Biografi Singkat KH Siradjuddin Abbas, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Lengkap

Biografi KH Siradjuddin Abbas | Biografi Singkat KH Siradjuddin Abbas | Profil KH Siradjuddin Abbas | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat KH Siradjuddin Abbas: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

KH. Sirajuddin Abbas lahir di kampung Bengkawas, Kabupaten Agam, Bukit Tinggi, Sumatera Barat, pada tanggal 20 Mei tahun 1905. Sebagai anak laki-laki sulung dari pasangan Syekh Abbas Bin Abdi Wahab bin Abdul Hakim Ladang Sawas, seorang qadhi, Ibu beliau bernama Ramalat Binti Jai Bengkawas Kecamatan Banuhampu Sungai Puar Kabupaten Agam, Bukittingi Sumatra Barat.

KH. Sirojuddin Abbas menikah dengan Salimah bin Unduk beliau menpunyai anak dua pertam Sofyan Siraj dan Kedua Foedi Siraj. Rumah KH. Sirojuddin Abbas bertempat Bangkawas, Kabupaten Agam, Bukittinggi Sumatera Barat di Jalan Surau Gonjang N0. 25.

Di Bukittingi, KH. Sirojuddin Abbas dibesarkan dalam lingkungan Agama yang taat. Pada mulanya KH. Sirajuddin Abbas belajar Al-Qur’an pada Ramalat binti Jai ibu kandung sendiri hingga berusia 13 tahun. KH. Sirajuddin Abbas belajar kitab-kitab arab pada Syekh Abbas bin Abdi Wahab bin Abdul Hakim sebagai ayah kandung KH. Sirajuddin Abbas selama tiga tahun.


KH Sirajuddin Abbas selama enam tahun berikutnya, belajar kepada para ulama di Bukittinggi dan sekitarnya. Seperti Syekh Husen Pekan Senayan Kabupaten Agam, Tuanku Imran limbukan Payakumbuh limapuluh kota, Syekh H.Qasem Simabur Batu Sangkar Tanah Datar, Syekh Muhammad Zein di Simabua Ladang Lawas, Batu Sangkar, Syekh H.Abdul Malik di Gobah, ladang Laweh.

Ketika berlangsung kongres ketiga organisasi Tarbiyah di Bukit tinggi tahun 1936 KH.Sirajuddin Abbas terpilih sebagai Ketua Umum Tarbiyah. Ternyata pilihan itu tidak salah, ditangan KH.Sirajuddin Abbas Tarbiyah kian berkembang. Dan yang lebih penting mulai merambah bidang politik.

Pada Tahun 1940 organisasi Tarbiyah mulai mengajukan usul kepada pemerintah colonial Belanda agar Indonesia bisa berparlemen. Usul tersebut diajukan melalui komisi Visman yang dibuka pemerintah kolonial Belanda untuk menjaring suara-suara kalangan bawah.

Sepak terjang KH.Sirajuddin Abbas mulai didengar oleh Bung Karno. Pada saat Bung Karno ditahan oleh pemerintah Kolonial di Bengkulu dan dipersiapkan untuk dibuang ke Australia (1942). Namun entah mengapa, kapal yang digunakan untuk membawa Bung Karno terbakar. Bung Karno memanfaatkan sistuasi tersebut untuk melarikan diri hingga sampai ke Muko-muko.


Soekarno melarikan diri ke Bukittinggi dengan menggunakan sepeda motor yang diberikan seorang penduduk yang simpati padanya. Di Bukit tinggi Soekarno segera menemui KH.Sirajuddin Abbas. Tentu saja KH.Sirajuddin kaget, tidak menduga akan kedatangan Bung Karno. Bung Karno berpesan pada KH Sirajuddin Abbas agar Tarbiyah lebih berhati-hati karena pemerintahan Jepang akan menjajah Indonesia.” Jepang lebih berbahaya dari pada Kolonial Belanda.” 12.000 personel Lasmi Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 yang dibacakan Bung Karno segera sampai ketelinga KH.Sirajuddin lewat radio bawah tanah.

