Antropologi Ragawi, Cabang, Genetika, Evolusi, Keanekaragaman Manusia, Biologi dan Forensik

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Antropologi Ragawi | Cabang Ilmu Antropologi | Antropologi Ragawi: Antara Genetika dan Evolusi | Keanekaragaman Manusia: Salah Paham Konsep Ras | Antropologi Biologi: Manusia dan Sistem Biologinya | Antropologi Forensik |

Cabang Ilmu Antropologi

Salah satu keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia adalah keberagaman suku. Keberagaman suku bangsa Indonesia membawa implikasi berupa keragaman dan perbedaan bahasa daerah, ciri-ciri fisik tubuh manusia, hingga benda hasil kebudayaan masyarakat pada masing-masing suku. Tahukah kalian bahwa ketiga hal tersebut dapat dikaji menggunakan disiplin ilmu antropologi?

Ilmu antropologi memiliki dua cabang ilmu utama, yaitu antropologi ragawi dan antropologi budaya. Antropologi ragawi berfokus mempelajari manusia dan primata sebagai organisme biologis dengan penekanan pada evolusi manusia dan variasi-variasi biologis dalam spesies manusia. Sedangkan, antropologi budaya lebih memusatkan perhatian pada upaya mempelajari bagaimana kebudayaan memengaruhi pengalaman seseorang dan kelompok, serta cara orang-orang dalam memahami dunia mereka. Termasuk di dalam antropologi kebudayaan yang dikaji yaitu pengetahuan, adat istiadat, dan pranata masyarakat. Antropologi memiliki ruang lingkup yang masing-masing dapat digunakan untuk mengkaji keberagaman manusia dengan fokus kajian yang berbeda-beda, mulai dari bentuk fisik, bahasa, hingga peninggalan hasil kebudayaan manusia.

Antropologi Ragawi: Antara Genetika dan Evolusi

Pada dasarnya antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kemanusiaan (humanity). Antropologi adalah disiplin ilmu yang luas didedikasikan untuk studi perbandingan manusia sebagai kelompok atau komunitas, dari penampilan pertamanya di bumi hingga tahap perkembangan sekarang (Doda, 2005). Lebih lanjut Doda (2005) menekankan bahwa antropologi berfokus tentang:


  • Asal usul manusia, mengenai dari mana ia lahir, dan berkembang hingga sekarang.
  • Evolusi perkembangan manusia atau perubahan secara perlahan yang terjadi di masa lampau dan di masa sekarang dalam menyesuaikan zaman yang ada.
  • Variasi fisik, biokimia, dan budaya manusia, yang bisa dilihat dari warna kulit, bentuk wajah, bentuk rambut, dan sebagainya yang menjadi kecirikhasan mereka.
  • Materi harta benda dan warisan budaya manusia yang berasal dari nilai kebudayaan, kepercayaan, bahasa, atau artefak mereka.
Baca Juga :   Capaian Pembelajaran Antropologi Kelas 11 & 12 SMA / SMK / MA (Fase F) Kurikulum Merdeka

Menurut Koentjaraningrat antropologi fisik dalam artian khusus adalah bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya beragam manusia dipandang dari sudut tubuhnya (Koentjaraningrat, 2009). Sejalan dengan pengertian tersebut, Barnard dan Spencer (2002) memberi pengertian antropologi ragawi yakni cabang antropologi yang mempelajari perbedaan fisik baik dalam populasi yang hidup maupun melalui evolusi manusia. Sebagai catatan, istilah antropologi fisik cenderung tidak lagi digunakan dalam beberapa tahun terakhir serta digantikan dengan istilah “antropologi biologi”.

Selain teori evolusi, banyak penjelasan dan teori mengenai asal mula manusia. Misalnya karya James Prichard (1786-1848) yang menjelaskan asal usul semua bangsa melalui difusi dan migrasi dari populasi asli yang sama (Winthrop 1991). Kasus difusi, migrasi maupun evolusi orang Indonesia sangat menarik untuk dicermati dan dipelajari. Banyak kajian mengenai hal ini, salah satunya kajian yang dilakukan Glinka dan Koesbardiati (2012). Dalam kajiannya, Glinka dan Koesbardiati (2012) melacak asal-usul manusia Indonesia melalui sejarah penghunian Indonesia sebagai pembentuk karakteristik morfologi. Kajian tersebut menunjukkan adanya tiga morfotipe orang Indonesia yaitu Protomalayid, Deuteromalayid, dan Dayakid. Berbeda dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya, mereka menyatakan Dayakid adalah unsur ketiga selain Protomalayid (Austromelanesoid) dan Deuteromalayid (Mongoloid). Dayakid diduga adalah gelombang migrasi terdahulu yang kemudian terdesak ke pedalaman Kalimantan dan berkembang secara terisolasi sehingga memiliki karakteristik morfologi tersendiri.


