini mengenai Indonesia versus Fasisme yang ketika itu menjadi musim peralihan yang dibawa oleh Hitler dan Mussolini. Kemudian pembahasan selanjutnya mengenai Jerman Versus Rusia; Rusia versus Jerman, India akan memerdekakan India, perbandingan antara demokrasi politik dengan demokrasi ekonomi yang menghasilkan demokrasi sosial serta Jengis Khan; Maha Imperialisme Asia.
Selanjutnya, buku Di bawah Bendera Revolusi jilid ke II ini memuat 20 pidato kenegaraan Soekarno setiap tahun dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus sejak 1945 sampai 1964.
- Sarinah
Sarinah adalah sebuah buku karya Soekarno yang berisikan pemikiran tentang perjuangan wanita dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.Judul dari buku ini adalah Sarinah, hal ini sebagai tanda terima kasih kepada pengasuhnya yang bernama “Sarinah” karena mengasuh Soekarno sejak kecil.
Sarinah adalah sebuah buku karya Soekarno yang berisikan pemikiran tentang perjuangan wanita dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.Judul dari buku ini adalah Sarinah, hal ini sebagai tanda terima kasih kepada pengasuhnya yang bernama “Sarinah” karena mengasuh Soekarno sejak kecil. Hal ini seperti yang dikisahkan Soekarno ketika bertamu ke rumah penduduk tanpa pemberitahuan. Sering kali hanya tuan rumahlah menerima kunjungan Soekarno. Sementara, nyonya rumah tak pernah ikut mendampingi. Namun ketika ditanya soal ini, tuan rumah berdalih bahwa istrinya kebetulan sedang tidak ada di rumah karena sedang menunggu orang sakit.
Kemudian, kejadian serupa tersebut sering dialami Soekarno.hingga suatu saat ia menangkap bayangan perempuan dari balik tabir yang ada di rumah mereka. Sejak saat itu, dalam pikiran Soekarno selalu dihantui rasa takut dan bertanya-tanya andaikan sarinah-sarinah tersebut mendapat kemerdekaan. Kalau mendapat kemerdekaan, apa seperti kemerdekaan ala Kartini atau Chalidah Hanoum atau kemerdekaan ala Kollontoy.
Di samping itu, Soekarno juga memberikan ilustrasi tentang perempuan bagaikan mutiara dalam kotak yaitu adanya perlakuan yang tidak manusiawi yang dilakukan secara sadar atau tanpa sadar oleh para lelaki yang berada di lingkungan terdekat perempuan itu sendiri.seperti yang di ilustrasikan Soekarno, di Bengkulu ada seorang yang berprofesi sebagai guru. Namun, sang istri tidak diperbolehkan untuk keluar rumah dengan alasan menghargai istri bak sebutir mutiara yang disimpan dalam kotak. Akan tetapi justru mereka menyimpan istrinya dalam kurungan.
Tidak itu saja, Soekarno dalam pemikirnnya di buku Sarinah juga mengkritik mengenai pemikiran impor.Yang dimaksud disini yaitu sebagaimana fase awal kemerdekaan Indonesia banyak sekali pemikiranpemikiran impor yang masuk ke Indonesia, termasuk soal posisi perempuan. Seperti yang dicontohkan Soekarno dalam Sarinah yakni ketika tahun 1849, Elisabeth Blackwell yang meraih gelar dokter dan kemudian terjadi keributan yang dipicu oleh para lelaki Amerika yang mengacu pada kecintaan kan kemerdekaan. Karena disini, menurut mereka perempuan tidak layak untuk menjadi seorang dokter.
Selain itu pula Soekarno mengungkapkan bagi perempuan jelata, pergerakan feminisme tidak memuaskan karena tidak memberi solusi.Karena disini menurut Soekarno bahwa para wanita jelata tidak hanya mencari kemerdekaan bukan saja dari politik, tapi juga kemerdekaan ekonomi.
Di akhir dari buku Sarinah, baru terungkap bahwa pemikiran Soekarno pada waktu menulis buku ini yaitu keinginannya agar revolusi segera berakhir.Karena setelah revolusi tuntas, negara baru bisa di bangun dan semua golongan termasuk perempuan bisa bersatu.Akan tetapi, revolusi suatu bangsa seringkali dipermainkan dan dipergunakan sebagai kedok untuk menutupi kepentingan suatu golongan atau kelas.
