Bulan Ramadhan : Amalan Waktu Sahur

Bulan Ramadhan : Amalan Waktu Sahur

Wislah.com : Bulan Ramadhan menjadi waktu yang paling dinanti seluruh umat muslim di dunia. Sebab ia adalah bulan yang penuh keberkahan dan dilipatgandakannya segala amalan baik. Karena bulan ini merupakan waktu yang spesial, maka kita pun perlu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Salah satunya adalah mengetahui amalan-amalan apa saja yang ada di dalamnya agar kita bisa melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Lalu apa saja amalan bulan ramadhan pada waktu sahur?

Lihat uraian tentang : Amalan pada Waktu Sahur

Bangun Tidur

Bangun tidur untuk makan sahur dengan segera berdzikir, berwudhu, dan shalat. Dengan melakukan seperti ini akan lepas tiga ikatan setan ketika tidur. Dari Abu Hurairah ra Nabi Saw bersabda: “Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepaslah lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari, no. 1142 dan Muslim, no. 776).


Baca Juga : Bulan Ramadhan: Keutamaan dan Amalan

Shalat Tahajud

Masih boleh menambah shalat malam setelah tarawih karena jumlah rakaat shalat malam tidak ada batasannya. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa shalat malam tidak dibatasi jumlah rakaatnya yaitu ketika Nabi Saw ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab: “Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu Shubuh, maka kerjakanlah satu rakaat. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari, no. 990 dan Muslim, no. 749; dari Ibnu ‘Umar).

Berdoa

Setelah shalat tahajud, berdoa sesuai dengan hajat yang diinginkan karena sepertiga malam terakhir (waktu sahur) adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda: “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3:32).


Baca Juga : Puasa Ramadhan

Makan Sahur

Melakukan persiapan untuk makan sahur lalu menyantapnya. Ingatlah bahwa dalam makan sahur terdapat keberkahan. Dari Anas bin Malik ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095).

Menunggu Adzan Shubuh

Sambil menunggu azan shubuh, memperbanyak istigfar dan menyempatkan membaca al-Qur’an. Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17).

Aktivitas baca Al-Quran dapat dilihat dari aktivitas makan sahur di masa Nabi Saw berikut ini: “Dari Anas bin Malik ra bahwasanya Nabi Saw dan Zaid bin Tsabit ra pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi Saw berdiri untuk shalat, lalu beliau mengerjakan shalat. Kami bertanya pada Anas tentang berapa lama antara selesainya makan sahur mereka berdua dan waktu melaksanakan shalat Shubuh. Anas menjawab, “Yaitu sekitar seseorang membaca 50 ayat (Al-Quran).” (HR. Bukhari, no. 1134 dan Muslim, no. 1097).

Baca Juga : Shalat Terawih

Waktu Makan Sahur Berakhir

Waktu makan sahur berakhir ketika azan Shubuh berkumandang (masuknya fajar Shubuh). Dalilnya disebutkan bahwa aktivitas makan dan minum berhenti ketika terbit fajar Shubuh (ditandai dengan azan Shubuh yang tepat waktu) sebagaimana dalam ayat “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Dalam Al-Majmu’, Imam Nawawi ra menyebutkan, “Kami katakan bahwa jika fajar terbit sedangkan makanan masih ada di mulut, maka hendaklah dimuntahkan dan ia boleh teruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya. Permasalah ini sama sekali tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama. Dalil dalam masalah ini adalah hadits Ibnu ‘Umar dan Aisyah ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh Bilal mengumandangkan azan di malam hari. Tetaplah kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.” (HR. Bukhari, no. 622 dan Muslim, no. 1092).

Baca Juga : I’tikaf

Sumber : Buku 24 Jam di Bulan Ramdhan

Related posts