Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Filsafat dan Penelitian Tentangnya

Pemikiran Muhammad Iqbal

Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Filsafat | Makalah Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Filsafat | Penelitian Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Filsafat  |

Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Filsafat

Muhammad Iqbal, dalam pandangan filsafatnya yang terdapat di dalam karya yang berjudul Lectures on Metaphysics, mengatakan bahwa dunia ini bukan sesuatu yang dapat diketahui dan dilihat melalui konsep-konsep, namun lebih merupakan sesuatu yang harus dibuat dan dibuat kembali. Daya kekuatan manusia yang terutama adalah kemauan sehingga senantiasa mengarah kepada suatu tahap kemanusiaan yang lebih mulia dan lebih tinggi yaitu berwujud cinta, kasih dan sayang dalam hidup manusia. Muhammad Iqbal dalam hal ini menganggap bahwa keindahan adalah sebagai hakikat dunia, kemudian daya kemauan atau kehendak mengarah kepada suatu perubahan.

Individu, ego, pribadi atau khudi adalah bagian terpenting dalam filsafat Iqbal. filsafat khudi-nya merupakan dasar yang menopang gagasan-gagasannya dan menjadi landasan bagi seluruh kontruksi pemikirannya. Masalah ini dibahas dalam karyanya yang ditulis dalam bahasa Persia dengan bentuk matsnawi berjudul Asrar-i Khudi, kemudian dikembangkan dalam berbagai puisi dan dalam kumpulan ceramah yang kemudian dibukukan dengan judul The Reconstruction of Relegious Thought in Islam.

Menurut Iqbal, arti harfiah khudi adalah ego atau self atau individualitas, merupakan suatu kesatuan yang riil atau nyata yang menjadi pusat dan landasan dari semua kehidupan, dan merupakan suatu iradah kreatif yang terarah secara rasional. Arti terarah secara rasional, menjelaskan bahwa hidup bukanlah suatu arus tak terbentuk, melainkan suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur, suatu kegiatan sintesis yang melingkupi serta memusatkan kecenderungan-kecenderungan yang bercerai-berai dari organisme yang hidup ke arah suatu tujuan konstruktif. Iqbal menerangkan bahwa khudi merupakan pusat dan landasan dari keseluruhan kehidupan. Hal ini tercantum pada beberapa matsnawinya dalam Asrar-i Khudi.

“Ego memperoleh kebebasannya dengan menyingkirkan seluruh rintangan yang menghalanginya / Ego mencapai kebebasannya secara penuh dengan mendekatkan diri kepada Tuhan / Dengan kata lain, hidup adalah suatu usaha untuk memperoleh kebebasan.”

Khudi adalah unsur terpenting dalam masyarakat Islam, karena khudi merupakan pusat kehidupan dunia. Maju mundurnya suatu bangsa atau masyarakat ditentukan oleh pandangan mereka tentang khudi ini. Iqbal menekankan pentingnya penegasan eksistensi khudi. Namun demikian, khudi bukanlah anugerah alam yang bersifat statis, melainkan dinamis. Oleh sebab itu, manusia harus mampu mengembangkan khudi-nya melalui tenaga dan usaha yang berkesinambungan, disiplin yang kuat dan penegasan karakter.

Ego adalah sesuatu yang dinamis, ia mengorganisir dirinya berdasarkan waktu dan terbentuk, serta didisiplinkan pengalaman sendiri. Setiap denyut pikiran baik masa lampau atau sekarang, adalah satu jalinan tak terpisahkan dari suatu ego yang mengetahui dan memeras ingatannya. Watak esensial ego, sebagaimana konsepsi Islam adalah memimpin karena ia bergerak dari amr (perintah) Ilahi. Artinya, realitas eksistensial manusia terletak dalam sikap keterpimpinan egonya dari yang Ilahi melaui pertimbangan-pertimbangan, kehendak-kehendak, tujuan-tujuan dan apresiasinya. Oleh karena itu kian jauh jarak seseorang dari Tuhan maka kian berkuranglah kekuatan egonya. Bagi Iqbal, agama lebih dari sekedar etika yang berfungsi membuat orang terkendali secara moral. Fungsi sesungguhnya adalah mendorong proses evolusi ego manusia dimana etika dan pengendalian diri menurut Iqbal hanyalah tahap awal dari keseluruhan perkembangan ego manusia yang selalu mendambakan kesempurnaan.

