Arkeologi: Cabang dalam Ilmu Antropologi, Pengantar, Hasil Keragaman dan Manfaat

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Arkeologi: Cabang dalam Ilmu Antropologi | Pengantar Arkeologi  | Hasil Keragaman Data Arkeologi | Manfaat Arkeologi |

Pengantar Arkeologi

Arkeologi dapat didefinisikan secara luas sebagai penyelidikan budaya dan masyarakat manusia masa lalu melalui pemulihan dan interpretasi dari sisa-sisa material kuno budaya dan bagaimana budaya material mereka telah dilestarikan secara turun temurun (Barnard & Spencer, 2002). Arkeologi menggunakan jejak kehidupan bendawi ataupun ragawi masa lalu sebagai cara untuk menemukan identitas. Hal yang diharapkan dari tujuan pembelajaran ini adalah menggali nilai-nilai luhur dari peninggalan masa lampau di Indonesia. Kemudian tujuan lainnya adalah meningkatkan pengetahuan manusia dan memupuk kebanggaan nasional dalam jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Arkeologi secara harfiah berarti, “studi tentang masa lalu”, yakni budaya material (Barnard & Spencer, 2002). Arkeologi mencakup dua bidang utama yaitu arkeologi prasejarah, yang menyangkut masa lalu manusia sebelum mengenal tulisan; dan arkeologi sejarah, yang berhubungan dengan masa lalu manusia yang sudah mengenal tulisan.

Arkeologi prasejarah tidak memiliki akses langsung menuju informasi tentang perilaku manusia karena keterbatasan data yang disebabkan belum mengenal adanya tulisan atau dokumen terkait. Berbeda dengan arkeologi sejarah yang sudah mengenal adanya tulisan dan ada sumber dokumen yang terkait.

Seorang arkeolog dituntut terus memperluas penemuan mereka dalam menyusuri sebuah sejarah kehidupan budaya material manusia (Barnard & Spencer, 2002). Seringkali sejarah tertulis tidak lengkap atau hanya berisi beberapa aspek masyarakat yang tengah diteliti. Dalam konteks inilah kajian arkeologi dibutuhkan. Posisi arkeologi dalam antropologi adalah mengisi aspek-aspek yang tidak lengkap tersebut dengan menemukan dan menggali sisa-sisa fisik budaya masa lalu untuk memahami dan merekonstruksi kebudayaan suatu kelompok manusia dan bagaimana cara mereka hidup di masa lalu.

Hasil Keragaman Data Arkeologi

Teknik pengumpulan data melalui arkeologi (Puslit Arkenas, 1999:14) yakni:

  • Penjajagan, yang mana memeriksa kembali data arkeologi yang tersedia apakah sudah mampu menjawab pertanyaan untuk penelitian lebih lanjut.
  • Survei, yang mana tahapannya bisa melalui pengukuran permukaan tanah, bawah air, potret udara serta melakukan ekskavasi uji lubang galian dan wawancara terhadap masyarakat sekitar. Kemudian, teknik pengumpulan data yang lain adalah ekskavasi yakni teknik pengumpulan data dengan menggali di bawah tanah atau di bawah air untuk mendapatkan hasil data tentang ekofak, artefak atau fitur yang mengerucut pada situs.

Dengan teknik pengumpulan data dari arkeologi yakni utamanya ekskavasi ataupun dengan penyelidikan studi literatur dari museum (penjajagan), maka data tersebut dapat menyingkap penggambaran kehidupan manusia di zaman dahulu yang menjadi identitas budaya mereka. Data arkeologis juga dapat mengungkap dinamika kebudayaan yang terjadi di masa lampau bahkan zaman sebelum mengenal tulisan. Kajian antropologi jelas memerlukan data arkeologi dalam mendukung temuan mereka tentang fenomena budaya yang terjadi. Hasil data ini ada 4 jenis yakni artefak (artifact), ekofak (ekofact), fitur, dan situs. Pembahasan pada bagian ini berfokus pada 4 hal tersebut.

