10 Penelitian Tentang Bulliying Di Sekolah, Referensi Penelitian Relevan (Terdahulu) Proposal, Skripsi, Tesis, Disertasi dan Jurnal Ilmiah

Penelitian Tentang Bulliying Di Sekolah

Penelitian Tentang Bulliying Di Sekolah | Kualitatif | Kuantitatif | Penelitian Relevan (Terdahulu) | Proposal Penelitian | Skripsi | Tesis | Disertasi | Jurnal Ilmiah | Hasil Penelitian |

Di bawah ini adalah sejumlah Penelitian Tentang Bulliying Di Sekolah yang diambil dari beberapa kampus di Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan berbagai macam metode dan pendekatan penelitian, sehingga untuk kamu yang sedang mencari informasi tentang penelitian dengan tema serupa punya banyak pandangan.

Kumpulan Penelitian Tentang Bulliying Di Sekolah, sangat bermanfaat sebagai sumber penulisan “penelitian relevan” (atau penelitian terdahulu) yang ada dalam proposal penelitian, agar penelitian yang akan dilakukan dapat menemukan hasil penelitian terbaru.

10 Penelitian Tentang Bulliying Di Sekolah

Peranan Konselor Sekolah dalam Meminimalisir Perilaku Bullying di Sekolah

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Siswa di sekolah menengah memasuki tahap perkembangan sebagai remaja, hal ini sangat memerlukan perhatian dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya agar tidak salah arah dalam pergaulan, seperti melakukan ‘bullying’; atau menjadi korban ‘bullying’, mengingat saat ini ‘bullying ‘menjadi permasalahan yang sangat menjadi perhatian masyarakat, sehingga sekolah perlu membuat suatu tindakan preventif agar ‘bullying’ tidak sampai menjadi permasalahan baru di sekolah, Peranan Konselor sekolah di sekolah yang professional sangat diharapkan untuk meminimalisir perilaku ‘bullying’, konselor memiliki program kegiatan layanan yang komprehensitif dan terintegrasi dengan program sekolah dalam penanganan perilaku siswa, langkah yang dapat dilakukan oleh konsleor sekolah misalnya dengan mengidentifikasi perilaku-perilaku yang dapat memicu munculnya perilaku ‘bullying’. Konselor sekolah bekerjasama dengan personil sekolah lainnya untuk meminimalisir jangan sampai ‘bullying’ terjadi di sekolah agar sekolah bebas dari ‘bullying’.

Fenomena Kekerasan di Sekolah (School Bullying) pada Remaja di Kabupaten Pati

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Peningkatan angka kekerasan anak di Kabupaten Pati cukup memprihatinkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan perilaku bullying pada siswa SMP dan menjelaskan bentuk-bentuk bullying pada siswa SMP di Kabupaten Pati dari sudut pandang korban maupun pelaku. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Pati yang berjumlah 31.012. Sampel penelitian terdiri atas 395 siswa dari 21 SMP yang bersedia menjadi responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan proporsional area random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai Oktober 2015. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 58,2% dari total responden pernah mengalami perilaku bullying. Siswa yang mengalami bullying terbagi dalam 3 peran yaitu pelaku, korban dan pelaku sekaligus korban dengan persentase yang mendominasi yaitu 52,8%. Berdasarkan sudut pandang korban, bentuk bullying paling banyak dialami adalah bullying verbal 29,3%. Korban menganggap bullying yang diterima adalah hal yang biasa (43,4%), namun banyak juga yang merasa sedih (30,3%). Pelaku paling dominan adalah teman seangkatan sebanyak 58,6%. Tempat terjadinya bullying sebagian besar adalah di kelas (84,3%). Berdasarkan sudut pandang pelaku, bentuk paling banyak dilakukan kepada korban adalah bullying verbal 44,2%. Sebagian pelaku bullying merasa menyesal (37,3%), sasaran paling banyak adalah teman seangkatan (77,5%). 58,7% pelaku bullying mengungkapkan alasan perilaku adalah iseng, bullying sebagian besar dilakukan di kelas (87,5%).

