Sambutan Terhadap Proklamasi Kemerdekaan, Penyebaran Berita, Dalam Negeri dan Luar Negeri

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Sambutan Terhadap Proklamasi Kemerdekaan | Penyebaran Berita Proklamasi | Sambutan Terhadap Berita Proklamasi di Dalam Negeri | Sambutan Terhadap Berita Proklamasi di Luar Negeri |

Penyebaran Berita Proklamasi

Proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 berhasil disebarkan beritanya oleh F. Wuz melalui stasiun radio Domei. Pihak Jepang yang mengetahui hal ini memerintahkan untuk menghentikan penyebaran berita itu. Meskipun demikian, berita proklamasi berhasil sampai di beberapa daerah dan diteruskan ke masyarakat karena Waidan B Palenewen (Kepala Bagian Kantor Berita Domei) memerintahkan F. Wuz untuk terus menyiarkan berita itu setiap setengah jam hingga pukul 16.00 (Soedjono dan Leirissa, 2012). Untuk menghindari sensor dari tentara Jepang, ada kalanya berita proklamasi disebarkan dalam bahasa daerah, misalnya Radio Surabaya yang menyiarkan berita tersebut dalam Bahasa Madura yang tidak diketahui oleh Jepang (Padmodiwiryo, 2015).

Para pemuda di Jakarta yang terlibat dalam peristiwa di sekitar proklamasi kemerdekaan juga berhasil mencetak naskah proklamasi dan menyebarkannya. Beberapa pemuda ditugaskan sebagai kurir untuk mengantarkan naskah itu dan menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia ke berbagai daerah. Berita proklamasi juga disebarkan melalui berbagai surat kabar yang beredar di masa itu.

Penyebaran Berita Proklamasi di Berbagai Wilayah Indonesia

  • Jawa

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia tersebar di Pulau Jawa melalui berbagai cara, misalnya melalui telegram, siaran radio, selebaran, surat kabar, kurir, dari mulut ke mulut dan sebagainya. Penyebaran berita yang paling cepat dilakukan melalui telegram dari kantor berita Domei Jakarta ke berbagai cabangnya seperti di Bandung dan Yogyakarta yang diterima 17 Agustus 1945 pukul 12.00 siang. Penyebaran berita proklamasi yang juga berlangsung secara cepat melalui radio. Siaran radio dari Jakarta diterima di berbagai daerah di Jawa, misalnya di Cirebon, Surakarta, Semarang, Madiun, Surabaya, Malang, dan sebagainya. Berita yang diterima dari Jakarta itu selanjutnya disiarkan melalui radio di wilayah masing-masing, maupun dari mulut ke mulut.

Para pemuda yang ikut terlibat atau mendengar peristiwa proklamasi kemerdekaan di Jakarta turut menyebarkan berita ke berbagai wilayah, misalnya Yakub Gani yang pergi ke Bekasi untuk menyebarkan berita gembira tersebut. Contoh lain adalah Datuk Jamin dan Sumanang yang merupakan utusan dari Asrama Menteng 31 untuk menyebarkan berita proklamasi ke Tangerang.

Penyebaran berita proklamasi di beberapa daerah juga dilakukan dalam kegiatan keagamaan, misalnya dilakukan setelah shalat berjamaah seperti yang terjadi di Bekasi. Contoh lain adalah penyebaran berita proklamasi melalui khutbah Jumat 17 Agustus 1945 yang terjadi di Masjid Besar Alun-alun Utara dan Masjid Pakualaman di Yogyakarta. Berita tersebut semakin tersebar luas berkat usaha Ki Hajar Dewantara dan guru-guru Taman Siswa yang melakukan pawai sepeda dan menyebarkan berita gembira tentang kemerdekaan Indonesia.