KH.Sirajuddin Abbas Segera menyebarkan berita tersebut lewat selebaran kertas hingga ke Pekanbaru.” Indonesia sudah merdeka, kita sudah berdaulat. Mari kita berjuang mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan.” Tulisnya dalam selebaran. Pada saat Wakil Presiden Republik Indonesia Moehammad.Hatta mengeluarkan Maklumat No.X/1945 pada bulan November, yang isinya mendorong agar rakyat bergabung dalam partai politik dan dianjurkan membentuk partai politik demi tegaknya demokrasi.

KH.Sirajuddin Abbas segera membuat partai yang berbasis Tarbiyah. Maka ia sebagai Ketua Tarbiyah segera meminta izin kepada para pendiri dan sesepuh untuk mewujudkan niat KH.Sirajuddin Abbas. Gayung bersambut, mereka setuju. Dengan catatan jangan meninggalkan tugas pokok yaitu pendidikan, dakwah, kegiatan sosial keagamaan dan keumatan.

Baca Juga :   Imam Abu Hanifah : Biografi dan Keteladanan

Pada bulan Desember tahun 1945 ketika berlangsung kongres Tarbiyah keempat di Bungkit tinggi, diputuskan bahwa Persatuan Tarbiyah Islamiyah membuat satu partai dengan nama Partai Islam Tarbiyah Islamiyah disingkat PI Perti dan mengangkat KH.Sirajuddin Abbas sebagai Ketua Umumnya.

Berkahnya, PI Perti berkembang pesat di Pulau Jawa. Sehingga pada pemilu tahun 1955 PI Perti menduduki tempat kedelapan dari seluruh partai yang ikut pemilu. Sebelumnya, pada tahun 1954 KH.Sirajuddin Abbas diangkat menjadi menteri Kesejahteraan Rakyat Kabinet Ali Sastroamijojo I. KH.Sirajuddin Abbas yang menyampaikan gagasan kepada Presiden Soekarno untuk menggelar Organisasi Setiakawan Rakyat Asia Afrika (OSRA).

Bung Karno yang ketika itu sedang bersemangat dengan ide-ide menjungkalkan imperialisme dan kolonialisme menyambut baik ide tersebut dan memberikan fasilitas. Sebagai pemrakarsa KH.Sirajuddin Abbas ditugasi untuk menghubungi dan mencari dukungan Negara-negara di Afrika. Pada kesempatan inilah KH.Sirajuddin Abbas berkenalan dengan Anwar Sadat yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Organisasi buruh Mesir.

KH. Sirajuddin Abbas menempati rumah di Jln.Melati Utara (kini Tebet Barat). Buya Siraj menghembuskan napas terakhirnya di Usia 75 Tahun. Pulang ke Rahmatullah menderita selama sakit 10 hari dirawat, dan wafat pada hari Rabu tanggal 23 Ramadhan tahun 1400 H atau 5 Agustus tahun 1980 setelah beberapa hari dirawat di ICU RS Cipto Mangunkusumo lantaran serangan jantung yang dideritanya.

Jenazah Almarhum di solatkan di Masjid Baiturahman Tebet Jakarta Selatan, dan dimakamkan dipemakaman Tanah Kusir Jakarta Selatan. Pada saat pemakaman tampak perhatian warga Tarbiyah begitu besar. Dan hadir pula wakil Presiden Republik Indonesia Adam Malik.

KH. Sirajuddin Abbas meninggalkan seorang istri dan dua anak yaitu Sofyan Siraj (almarhum) dan Fuadi Siraj. Selain sebagai Ketua Umum Tarbiyah KH.Sirajuddin Abbas juga merupakan pendiri organisasi politik “Liga Muslim Indonesia” bersama sama KH.Wahid Hasyem (Wakil dari NU), Abikusno Cokrosuyono (Wakil dari PSII). KH. Sirajuddin Abbas banyak meninggalkan tulisan tentang keagaaman yang di tulis dari tahun 1976. Dan banyak digunakan orang-orang muslim di Indonesia. Karyanya pula dapat dipergunakan sehari-hari.