Bullying pada Pola Interaksi Anak Berkebutuhan Khusus (Abk) di Sekolah Inklusif

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Dalam dunia pendidikan pastinya tedapat beberapa macam permasalahan yang terjadi di dalamnya, salah satunya yaitu adanya bullying. Maraknya aksi kekerasan atau bullying yang dilakukan oleh siswa terutama di sekolah semakin banyak saja adanya berita tentang kasus kekerasan atau bullying tersebut baik itu di media cetak maupun media elektronik. Dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana terjadinya tindakan bullying pada pola interaksi yang terjadi khusunya pada anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi serta bagaimana bentuk tindakan bullying tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik. Pengambilan data di lapangan dengan melakukan observasi berpartisipasi dan proses wawancara. Subjek penelitian ini yaitu anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya adanya tindakan bullying yang terjadi pada anak berkebutuhan khusus dimana tindakan bullying tersebut terjadi ketika berada di sekolah baik di dalam kelas ataupun diluar kelas serta ketika pada saat jam pelajaran maupun pada saat jam istirahat berlangsung. Bentuk-bentuk bullying tersebut berupa ejekan, godaan, pengucilan, intimidasi dan lain sebagainya. Perlunya USAha dari semua pihak agar tindakan bullying tersebut tidak lagi terjadi khusunya di dalam dunia pendidikan. Kata Kunci : Bullying, Anak Berkebutuhan Khusus, Sekolah Inklusi  

Perilaku Bullying Pada Mahasiswa Berasrama

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Fenomena ciri-ciri bullying siswa menjadi perhatian karena lembaga pendidikan tempat para individu edukatif dilatih justru menjadi tempat terjadinya bullying. Bullying adalah tindakan menyakiti seseorang yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Bullying tidak terbatas pada komunitas atau institusi pendidikan, seperti universitas, secara keseluruhan, tetapi terjadi di wilayah yang lebih sempit yang terkait dengan kampus – asrama. Asrama, tempat belajar yang kondusif adalah laboratorium sosial, dengan fungsi edukatif, sosial, moral dan kaderisasi. Berdasarkan data statistik kasus bullying universitas A yang dirilis oleh kantor kemahasiswaan tahun 2008, ditemukan bahwa ada 1 atau 2 kasus setiap semester. Pelaku bullying biasanya terdiri dari 1 sampai 8 siswa. Untuk mengetahui jenis-jenis bullying, faktor dan dampak yang menyebabkan tindakan tersebut pada korban dan masyarakat asrama, serta upaya pencegahannya. Penelitian kualitatif dilakukan untuk menggali lebih dalam gambaran bullying yang sebenarnya. Wawancara dan diskusi dilakukan terhadap 14 subjek penelitian. Segitiga sumber dan metodologi dilakukan untuk validasi data. Analisis data dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah open coding. Faktor penyebab bullying di universitas A pada umumnya sama yaitu faktor senioritas, meniru pengalaman masa lalu. Senior mengharapkan diri mereka untuk dihormati dan masalah terjadi ketika junior tidak menghormati mereka. Penindas diintimidasi karena mereka pernah menjadi korban, oleh karena itu intimidasi entah bagaimana dilakukan sebagai tindakan balas dendam. Tindak bullying terjadi di asrama universitas A di Bandung. Sistem anti-bullying yang dirancang oleh universitas adalah: pengembangan pemahaman agama, implementasi ajaran agama, peningkatan nilai-nilai moral. Hal lain yang dilakukan adalah pembenahan sistem pengendalian mahasiswa oleh dekan dan pengawas asrama (pekerja asrama).

Perlukah Pencegahan Bullying Masuk dalam Kurikulum Sekolah Dasar?

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Bullying terjadi dimana saja dan sebagian besar terdapat di lingkungan sekolah termasuk sekolah dasar. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan opini penerapan pencegahan bullying dalam kurikulum sekolah. Beragam jenis bullying yang banyak membuat anak-anak pada usia sekolah dasar tidak mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan termasuk kegiatan bullying khususnya jenis verbal. Sebagian besar anak-anak sekolah dasar menganggap tindakan bullying yang mereka lakukan terhadap teman sebagai bercandaan biasa. Lebih dari setengah korban bullying tidak melaporkan hal tersebut kepada orang dewasa karena merasa takut. Dampak dari bullying dapat menjadikan korban stress, tidak memiliki kepercayaan diri, tidak dapat bersosialisasi secara normal dan bahkan hingga memilih bunuh diri. Antisipasi pencegahan bullying dapat disisipkan secara langsung maupun tidak langsung melalui agenda pendidikan di sekolah. Pendidikan tentang bullying pada tahap sekolah dasar sangat penting diterapkan untuk mencegah bullying yang lebih jauh. Pendidikan ini dapat diterapkan dalam kurikulum belajar seperti pada mata pelajaran agama, muatan lokal, bimbingan konseling, atau menjadi sebuah mata pelajaran tersendiri. Praktik pencegahan bullying bisa diberikan melalui aktivitas bersama seperti olahraga atau kegiatan berlomba dengan mencampurkan murid antar kelas. Pendidikan ini membawa informasi kepada anak-anak tentang berbagai macam bullying, meningkatkan kepedulian guru terhadap bullying sekecil apapun, serta membangun hubungan sebaya yang positif. Oleh karena itu, kementerian pendidikan dan kebudayaan perlu mempertimbangkan pencegahan bullying pada penyusunan kurikulum pendidikan.

