Tulisan ini memuat CP (Capaian Pembelajaran) Seni Rupa Fase F 2025 (Kelas 11 & 12) merujuk pada lampiran kurikulum terbaru. Pada fase ini, peserta didik berada pada tahap yang lebih matang dalam berpikir kritis, kreatif, serta analitis sehingga pembelajaran seni rupa menjadi sarana pengembangan intelektual, estetika, dan ekspresi diri yang lebih mendalam. Seni rupa tidak hanya dipahami sebagai keterampilan teknis, tetapi juga sebagai medium komunikasi, refleksi, dan pemaknaan terhadap realitas sosial.
Pada bagian berikut, pembahasan CP Seni Rupa Fase F 2025 disajikan secara komprehensif untuk membantu guru mengembangkan TP (Tujuan Pembelajaran) dan ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) yang relevan dengan karakteristik peserta didik kelas 11 dan 12. Setiap poin capaian dijelaskan agar guru dapat menerapkannya secara tepat dalam proses pembelajaran.
A. CP Seni Rupa Fase F 2025: Kelas 11 & 12
- Mengalami (Experiencing)
- Mengeksplorasi penggunaan unsur rupa dan prinsip desain dalam benda-benda di sekitar/karya seni rupa.
- Merefleksikan (Reflecting)
- Merefleksikan penggunaan unsur rupa, prinsip desain, dan fungsi dalam karya diri sendiri dan teman sekelas menggunakan kosa kata seni rupa yang sesuai.
- Berpikir Dan Bekerja Artistik (Thinking and Working Artistically)
- Menganalisis potensi alat dan bahan yang ada di lingkungan sekitar dan keterhubungan seni rupa dengan kelompok atau bidang keilmuan lain dalam berkarya.
- Menciptakan (Making/Creating)
- Membuat karya seni rupa berdasarkan pengalaman dan/atau hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar, dengan mempertimbangkan fungsi, menggunakan gaya atau teknik yang dikuasai.
- Berdampak (Impacting)
- Menghasilkan karya seni rupa untuk mengajak orang lain, merespon pengalaman sehari-hari, mengekspresikan perasaan, minat, dan/atau isu sosial dalam masyarakat.
B. Memahami CP Seni Rupa Fase F 2025
1. Mengalami (Experiencing)
Pada tahap ini, murid mengembangkan kemampuan eksploratif terhadap unsur rupa dan prinsip desain pada level yang lebih kompleks. Mereka diajak menelaah perbedaan gaya visual, analisis komposisi, dan hubungan antara bentuk dengan fungsi pada berbagai bentuk karya seni maupun desain. Dengan demikian, murid dapat memahami konteks visual secara lebih kritis dan terarah.
2. Merefleksikan (Reflecting)
Murid dilatih merumuskan refleksi dan apresiasi melalui penggunaan kosa kata seni rupa yang tepat dan profesional. Mereka mengevaluasi karya berdasarkan aspek fungsi, estetika, teknik, dan pesan visual. Diskusi kelas dapat menjadi sarana penting untuk memperdalam kemampuan analisis serta membangun sikap apresiatif terhadap karya orang lain.
3. Berpikir Dan Bekerja Artistik
Pada fase ini, murid mulai mengkaji potensi alat dan bahan secara lebih luas, termasuk material lokal, bahan alternatif, atau teknologi baru dalam penciptaan karya seni rupa. Mereka juga diajak menghubungkan seni rupa dengan bidang lain seperti sains, teknologi, sosial, humaniora, atau budaya. Pendekatan lintas disiplin ini relevan untuk membangun kemampuan berpikir holistik.
4. Menciptakan (Making/Creating)
Murid menghasilkan karya yang mencerminkan penguasaan teknik, gaya, serta ide. Guru dapat memberikan proyek yang mendorong murid bereksplorasi lebih jauh, seperti desain komunikasi visual, ilustrasi editorial, karya seni tiga dimensi, atau karya eksperimental yang mempertimbangkan estetika dan fungsi. Penting bagi murid untuk menunjukkan orisinalitas serta kedalaman konsep.
5. Berdampak (Impacting)
Karya seni rupa pada fase ini diarahkan untuk memberi dampak sosial, mempengaruhi opini, atau menyampaikan pesan tertentu. Murid diberi kesempatan untuk membuat karya yang merespon isu sosial, mengekspresikan pengalaman pribadi, atau mengampanyekan nilai tertentu. Proses ini menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kesadaran sosial, serta empati.
Sebelum melanjutkan penyusunan perangkat ajar, silakan unduh CP, TP, dan ATP Seni Rupa Fase F 2025 melalui: Download Di Sini
Penutup
Pemahaman terhadap CP Seni Rupa Fase F 2025 sangat penting untuk memastikan proses pembelajaran seni rupa di kelas 11 dan 12 berlangsung secara terarah, mendalam, dan sesuai kebutuhan perkembangan peserta didik. Dengan memadukan aspek Mengalami, Merefleksikan, Berpikir Artistik, Menciptakan, dan Berdampak, pembelajaran seni rupa dapat menjadi wahana ekspresi kreatif sekaligus sarana membaca dan merespons realitas sosial secara kritis.