Artefak

Artefak adalah bentuk kebudayaan yang bersifat material yang diproduksi oleh masyarakat sebagai suatu kebudayaan (Puslit Arkenas, 1999:39). Artefak juga dapat menunjukkan bagaimana kecerdasan manusia saat itu dalam menciptakan suatu alat dan membantunya dalam mengatasi keadaan di masa lampau. Sehingga artefak adalah bentuk peninggalan manusia untuk menyelidiki fenomena budaya yang terjadi di masa lampau (Bikic, 2007:9). Berikut beberapa contoh artefak:

Senjata

Alat ini juga berfungsi dalam berburu dan mengumpulkan makanan. Seperti alat serpih yang digunakan untuk memotong hewan dan mengambil kulitnya untuk dijadikan sebagai pakaian. Fungsi lainnya adalah perkakas ini digunakan oleh manusia terdahulu untuk memperluas lahan tanah dan mendirikan tempat tinggal mereka seperti bagaimana kapak perimbas berfungsi untuk menebang pohon (Puslit Arkenas, 1999:40).

Senjata juga bisa dipergunakan sebagai alat bantu lainnya seperti mencangkul tanah dengan kapak persegi. Dalam hal ini juga senjata memudahkan mereka untuk bertahan hidup khususnya dalam berburu dan mengumpulkan makanan. Senjata juga termasuk alat untuk mempertahankan diri dari ancaman pihak-pihak lain seperti hewan buas. Senjata kemudian dibedakan berdasarkan bahan dasarnya yakni tulang hewan, kayu, dan logam (perunggu dan besi).

Dalam perkembangannya, senjata mengalami beberapa perubahan tergantung dari kondisi dan situasi di masyarakat. Misalnya, perkembangan senjata dari kayu berubah menjadi besi atau tembaga karena masyarakat saat itu mulai mengenal logam karena aktivitas penggalian tambang (Puslit Arkenas, 1999:70-71). Bahkan cara manusia menggunakan senjata juga berubah-ubah dari yang semula dipukul atau ditusuk kemudian dilempar memakai tombak maupun ditembak melalui busur panah.

Senjata juga berfungsi sebagai mempertahankan teritorialnya atau memperebutkan daerah kekuasaan secara destruktif. Dalam hal ini bagaimana senjata digunakan untuk melawan atau menjajah masyarakat di daerah lain. Hal ini tergantung pengetahuan masyarakat setempat bagaimana memanfaatkan senjata itu untuk memenangkan perang atau mempertahankan daerahnya.

Senjata juga bisa menjadi identitas sebuah daerah tertentu. Senjata di berbagai daerah tentunya berbeda-beda karena dipengaruhi sebuah kultur dan agama. Makna rencong bagi orang Aceh pun beragam yakni kekuatan dari Allah dalam menggunakan senjata tersebut, tolak bala, dan bahkan juga keagungan sebagai muslim (Waryanti, 2013:410). Rencong telah diusulkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO karena Aceh dikenal sebagai tanah rencong.

Wadah

Alat ini digunakan untuk menampung, menyimpan atau memuat barang. Pada masyarakat dahulu, mereka menggunakan serat kayu atau rotan sebagai anyaman dalam membentuk wadah. Ada pula bejana yang digunakan untuk menaruh sesajen dalam upacara keagamaan atau juga bisa dipakai untuk tempat minum. Lalu ketika masyarakat di masa neolitikum mulai mengaplikasikan tanah liat menjadi sebuah kerajinan keramik yakni gerabah atau tembikar (Puslit Arkenas, 1999:144).

Wadah dari masa ke masa mengalami perubahan karena perkembangan zaman. Semisal di Cina, tembikar ini didekorasi agar lebih elok dilihat di dalam ruangan serta menunjukkan status sosial pemiliknya di masyarakat (Zulfadli, 2007:45). Wadah berupa porselen ini dilekati nilai estetis di dalamnya.

Di Indonesia sendiri, wadah juga masih dilestarikan lewat upacaraupacara tertentu. Salah satu contohnya adalah keni gayo yang merupakan kerajinan tradisional khas, berupa kendi dari suku Gayo. Keni gayo merupakan pewarisan dari upacara pernikahan karena perlengkapan kendi harus ada dalam upacara tersebut (Sukiman, 2020:45).