Pendidikan K.H. Siradjuddin Abbas

KH. Sirajuddin Abbas awalnya belajar Al-Qur’an pada Ramalat binti Jai ibu kandungnya sendiri hingga berusia 13 tahun, dan dilanjutkan berguru kepada ayahnya selama tiga tahun. Pada Tahun 1927-1933 masehi KH. Sirajuddin Abbas bermukim di Mekkah Al Mukkaromah. Di antaranya adalah Sirajuddin Abbas berguru kepada beberapa ulama di Masjidil Haram :

  1. Syekh Muhammad Said Yamani (Mufti Mazhab Syafii) mempelajari ilmu fiqh dalam mazhab Syafii dari kitab Al Mahally.
  2. Syekh Husen Al Hanafi (Mufti Mazhab Hanafi) mempelajari ilmu hadis dari kitab Shahih Bukhary.
  3. Syekh Ali Al Maliki (Mufti Mazhab Maliki) mempelajari ilmu usul fiqh dari kitab Al furuq
  4. Syekh Umar Hamdan. Beliau mempelajari kitab Al Muwatha` karangan Imam Malik.

KH.Sirajuddin Abbas tinggal di Mekkah sampai tahun 1933. Tahun 1930, KH.Sirajuddin Abbas diangkat menjadi Staf Sekretariat pada Konsultan Nedherland di Arab Saudi. Pengetahuan agamanya yang sangat luas dan penguasaannya terhadap bahasa arab yang fasih mengantarkannya ke jenjang nasional dan internasional di ranah politik perjuangan Bangsa Indonesia.

Sekembali dari Makkah tahun 1933, KH.Sirajuddin Abbas mengambil dan menerima macam-macam ilmu pengetahuan agama dari Syekh Sulaiman Ar Rasuli Cadung Bukit Tinggi dan mendapat Ijazah. Selain itu, KH.Sirajuddin Abbas juga belajar Bahasa Inggris kepada seorang guru yang berasal dari Tapanuli yaitu Ali Basya.

KH. Sirajuddin Abbas pulang ke kampung halamannya di Minangkabau untuk meneruskan perjuangan ayahnya, mengajar pesantren-pesantren yang ada di Minangkabau walau ia lebih melebarkan sayapnya berpikiprah di dunia yang lebih luas, yakni di dunia pendidikan, keagamaan, dan juga dunia politik.


KH Sirajuddin Abbas tiga tahun pertama di kampung dikenal sebagai mubaligh muda yang potensial sehingga menarik minat para ulama senior yang bergabung dalam persatuan Tarbiyah Indonesia, organisasi keagamaan satu satunya yang ada di Bukitinggi.

Baca Juga :   Sejarah Desa Kertasmaya Kabupaten Indramayu (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Selain itu, KH. Sirajuddin Abbas dalam Perlawatannya dan peninjauannya ke negara-negara islam dan negara lainnya untuk mencari pelajaran agama dan untuk menuntut ilmu di berbagai Negara. Perlawatannya KH. Sirajuddin Abbas ke Asia Timur Tengah melawat ke Mekah (Saudi Arabiah), tujuh kali Haji bermukim, yaitu tahun 1927-1933. Kemudian di tahun 1945, 1958, 1959, 1961 dan 1963.

Karya K.H. Siradjuddin Abbas

KH. Sirajuddin Abbas pada Tahun 1965 merupakan batas kiprah beliau memimpin PERTI. Atas saran anak – anak muda PERTI, Buya Siraj, begitu beliau akrab dipanggil, lebih mencurahkan perhatian beliau dalam penulisan-penulisan buku agama. Anak-anak muda Perti yang merasa kurang memahami persoalan Ahlussunnah Waljamaah meminta beliau untu menulis sebuah buku yang biasa menjadi pegangan bagi mereka.

KH. Sirajuddin Abbas yang kala itu sudah berumur 60 tahun memenuhi permintaan itu. Dua tahun kemudian terbitlah buku I`tiqad Ahlussunnah Wal Jama`ah dan Sejarah Keagungan Mazhab Imam Syafii. Untuk modal menerbitkan buku tersebut KH. Sirajuddin Abbas rela menjual rumahnya di Jln.Dempo, dan pindah ke Jln.Tebet Barat kecil.

Departemen Agama memesan untuk keperluan Perguruan Tinggi IAIN. Walau demikian sebagian besar justru KH. Sirajuddin Abbas membagikan secara gratis. Nahdatul Ulama menjadikan buku itu sebagai pedoman. Beberapa tahun kemudian terbitlah buku 40 masalah agama sebanyak 4 jilid besar. Untuk kali ini beliau pun rela menjual rumahnya untuk modal penerbitan buku tersebut. takhir beliau menempati rumah di Jln.Melati Utara (kini Tebet Barat).

