Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan | Makalah Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan | Penelitian Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan |
Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Iqbal mencakup pembinaan pengaruh secara pribadi maupun sosial yang membentuk, mengembangkan dan memodifikasi gagasan dan perbuatan perorangan maupun kelompok. Sehingga dengan demikian pendidikan itu dipandang sebagai suatu keseluruhan daya budaya yang mempengaruhi kehidupan perorangan maupun kelompok masyarakat, pemikiran-pemikiran Iqbal menyangkut tentang kehidupan, menyoroti masalah hidup dan tujuan akhir manusia, mengimplikasikan dan melandasi suatu filsafat pendidikan. Dengan kata lain, filsafat Iqbal telah membimbing perhatian kita kepada prinsip-prinsip yang asasi dan mendasar tentang pendidikan serta melandasi setiap pemikiran serta praktek pendidikan secara tepat
Di mata Iqbal, pendidikan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban manusia. Bahkan, pendidikan sekaligus menjadi substansi dari peradaban manusia. Oleh karenanya, lanjut Iqbal, pendidikan sesungguhnya bertujuan untuk membentuk ‘manusia’ sejati. Menurutnya, pendidikan yang ideal adalah yang mampu memadukan antara aspek keduniaan dan aspek keakhiratan secara sama dan seimbang. Dengan dasar pemikiran yang demikian itu, Iqbal kemudian mengkritik tajam kedua sistem pendidikan (tradisional Islam dan Barat),
Menurut Iqbal, pendidikan Barat hanya dapat mencetak manusia menjadi output dengan memiliki intelektual tinggi saja, tetapi tanpa memiliki hati nurani yang berkualitas. Sistem pendidikan seperti itu pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan manusia tanpa keseimbangan antara aspek lahiriah dengan aspek batiniah. Sementara itu, pendidikan Islam tradisional dikritik Iqbal karena hanya mengajarkan otak dan jiwa manusia di dalam kurungan yang sempit. Dalam pandangan Iqbal, pendidikan tradisional tidak mampu mencetak manusia intelek yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan keduniaan.
Karena keduanya dipandang telah gagal mencapai tujuan ideal yang dimaksud. Menurut Iqbal, tujuan pendidikan meliputi:
- Tujuan hidup yang mulia hendaknya mengilhami kegiatan insani dalam segala bidang, lebih-lebih dalam dunia pendidikan yang bertugas untuk membina kata hati dan intelek manusia yang tidak ada “defeatisme” (suatu pandangan yang serba menyerah-kalah) atau pesimisme, sebab pendidikan itu merupakan perjalanan yang benar dalam menggali berbagai kemungkinan yang tak terbatas.
- Fungsi pendidikan adalah melahirkan interaksi yang dinamis dan progresif kedua kutub tersebut (Islam tradisional dan barat modern), dengan maksud agar keduanya dapat saling bertautan secara seras.
- Pendidikan bagaikan “azimat” dalam upaya pencapaian tujuan, maka pendidikan hendaknya dapat dijiwai semangat dan citanya, yang merupakan sumber inspirasi bagi tata kehidupan sosial dan kebudayaan.
- Pendidikan hendaknya dinamis dan kreatif yang diilhami oleh suatu keyakinan yang optimis tentang tujuan akhir manusia.
Dalam pandangan Iqbal, rekonstruksi pendidikan perlu dilakukan, karena di dalam sistem pendidikan yang telah ada, telah terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap nilai-nilai kemanusian. Kritik Iqbal terhadap sistem pendidikan Barat, sebenarnya bersifat reaktif dan defensif, yakni untuk menyelamatkan pemikiran kaum Muslim dari pencemaran dan kerusakan yang mungkin timbul dari gagasan Barat di berbagai disiplin ilmu. Kedatangan gagasan Barat dengan kecenderungan pada pandangan materialistik, dimaknai sebagai hal yang mengancam dan berpotensi menghancurkan standar-standar moralitas tradisional Islam. Di sisi lain, kritik Iqbal terhadap sistem pendidikan tradisional Islam merupakan koreksi atas kesalahpahaman kaum Muslim dalam memandang pendidikan Islam
Sistem pendidikan Barat dan sistem pendidikan tradisional telah dikritik Iqbal dengan tajam. Kritik ini dilakukan karena ia berpandangan bahwa pendidikan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari peradaban manusia. Bahkan, pendidikan merupakan substansi dari peradaban manusia. Pendidikan menurut Iqbal sesungguhnya bertujuan membentuk manusia sejati. Dalam hal ini, Iqbal memandang sistem pendidikan yang ada telah gagal mencapai tujuannya. Pendidikan yang ideal menurutnya adalah pendidikan yang mampu memadukan dualisme secara sama dan seimbang, antara aspek keduniaan dan aspek keakhiratan. Dua sistem pendidikan yang ada, yaitu sistem pendidikan tradisional (Islam) dan sistem pendidikan Barat (Kristen) dalam perspektif Iqbal kiranya belum dapat mewujudkan pendidikan yang ideal ini.