Pakaian

Pakaian merupakan kebutuhan dasar manusia untuk menyesuaikan kondisi cuaca. Di zaman dahulu, manusia menggunakan kulit hewan bahkan kulit pepohonan. Tentunya pakaian di suatu wilayah cenderung berbeda-beda karena dipengaruhi faktor iklim, lingkungan tempat tinggal/geografi, dan nilai budaya. Misalnya, suku Inuit atau Eskimo yang tinggal di Kutub Utara menggunakan bulu beruang dan serigala sebagai bahan pakaian untuk menahan dinginnya suhu. Hal ini berbeda dengan suku-suku Mesir di gurun pasir yang memakai kain biasa yang dapat menyerap keringat.

Pakaian juga menjadi simbol pemakainya. Pakaian menunjukkan posisi, jabatan, dan status sosial dalam perkembangannya. Misalnya, ketika upacara adat atau keagamaan, kita dapat mengenali pemuka adat/agama dari apa yang mereka kenakan. Antropologi juga mengkaji gaya hidup sehari-hari terkait dengan gaya berpakaian atau fesyen. Selain status sosial, kajian fesyen dalam antropologi mengungkap bagaimana fesyen dipahami dari sudut pandang penggunanya: mengapa mereka memilih berpakaian sedemikian rupa, dan adakah sebagai cara berekspresi penggunanya?

Pakaian juga merupakan unsur kebudayaan yang menjadi simbol bagi suatu bangsa. Salah satunya, batik yang menjadi ikon khas Indonesia. Batik merupakan warisan budaya yang telah mengalami akulturasi dan hampir ada di setiap wilayah Indonesia dengan keunikan tersendiri. Sebagai bahan pakaian, kain batik kemudian diaplikasikan pada kemeja, gaun, daster, iket, blangkon, dan sebagainya. Batik ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Tanggal itu kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Perhiasan

Perhiasan digunakan zaman purbakala dulu sebagai upacara perkawinan, kematian dan beberapa upacara lainnya. Manusia zaman dahulu menggunakan perhiasan sebagai piranti mengandung daya magis yang memiliki kekuatan gaib atau juga berasal dari wahyu Tuhan. Perhiasan mereka saat itu berupa kulit kerang, batu, tulang hewan bahkan tulang manusia.

Seiring perkembangan zaman, fungsi perhiasan berubah seperti pakaian yakni sebagai simbol posisi, jabatan, dan status sosial di masyarakat. Namun, perhiasan lebih memainkan peranan simbolik lebih dalam ketimbang pakaian. Di Indonesia banyak terdapat ragam rupa perhiasan. Di Sumatera Utara misalnya, dalam adat suku Mandailing, pengantin wanita memakai perhiasan diikatkan di kening yang disebut bulang. Bulang terdiri dari bulang karbo (bulang kerbau) bertingkat tiga, dan bulang bertingkat dua disebut bulang hambeng (bulang kambing). Penamaan bulang tersebut dihubungkan dengan hewan yang disembelih untuk upacara pernikahan adat tersebut.

Pada bagian pinggang dipakai bobat, yang terbuat dari emas atau perak bermotif kepala ular sebagai lambang keagungan (Husni & Siregar, 2000:9-11). Pengantin pria menggunakan tutup kepala disebut ampu, yang terbuat dari kain yang diberi ornamen emas. Warna hitam pada ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran.

Alat Transportasi Alat transportasi adalah alat untuk mendukung atau memfasilitasi manusia untuk berpindah tempat dekat maupun jauh. Manusia juga berpindah ke tempat lain tanpa membutuhkan tenaga besar dan waktu yang cukup. Selain itu alat ini juga diharapkan memudahkan manusia mengirim barang ke tempat lain. Dalam zaman purba dahulu, manusia menggunakan sampan sebagai alat transportasi di sungai atau laut. Pada pergantian masa, manusia menggunakan kuda, lembu, dan unta yang bisa dimodifikasi dengan kereta karena masyarakat mengenal roda dan gerobak. Memasuk revolusi industri, seiring dengan penemuan mesin uap, masyarakat mengenal adanya mesin.