Bayak kalangan umat muslim di Indonesia yang menunggu buku-buku karya KH.Sirajuddin Abbas. Dalam buku Kumpulan Soal Jawaban Keagamaan KH. Sirajuddin Abbas bermulai pada tanngal 1 Oktober 1959 sampai Akhir Maret 1961 Terbit di Jakarta Sebuah harian bernama Harian Fajar. Surat Kabar itu dipimpin oleh H. Sofyan Siraj.

Dalam penerbitan setiap hari dimuat satu ruangan yang bernama “Ruangan Syariat dan Ibadat” di mana di dalamnya dijawab masalah-masalah agama yang ditanyakan oleh pembaca untuk menjawab maslah-masalah agama itu dipikulkan kepada KH. Sirajuddin Abbas. Nama penanya disiarkan teapi nama penjawab tidak disiarkan, walau ada dipembaca harian itu yang bertanya siapa yang menjawab maslah-masalah agama itu, barulah ketika surat kabar itu akan berhenti terbitnya bulan Maret 1961. Disiarkan bahwa seluruh soal-soal agama di waktu yang lalu dijawab oleh KH. Sirajuddin Abbas.

Dari sebagian pembaca Harian Fajar ketika itu ada permintaan supaya soal-jawaban dari mulai terbitnya sampai akhir yang berjumlah lebih kurang 40 macam itu dibukukan, karena merasakan sangat besar faedahnya untuk umum, tetapi sayang sekali ketika itu belum dapat dilaksanakan, karena kesulitan-kesulitan teknis. Pada tahun 1966 KH. Sirajuddin Abbas pensiun, dari keanggotaan parlemen Republik Indonesia Parlemen Republik Indonesia Serikat, Parlemen Negara Kesatuan, sampai Parlemen Gotong Royong.

Dimulai pada tahun 1969 sampai tahun 1980 KH. Sirajudin Abbas memberikan pelajaran keagamaan di Masjid Raya “Baitul Rahman” Tebet Barat Jakarta Selatan, Pelajaran Agama yang di berikan adalah kitab Tafsir Jalalen, kitab Hadis Riyadul Salihin, dan Kitab Fiqih Fathul Whab, Jarangan Saihul Islam Zakaria Al-Anshari.

Dalam 10 tahun berjalan tahun 1970 sanpai dengan 1980 banyak sekali datang surat-surat yang menanyakan berbagai masalah agama kepada KH. Sirajuddin Abbas. Ini tersebar karena telah tersebarnya buku karangan KH. Srirajuddin Abbas “40 Maslah Agama” dan buku “Itikad Ahlisunnah Waljama’ah” di seluruh plosok Indonesia dan Malaysia. Pembaca menayakan masalah-masalah Agama, ada yang bertalian dengan I’tikad, dengan ibadat dan denagan akidah pertanyaan-pertanyaan itu sebagiannya sudah dijawab dengan surat tertutup dan sebagiannya belum.

Baca Juga :   Biografi Singkat KH. Imam Zarkasyi, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Dengan tersiarnya buku 40 Masalah Agama, KH. Sirajuddin Abbas mengharapkan sudah lepaslah hutang beliau, yaitu memberi jawaban soal-soal agama yang ditanyakan dan akan terhindar ancaman akan di kekang mulutnya dengan siapasiapa menyembunykan ilmu sesudah ditanyakan kepadanya, sebagai yang diterangkan dalam suatu hadits Nabi yang mahsyhur.

Selain dari itu, banyak pula KH. Sirajuddin Abbas membaca dan dengan masalah-masalah agama umpamannya seperti nabi wanita, Islam jamaah, sembahyang dengan bahasa nasional, perbedaan antara Syi’ah Khomaini dengan Ahlisunnah waljamaah dan lain-lain.

KH. Sirajuddin Abbas ingin meyorot masalah-masalah itu, karna hal itu adalah soal-soal Agama yang penting yang bertalian dengan akidah dan kehidupan manusia.

