Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Maskumambang

  • Whatsapp
Pondok Pesantren Maskumambang

Profil Pondok Pesantren | Sejarah Pondok Pesantren Maskumambang | Sistem Pengajaran | Kurikulum Pondok Pesantren Maskumambang |

Sejarah Pondok Pesantren Maskumambang

Pondok Pesantren Maskumambang didirikan oleh KH. Abdul Djabbar (Ngabidin) pada tahun 1859 M atau 1821 H. Ia adalah putra pertama dari tiga bersaudara. Setelah menikah dengan Nur Simah, KH. Abdul Djabbar mengembara ke daerah-daerah yang masih berupa hutan rimba dan akhirnya menemukan tempat di daerah Sembungan Kidul Kecamatan Dukun (dahulu masuk Kecamatan Sidayu).



Di tempat tersebut ia membuka sebidang tanah dan membersihkannya untuk mendirikan rumah sederhana sebagai tempat tinggal keluarga dan berkelanjutan mendirikan pondok. Pondok ini didirikan setelah KH. Abdul Djabbar pergi berhaji dan mendirikan sebuah langgar panggung dengan luas ± 5 m2 dengan tinggi bangunan ± 2,5 m2 dan tinggi alas dari permukaan tanah ±1 m2 , serta atap bangunan dari besek (bahasa Jawa: anyaman daun kelapa). Pada awalnya pondok pesantren ini didirikan sebagai usahanya untuk mencetak kader-kader dai yang dapat menghapus kepercayaaan-kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.



Pondok pesantren ini merupakan pondok pesantren tertua di Gresik yang didirikan setelah Pondok Pesantren Qomarudin di Bungah yang berdiri pada tahun 1775 M atau 1181 H.

Pada awalnya Pondok Pesantren Maskumambang yang terletak di Maskumambang Desa Sembungan Kidul Kecamatan Dukun Kabupaten Daerah tingkat II Gresik Provinsi Daerah tingkat I Jawa Timur (± 40 km arah barat laut kota Surabaya). Jika dilihat dari situasinya yaitu di daerah Suburban, Maskumambang cukup kondusif bagi penanaman ajaran-ajaran agama. Dengan letak geografis Maskumambang yang berada di pedesaan mengakibatkan pesantren ini jauh dari hiruk pikuk dan lalu lalang kendaraan serta kebisingan kota. Masyarakat yang ada disekitar Maskumambang juga masih mengedepankan sifat gotong royong dan paguyuban. Sehingga dengan suasana tersebut mereka mendukung didirikannya Pondok Pesantren Maskumambang.

Baca Juga : Profil Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Jihad Surabaya

Nama Maskumambang diambil dari kata Mas dan kumambang. Dimana kata Mas yang berarti emas yang bermakna perhiasan dan Kumambang yang berasal dari Bahasa Jawa Kambang (ngambang) yang berarti terapung atau tampak. Maskumambang berarti emas yang tampak dan menjadi kebanggan umat Islam dan masyarakatnya.3 Namun, ada pengertian lain Mas disini tetap diartikan sebagai emas tapi emas disini adalah ilmu tauhid, karena apabila tidak disertai dengan ilmu tauhid yang murni seseorang tidak akan masuk ke surga. Kata kambang diartikan sebagai sesuatu yang tampak. Jadi, Pondok Maskumambang ini tampak karena ilmu ke tauhidannya.

Baca Juga :   Sunan Gunung Jati : Biografi, Pengembangan Islam dan Sikap Positif

Pada saat KH. Abdul Djabbar merintis Pesantren Maskumambang banyak masyarakat di sekitarnya yang masih mempraktikkan ajaran-ajaran tradisi dan agama lokal serta melakukan kemaksiatan. Ketika Pesantren Maskumambang berdiri, pesantren ini baru memiliki sarana satu buah langgar dengan tiga kamar kecil (gotaan) tempat KH. Abdul Djabbar mengajar putraputra beliau dan penduduk sekitarnya. Sarana yang dimiliki oleh KH. Abdul Djabbar ini didirikan di atas tanahnya sendiri yang sebelumnya berupa hutan kecil yang penuh dengan semak belukar serta pepohonan besar dan tinggi.

Pada masa kepemimpinan KH. Abdul Djabbar merupakan periode perintisan dimana santri yang belajar di pesantren ini masih sedikit dan hanya terdiri dari anak-anak kampung sekitar Maskumambang dan anak KH. Abdul Djabbar sendiri. Metode pengajaran yang digunakan juga masih dasar dan sederhana yaitu menggunakan metode halaqah dan sorogan . Pelajaran yang diajarkan juga masih sebatas pelajaran Al-Qur’an dan beberapa dasar ilmu agama.

