Ijaz Al-Qur’an : Pengertian, Macam-Macam, Kadar dan Aspek

Ijaz Al-Qur’an : Pengertian, Macam-Macam, Kadar dan Aspek.

Ijaz Al-Qur’an : Adik adik Siswa X Madrasah Aliyah dan semua santri di seluruh Indonesia, posting kali ini membahas tentang materi Ijaz Al-Qur’an.

Semoga penjelasan singkat yang akan dipaparkan, bermanfaat. Dan bisa menjadi bekal dalam mempelajari atau mata pelajaran berikutnya.

Berikut penjelasan tentang: Pengertian I`jaz Al-Qur’an, Macam-Macam Mukjizat, Kadar Kemukjizatan Al-Qur’an dan Aspek Kemukjizatan Al-Qur’an.

Pengertian I`jaz Al-Qur’an

Kata mukjizat berasal dari Bahasa Arab Aljaza Yujizu Ijaazan wa Mukjizatan. Lafadz mukjizat diambil dari isim Masdar. Secara harfiyah lafadz ini berarti lemah, tidak mampu, tidak berdaya, tidak sanggup, dan tidak kuasa. Akan tetapi kata mukjizat diartikan dengan Al-Ajib yaitu bahwa sesuatu itu ajaib atau menakjubkan karena pihak lain tidak sanggup untuk melakukan perbuatan tersebut.

Menurut terminologi atau istilah, Maana’ Alqoththon dalam kitab Mabahis fi ulumil Qur’an mendefinisikan bahwa lafadz mukjizat adalah Sesuatu urusan yang menyalahi tradisi, diiringi dengan tantangan atau pertandingan dan terlepas dari perlawanan (menang)

Macam-Macam Mukjizat

Mukjizat dapat dibedakan dalam dua hal, yaitu:

  1. Mukjizat Hissi, yaitu mukjizat yang dapat dirasakan dengan panca indera terutama indera mata. Memang manusia akan berbeda dalam memberikan penilaian terhadap apa yang bisa dilihat, dan yang dirasakan. Umat yang menyaksikannya tidak akan mampu melakukan seperti apa yang Allah berikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya . Dan mukjizat ini untuk membuktikan kebenaran risalah mereka. Diantara contoh mukjizat hissi yang Allah Swt berikan kepada para nabi tersebut adalah: (a) Nabi Musa As ketika nabi Musa As melempar tongkat yang ada ditangannya, tiba-tiba tongkat kayu tersebut berubah menjadi ular yang sangat besar dengan izin Allah Swt dan menelan semua ular-ular yang dibuat oleh tukang sihir yang dikumpulkan oleh Fir’aun. (b) Nabi Isa As dengan izin Allah Swt. Nabi Isa As dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, menyembuhkan orang yang menderita sakit belang, membuat bentuk burung dari tanah liat yang kemudian hidup, menghidupkan orang yang sudah mati, mendatangkan makanan dari langit.
  2. Mukjizat  A’qliyah/Maknawiyah. Mukjizat ini dapat diketahui dan difahami dengan kecerdasan akal manusia, kemampuannya untuk membedakan apa yang difikirkan, serta dengan kecerdasan tersebut ia mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Contohnya al-Qur’an.
Baca Juga :   Iman Kepada Malaikat : Pengertian, Nama, Tugas dan Hikmah

Kadar kemukjizatan Al-Qur’an

Kadar kemukjizatan Al-Qur’an adalah Al-Qur’an itu sendiri. perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an berikut:

  1. QS: At-Thur [52]: 34

“Maka cobalah mereka membuat yang semisal (Al-Qur’an), jika mereka orang-orang yang benar”.

  1. QS: Hud [11] : 13

Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah membuat-buat Al-Qur’an itu”, katakanlah “(kalau demikian) datangkanlah sepuluh surah semisal dengan Al-Qur’an yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja diantara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

  1. QS: Al-Baqarah [1] : 23

Dan jika kamu meragukan Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah. Jika kamu orang-orang yang benar”

Berdasarkan ayat diatas kadar I`jaz Al-Qur’an itu terletak pada dzat (benda) Al-Qur’an itu sendiri. Nyata bahwa Al-Qur’an itu adalah benar dan yang menyampaikan adalah benar-benar utusan Allah Swt. Al-Qur’an itu mampu melemahkan manusia dan mampu menunjukkan ke jalan yang benar (Islam) tentu dengan izin Allah Swt.

Baca Juga :   Sejarah Pada Masa Hindu di Indonesia : Kerajaan dan Tokoh

Aspek kemukjizatan Al-Qur’an

Aspek kemukjizatan yang dikandung Al-Qur’an tersebut, di antaranya:

  1. Imam Al-Qodhi I’yadl (544 H). Aspek kemukjizatan Al-Qur’an yaitu: (i) Bentuk susunannya yang menakjubkan. (ii) Uslubnya yang asing, metode susunan dan pemotongan kalimatnya berbeda dengan yang biasa digunakan oleh masyarakat Arab pada umumnya. (iii) Isinya mencakup hal-hal gaib yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, kemudian benar-benar terjadi seperti apa yang diberitakan oleh Al-Qur’an.  (iv) Berita tentang umat terdahulu dan syariat yang telah berlaku dan hanya bisa diketahui oleh sebagian dari Yahudi. Tetapi Rasulullah Saw mampu menceritakan sesuai dengan keadaannya, padahal beliau adalah ummi dan tidak menyaksikan dengan kedua mata beliau peristiwa tersebut.
  2. Abdur Rozaq Naufal menerangkan bahwa I`jazul Qur’an yaitu: (i) Al-I`jazul Balag`i, yaitu kemukjizatan dari segi sastra atau balaghah. (ii) Al-I`jazut Tasyrii`, yaitu kemukjizatan dari segi pensyariatan hukum pada saat penetapan hukum-hukum tersebut. (iii) Al-I`jazul I`lmi, yaitu kemukjizatan dari segi ilmu pengetahuan. (iv) Al-I`jazul Aldadi, yaitu kemukjizatan dari segi matematis/statistik.
  3. Rasyid Ridlo (W. 1935), mengemukakan kemukjizatan dalam Al-Qur’an, yaitu: (i) Susunan dan gaya Bahasa. (ii) keindahan dan balaghohnya/sastra. (iii) Ilmu ghoib yang ada di dalamnya. (iv) Isi kandungan Al-Qur’an terbebas dari kontradiksi. (v) Ilmu-ilmu keagamaan dan syariat. (vi) Antisipasi terhadap perkembangan zaman. (vii) Pembuktian terhadap permasalahan kontemporer yang belum dibuktikan sebelumnya.
Baca Juga :   Shalat Tahajjud dan Tata Cara Pelaksanaannya : Pengertian, Syarat, Waktu, Niat dan Doa

 

Sumber: Buku Ilmu Tafsir Kelas X MA-PK

Related posts