Antropolog berupaya mengungkap bagaimana mobilitas penduduk di satu daerah lainnya melalui penggalian artefak ini. Antropolog juga mereka-reka bagaimana pembuatan alat transportasi pada saat itu dengan bantuan data arkeologi berupa artefak. Salah satu contohnya alat transportasi laut di Indonesia yang terkenal pada masanya yakni kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Kapal ini memuat nilai-nilai luhur di dalamnya yakni sikap kegotong-royongan ketika membangun kapal (Ramadhani et.al., 2014:2). Kapal ini juga ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tanggal 7 Desember 2007.

Patung dan Relief

Patung merupakan bentuk seni pahat yang sudah ada dalam zaman prasejarah. Dahulu patung diciptakan untuk disembah sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan karena mewakili bentuk ilahi atau sebagai perwujudan perantara kepada ilahi. Budaya totemisme misalnya, memaknai adanya suatu kekuatan gaib yang dianggap sakral bersemayam di dalam sebuah patung yakni roh nenek moyang suku itu sendiri. Suku Asmat masih menganutnya dengan dibuktikan dari motif hiasan yang ada di pahatan-pahatan patung, tameng ataupun hasil seni mereka (Maryone, 2011:51).

Sedangkan relief merupakan suatu seni pahat yang dibuat oleh manusia zaman itu untuk menggambarkan suatu kehidupan tokoh seperti raja-raja, pedagang, pemuka agama, atau bentuk lain seperti hewan dan tumbuhan. Relief merupakan dokumentasi visual kehidupan masa lampau sekaligus menjadi bukti tentang bagaimana kebudayaan suatu entitas masyarakat berkembang saat itu. Relief yang ada di Indonesia, salah satunya adalah relief Candi Borobudur yang menggambarkan tentang bagaimana kehidupan sang Buddha dengan ajaran-ajarannya mengandung nilai-nilai luhur bagi pemeluk agama Buddha.

Prasasti

Prasasti adalah dokumen bersifat tertulis yang diukir di atas batu maupun logam dengan tulisan kuno. Kegunaan prasasti adalah memperingati bagaimana suatu peristiwa terjadi atau monumen peringatan tentang hari-hari besar, semisal kemenangan dalam menaklukkan kerajaan lain. Selain itu prasasti juga memuat pengaturan-pengaturan kaidah sosial yang ada saat itu bahkan prasasti dipercaya mengandung kutukan apabila dilanggar.

Prasasti juga dapat berisi pujian di mana ia ditulis seperti puisi yang ditujukan untuk sang Ilahi ataupun untuk raja berkuasa saat itu. Selain itu, prasasti juga menggambarkan silsilah-silsilah keluarga kerajaan. Prasasti dapat pula menjadi sumber penelitian antropologis, di mana memberikan pengetahuan tentang silsilah-silsilah keluarga yang membentuk sistem kekerabatan. Contoh prasasti di Indonesia yakni Kebon Kopi, Ciaruteun, Pasir Awi, Jambu di Bogor (Kerajaan Tarumanegara), Canggal di Magelang (Kerajaan Mataram Kuno), dan sebagainya.

Mata Uang

Di zaman dahulu sebelum menemukan mata uang, masyarakat primitif menggunakan barter dalam kegiatan ekonomi. Barter merupakan mekanisme tukar-menukar ekonomi yang dihargai menurut tingkat kebutuhan terhadap permintaan suatu barang. Semisal masyarakat pesisir pantai menukar hasil komoditas laut seperti ikan, garam, dan kerang (perhiasan) kepada masyarakat yang hidup bercocok tanam atau tidak mempunyai sumber daya alam di laut. Seiring perkembangan waktu, masyarakat menilai praktik barter sebagai mekanisme ekonomi merugikan salah satu pihak karena alat pembayaran yang dinilai kurang pas. Untuk menjawab persoalan tersebut, maka muncul mata uang sebagai alat tukar-menukar yang sah. Pada awal periode, mata uang berbentuk kepingan seperti kerang. Pada gilirannya, seiring dengan kemajuan teknologi saat itu, bahan pembuat uang berubah menjadi logam seperti tembaga, perunggu, tembaga maupun emas. Tetapi setelah penemuan kertas oleh masyarakat Tiongkok, akhirnya alat pembayaran ada yang berbentuk kertas yang memuat pecahan nominal tertentu sebagai nilai dari uang tersebut.

