Profil dan Sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor

  • Whatsapp
Sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor

Profil Pondok Modern Modern Darussalam Gontor | Sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor | Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Gontor |

Sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor

Pondok Modern Darussalam Gontor, bisa disingkat menjadi Pondok Modern Gontor (selanjutnya ditulis PM Gontor) atau terkadang juga cukup disebut Pondok Gontor. Pondok ini didirikan pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 1345/ 20 September 1926 oleh tiga bersaudara, yaitu: KH. Ahmad Sahal (1901-1977), KH. Zainuddin Fannani (1905-1967), dan KH. Imam Zarkasyi (1910-1985), tiga bersaudara ini lebih dikenal sebagai sebutan “Trimurti”.



Pondok Modern Gontor merupakan kelanjutan Pesantren Tegalsari. Tegalsari adalah nama sebuah desa terpencil, terletak 10 km di sebelah selatan pusat Kerajaan Wengker di Ponorogo. Pesantren Tegalsari ini telah melahirkan para kyai, ulama, pemimpin, dan tokoh-tokoh masyarakat yang ikut berkiprah dalam membangun bangsa dan negara. Pesantren Tegalsari didirikan pada abad ke 18 M, tahun 1742 oleh Kyai Ageng Muhammad Besari (Bashori). Pada tahun 1742 Pondok Tegalsari dipimpin oleh Kyai Ageng Hasan Besari, cucu Kyai Ageng Muhammad Besari putra Kyai Ilyas.



Saat dipimpin Kyai Ageng Hasan Besari Pesantren Tegalsari mengalami perkembangan yang pesat. Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, karisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pemondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar.

Pada pertengahan abad ke-19 M, Tegalsari dipimpin oleh Kyai Khalifah. Pada masa kepemimpinanya terdapat seseorang santri yang baik dan cerdas bernama R.M.H. Sulaiman Jamaluddin. Kyai Khalifah berhasrat mengambilnya sebagai menantu, setelah ilmu pengetahuannya cukup memadai, kemudian ia dinikahkan dengan putri yang nomor lima. R.M.H.Sulaiman Jamaluddin adalah putra penghulu Jamaluddin, yaitu cucu dari Pangeran Hadiraja, Sultan Kesepuhan Cirebon.

R.M.H Sulaiman Jamaluddin diberi hadiah oleh Kyai Khalifah yaitu suatu tempat di tengah hutan (kurang lebih 3 km sebelah timur Pondok Pesantren Tegalsari). Kyai khalifah memberikan 40 santri. Bersama istri dan murid-muridnya, Sulaiman Jamaluddin berangkat ke tempat yang ditunjukkan mertuanya itu dan mendirikan pesantren disana. Semenjak itu, Sulaiman Jamaluddin menyandang kyai. Tempat yang ditujukkan tersebut masih dipenuhi oleh lebatnya pepohonan dan dihuni oleh binatang buas. Tidak ada satupun warga yang berani bertempat tinggal yang sangat terkenal sebagai tempat persembunyian para penyamun, dan orang-orang yang berperangai kotor di masyarakat. Tempat ini kemudian disebut dengan nama “Gontor”.

Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan, dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun, pemabuk dan orang-orang yang berperangai kotor. Karena itu kawasan tersebut dijuluki sebagai “tempat kotor” yang dalam bahasa Jawa disebut juga dengan nggon kotor. Menurut riwayat, nama desa Gontor itu berasal dari ungkapan tersebut. Di desa tersebut, pesantren yang didirikan Kyai Sulaiman Jamaluddin itu kemudian dikenal sebagai sebutan Pondok Gontor.