Dilihat dari sisi paham keagamaan, ajaran-ajaran yang disampaikan di Pondok Pesantren Maskumambang pada masa kepemimpinan KH. Abdul Djabbar ini berpahamkan Ahl al-Sunnah wa al-Jamāah. Memang hampir semua pesantren yang ada di Jawa Timur adalah pengikut madhab Syafi’iyah dan penganut madhab Ahl al-Sunnah wa al-Jamāah.

Baca Juga : Biografi Singkat Nurcholis Madjid (Cak Nur) : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Menurut Ustaz Maemun, amaliyah keagamaan dan tradisi pesantren yang pada umumnya dipraktikkan di Pondok Pesantren Maskumambang diantaranya adalah tradisi ziarah kubur, tahlilan dan haul. Dalam hal peribadatan yakni menggunakan doa qunut pada saat salat shubuh, dua azan pada saat salat Jumat dan bacaan salawat kepada Nabi Muhammad.

KH. Abdul Djabbar meninggal pada tahun 1907 M atau 1325 H yaitu dalam usia 87 tahun dan meninggalkan sepuluh anak antara lain Rois, Alimah, Abu Dzarrin, KH. Muhammad Faqih, Atqon, Shahid, Muhsinah, Harun, Ahmad Muhtadi dan Abdul Musthain. Kemudian kepemimpinan pondok pesantren dipimpin oleh putranya yang keempat yaitu KH. Muhammad Faqih yang terkenal dengan sebutan KH. Faqih Maskumambang. Pengangkatan KH. Faqih sebagai pemimpin Pondok Pesantren dilakukan secara musyawarah dan kepemimpinan pondok pesantren ini bersifat kolektif, artinya meskipun KH. Faqih sebagai pemimpin pondok pesantren akan tetapi, semua putra dan putri KH. Abdul Djabbar juga ikut dalam pengelolaan pesantren.

Baca Juga :   Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Mu'allimat Babakan Ciwaringin


Sejak tahun 1907 KH. Faqih Maskumambang mulai memusatkan perhatiannya untuk mengasuh pesantren Maskumambang dengan dibantu oleh saudara-saudaranya dan didukung oleh masyarakat sekitarnya. Ia melakukan pengembangan pesantren dari sisi fisik dan sistemnya. Pada masa kepemimpinan KH. Faqih Maskumambang santri yang berdatangan untuk menimba ilmu bukan hanya dari sekitar Maskumambang saja. Namun, sudah banyak dari beberapa daerah lain. Hal tersebut dikarenakan letak Pondok Pesantren Maskumambang dekat dengan Sidayu Gresik, yang pada saat itu menjadi pusat perdagangan yaitu tempat berkumpulnya pedagang dari Pulau Madura, Kalimantan, Sumatera, Surabaya, Tuban, Lamongan dan daerahdaerah lainnya. Selain itu Sidayu juga menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Gresik. Kemasyhuran pesantren ini dibuktikan dengan keberhasilan KH. Faqih dalam mencetak generasi santrinya sehingga menjadi tokoh penting, seperti KH. Zubair pendiri Pesantren Sarang Jawa Tengah, KH. Wahid Hasyim Jombang, KH. Abdul Hadi Langitan, dan lain-lain.

Baca Juga : Biografi Singkat Yusuf Qardhawi: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

KH. Faqih Maskumambang ini merupakan salah seorang ulama besar yang terkenal di Pulau Jawa. Bahkan ketenarannya dikenal hingga luar pulau Jawa. KH. Faqih Maskumambang ini ahli dalam bidang Ilmu tafsir, tauhid, fiqih, nahwu, balaghah, manthiq, ushul fiqh dan lain-lain. Karyanya yang terkenal adalah al-Mandzumah al-Daila fi Awāli al-Asyhur al-Qamariyah. Buku tersebut berisi tentang pemikiran KH. Faqih dalam bidang astronomi (ilmu falak), khususnya berkaitan dengan cara mengetahui permulaan tanggal di setiap bulan Qamariyah. Buku tersebut digunakan oleh kaum Nahdiyyin untuk mengetahui cara penentuan awal bulan Qomariyyah. Selain itu KH. Faqih Maskumambang juga pernah mengarang sebuah kitab yang berjudul an-Nusus al-Islāmiyah fi al-Rad „ala mazhab al-Wahābiyah yang didalamnya menjelaskan bahwa Wahabi dengan seenaknya telah memonopoli kebenaran agama, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yuridis dan teologis. Bahkan tidak jarang mereka sering kali melakukan tindak kriminalisasi teologis yang mengakibatkan sesama umat Islam terpecah, merugi dan saling membenci. Seakan tiket masuk surga hanya ada di tangan mereka.

