Tarekat Khalwatiyah : Tokoh, Ajaran dan Amalan

  • Whatsapp
Tarekat Khalwatiyah : Tokoh, Ajaran dan Amalan

Wislahcom | Referensi | : Tarekat sebagai sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah telah berkembang sangat pesat. Tarekat bukan hanya sebagai metode pembersihan hati dengan zikir, wirid, shalawat semata, namun sudah melembaga menjadi lembaga-lembaga formal sufi. Agar terhindar dari ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunah, kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsabandiyah, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Tarekat Syadziliyah, Tarekat Syatariyyah, Tarekat Khalwatiyah, Tarekat Tijaniyah, dan Tarekat Samaniyah.

Nah siapa tokoh Tarekat Khalwatiyah? Apa ajaran Tarekat Khalwatiyah?

Simak uraian singkat tentang : Tokoh Tarekat Khalwatiyah, Ajaran Tarekat Khalwatiyah dan Amalan Tarekat Khalwatiyah.

Tokoh Tarekat Khalwatiyah

Pendiri tarekat Khalwatiyah adalah Syaikh Yusuf yang memiliki nama lengkap Syaikh al-Hajj Yusuf Abu Mahasin Hadiyatullah Taj al-Khalwati al-Makassari al-Bantani (1605 M). Syaikh Yusuf lahir setelah Islam diterima sebagai agama resmi di Kerajaan Gowa. Beliau lahir tepatnya pada 1605 M di Moncong Loe, Goa. Beliau merupakan ulama, mufti, sekaligus penulis kreatif. Di kota kelahirannya beliau lebih dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka.

Baca Juga :   Muhasabah : Pengertian, Dalil, Urgensi dan Objek

Syaikh Yusuf dilahirkan di daerah yang dikuasai oleh kerajaan kembar, Goa dan Tallo yang merupakan hasil pembagian dari kerajaan Makassar pada abad ke-16 M. Kedua kerajaan ini letaknya sangat strategis sebagai jalur perdagangan rempah-rempah di bagian semenanjung barat daya Pulau Sulawesi dan telah ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai penjuru.

Sejak kecil Syaikh Yusuf menampakkan tanda-tanda kecintaannya kepada ilmu pengetahuan ke-Islaman sehingga dalam waktu yang relatif singkat berhasil menamatkan al-Quran 30 juz. Kemudian beliau belajar ilmu nahwa, ilmu mantiq, dan ilmu balaghah. Sehari-harinya Syaikh Yusuf menghabiskan waktu untuk mendalami tasawuf dan aliran-aliran tarekat yang beraneka ragam. Beliau menjadi murid dari dua guru yang terkenal di Makassar yaitu Sayyid Ba’Alwi bin Abdullah al-Allamah al-Thahir seorang keturunan Arab yang mempunyai pondok di Bontoala. Sayyid yang satunya adalah Jalaluddin al-Aydid, seorang ulama Aceh yang datang dari Kutai dan mendirikan pengajian di Cikoang.

Baca Juga :   Tarekat : Pengertian, Tujuan, Unsur, dan Syarat

Syaikh Yusuf tidak pernah lelah untuk mencari ilmu. Beliau melanjutkan pencariannya ke Yaman dan berguru kepada Syakh Abdullah Muhamm Abdul ‘Baqi’. Disana beliau menerima ajaran Tarekat Naqsabandiyah dan mendapat ijazah juga di tarekat al-Sa’adat dari Sayyid ‘Ali.

Ajaran Tarekat Khalwatiyah

  1. Yaqza, kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang hina di hadapan Allah Swt Yang Maha Agung.
  2. Taubat, permohonan ampun atas segala dosa.
  3. Muhasabah, yaitu menghitung-hitung atau introspeksi diri.
  4. Inabah, berhasrat kembali kepada Allah Swt.
  5. Tafakkur, merenung tentang kebesaran Allah.
  6. Ittisam, selalu bertindak sebagai khalifah di muka bumi.
  7. Firar, lari dari kehidupan jahat dan keduniawian yang tidak berguna.
  8. Riyadhah, melatih diri dengan beramal sebanyak-banyaknya.
  9. Tasyakur, selalu bersyukur kepada Allah Swt dengan mengabdi dan memuji-Nya.
  10. Sima’ mengkonsentrasikan seluruh anggota tubuh dan mengikuti perintah-perintah-Nya terutama pendengaran.
Baca Juga :   Tarekat Naqsabandiyah : Tokoh, Ajaran dan Amalan

Amalan Tarekat Khalwatiyah

Amalan tarekat Khalwatiyah disebut al-Asma’ as-Sab’ah (tujuh nama), yaitu:

  1. Laa ilaaha illallah, dzikir pada tingkatan jiwa pertama yaitu an-Nafs al-Ammarah (nafsu yang menyuruh pada keburukan).
  2. Allah (Allah), dzikir pada tingkatan kedua yang disebut an-Nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur).
  3. Huwa (Dia), dzikir pada tingkatan jiwa ketiga yaitu al-Nafs al-Mulhamah (jiwa yang terilhami).
  4. Haq (Maha Benar), dzikir pada tingkatan jiwa keempat yaitu an-Nafs al-Muthmainnah (jiwa yang tenang).
  5. Hay (Maha Hidup, dzikir pada tingkatan ke-lima yaitu zikir an-Nafs ar-Radhiyah (jiwa yang ridha).
  6. Qayyum (Maha Jaga), dzikir pada tingkatan jiwa ke-enam yaitu zikir an-Nafs al-Mardhiyah (jiwa yang diridhai).
  7. Qahhar (Maha Perkasa), dzikir pada tingkatan ke-tujuh yaitu zikir an-Nafs al-Kamilah (jiwa yang sempurna).

Related posts