Pada masa generasi keempat ini, keadaan di desa dan Pondok Gontor dapat dikatakan telah sangat mundur, kegiatan keagamaan boleh dikatakan semakin mati. Dalam keadaan yang demikian, Kyai Santoso tetap beristikamah di pondok dengan santri yang hampir habis. Pondok Gontor yang merupakan pecahan dari Tegalsari, berputar menjadi kemunduran. Kyai Santoso dengan kedalaman ilmunya telah dipanggil Allah, sedangkan penggantinya belum jua datang. Ketika meninggal dunia, Kyai Santoso meninggalkan putra-putrinya. Tiga di antaranya memenuhi harapan keluarga, meniti nenek moyang mereka, mendirikan Pondok Gontor yang sudah mati dengan pondok yang besar. Mereka adalah Ahmad Sahal, Zainuddin Fannani, dan Imam Zarkasyi ketiga orang ini terkenal dengan sebutan Trimurti.

Kyai Imam Zakasyi yang berperan besar dalam mendirikan proses menghidupkan kembali Pesantren Gontor. Selama 11 tahun Kyai Imam Zarkasyi menimba ilmu pengetahuan di Padang. Tetapi sebelum Kyai Imam Zarkasyi kembali ke Gontor, maka Kyai Ahmad Sahal orang yang pertama kali menghidupkan Gontor. Langkah pertama yang dilakukan Kyai Ahmad Sahal adalah mendirikan lembaga pendidikan yang kemudian diberi nama Tarbiyatul Atfal (pendidikan anak-anak).Bermula didirikan Tarbiyah alAtfal (1926) dan pada peringatan syukuran satu dasawarsa pondok, tanggal 19 Desember 1936, dilakukan peresmian berdirinya sistem pendidikan baru, yaitu Kulliyat al-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI-Sekolah Pendidikan Guru Islam). Seperti kebanyakan hal yang baru, sistem KMI tidak langsung diterima oleh masyarakat. Mereka malah meragukan keberadaan sistem yang berbeda dan bahkan bertentangan dengan sistem pendidikan tradisional yang pada umumnya berlaku di pesantren lainnya. Yang menjadi muridnya anakanak sekitar Gontor.

Pada tahun 1936 Pesantren Gontor telah berusia 10 tahun. Kyai Ahmad berencana mengadakan acara tasyakuran 10 tahun lembaga pendidikan yang dirintisnya. Kyai Imam Zarkasyi setelah 11 tahun menimba ilmu pengetahuan di Padang, pulang ke Gontor guna mewujudkan cita-cita yang sudah lama direncanakan oleh kakaknya. Kyai Imam Zarkasyi segera pulang ke Ponorogo setelah 11 tahun belajar di luar kota, yakni 5 tahun di Solo dan 6 tahun di Sumatra Barat. Kyai Imam Zarkasyi bertekad membangun kembali kebesaran Pesantren Gontor sesuai dengan ilmu pengetahun yang diperolehnya selama belajar.

Kyai Imam Zarkasyi mendesain kurikulum sedemikian rupa sesuai kebutuhan. Ia menggabungkan materi yang biasa diajarkan di pesantren dan madrasah atau pelajaran agama dan pelajaran umum. Diantara pelajaran agama di pesantren Gontor yaitu aqa’id, Alquran, tajwid, tafsir, hadis, musthalah hadist, fiqih, usul, perbandingan agama, dan sejarah kebudayaan agama. Termasuk pelajaran umum yang diajarkan di sini adalah ilmu jiwa pendidikan, sejarah pendidikan, ilmu sosial, ilmu alam dan berhitung. Beberapa pelajaran agama menggunakan buku karya Kyai Imam Zarkasyi sebagai buku acuan, seperti pelajaran Bahasa Arab, balaghah, ilmu mantiq, aqidah, fiqih, dan tajwid.

Pada acara tersebut diresmikanlah pula penggunaan sebutan “modern” untuk pesantren. Sebelum itu, nama Pondok Gontor hanyalah “Darussalam”. Kata “modern” hanya disebut oleh masyarakat di luar pondok. Setelah disahkan penggunaan label “modern”, nama lengkap Pondok Gontor menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor. Bahkan sekarang, sebutan “ pondok modern” ini justru lebih dikenal oleh masyarakat daripada “Pondok Darussalam”.



Related posts