Tarekat Naqsabandiyah : Tokoh, Ajaran dan Amalan

  • Whatsapp
Tarekat Naqsabandiyah : Tokoh, Ajaran dan Amalan

Wislahcom / Referensi / : Tarekat sebagai sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah telah berkembang sangat pesat. Tarekat bukan hanya sebagai metode pembersihan hati dengan zikir, wirid, shalawat semata, namun sudah melembaga menjadi lembaga-lembaga formal sufi. Agar terhindar dari ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunah, kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi Tarekat Qodariah, Tarekat Naqsabandiyah, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Tarekat Syadziliyah, Tarekat Syatariyyah, Tarekat Khalwatiyah, Tarekat Tijaniyah, danTarekat Samaniyah.

Nah siapa tokoh Tarekat Naqsabandiyah? Apa ajaran dan amalan Tarekat Naqsabandiyah?

Simak uraian singkat tentang : Tokoh Tarekat Naqsabandiyah, Ajaran Tarekat Naqsabandiyah, dan Amalan Tarekat Naqsabandiyah.

Tokoh Tarekat Naqsabandiyah

Tarekat Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad bin Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari. Beliau dilahirkan di Qashruk Arifan, Bukhara Uzbekistan pada tahun 717 H/1318 M, dan meninggal pada tahun 791 H/1389 M. Beliau dipanggil dengan sebutan Naqsabandiyah karena ketika mengalami pengalaman ruhanianya beliau ditemui Syekh Abdul Qadir bersama Rasulullah Saw. Ada yang menyebut Nabi Khidir yang memberi isyarat agar Syaikh Abdul Qadir mengukirkan lafaz Allah Swt di dalam hati Syaikh Bahauddin. Ukiran itu disebut naqsum dan ikatannya disebut bandum, maka disebutlah Naqsabandi.

Baca Juga :   Tarekat Syadziliyah : Tokoh dan Ajaran

Di usia 18 tahun, Syaikh Naqsabandi dikirim ke Syaikh Muhammad Baba al-Syammasi untuk belajar tasawuf. Selain belajar tasawuf kepada Syaikh Muhammad Baba al-Sammasi, Syaikh Naqsabandi juga pernah belajar kepada seorang khalifah Amir al-Kulal. Setelah dirasa cukup beliau kembali ke tanah kelahirannya untuk menjalani kehidupan sufi dan zuhud. Beliau menghabiskan waktunya untuk belajar dan membimbing muridnya hingga akhir ajalnya.

Ajaran Tarekat Naqsabandiyah

  1. Berpegang teguh kepada akidah Aḥl al-Assunnah.
  2. Meninggalkan rukhsah.
  3. Memilih hukum-hukum yang ‘azimah (hukum-hukum yang sejak awal pensyariatannya tidak berubah dan berlaku untuk seluruh umat serta di setiap tempat dan masa tanpa terkecuali).
  4. Senantiasa dalam posisi muraqabah (merasa diawasi Tuhan).
  5. Tetap berhadapan dengan Tuhan.
  6. Senantiasa berpaling dari kemegahan dunia.
  7. Menyendiri di tengah keramaian, serta menghiasi diri dengan hal-hal yang memberi faedah.
  8. Mengambil faedah dari semua ilmu-ilmu agama.
  9. Dzikir tanpa suara.
  10. Mengatur nafas tanpa lalai dari Allah.
  11. Berakhlak dengan akhlak Nabi Muhammad Saw.
Baca Juga :   Muraqabah : Pengertian, Sikap Mental dan Urgensi

Amalan Tarekat Naqsabandiyah

  1. Dzikir Ism al-Zat, yaitu mengingat nama Allah dengan mengucapkan nama-Nya berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dengan tasbih) sambil memusatkan perhatian kepada Allah semata.
  2. Dzikir Tauhid, yaitu mengingat keesaan Allah. Dzikir ini dibawa pelan-pelan dengan mengatur nafas, dengan membayangkan seperti menggambar jalan melalui tubuh. Bunyi la digambar dari daerah pusar terus ke atas sampai ke ubun-ubun. Bunyi ilaha turun ke kanan dan berhenti di ujung bahu kanan. Dan bunyi illa dimulai dan turun melewati bidang dada sampai kejantung, dan ke arah jantung.
  3. Dzikri Mukasyafah dimulai dengan membaca dzikir dengan menyebut nama Allah sebanyak 5000 kali dalam sehari semalam. Setelah mengungkapkan perasaannya selama membaca dzikir, mursyid akan menaikkan dzikirnya menjadi 6000 kali dalam sehari semalam. Dzikir 5000 dan 6000 ini dinamakan dzikir tingkat pertama.
  4. Dzikir Lathaif yaitu dzikir tingkat kedua. Setelah murid mengungkapkan perasaannya sewaktu mengucapkan dzikir, maka mursyid menaikkan dzikirnya menjadi 7000. 8000, 9000, 10.000 sampai 11.000 kali dalam sehari semalam.
  5. Dzikir Nafi-Isbat yaitu dzikir tingkat ke-tiga dengan membaca la ilaha illallah.

Related posts