Menurut K.G. Saiyidain, ada delapan pandangan Iqbal tentang pendidikan dalam rangka melaksanakan gagasan rekonstruksi pemikirannya, yaitu:
- Konsep Individu
Iqbal menekankan bahwa hanya manusia yang dapat melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu, menurut Iqbal, pendidikan harus dapat memupuk sifat-sifat individualitas manusia (ego/aku) agar menjadi manusia sempurna. Dalam pandangan Iqbal, manusia sempurna adalah manusia yang menjelmakan sifat-sifat ketuhanan di dalam dirinya, berperilaku seperti Tuhan. Sifat-sifat itu diserap dan menyatu secara total ke dalam diri manusia.
- Pertumbuhan Individu
Pendidikan harus dapat mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan individu secara optimal. Pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan suatu proses kreatif-aktif yang dilakukan individu sebagai aksi dan reaksinya terhadap lingkungan.
- Keseimbangan Jasmani dan Rohani
Menurut Iqbal, perkembangan individu akan berimplikasi pada pengembangan kekayaan batin dari eksistensinya. Pengembangan kekayaan batin tidak dapat tidak, dapat terlaksana bila terlepas dari kaitan dengan materi. Oleh karenanya, antara jasmani sebagai realitas dengan ruhani sebagai idealitas, harus dipadukan dalam pengembangan individu. Dalam mengejar nilai-nilai budaya dan ruhaniah, hendaknya manusia memanfaatkan dunia fisik sebagai bahan bakunya dan menggali atau mengeksploitasi berbagai kemungkinan untuk meningkatkan derajat insan.
- Pertautan Individu dengan Masyarakat
Pertautan Individu dengan Masyarakat Konsep ini menegaskan hakikat pertautan antara kehidupan individu dengan kebudayaan masyarakat. Masyarakat adalah wahana bagi presentasi eksistensial dari individu. Oleh karena itu, tanpa masyarakat, kehidupan individu akan melemah dan tujuan hidupnya menjadi tidak terarah.
- Kreativitas Individu
bab kausalitas yang demikian menafikan munculnya hal baru atau kemungkinan berulangnya suatu fenomena di dalam ruang dan waktu yang berbeda. Iqbal menggaris bawahi arti penting kreativitas manusia yang berkembang secara evolusioner. Dengan kreativitas tersebut, manusia mampu melepaskan diri dari keterbatasan dan menaklukkan waktu. Kreativitas seperti ini hanya dapat tumbuh melalui proses pendidikan.
- Peran Intelektual dan Intuisi
Ada dua cara untuk menangkap realitas, yaitu melalui cara intelektual dan melalui intuisi. Masing-masing cara mempunyai peran khusus dalam memperkaya kreativitas manusia. Daya intelektual berperan besar dalam menangkap realitas melalui panca indera. Sementara itu, peran intuisi adalah menangkap realitas secara langsung dan menyeluruh. Menurut Iqbal, kebenaran metafisik tidak dapat diraih melalui jalan melatih intelektual, tetapi dengan cara memusatkan perhatian pada hal-hal yang hanya ditangkap oleh intuisi.
- Pendidikan Watak (Integritas)
Apabila manusia dapat melengkapi diri dengan sifat individual yang dapat berkembang secara optimal, serta dilandasi dengan keimanan yang tangguh, maka manusia dapat menjelma menjadi kekuatan yang tidak terkalahkan. Manusia seperti itu akan dapat mengarahkan dirinya ke kebajikan, serta dapat menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan. Itulah yang disebut Iqbal dengan watak yang tangguh.
- Pendidikan Sosial
Iqbal menandaskan bahwa kehidupan sosial selayaknya dilaksanakan, di atas prinsip tauhid. Ini berarti bahwa tauhid semestinya hidup di dalam kehidupan intelektual dan emosional manusia. Di samping itu, Iqbal mengungkapkan bahwa tata kehidupan sosial seharusnya secara aktif menguras dan menggali segala kekuatan yag tersirat di dalam ilmu pengetahuan, dan pada saat yang sama juga mengontrol dan mengawasi lingkungan kebendaan.