Menurut Dhofier, pada masa KH. Faqih ini bentuk fisik Pondok Pesantren Maskumambang ini banyak mengalami banyak perubahan terutama pada jumlah bangunan asrama santri, karena pada masa KH. Faqih santri yang tinggal di pesantren ini terus mengalami peningkatan. Jika pada masa KH. Abdul Djabbar jumlah asramanya hanya terdiri atas tiga kamar, di masa KH. Faqih ini mengalami penambahan kamar yakni menjadi 10 kamar yang masing-masing berukuran 2 m x 1,5 m.

Baca Juga :   Sunan Kalijaga: Biografi, Pengembangan Islam dan Sikap Positif

Dalam hal pengajaran KH. Faqih juga tidak hanya menggunakan metode halaqah dan sorogan lagi. Tetapi juga menggunakan sistem bandongan, dan wetonan. Dalam hal kurikulum pembelajaran, KH. Faqih menggunakan sistem pengajaran tuntas kitab. Sedangkan dalam hal ibadah pada masa kyai Faqih pemahaman fikih dan syariat Islamnya tidak jauh berbeda dengan yang dipraktikkan pada masa KH. Abdul Djabbar, yaitu mengikuti paham Syafi’iyah.

Tradisi peribadatan pada masa Kyai Faqih ini juga masih melanjutkan tradisi yang dilakukan pada masa KH. Abdul Djabbar, seperti tradisi ziarah ke makam wali dan orang-orang keramat, tahlilan pada orang yang sudah meninggal hingga hari ketujuh, keempat puluh, keseratus, keseribu dan setiap tahun (haul), mengadakan perayaan meninggalnya ulama (haul), doa qunut, penggunaan bedug sebagai tanda masuknya waktu salat, doa qunut, penentuan awal bulan dengan rukyat, salawat diantara dua khotbah dan sebagainya.

Pada tahun 1937 atau 1353 H, KH. Faqih Maskumambang meninggal dunia dan kepemimpinan Pondok Pesantren Maskumambang dilanjutkan oleh putranya yang keempat yaitu KH. Ammar Faqih. Keputusan tersebut sudah diambil oleh KH. Faqih Maskumambang sebelum ia meninggal. Ia berwasiat agar kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan oleh KH. Ammar Faqih dan wasiat tersebut mendapat dukungan dari saudara-saudara KH. Ammar dengan penuh toleransi.

Baca Juga : Kyai Idris Kamali : Biografi dan Cerita Unik

Sebelumnya dua diantara saudara KH. Ammar sudah mendirikan pesantren sendiri di luar Maskumambang, yaitu KH. Abdul Hamid yang mendirikan pesantren di Karang Binangun Lamongan dan KH. Mukhtar yang mendirikan pesantren di Kebondalem Surabaya dan tiga saudara yang lain berada di luar Maskumambang. Sehingga suasana tersebut cukup kondusif bagi suksesi kepemimpinan dan tidak menimbulkan konflik di keluarga.

KH. Ammar Faqih wafat pada hari Rabu tanggal 15 Agustus 1965 M. Sebelum KH. Ammar wafat, KH. Ammar telah menyerahkan kepemimpinan Pondok Pesantren Maskumambang kepada menantunya yang kedua, yaitu KH. Nadjih Ahjad yang sebelumnya juga sudah ikut mengasuh pesantren.

Pada masa kepemimpinan KH. Ammar Faqih dan KH. Nadjih Ahjad orientasi pondok pesantren ini mengalami perubahan, jika pada masa KH. Abdul Djabbar dan KH. Faqih Maskumambang orientasi pondok pesantren ini mengikuti Manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jāmaah, maka pada masa kepemimpinan KH. Ammar Faqih dan KH. Nadjih Ahjad ini mengikuti Manhaj Ihya‟us Sunah Wajtinābul Bid‟ah.

Baca Juga : Dinamika Pendidikan Islam Tradisional Cirebon



Related posts