Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Annuqaya Guluk-Guluk Sumenep Madura

  • Whatsapp
Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Annuqaya Guluk-Guluk Sumenep Madura

Profil Pondok Pesantren | Pondok Pesantren Annuqaya | Sejarah Pondok Pesantren Annuqaya | Guluk-Guluk Sumenep Madura | Visi dan Tujuan Pondok Pesantren Annuqayah |

Sejarah Pondok Pesantren Annuqaya

Pondok Pesantren Annuqayah terletak di desa sekaligus kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur dan merupakan salah satu pesantren terbesar di Pulau Madura timur. Pesantren inididirikan pada tahun 1887 oleh K.H. Moh. Syarqawi, seorang ulama pendatang yang lahir di Kudus, Jawa Tengah. Sebelum menetap di Madura, beliau pernah menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren yang berkembang pada saat itu, baik yang di daerah Madura maupun di luar Madura, yaitu di Pontianak, Kalimantan Barat. Beliau juga pernah merantau ke negeri jiran, Malaysia dan Muangthai Selatan, tepatnya di daerah Pattaya. Pernah juga beliau tinggal di Mesir dan Makkah al-Mukarramah. Perjalanan beliau untuk menuntut ilmu ke berbagai daerah ini berlangsung selama sekitar 13 tahun.



Sebelum beliau menetap dan mendirikan Pondok Pesantren Annuqayah di desa ini, beliau sempat menetap di Prenduan, setelah melaksanakan wasiat teman akrabnya saat di Makkah, yaitu Kiai Gemma untuk menikahi istrinya setelah beliau meninggal dunia. Selama di Prenduan beliau juga bolak-balik Prenduan-Kudus untuk mengunjungi istri pertamanya, Nyai Sabina. Di sana pula, beliau membuka pengajian al-Qur`an dan ilmu-ilmu keislaman untuk masyarakat sekitar. Namun, setelah kurang lebih 14 tahun (1923 –1307 H.) beliau tinggal di Prenduan, kota kecil daerah pesisir yang cukup ramai dan berpenduduk agak padat itu dipandang kurang layak dan nyaman untuk membangun sebuah pesantren, sehingga pada tahun 1887, beliau pindah dan menetap di desa Guluk-Guluk, daerah pedalaman sekitar 8 km sebelah utara Prenduan dengan maksud mendirikan pesantren.



Sebagai pendatang baru di Guluk-Guluk, Kiai Syarqawi belum memiliki kekayaan apa-apa. Namun, berkat simpati dan derma seorang saudagar kaya bernama H. Abdul Azis, beliau diberi sebidang tanah dan bahan bangunan bekas kandang kuda. Di tempat itulah kemudian beliau mendirikan sebuah bangunan serta sebuah langgar bambu dari bekas kandang kuda, yang kemudian dijadikan tempat pengajian masyarakat sekitar. Setelah limatahun berdiri, jumlah santrinya mencapai lebih dari 100 orang, sedangkan bilik asramanya kurang lebih 12 buah.6Inilah yang merupakan cikal bakal pesantren Annuqayah. Di bawah kepemimpinan KH. Syarqawi, Annuqayah terus berkembang dengan upaya-upaya peningkatan pesantren yang beliau lakukan. Namun pada tahun 1910 M (1329 H.), KH. Syarqawi menghadap rahmatullah setelah memimpin pondok pesantren ini selama kurang lebih 23 tahun.

Sebagaimana umumnya tradisi kepemimpinan di pesantren yang berlangsung secara turun-temurun, pada perkembangan berikutnya, kepemimpinan pesantren ini dilanjutkan oleh putra-putra beliau. Sepeninggal Kiai Syarqawi, pesantren diserahkan kepada putra beliau, KH. Bukhori, yang dibantu oleh KH. Moh. Idris, dan kakak ipar beliau, KH. Imam dari Desa Karay. Peran para penerus ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Kiai Syarqawi, yakni memberikan pengajian-pengajian al-Qur`an dan keagamaan kepada para santri yang bermukim di pesantren, baik dalam bentuk sorogan (individual) maupun wetonan (kolektif), sedangkan pembinaan masyarakat di luar pesantren masih belum mendapat perhatian yang serius. Hubungan antara pesantren dengan masyarakat sekitar sejak masa Kiai Syarqawi memang masih kurang begitu akrab, karena kondisi masyarakat pada waktu masih sulit menerima perubahan-perubahan dan rawan konflik, sehingga memerlukan pendekatan-pendekatan interpersonal agar perlahan-lahan masyarakat mulai simpatik dan mau diajak merubah pola-pola kehidupan mereka yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Setelah kepemimpinan Kiai Bukhori, Kiai Idris, dan Kiai Imam ini, lambat laun hubungan pesantren dengan masyarakat sekitar mulai terjalin akrab, yakni sekitar tahun 1917, ketika KH. Moh. Ilyas pulang ke Guluk-Guluk untuk melanjutkan pula perjuangan ayahnya setelah cukup lama menimba ilmu di berbagai pesantren, baik di Madura, Jawa Timur, atau bahkan beberapa tahun tinggal di Makkah.Pada masa kepengasuhan Kiai Ilyas ini, banyak perubahan-perubahan yang cukup berarti bagi perkembangan pesantren, misalnya pola pendekatan kemasyarakatan, sistem pendidikan, serta pola hubungan dengan birokrasi pemerintahan.