Praktik Bullying di Kalangan Pelajar SMPN 3 Kamal, Bangkalan

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Dunia pendidikan tidak terlepas dari berbagai permasalahan sosial. Salah satu masalah yang sering terjadi di sekolah yaitu kekerasan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Kekerasan di sekolah juga sering disebut dengan bullying. Praktik bullying merupakan perilaku negatif berupa intimidasi yang sering dilakukan oleh pelajar di sekolah. Bullying menyebabkan ketidaknyamanan dan terluka pada siswa yang menjadi korban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk praktik bullying yang terjadi di kalangan pelajar SMP Negeri 3 Kamal, Bangkalan. Pada penelitian ini menggunakan teori Praktik Sosial Pierre Bourdieu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan relasionisme metodelogis Pierre Bourdieu. Subjek penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik Purposive yaitu siswa Madura sebagai pelaku praktik bullying, siswa asal desa Tajungan yang berbahasa Jawa sebagai korban praktik bullying dan guru bimbingan dan konseling. Pengambilan data di lapangan dengan melakukan observasi dan proses wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya praktik bullying di kalangan pelajar SMP Negeri 3 Kamal, antara siswa Madura dengan siswa asal desa Tajungan yang memiliki ciri khas berbahasa Jawa. Bentuk-bentuk bullying yang sering dilakukan oleh siswa Madura terhadap siswa asal desa Tajungan yaitu bullying verbal dan bullying langsung (fisik). Bentuk bullying verbal dengan cara menghina, mencemooh, mengejek, mengucilkan, menyebarkan gosip, mengintimidasi dengan cara melotot. Bentuk bullying langsung (fisik) dengan berkelahi, mendorong dan memukul. Kata kunci: Kekerasan, Bullying, Siswa, Sekolah

Exploration of Bullying Behavior in Pesantren

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Perilaku bullying sering terjadi di kalangan remaja saat ini, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan pesantren yang merupakan tempat pendidikan agama. Dampak bullying dapat mengganggu kesehatan mental remaja, khususnya bagi korbannya. Dampak yang ditimbulkan antara lain ketakutan, rasa malu, depresi, sedih dan cemas. Dampak fisik juga dirasakan oleh korban bullying, seperti bengkak, luka, sulit tidur, nafsu makan menurun. Penelitian ini bertujun untuk menggali pengalaman bullying. Menggali pemahaman santri tentang bullying, bentuk bullying yang dialami, penyebab, pelaku dan akibat yang dirasakan. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan interpretif fenomenologis. Penelitian dilakukan di salah satu pondok pesantren di Jember. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara mendalam selama 30-60 menit menggunakan alat perekam. Lima partisipan dipilih dengan metode purposive sampling dengan kriteria adalah santri yang pernah mengalami bullying, tinggal di pondok pesantren minimal 1 tahun, mampu menceritakan pengalamannya dan bersedia menjadi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memahami bullying sebagai kekerasan, bentuk bullying yang dialami berupa bullying fisik, bullying verbal dan bullying sosial. Pelaku adalah senior maupun teman sebaya, karena persaingan, keinginan untuk diakui, keisengan dan kurangnya perhatian dari pihak pondok. Dampak yang dirasakan peserta berupa luka fisik, perasaan tidak nyaman, sedih, takut, cemas ingin berhenti atau keluar dari pesantren. Kasus bullying yang terjadi di lingkungan pesantren mengakibatkan dampak buruk bagi korban di lingkungan pesantren. bio-psiko-dan perkembangan sosial korban. Pihak pondok pesantren dan orang tua perlu memberikan perhatian khusus kepada santri, dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana mengatasi bullying di pesantren.