Keanekaragaman Manusia: Salah Paham Konsep Ras

Ras adalah kerangka kerja yang membagi populasi manusia berdasarkan ciri fisik. Ras dikembangkan oleh orang Eropa Barat setelah ekspansi global mereka yang dimulai pada abad ke-15, yakni pada era merkantilisme (Barnard & Spencer, 2002).

Baca Juga :   Ide Pendiri Bangsa tentang Konstitusi, Sejarah, Pengertian, Jenis, Fungsi dan Paham

Berbeda dengan etnosentris atau yang menekankan perbedaan antara “mereka” dan “kita”. Ras ini bersifat global, diterapkan pada seluruh spesies manusia. Pembedaan ciri fisik menghasilkan rasisme, formasi budaya, dan ideologi yang membentuk persepsi dan evaluasi terhadap diri dan orang lain menurut identitas ras. Hal ini kemudian dilembagakan baik dalam tatanan sosial antar pribadi maupun perilaku dalam skala yang lebih besar (Barnard & Spencer, 2002).


Dalam sejarah bangsa-bangsa, konsepsi mengenai perbedaan ciri fisik ini menyebabkan berbagai macam kesedihan dan kesengsaraan (Koentjaraningrat, 2009). Menurut Koentjaraningrat (2009), hal ini merupakan salah satu bentuk kesalahpahaman besar dalam memahami ras. Terlebih lagi, konsep ras dipahami hanya mengacu pada ciri khas fisik semata, sehingga menghasilkan persepsi yang rasis. Misalnya, ada anggapan bahwa ras caucasoid atau ras kulit putih lebih kuat dan hebat dibandingkan dengan ras-ras lain di muka bumi. Hal ini sangat bertentangan dengan semangat keberagaman dalam menjaga kebhinekaan.

Antropologi Biologi: Manusia dan Sistem Biologinya

Pada pembahasan sebelumnya dikatakan bahwa istilah antropologi biologi lebih sering digunakan dibanding dengan antropologi ragawi atau fisik, khususnya di Amerika Utara. Banyak diantara kita menyamakan antropologi ragawi dengan antropologi biologi. Pada dasarnya antropologi biologi terdiri dari lima subdisiplin umum yakni: evolusi manusia, primatologi, genetika manusia, studi tentang pertumbuhan fisik manusia, dan ekologi manusia (Barnard & Spencer, 2002). Dua subdisiplin pertama (evolusi manusia dan primatologi) kadang-kadang disebut “antropologi fisik” berbeda dengan tiga subdisiplin yang lain. Pengertian dari antropologi biologi adalah studi tentang biologi manusia dan spesies primata lainnya dari perspektif evolusioner dan komparatif (Barnard & Spencer, 2002). Hal ini berkaitan dengan sifat proses (evolusioner) dan dengan cara-cara adaptasi terhadap lingkungan. Pernyataan ini diperkuat oleh Geoffrey Pope, yang mendefinisikan antropologi biologi yaitu usaha mempelajari evolusi manusia biologis, tingkah laku, dan sejarah humanoid ditinjau dari sudut seleksi alam dan penyesuaian diri (Pope.1984.).

Baca Juga :   Letak Indonesia Secara Geografis, Pengertian, Lalu Lintas Dunia dan Keuntungan

Antropologi Forensik

Secara umum antropologi forensik adalah pemeriksaan sisa-sisa kerangka manusia yang membantu lembaga penegak hukum untuk pemulihan sisa-sisa manusia, menentukan identitas sisa-sisa manusia tak dikenal, menafsirkan trauma, dan memperkirakan waktu sejak kematian (Marcus, 2012).

Antropolog forensik biasanya digambarkan di media sebagai ilmuwan forensik dan atau teknisi TKP, tetapi gambaran ini tidak sepenuhnya tepat. Selama abad terakhir, antropolog forensik telah mengembangkan metode untuk mengevaluasi tulang dalam memahami orang yang hidup di masa lalu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup: apakah individu ini lakilaki atau perempuan? Berapa umur mereka ketika mereka meninggal? Berapa tinggi mereka? Apakah orang-orang dalam kesehatan umum yang baik atau buruk?

Antropologi forensik melibatkan penerapan metode yang sama untuk kasus modern dari sisa-sisa manusia tak dikenal. Melalui metode yang telah ditetapkan, seorang antropolog forensik dapat membantu penegakan hukum dalam menetapkan profil dari sisa-sisa tak dikenal. Profil tersebut mencakup jenis kelamin, usia, keturunan, tinggi, lama waktu sejak kematian, dan terkadang evaluasi trauma yang diamati pada tulang. Dalam banyak kasus setelah identitas individu dibuat, antropolog forensik dipanggil untuk bersaksi di pengadilan mengenai identitas jenazah dan atau trauma atau luka yang ada pada jenazah.

Baca Kumpulan: Rangkuman Antropologi Kelas 11 SMA



Related posts