Antropolog juga berusaha menyelidiki artefak ini dalam kegiatan perekonomian mereka. Dalam hal ini, antropolog berusaha menyingkap bagaimana nilai ekonomi suatu barang yang merupakan kebutuhan primer. Contohnya, gobog yaitu uang berbentuk bulat dengan satu sisi yang digunakan saat kerajaan Majapahit (Sukendra dalam Putra, 2011:50). Uang gobog tersebut bergambar punakawan/ ratu menaiki seekor binatang menyerupai kuda yang melambangkan kebijaksanaan dan kewibawaan. Antropolog berusaha meneliti tentang cara pembuatannya dan memaknai setiap motif yang tergambar dalam logam tersebut.

Alat Musik

Alat musik juga menjadi sebuah artefak dari masyarakat zaman dahulu. Dia digunakan dalam upacara-upacara tertentu seperti keagamaan, pernikahan, dan kematian. Alat musik juga sebagai sebuah pertunjukkan dan juga sebagai sarana hiburan bagi masyarakat tersebut. Alat musik tersebut mengalami perkembangan dalam memainkannya seperti dimainkan secara petikan, dipukul, ditiup maupun digesek. Dalam hal ini untuk memperdalami alat musik tersebut melalui ilmu yang dinamakan arkeomusikologi.

Di Indonesia terdapat keragaman alat musik yang menjadi sebuah kebanggaan di mata dunia seperti alat musik petik sasando dari Nusa Tenggara Timur. Ada pula musik tiup dari Jawa Barat berupa seruling bambu serta alat musik yang dipukul yakni kolintang dari masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Di Sumedang, Jawa Barat, terdapat alat musik gesek tradisional bernama tarawangsa. Antropolog juga memahami alat musik sebagai bentuk kesatuan dari sebuah unsur kebudayaan. Salah satunya alat musik tarawangsa ini yang sudah menjadi bagian ritual keagamaan terkait ucapan syukur atas hasil panen padi yang melimpah.

Ekofak

Ekofak mengacu pada benda alam yang tidak dibuat tetapi diduga telah dimanfaatkan oleh manusia (Puslit Arkenas, 1999:4). Benda alam tersebut dianggap mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia seperti: tulang hewan, biji-bijian, mata air, sungai, tanah, dan lain sebagainya. Kajian arkeologi ini cukup luas karena mencakup beberapa ilmu lain seperti geologi, biologi, kimia, metalurgi bahkan paleoantropologi (analisis sisasisa manusia yang terdapat dalam ragawi/fisik).

Geologi (Analisis Geomorfologi, Mineralogi-Petralogi dan Granulometri)

Tujuan dari analisis geomorfologi untuk memberikan informasi tentang potensi lahan pada masa tertentu (Puslit Arkenas, 1999:115). Dengan demikian akan diketahui fungsi lahan tersebut, apakah sebagai hunian, pertanian, atau lainnya. Analisis geomorfologi bermacam-macam seperti menganalisa pola aliran sungai, ketinggian daerah, kemiringan lereng, dan sebagainya (Puslit Arkenas, 1999:115-119). Sebagai contoh pola aliran sungai membentuk bagaimana masyarakat di wilayah pemukiman itu untuk menetap tinggal di suatu tempat, karena sungai merupakan tempat kehidupan mereka. Mata air juga termasuk dalam geomorfologi dalam penyediaan air minum bersih untuk mereka.

Ketinggian daerah juga berpengaruh dalam membentuk masyarakat di mana kultur masyarakat pegunungan berbeda bila dibandingkan dengan masyarakat di pesisir laut. Lalu kemiringan lereng juga menentukan jenis tanaman dan faktor apakah layak untuk ditempati seperti pertimbangan mengatasi bencana semisal erosi tanah. Kemudian bentang alam yakni dibagi dua yaitu dataran dan perbukitan yang memengaruhi juga kebudayaan mereka.