Sebagai individu, manusia adalah suatu kegiatan penciptaan yang terus menerus dari satu semangat meningkat bergerak ke depan dan naik dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Manusia harus senantiasa menciptakan perubahanperubahan untuk mencapai kemajuan. Oleh karena itu, manusia harus mengambil inisiatif untuk mengembangkan potensi kekayaan bathinnya. Sebab bila manusia sudah merasa puas dengan keadaannya dan berhenti merasakan desakan internal khudi-nya untuk bergerak maju, maka semangatnya akan membantu dan ia pun terjatuh ke derajat benda mati.

Berikut adalah hal-hal yang memperkuat khudi menurut Mohammad Iqbal, yaitu

  1. Cinta (isyq)
  2. Faqr
  3. Semangat atau keberanian
  4. Toleransi (tenggang rasa)
  5. Kasb al-halal (usaha halal)
  6. Bekerja yang jujur dan kreatif

Untuk menjadi manusia utama (insan kamil) dia harus memiliki moral yang mulia, stiap manusia potensial adalah suatu mikrokosmos, dan bahwa insan yang telah sempurna kerohaniannya menjadi cermin dari sifat-sifat Tuhan, sehingga sebagai orang suci dia menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi. Iqbal berpendapat bahwa tujuan seluruh kehidupan adalah membentuk insan yang mulia, dan setiap pribadi haruslah berusaha untuk mencapainya.

Dalam filsafat tentang etika Iqbal menghimbau masyarakat timur (umat Islam), untuk kembali kepada ajaran Islam yang agung serta menjauhi peradaban Barat (Eropa) yang merusak. Iqbal memandang bahwasanya sebab kemunduran umat Islam adalah kecendrungan yang membabibuta terhadap kebudayaan Barat yang telah membunuh karakter mereka dengan terus mengadopsi budaya-budaya Barat tanpa proses filterisasi.

Muhammad Iqbal selama bertahun-tahun memikirkan keadaan umat Islam dan menjelaskan sebab-sebab kelemahan umat Islam. Ia juga membahas tentang masa lalu dan masa kini berbagai bangsa serta filsafat yang melingkupi bangsa-bangsa tersebut. Muhammad Iqbal mengatakan bahwa filsafat dan agama adalah ujian intelektual yang dapat diterapkan pada pengalaman-pengalaman agama dan hal tersebut dapat diuji dalam meraih suatu kebenaran. Filsafat dan agama tidak bertentangan sebab merupakan satu aspek penting dari seluruh pengalaman mengenai realitas yang harus menjadi bahan renungan bagi filsafat.

Beberapa Penelitian Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Filsafat

Berikut adalah beberapa penelitian “Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Filsafat” :

Konsep Pemikiran Filsafati Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Dengan Pembangunan Karakter Bagi Bangsa Indonesia, oleh Widyastini

Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Widyastini dengan judul Konsep Pemikiran Filsafati Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Dan Relevansinya Dengan Pembangunan Karakter Bagi Bangsa Indonesia dalam Jurnal Filsafat Vol 27, No 1 (2017)

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil simpulan sebagai berikut:

  1. Pendidikan merupakan suatu keharusan yang hendaknya diarahkan untuk menghidupkan kembali dan memberikan kekuatan pada individualitas manusia, sehingga dapat terwujud suasana pendidikan yang menyejukkan dan menentramkan antara siswa didik dengan pendidik.
  2. Pendidikan berupaya menemukan dan merevitalisasi sumber-sumber kebudayaan nasional dengan memberikan manfaat, sehingga memberikan hasil kegiatan yang kreatif penuh semangat disertai cita-cita untuk mencapai tujuan hidup manusia.

Filsafat Islam Metafisika Muhammad Iqbal Tentang Tuhan Sebagai Ego, oleh Asep Kurniawan

Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Asep Kurniawan dengan judul Filsafat Islam Metafisika Muhammad Iqbal Tentang Tuhan Sebagai Ego dalam Jurnal Yaqzhan Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan.

Dengan konsep filsafat metafisika ego-Nya, memandang hakiki Tuhan dan pengetahuan benda-benda. Tentang Tuhan di mata iqbal sendiri Tuhan abadi dan bersifat keseluruhan ada-Nya meliputi segalanya alam semesta. Iqbal menafsirkan bahwa setiap manusia memiliki kehendak bebas (free will) untuk menentukan dirinya sendiri dengan demikian harus berani berkreasi dan mandiri dalam berfikir. Iqbal telah berusaha secara serius terhadap perumusan kembali tentang pemikiran metafisika ego ketuhanan dalam Islam. Ia menggambarkan Tuhan sebagai ego absolut yang paling berdaya kreatifitas sempurna, bersifat bebas unifed dan immoratal. Hidup manusia ditentukan oleh aktivitas ego-Nya. Hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan dan bergerak menuju satu arah, yaitu Ego absolute.

Related posts