10 Penelitian Tentang Overthinking, Referensi Penelitian Relevan (Terdahulu) Proposal, Skripsi, Tesis, Disertasi dan Jurnal Ilmiah

  • Whatsapp
Penelitian Tentang Overthinking

Penelitian Tentang Overthinking | Kualitatif | Kuantitatif | Penelitian Relevan (Terdahulu) | Proposal Penelitian | Skripsi | Tesis | Disertasi | Jurnal Ilmiah | Hasil Penelitian |

Di bawah ini adalah sejumlah Penelitian Tentang Overthinking yang diambil dari beberapa kampus di Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan berbagai macam metode dan pendekatan penelitian, sehingga untuk kamu yang sedang mencari informasi tentang penelitian dengan tema serupa punya banyak pandangan.

Kumpulan Penelitian Tentang Overthinking, sangat bermanfaat sebagai sumber penulisan “penelitian relevan” (atau penelitian terdahulu) yang ada dalam proposal penelitian, agar penelitian yang akan dilakukan dapat menemukan hasil penelitian terbaru.

Penelitian Tentang Overthinking

Mengelola Overthinking untuk Meraih Kebermaknaan Hidup

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:



Pandemi covid-19 menjadi permasalahan salah satunya adalah keadaan untuk adaptasi kebiasaan baru menuntut individu untuk terus dapat meningkatkan kemampuan bertahan di keadaan saat ini. Belajar dari rumah dapat menjadi suatu hal yang positif namun bisa menjadi hal yang negatif tergantung pemaknaannya, ditambah banyaknya kondisi saat ini yang tidak menentu dan mengalami banyak perubahan. Keadaan seperti hal tersebut sehingga memunculkan banyak sekali pemikiran negatif dan masyarakat menjadi overtinking. Melihat fenomena tersebut maka dilaksanakan pengabdian masyarakat dengan seminar secara daring (webinar) mengelola overtinking untuk meraih kebermaknaan hhidup. Tujuan dari seminar daring ini untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman bagaiamana mengelola overtinking agar terhindar dari pemikiran yang berlebihan. Hasil analisis data ditemukan nilai sig (p) = 0.000 (p < 0.05) hal ini bermakna bahwa terdapat perbedaan antara pretest dengan pos test, hal tersebut dilihat dari adanya kenaikan nilai mean skor pretest sebelum webinar sebesar 34.55 mengalami kenaikan menjadi 40.83 setelah mengikuti webinar mengolah overthinking untuk meraih kebermaknaan hidup.

Pandangan Masyarakat terhadap Overthinking dan Relasinya dengan Teori Rational Emotive Brief Therapy

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Latar belakang : Pada saat ini kita berada di dalam situasi yang sulit tidak hanya diakibatkan oleh pandemi COVID-19 yang mengharuskan kita untuk tetap tinggal berada didalam rumah melakukan berbagai aktivitas belajar atau bekerja. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap overthinking dan relasinya dengan teori Rational Emotive Brief Therapy. REBT merupakan salah satu dari ke-12 teori pendekatan dan konseling yang sudah kami pelajari. REBT ini ada kaitannya dengan Overthinking, yang banyak yang dialami oleh masyarakat pada umumnya. Overthinking merupakan perilaku atau bias yang terjadi secara normal pada siapapun yang melibatkan proses berpikir yang umumnya dialami oleh manusia. Overthinking juga bisa menimbulkan kecemasan yang sangat tinggi dikarenakan adanya ketidakselarasan terkait pikiran dengan kejadian yang terjadi. Dari kecemasan itu biasanya bisa membuat seseorang merasa tertekan. Metode penelitian: penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, data yang kami peroleh menggunakan google form. Hasil: data yang didapat bahwa “Mahasiswa” yang sering mengalami overthinking, kemudian 74,2% perempuan sering mengalami overthinking dan nampak bahwa salah satu penyebab overthinking yaitu khawatir karena terlalu memikirkan hal negatif sekitar 37,31%. Simpulan: Masih banyak masyarakat yang mengabaikan dampak dari overthinking ini sendiri, oleh karena itu dengan adanya pendekatan REBT ini dapat membantu masyarakat agar dapat mengubah pikirannya dari yang irasional menjadi rasional.

Mindfulness Therapy Untuk Menangani Overthinking Pada Wanita Dewasa Di Desa Sedati Gede Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Baca Juga :   Hasil Riset: Tingkat Toleransi Santri Sangat Tinggi