Hal itu semuanya akan dimasukan juga sebagai pembahasan berupa soal-jawaban, dengan tujuan supaya masalahnya lebih terang sehingga dapat di tanggap pembaca. Catatan-catatan soal-jawaban keagamaan yang KH. Sirajuddin Abbas lakukan sejak tahun 1965 sampai dengan 1980 (11 tahun) itulah yang dijadikan buku ini dan di beri nama “kumpulan soaljawaban keagamaan”. Tidaklah mengherankan jika buku ini terdiri dari berbagai jilid dan membahas soal-jawaban.

KH. Sirajudin Abbas menjanjikan untuk membuat buku “40 Masalah Agama” dengan pengamatan yang cukup lama, terdiri dari 4 jilid., yang setiap jilidnya berisi 10 masalah Agama, hingga semuanya menjadi 40 Masalah Agama.

Didalam cetakan pertama jilid I terbit bulan Januari tahun 1970, jilid ke II terbit bulan Januari 1972, Jilid ke III terbit bulan April 1974 dan Jilid ke IV terbit bulan Agustus 1976. Sudah 6 tahun buku buku “40 Masalah Agama” dan buku-buku yang lain karya KH. Sirajuddin Abbas juga, tersiar luas ditengah –tengah masyarakat umat Islam Indonesia, dan karya KH. Sirajuddin Abbas sudah dibaca oleh segala tingkatan masyarakat di negrikita dan diluar negri. KH Sirajuddin Abbas sebagai pengarang banyak menerima surat-surat dari ulama-ulama, dari para kiyai dan Ustadz-ustadz yang menyatakan simpatik kepada buku –buku karangan KH. Sirajuddin Abbas.

Dari masyarakat umat Islam yang banyak di Indonesia, KH. Sirajuddin Abbas mendapat surat-surat yang banyak sekali yang menyatakan bahwa mereka merasa sangat gembira dan bersyukur atas terbitnya buku-buku karangan KH. Sirajuddin Abbas, karena mereka mendapat pegangan tali yang kukuh dalam dalam beragama yang dapat mendijadikan pedoman setiap saat apabila dibutuhkannya.sebaliknya dengan orang-orang yang sudah terdorong meremehkan fatwa-fatwa dalam madzhab Syafi’I mempunyai dasar yang kukuh-teguh dari kitabullah dan sunnah rosul sehingga kuranglah agresifnya lagi dari mazhab syafi’i

Karya-karya yang ditulis oleh KH. Sirajudin Abbas diantaranya:

Tulisan KH, Sirajuddin Abbas Dalam Bahasa Arab

  1. Sirajul Munir, (Fikih) 2 jilid
  2. Bidayatul Balagoh (Bayan)
  3. Khulasah TArikh Islam (Sejarah Islam)
  4. Ilmul Insya 1 Jilid
  5. Sirajul Bayan fi Fihrasati Ayatil Quran 1Jilid.
  6. Ilmun Nafs 1 Jilid

Tulisan KH. Sirajuddin Abbas Dalam Bahasa Indonesia, Huruf Latin

  1. I`tiqad Ahlussunnah wal jamaah. Sebuah buku yang berisi tentang faham Ahlussunnah dan beberapa firqah-firqah lainnya.
  2. 40 Masalah Agama, Jili I, II, III, IV. Sebuah buku yang terdiri dari empat jilid menjelaskan 40 macam masalah Agama yang sedang berkembang. Dalam buku ini KH.Sirajuddin Abbas juga menerangkan tentang gerakan modernisasi agama oleh orang-orang yang ingin memperbarui Islam dengan paham mereka. Beberapa tokoh yang beliau masukkan kedalam golongan ini antara lain Ibnu Taymiyah, Muhammad Abduh, Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri wahaby), Mirza Ghulam Ahmad, Mustafa Kemal At Taruk dan juga presiden Republik Indonesia pertama Soekarno.
  3. Kumpulan soal-jawab keaagamaan (sebuah buku berisi jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan seputar agama)
  4. Thabaqatusy Syafi`iyah (Ulama Syafii dan kitab-kitabnya dari abad ke bad)
  5. Kitab Fikih Ringkas
  6. Sorotan atas terjemahan Al Quran oleh HB.Jassin
  7. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i

Related posts