Dalam paragraf terakhir Sarinah, Soekarno secara lantang berseru bahwa kewajibanmu telah terang dan sekarang ikutlah untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan nanti jika Republik telah selamat, ikutlah serta dalam usaha untuk menyusun Negara Nasional. Karena dalam masyarakat nanti, keadilan sosial dan kesejahteraan sosial menjadikan wanita bahagia dan merdeka.
- Indonesia Menggugat
Buku Indonesia Menggugat merupakan sebuah buku karya Soekarno yang berisi tentang pidato-pidato pembelaan Soekarno di depan Pengadilan Kolonial dan ditulis oleh Soekarno pada tahun 1930 serta di terbitkan oleh Departemen Penerangan RI.
Dalam buku ini banyak sekali pemikiran Soekarno yang menkritik dan pembelaan Soekarno. Diantaranya yaitu mengenai pandangan tentang Imperialisme tua dan modern. Menurut Soekarno, imperialisme tua dan modern pada hakekatnya sama yaitu nafsu, keinginan, cita-cita usaha, kecenderungan, sistem untuk menguasai atau mempengaruhi rumah tangga negeri lain atau bangsa lain, nafsu untuk melancarkan tangan keluar pagar negeri sendiri. Yang membedakan hanyalah abadnya, imperialisme modern yaitu sebuah negara imperialis menjajah negara jajahannya pada masa abad ke-19 dan 20. Sedang Imperialisme tua, negara Imperialis menjajah negara sebelum abad ke-19 yakni abad ke-16 sampai ke-18.
Untuk tempat penjajahan bagi imperialisme tua menurut Soekarno sebelum menjajah suatu negara, seperti halnya Negara Inggris terlebih dahulu menguasai daerah jajahannya yaitu Amerika dengan menyebar luaskan bahasanya. Dan selanjutnya, nanti Prancis juga akan menguasai Amerika, India serta bangsa Portugis mengibarkan benderanya di Amerika Selatan dan beberapa tempat di Asia.
Megenai imperialisme di Indonesia sendiri Soekarno membagi beberapa bagian yaitu zaman kompeni yang didalam abadabad ke-17 dan ke-18 Oos-Indische Compagnie (VOC), terdorong oleh persaingan hebat dengan bangsa-bangsa Inggris, Portugis dan Spanyol, menanam sistem monopolinya. Kemudian zaman Cultuure Stelsel yaitu sistem tanam paksa yang dilakukan oleh Rafless sebagai cambuk jatuh diatas pundak dan belakang rakyat Indonesia.
Setelah mengalami penjajahan Soekarno memikirkan nasib rakyat dan mempertanyakan bagaimana nasib bangsa Indonesia. Dan pada pidatonya tersebut, Soekarno mengatakan bahwa nasib orang Jawa dalam empatpuluh tahun yang akhir ini, tidak banyak diperbaiki dan banyak sekali perempuan-perempuan berjalan berjam-jam untuk menuju ladang mereka. Namun, ketika mereka sampai di ladang, mereka hanya bisa menangis tersedu-sedu dan tidak bisa mengetam padi mereka karena adanya sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Belanda.
Penderitaan lain yang dialami oleh bangsa Indonesia yang diakibatkan oleh penjajah yaitu bangsa Indonesia di negaranya sendiri menjadi buruh belaka dan berapakah hasil dari bekerja menjadi buruh.
- Soekarno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Merupakan sebuah buku karya Cindy Adams dengan judul asli Sukarno: An Autobiography as told to Cindy Adams yang diterbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris oleh The Bobbs-Merrill Company, Inc, New York, tahun 1965. Buku ini merupakan salah satu karya terbaik tentang Soekarno.
Isi dari buku ini yaitu tentang kehidupan pribadi Soekarno sebagai manusia mulai dari kelahirannya, cita-cita politiknya, harapan-harapannya, serta latar belakang kebijakan politik yang diambil sebelum masa kejatuhannya.