Beberapa Penelitian Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan
Berikut adalah beberapa penelitian “Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan” :
Perspektif Filosofis Sir Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Islam, oleh Syarif Hidayatullah
Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Syarif Hidayatullah dengan judul Perspektif Filosofis Sir Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Islam dalam jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2013)
Dari pemaparan bagian terdahulu, menurut penulis, perspektif filosofis Sir Muhammad Iqbal terhadap pendidikan Islam adalah bermuara pada bagaimana menciptakan Insan Kamil, atau manusia super dalam bahasa Nietzsche, salah seorang filosof Barat yang mempengaruhi corak pemikiran Muslim India-Pakistan ini. Berdasarkan pandangan filosofis Iqbal tentang insan kamil tersebut, para pelaku pendidikan perlu memahami ciri-ciri insan kamil yang relevan untuk diberikan dalam orientasi bimbingan dan pengarahan kepada peserta didik. Ciri-ciri insan kamil ini yang pertama, manusia yang siap menjadikan dirinya seolah-olah seperti Tuhan, dengan menjelmakan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Kedua, manusia yang memposisikan dirinya secara proporsional bahwa eksistensinya adalah sebagai wakil Tuhan (khalifatullah) yang berkewajiban mengolah, menata, dan memberdayakan bumi ini. Ketiga, insan kamil adalah sebagai poros sesungguhnya dari daya rohani, dan kesejahteraan, kedamaian, serta keselamatan dunia tergantung kepadanya dengan harus dihiasi oleh aqidah dan nilai-nilai Islamiyyah
Konsep Pemikiran Filsafati Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Dengan Pembangunan Karakter Bagi Bangsa Indonesia, oleh Widyastini
Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Widyastini dengan judul Konsep Pemikiran Filsafati Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Dengan Pembangunan Karakter Bagi Bangsa Indonesia dalam jurnal UGM
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil simpulan sebagai berikut:
- Pendidikan merupakan suatu keharusan yang hendaknya diarahkan untuk menghidupkan kembali dan memberikan kekuatan pada individualitas manusia, sehingga dapat terwujud suasana pendidikan yang menyejukkan dan menentramkan antara siswa didik dengan pendidik.
- Pendidikan berupaya menemukan dan merevitalisasi sumber-sumber kebudayaan nasional dengan memberikan manfaat, sehingga memberikan hasil kegiatan yang kreatif penuh semangat disertai cita-cita untuk mencapai tujuan hidup manusia.
- Hakikat relevansi pemikiran Muhammad Iqbal tentang pendidikan dengan pembangunan karakter bagi bangsa Indonesia dapat memberikan inspirasi bagi setiap manusia Indonesia agar senantiasa dapat mawas diri terhadap pendidikan yang selama ini dilaksanakan.
- Pendidikan yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam sila-sila Pancasila, yaitu nilai-nilai moral kenegaraan dan nilai-nilai moral keagamaan.
- Pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia adalah pendidikan yang mengutamakan kepribadian dengan mewujudkan keseimbangan berupa kebahagiaan lahiriah dan batiniah, kebahagiaan material dan spiritual yang berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika
Pendidikan Islam Menurut Muhammad Iqbal, oleh Rini Puspitasari
Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Rini Puspitasari dengan judul Pendidikan Islam Menurut Muhammad Iqbal dalam Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol 6, No 3 (2017)
Muhammad Iqbal sejatinya adalah seorang filosof yang pemikirannya menjangkau banyak aspek mulai agama, hukum, politik, sastra, ekonomi, kebudayaan, hingga pendidikan. Iqbal memang tidak secara khusus berbicara tentang filsafat pendidikan Islam, apalagi suatu program pendidikan kaum muslimin. Seperti yang dikritik Fazlur Rahman, Iqbal hampir tidak memberikan sesuatu pun yang bisa disebut suatu perumusan kebijakan pendidikan Islam.
Meski demikian, Iqbal adalah pemikir langka pada zamannya yang memiliki kesadaran adanya persoalan pendidikan, baik di dunia Islam maupun di Barat. Menurut Iqbal sistem pendidikan tradisional memenjarakan otak dan mengurung jiwa. Sebaliknya sistem pendidikan modern di samping memberikan pendidikan materialistis yang tidak serasi dengan nilai kemanusiaan yang lebih tinggi, khususnya budaya spiritual Islami, juga mengindoktrinasi generasi muda Islam dengan superioritas kebudayaan Barat.
Dari pemikiran itu Iqbal ingin mencari suatu sistem pendidikan yang mampu menjadikan kepribadian manusia tidak saja “berpengetahuan” tapi juga kreatif dan dinamis, karena bagi Iqbal tujuan pendidikan itu membentuk manusia. Pendidikan tradisional Islam dinilai gagal mencapai tujuan ini selama berabad-abad, dikarenakan telah terciptanya dualisme antara yang agamawi dengan yang sekuler, atau yang duniawi dengan yang ukhrawi. Padahal bagi Iqbal, seseorang bisa dikatakan sebagai spiritualitas sejati, bila ia mampu menyelesaikan masalah-masalah secara kreatif
Pemikiran-pemikiran filsafat Iqbal banyak berbicara tentang masalah hidup manusia dan tujuan hidup manusia. Inilah yang secara implisit mencerminkan prinsip-prinsip dasar pendidikan. Artinya, secara tidak langsung Iqbal telah menyumbangkan pemikiran tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan, meskipun tidak secara operasional, bukan teknik dan metode, tetapi pola orientasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Iqbal tidak menyetujui gagasan tentang dualisme, baik itu dualisme dikotomis antara pendidikan agama dan non-agama ataupun dualisme Islam dan sekuler yang dilambangkan antara Timur dan Barat. Karena itu, prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam Iqbal berusaha mensintesakan antara pendidikan tradisional (ala ortodok dan sufi) dan pendidikan modern (ala Barat) untuk membentuk kepribadian manusia yang utuh dan mandiri (insan kamil).