Fokus Penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan Mindfulness Therapy Untuk Menangani Overthinking Pada Wanita Dewasa Di Desa Sedati Gede Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo, (2) Bagaimana hasil dari Mindfulness Therapy Untuk Menangani Overthinking Pada Wanita Dewasa Di Desa Sedati Gede Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus seorang wanita dewasa awal yang memiliki beberapa kecemasan karena overthinkingnya. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dengan menggunakan analisis komparatif, peneliti membandingkan perubahan kondisi konseli antara sebelum dan sesuadah melakukan konseling. Peneliti melakukan konseling dengan Mindfulness Therapy Untuk Menangani Overthinking konseli. Hasil akhir dari aplikasi Mindfulness Therapy Untuk Menangani Overthinking dalam penelitian ini yaitu konseli dapat mengendalikan pikirannya dengan segera ketika overthinking, konseli juga merasa lebih lega dan tenang serta rileks sesudah melakukan mindfulness therapy. Meski tidak memungkiri jika sesekali konseli masih overthinking tapi intensitasnya lebih sebentar karena konseli dapat mengatasinya sehingga overthinkingnya tidak berlarut-larut dan berpikir secara rasional serta fokus dengan apa yang terjadi saat ini. Kata Kunci: Mindfulness Therapy, Kecemasan, Overthinking.

Berpikir Positif untuk Menurunkan Stres Psikologis

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan pelatihan berpikir positif bagi mengurangi tingkat stres siswa. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa “Pelatihan berpikir positif adalah efektif untuk mengurangi tingkat stres siswa”. Subyek penelitian adalah 48 siswa dari Fakultas “P” Universitas “K” di Yogyakarta. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setiap kelompok terdiri dari 24 siswa. Eksperimental Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretest-posttest control group design. Dengan ini, kelompok eksperimen mendapat perlakuan berupa pelatihan berpikir positif. Murid-murid’ Stress level scale (SSLS) digunakan untuk mengetahui apakah mereka mengalami gangguan stres atau tidak. Setelah menerima pelatihan berpikir positif, terungkap bahwa tingkat stres kelompok eksperimen menurun dibandingkan dengan kelompok kontrol (daftar tunggu) yang tidak mendapatkan pelatihan. Uji-t dilakukan dengan menganalisis perbedaan skor yang diperoleh antara kelompok eksperimen dan kontrol kelompok menunjukkan bahwa pelatihan berpikir positif efektif untuk mengurangi tingkat stres siswa. Dia ditunjukkan bahwa hasil t hitung data skor yang diperoleh (meningkatnya berpikir positif) sebesar 8,232 dengan p=0,001 dan pengurangan berpikir positif berjumlah -8,148 dengan p=0,001.

Proses Kematangan Emosi pada Individu Dewasa Awal yang Dibesarkan dengan Pola Asuh Orang Tua Permisif

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran proses kematangan emosi individu dewasa awal yang dibesarkan dengan pola asuh orang tua permisif dilihat dari manifestasi kematangan emosi dan faktor-faktor yang memengaruhi proses kematangan emosi individu. Kematangan emosi termanifestasi melalui tiga dimensi yaitu kontrol emosi, pemahaman diri, dan fungsi kritis mental serta dipengaruhi faktor individu, lingkungan dan pengalaman dalam proses pencapaiannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik studi kasus intrinsik yang melibatkan empat individu dewasa awal. Teknik penggalian data menggunakan wawancara kualitatif dengan pedoman umum. Teknik analisis data menggunakan metode analisis tematik yang theory-driven. Pemantapan kredibilitas penelitian dilakukan dengan member check. Hasil penelitian menunjukkan pola asuh orang tua permisif berdampak pada proses kematangan emosi individu dewasa awal baik secara positif maupun negatif, ditandai dengan keadaan serta pengelolaan emosi yang terganggu, proses pencapaian pemahaman diri yang terbangun dari faktor di luar keluarga, dan fungsi kritis mental yang berkembang.




Baca Juga :   Hubungan antara Konsentrasi Litium di Otak dan Depresi

STRATEGI COPING STRES DALAM MENGATASI PROBLEMA PSIKOLOGIS

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Stres adalah gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari dalam diri, atau dari luar. Coping merupakan sejumlah usaha untk menanggulangi, mengatasi atau berurusan dengan cara yang sebaik-baiknya menurut kemampuan individu. Coping stres merupakan suatu proses pemulihan kembali dari pengaruh pengalaman stres atau reaksi fisik dan psikis yang berupa perasaan tidak enak, tidak nyaman atau tertekan yang sedang dihadapi. Coping stres meliputi strategi kognitif dan perilaku yang digunakan untuk mengelola situasi penuh stres dan emosi negatif yang tidak menguntungkan. Problema psikologis adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Problema psikologis merupakan pola perilaku abnormal yang meliputi gangguan afektif, fungsi psikologis atau perilaku seseorang. Setiap individu dalam kehidupannya tidak lepas dari hal emosi, baik itu dialami oleh anak-anak, dewasa bahkan juga oleh para lansia. Problema psikologis adalah gejala-gejala yang patologik dari unsur psikis, hal ini tidak berarti bahwa unsur lain yang tidak terganggu. Hal-hal yang mempengaruhi perilaku manusia adalah keturunan, umur, keluarga, adat istiadat, kebudayaan kepercayaan, pekerjaan, maupun hubungan antara manusia. Strategi coping stres merupakan suatu usaha untuk melakukan adaptasi diri terhadap problema psikologis tersebut sehingga dapat mengurangi atau meminimalisir kejadian atau keadaan yang penuh tekanan tersebut.

Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosi Remaja

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Abstrak: Perceraian seringkali dianggap sebagai solusi tepat untuk mengakhiri hubungan perkawinan yang tidak harmonis. Ketika terjadi perceraian, tidak hanya suami istri yang merasakan dampaknya, tetapi anak-anak dalam keluarga juga merasakan dampak dari perceraian tersebut. Penelitian ini membahas tentang perkembangan sosial emosional anak korban perceraian orang tua khususnya remaja dengan tujuan untuk mengetahui dampak perceraian orang tua terhadap perkembangan sosial dan emosional remaja. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara mendalam, melibatkan 3 partisipan dengan rentang usia 11-20 tahun dari keluarga bercerai yang berdomisili di Kota Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga partisipan merasakan dampak yang cukup besar terhadap perubahan diri akibat perceraian orang tuanya. Dampak yang dirasakan peserta tidak hanya dampak negatif tetapi juga terdapat dampak positif yaitu dampak negatif dan positif terhadap perkembangan sosial peserta dengan orang lain, serta dampak positif terhadap perkembangan emosional peserta.

Pranayama Nadi Sodhana untuk Meredakan Overthinking

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Overthinking adalah tindakan memikirkan sesuatu untuk waktu yang lama. Overthinking bisa dilakukan oleh siapa saja, baik tua maupun muda. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab dan akibat overthinking, serta pranayama yang tepat untuk meredakannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode literature review dan dimodifikasi dengan pendapat dan pemikiran penulis. Overthinking disebabkan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal, seperti kurangnya kemampuan untuk mengelola emosi negatif dan pikiran negatif yang muncul, lingkungan yang tidak mendukung dan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, serta masalah dalam hidup. Overthinking dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikis, seperti stres dan kecemasan, insomnia, sakit kepala, gangguan sistem pencernaan, serta hipertensi dan penyakit jantung. Overthinking dapat dihilangkan dengan konsentrasi dan relaksasi melalui pranayama nadi sodhana.

HUBUNGAN ANTARA POLA PIKIR NEGATIF DAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Baca Juga :   Hasil Riset: Musik Dapat Menyinkronkan Gelombang Otak

Andina Prilajeng Nugraheni (2010). Hubungan antara Pola Pikir Negatif dan Kecemasan Berbicara di Depan Umum. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pola pikir negatif diidentifikasikan sebagai variabel bebas, sedangkan kecemasan berbicara di depan umum diidentifikasikan sebagai variabel tergantung. Subjek dalam penelitian ini adalah 100 mahasiswa psikologi universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan dua skala pengukuran model Likert: yaitu skala pola pikir negatif dan skala kecemasan berbicara di depan umum yang disusun sendiri oleh penulis berdasarkan negative cognitive triad Beck (1985) dan aspek-aspek kecemasan berbicara di depan umum Rogers (2004). Koefisien reliabilitas pada skala pola pikir negatif sebesar 0.943 dan pada skala kecemasan berbicara di depan umum sebesar 0.932. Data penelitian ini dianalisis dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson. Koefisien korelasi yang diperoleh sebesar 0,776 dengan probabilitas 0,000 (p< 0,01). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima. Ini berarti ada hubungan positif yang signifikan antara pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Overthinking Hurts: Rumination, Worry and Mental Health of International Students in China During Covid-19 Pandemic

Dalam abstraksi terdapat informasi ini:

Pasca merebaknya pandemi COVID-19 di China, banyak mahasiswa internasional yang terjebak di sana karena lockdown atau karantina. Teman dan anggota keluarga mereka terinfeksi virus Corona dan beberapa meninggal; yang mempengaruhi kesehatan mental oleh kekhawatiran dan pikiran ruminatif. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi dampak perenungan dan kekhawatiran pada kesehatan mental dari 300 siswa internasional yang dipilih secara sengaja (yaitu, Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika) di Cina. Ruminasi, Kekhawatiran, dan Kesehatan mental siswa masing-masing diukur dengan skala respons Ruminasi, Kuesioner Kekhawatiran Penn State, dan Skala Kesejahteraan Mental Warwick. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa tidak hanya perenungan dan kekhawatiran memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kesehatan mental, tetapi juga merupakan prediktor signifikan untuk kesehatan mental. Lebih lanjut, temuan mengungkapkan bahwa perempuan memiliki lebih banyak kekhawatiran dengan pemikiran ruminatif selama Wabah pandemi COVID-19. Studi ini akan membantu siswa internasional di seluruh dunia untuk memahami pentingnya kesehatan mental untuk melawan COVID-19. Diskusi dan saran untuk peneliti masa depan juga tercermin.

Note: Informasi yang kamu dapatkan adalah informasi abstraksi dari penelitian tentang Overthinking. Untuk Selengkapnya kamu bisa klik link atau judul dari masing-masing daftar di atas.  




Related posts