Perubahan dalam hal pendekatan kemasyarakatan tampak dari proses penyadaran dan pencerahan kepada masyarakat sekitar yang mulai membaik, animo masyarakat untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam semakin tinggi. Eratnya jalinan komunikasi serta hubungan dengan masyarakat sekitar tidak lepas dari peran K. Husain, menantu K. Syarqawi yang menikah dengan putri beliau, Nyai Aisyah. K. Husain ini juga mengembangkan pesantren ini di daerah Sawajarin sejak 1917.

Sementara pembaharuan sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Annuqayah digagas oleh K. Khozin Ilyas, putra K. Ilyas Syarqawi, pada tahun 1933. Tidak hanya perubahan, lebih tepatnya penambahan bentuk-bentuk konvensional, seperti sistem sorogan dan wetonan ke sistem klasikal, dengan mengajarkan pula ilmu-ilmu yang dianggap baru pada saat itu, seperti tulis latin, berhitung, bahasa Indonesia, ilmu bumi, dan sejarah. Penerapan sistem klasikal ini juga dilakukan oleh K. Abdullah Sajjad di daerah Latee dan sampai saat ini dilanjutkan oleh putra beliau, K. A. Basyir AS, dengan mendirikan Madrasah Diniyah (Awwaliyah: 6 kelas, dan Wusṭā: 3 kelas).

Sedangkan pola hubungan dengan kalanganbirokrasi pemerintahan ini tampak dari peran beberapa tokoh di pesantren dalam berbagai organisasi ataupun partai atau juga menjadi aparat pemerintahan, baik di tingkat kabupaten, kecamatan, maupun di desa.

Lima tahun setelah Kiai Ilyas kembali pulang ke Guluk-Guluk (1923), KH. Abdullah Sajjad, adik kandung beliau, juga membantu mengembangkan pesantren setelah beberapa tahun nyantri di beberapa pondok pesantren, antara lain: pesantren Kiai Kholil Bangkalan, Tebuireng Jombang, dan pesantren Panji Sidoarjo. Kiai Abdullah Sajjad kemudian diberi kesempatan untuk membuka sendiri sebuah pesantren yang letaknya berdampingan dengan kediaman Kiai Ilyas, yaitu sekitar 100 meter ke arah timur. Daerahini hingga kini dikenal dengan nama Latee.

Itulah awal dari pemekaran Pondok Pesantren Annuqayah menjadi beberapa daerah. Namun dengan terpilah-pilahnya pesantren ke dalam beberapa daerah tersebut tidaklah berarti bahwa Annuqayah pecah menjadi beberapa bagian. Kondisi tersebut tercipta semata-mata demi pengelolaan santri saja, karena perkembangan santri secara kuantitas terus bertambah, tidak hanya dari daerah Madura, akan tetapi juga dari wilayah Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Barat.

Visi dan Tujuan Pondok Pesantren Annuqayah

Visi Pondok Pesantren Annuqayah adalah menjadi lembaga pendidikan terkemuka dalam melahirkan generasi abdullah yang bertakwa, tafaqquh fiddin, berilmu luas, dan menjadi mundzirul qaum.

Secara umum, tujuan Pondok Pesantren Annuqayah adalah menciptakan dan mengembangkan santri agar berkepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan, berakhlaq mulia, bermanfaat, dan menjadi abdi bagi masyarakat, teguh dalam menyebarkan serta menegakkan Islam, sebagaimana kepribradian Nabi Muhammad (pribadi yang utuh, yaitu pribadi mu’min, muslim, dan muhsin)

Lembaga Lembaga di Pondok Pesantren Annuqayah

Pondok Pesantren Annuqayah memiliki dua organisasi kelembagaan utama, yaitu lembaga Pesantren Annuqayah dan Yayasan Annuqayah. Dua organisasi kelembagaan ini berdiri sendiri secara sejajar. Masing-masing menangani seluruh sub-sub lembaga di bawahnya serta unit-unit kegiatan menurut bidangnya.

Pondok Pesantren Annuqayah

Lembaga Pondok Pesantren Annuqayah berupa kepengurusan yang terstruktur, terdiri dari Majelis Pengasuh, Pengurus Harian dibantu oleh bidang kesekretariatan atau petugas administrasi. Lembaga ini membawahi 29 pesantren daerah yang memiliki hak otonom, juga mengatur unit-unit kegiatan santri, Pola komunikasi kepengurusannya bersifat instruktif-konsultatif, dan kebijakan tertinggi ada pada Majelis Pengasuh. Sementara Pengurus Harian merupakan pihak pelaksana kebijakan-kebijakan itu serta mengatur tata tugas dan pembagian tugas-tugas tersebut kepada dan melalui bagian-bagian di bawahnya, menurut aturan mekanisme kerja yang telah ditentukan.

Yayasan Annuqayah

Yayasan Annuqayah didirikan pada tahun 1984. Pada awalnya, alasanpendirian yayasan dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan mendirikan sekolah tinggi. Tetapi akhirnya tugasnya diperluas, meliputi pendidikan dasar dan menengah.

Selain itu, Yayasan Annuqayah memiliki unit usaha pertokoan, home industri, peternakan, pertanian, dan perkebunan yang menjadi aset dan sumber penghasilan yayasan. Di samping itu, dana yayasan juga berasal dari donatur yang diorganisir menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok memiliki koordinator yang membawahi satu desa atau kecamatan yang kebanyakan tersebar di seluruh Madura dan pulau Jawa bagian timur.



Related posts