Karakteristik Pelaku dan Korban Bullying di SMA Negeri 11 Surabaya

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMA Negeri 11 Surabaya, ditemukan kasus bullying yang terjadi disekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk bullying, karakteristik pelaku dan korban bullying. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan subyek kelas XII-IPA5 (pelaku maupun korban bullying). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi partisipasi pasif, wawancara terstuktur, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Uji keabsahan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji credibility dan dependability. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bullying terjadi dalam empat bentuk yaitu bullying fisik (mengambil paksa barang, memukul, meminta uang dengan paksa, dan menyudutkan korban), bullying verbal (memanggil dengan nama julukan, memanggil dengan kekurangan fisik, mengolok-olok, dan berkata kasar, bullying sosial (mengucilkan), dan bullying elektronik (mengambil foto tanpa ijin dan menyebarkan ke sosial media). Pelaku bullying memiliki kekuatan fisik dan sosial yang lebih dibandingkan dengan siswa lain, kemampuan interpersonal skill yang buruk, kurang bertanggung jawab, kurang empati, kendali diri yang lemah dan agresif. Korban bullying memiliki penampilan fisik yang berbeda, pendiam, pasif, rendah diri, dan memiliki kemampuan finansial yang lebih   Kata kunci : bentuk bullying, karakteristik pelaku bullying, karakteristik korban bullying

Motif Rasa Aman Peserta Didik Melakukan Perilaku Bullying di SMP N 1 Painan

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya perilaku bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Dampak dari bullying tidak hanya dirasakan oleh target atau seseorang yang dibully, tetapi juga orang-orang yang melihat aksi bullying, dan bahkan para pelaku bullying itu sendiri. Banyak faktor yang menyebabkan peserta didik melakukan bully di sekolah, sehingga menyebabkan angka bullying di sekolah cukup tinggi. Hasil penelitian di lapangan menunjukan fakta bahwa: pertama, perilaku bullying yang terjadi di sekolah sangat banyak, namun perilaku bullying di sekolah tidak menjadi fokus kajian para majelis guru dalam membentuk karakter siswa, sikap seperti ini yang menyebabkan angka bullying semakin tinggi di lingkungan sekolah. Kedua, keseluruhan pelaku bullying pernah menjadi korban dari bullying, sehingga korban berubah menjadi seorang pelaku bullying. Ketiga, tujuan korban menjadi pelaku bullying adalah untuk melindungi diri dari situasi yang tidak menguntungkan bagi pelaku, sehingga perilaku tersebut dimunculkan untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman peserta didik. Selain itu pelaku juga melakukan bully karena untuk membalaskan dendamnya, hal ini karena pelaku pernah menjadi korban. Balas dendam tersebut berupa peniruan dari perilaku yang diterima.

Pengaruh the Anti Bullying and Teasing Program Tema Komunitas Dalam Menurunkan Frekuensi Perilaku Bullying Di Kelas Taman Kanak-kanak

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Tema Komunitas The Anti Bullying and Teasing Program terhadap penurunan perilaku bullying di kelas TK. Penelitian ini melibatkan dua ruang kelas dari TK yang sama dengan total 27 anak di kedua kelas. Guru dan taman kanak-kanak yang terlibat dalam penelitian ini semuanya setuju untuk terlibat dalam penelitian ini, dan juga untuk tidak menerapkan program serupa lainnya di sekolah dan ruang kelas mereka. Semua guru di kedua kelas tersebut telah memiliki pengalaman mengajar lebih dari tiga tahun. Kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan dengan desain perlakuan yang dihilangkan diterapkan dalam penelitian ini untuk menentukan pengaruh program. Program yang dilakukan berdasarkan Buku Anti Bullying dan Ejekan untuk Kelas Prasekolah, memiliki enam jam kegiatan orientasi intensif untuk guru dan sepuluh sesi kegiatan bertema komunitas untuk diterapkan oleh guru di kelas mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tema Komunitas Anti Bullying dan Program Menggoda memang menurunkan perilaku bullying.

Note: Informasi yang kamu dapatkan adalah informasi abstraksi dari penelitian tentang Bulliying Di Sekolah. Untuk Selengkapnya kamu bisa klik link atau judul dari masing-masing daftar di atas.  

Related posts