Kemudian, bantuan analisis mineralogi adalah pengetahuan tentang mineral, sehingga diharapkan peneliti akan lebih cepat dan tepat dalam memberikan nama terhadap mineral melalui penelitian sifatsifat fisik yang dikandung oleh setiap mineral (Puslit Arkenas, 1999:119- 120). Sedangkan petralogi adalah ilmu yang membahas tentang batuan pembentuk kerak bumi, seperti sebab-sebab atau cara terjadinya, sejarah pembentukannya, serta hubungannya dengan proses geologi (Puslit Arkenas, 1999:120). Dalam hal ini analisis ilmu ini penting untuk memetakan wilayah yang memiliki kualitas daerah tambang mineral yang bagus dan pengaruhnya terhadap pola kegiatan sosial budaya mereka. Kemudian batuan-batuan tersebut juga memiliki jenis dan manfaat berbeda. Maka secara garis besar, antropolog mampu mengidentifikasi bagaimana masyarakat tersebut memanfaatkan tambang mineral dan menciptakan sebuah alat senjata seperti batuan obsidian sebagai pisau atau tombak

Granulometri merupakan ilmu analisis yang berguna untuk memahami fitur maupun artefak yang kondisinya terpendam di dalam tanah (Puslit Arkenas, 1999:126). Analisis butiran-butiran pasir ini penting untuk melihat bagaimana artefak atau fitur itu dapat terpendam apakah karena bencana alam seperti longsor, gunung api dan sebagainya. Granulometri juga berfungsi dalam mengidentifikasi jenis tanah yang dijadikan tempat tinggal tersebut. Semisal tanah regosol ataupun litosol yang menguntungkan mereka untuk bertani.

Fosil Hewan dan Tumbuhan (Arkeozoologi dan Arkeobotani)

Arkeozoologi adalah arkeologi yang berhubungan dengan sisa fauna; pengetahuan tentang hubungan antara manusia dan fauna yang hidup di sekitarnya (Puslit Arkenas, 1999:137-138). Melalui studi arkeozoologi akan dapat diketahui sejauh mana manusia memaanfaatkan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhannya dan bagaimana gambaran lingkungan secara utuh. Dalam hal ini penting untuk dianalisis bagaimana masyarakat zaman dulu berburu dan beternak pada beberapa fauna. Hal ini juga memengaruhi unsur kebudayaan semisal mengapa dulu tulang harimau dijadikan sebagai perhiasan dalam ritual tertentu. Analisis ini berupa tulang hewan, gigi, kulit, dan sebagainya.

Arkeobotani adalah arkeologi yang berhubungan dengan sisa-sisa flora; pengetahuan tentang hubungan antara manusia dan flora yang hidup di sekitarnya (Puslit Arkenas, 1999:130). Temuannya dibedakan menjadi 2 yakni makroskopis dan mikroskopis. Temuan makroskopis adalah benda-benda yang bisa dilihat tanpa alat bantu pembesar, seperti akar, batang, buah, dan biji. Sedangkan temuan mikroskopis adalah benda-benda yang hanya bisa dilihat melalui bantuan alat pembesar seperti serbuk sari atau pollen, filotolit, dan spora. Arkeobotani mempelajari bagaimana masyarakat saat itu memanfaatkan tanaman: apakah untuk dikonsumsi, dibuat perabotan atau wadah rotan, bahan rumah, dan sebagainya. Selain itu, juga dikaji tanaman yang memengaruhi unsur kebudayaan tersebut, semisal tanaman apa saja yang harus ada dalam upacara ritual keagamaan.

Fitur

 Fitur merupakan peninggalan sejarah yang tidak dapat diangkat dari tempat kedudukannya (Puslit Arkenas, 1999:4). Selain tidak mungkin untuk dipindahkan karena berat, dikhawatirkan akan merusak peninggalan sejarah tersebut. Fitur juga merupakan sebuah peninggalan sejarah yang masih terjaga keasliannya di lokasi penemuannya.

Makam

Makam merupakan tempat persinggahan terakhir manusia yang telah meninggal dan diletakkan di tempat tersebut. Makam dibuat untuk menghormati dan sekaligus mengenang tokoh yang sudah meninggal. Makam juga menunjukkan kapan tokoh tersebut hidup dan meninggal, silsilah keluarga, serta status sosialnya. Makam zaman purba ditemukan ada yang berbentuk kubur batu dan ditaruh di dalam gua. Setelah manusia mengenal apa itu budaya dan agama, kemudian makam menjadi berbentuk macam-macam seperti catacomb/kuburan bawah tanah dari Perancis yang dipengaruhi oleh agama Kristen. Lalu mumifikasi di makam piramida Giza yang dipengaruhi kepercayaan atas dewa matahari serta nilai Mesir kuno.

Di Indonesia, tradisi unik dalam makam bisa ditemui semisal di desa Trunyan di mana orang yang telah meninggal diletakkan di bawah pohon kemenyan. Pohon ini diyakini bisa mengeluarkan aroma harum yang dapat menyerap bau-bau jenazah. Antropolog yang berpusat pada antropologi agama dapat menafsirkan makna apa-apa saja yang terkandung dalam upacara kematian tersebut.

Benteng, Gapura, dan Pagar

Benteng dan pagar dibuat untuk mempertahankan daerah atas peperangan yang terjadi atau bentuk ancaman hewan buas lainnya. Benteng juga dijadikan sebagai batas teritori wilayah dan mempertegas daerah kekuasaan. Benteng dibuat dan juga dapat dilihat dari pemanfaatan ekofak yakni batu atau kayu yang digunakan untuk pagar. Sedangkan gapura merupakan pintu masuk masyarakat lain yang hendak berkunjung.

Salah satu benteng unik yang dibangun di Indonesia adalah benteng Keraton Buton. Apakah kalian mengetahui bahwa benteng Keraton Buton ini merupakan benteng terluas di dunia yang tercatat dalam Guinness World Records pada tahun 2006? Benteng Keraton Buton mempunyai luas 23.375 hektare (ha).

Tempat Ibadah

Tempat ibadah merupakan tempat kegiatan beribadah terhadap Tuhan seperti syukur, pernikahan, kematian, dan peringatan upacara hari besar keagamaan. Di Indonesia sekarang ada 6 agama yang difasilitasi oleh negara yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Di samping itu, terdapat juga beragam penghayat kepercayaan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017, terdapat 187 kelompok penghayat kepercayaan yang terdata oleh pemerintah. Tempat ibadah pun bermacam-macam di Indonesia mulai dari masjid, gereja, vihara, candi, pura, dan kelenteng.

Tempat Berlindung dan Perumahan

Rumah atau yang dinamakan sebagai tempat berlindung merupakan wujud kebudayaan yang dimodifikasi sedemikian rupa. Pembangunan rumah tentunya berbeda-beda jika dibandingkan dengan daerah lain. Hal ini disebabkan oleh cuaca/iklim, kultur nilai budaya, melindungi diri dari hewan buas, dan sebagainya. Sebagai contoh rumah honai dari Papua yang dibangun berdekatan dengan rumah lain karena memuat nilai kekeluargaan. Sementara di rumah adat joglo Jawa dibangun pendopo sebagai area menyambut tamu untuk membangun kesan terbuka, ramah, dan hangat.

Situs

Situs merupakan tempat ditemukannya artefak, fitur, dan ekofak baik yang berada di daratan (terrestrial archaeology) dan yang di bawah permukaan air (underwater archaeology). Situs dapat dianggap pula sebagai bentuk peninggalan arkeologi, terutama ketika kita mengkaji sekumpulan tinggalan dalam suatu kawasan tertentu (Puslit Arkenas, 1999:14). Situs dianggap sebagai miniatur kehidupan karena mencakup artefak, ekofak, dan fitur di dalamnya. Salah satu contohnya situs Trowulan yang menggambarkan bagaimana kehidupan kerajaan Majapahit di Trowulan. Hal ini bisa dilihat dari prasasti Canggu, candi, dan gapura di sana.

Manfaat Arkeologi

  • Meningkatkan pengetahuan tentang peninggalan sejarah yang ada di Indonesia serta bagaimana masyarakat tersebut bertahan hidup.
  • Mengetahui perkembangan sejarah dari budaya-budaya material peninggalan nenek moyang.
  • Memupuk rasa solidaritas dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia di mata dunia melalui temuan arkeologis sebagai identitas bersama.
  • Melestarikan dan memelihara peninggalan budaya tersebut agar tidak punah dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
  • Mengetahui nilai-nilai kebudayaan yang ada saat itu sebagai refleksi ke masa depan.
  • Membangun rasa kesadaran dalam mencintai lingkungan alamnya.

Baca Kumpulan: Rangkuman Antropologi Kelas 11 SMA

Related posts