  • Sumatra

Berita proklamasi tersebar di Sumatra melalui radio, telpon, kurir, dari mulut ke mulut, dan sebagainya. Sejak tanggal 17 Agustus 1945 malam, berita proklamasi telah sampai di Bukittinggi dan Padang melalui siaran radio. Keesokan harinya, A.K. Gani mengirimkan berita proklamasi melalui telepon ke pimpinan buruh pertambangan minyak Jambi. Beliau juga menyebarkan berita itu ke Bangka Belitung di hari yang sama.

Para anggota PPKI yang berasal dari Sumatra (Teuku Mohammad Hasan, A. Abas, dan M.Amir) juga turut menyebarkan berita proklamasi. Mereka kembali dari Jakarta menggunakan pesawat terbang dan mendarat di Palembang pada 24 Agustus 1945. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke wilayah masing-masing dan menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

  • Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara)

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia pertama kali diterima di Bali oleh para pemuda dan kelompok elite melalui siaran radio 17 Agustus 1945. Selain itu, I Gusti Ketut Pudja yang merupakan anggota PPKI juga membawa berita itu sekembalinya dari Jakarta. Ia mengumumkan secara resmi berita tersebut pada 23 Agustus 1945. Berita itu selanjutnya disebarkan melalui kurir ke Kupang pada akhir Agustus 1945 dan ke Pulau Sumbawa pada 2 September 1945.

  • Kalimantan

Rakyat Kalimantan mengetahui tentang berita kemerdekaan Indonesia dari berbagai sumber dan media. Berita itu ada yang didapatkan melalui siaran radio seperti yang terjadi di Pontianak pada 18 Agustus 1945. Ada pula yang mendapatkan berita dari para pelaut yang datang dari Jawa ke beberapa pelabuhan seperti Sampit, Pangkalan Bun, Pagatan, Kuala Kapuas, dan Pulang Pisau.

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai di Balikpapan melalui para pekerja BPM (Bataviasch Petroleum Maatschappij) yang datang dari Jawa untuk memperbaiki kilang minyak yang rusak akibat perang. Di wilayah lain seperti Puruk Cahu, Martapura, Marahaban dan Pelaihari, berita proklamasi justru dibawa oleh tentara Australia yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang.

  • Sulawesi

Peristiwa proklamasi kemerdekaan sebenarnya sudah didengar di beberapa wilayah di Sulawesi melalui siaran radio 17 Agustus 1945. Namun, berita itu belum menyebar secara luas. Penyebaran berita secara luas baru terjadi setelah kepulangan para pemimpin Sulawesi dari Jakarta. Pada 20 Agustus 1945, G.S.S.J. Ratulangie tiba di Bulukumba. Ia dan timnya kemudian menyebarkan berita tersebut ke utara, sementara penyebaran berita ke selatan dilakukan oleh tim Lanto Daeng Pasewang. Pada akhir Agustus 1945, berita proklamasi sudah menyebar di Maros. Berita itu juga dibawa oleh para pelayar dan pelaut yang datang dari Jawa pada bulan September 1945.

  • Maluku dan Papua

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia terlambat diterima di Maluku dan Papua. Minimnya sarana dan prasarana komunikasi dan transportasi merupakan salah satu penyebab terlambatnya penyebaran berita proklamasi di sana. Berita proklamasi kemerdekaan baru diterima oleh para pemuda di Ambon pada bulan Oktober 1945.

Berita proklamasi justru telah sampai terlebih dahulu di Papua pada akhir Agustus 1945 melalui pamlet dan siaran radio yang ditangkap dari Australia. Pengasingan Politik Indonesia (Indonesian Political Exile Association atau IPEA) yang diasingkan oleh Belanda ke Australia mengetahui tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui siaran radio. Mereka kemudian membuat selebaran yang disebarkan ke Brisbane, Sydney, Melbourne, Merauke, Balikpapan, dan sebagainya. Dari Merauke inilah berita proklamasi kemerdekaan Indonesia disebarkan ke berbagai wilayah di Papua.

Sambutan Terhadap Berita Proklamasi di Dalam Negeri

Berita proklamasi kemerdekaan disambut dengan kebahagiaan oleh sebagian besar rakyat Indonesia, terutama dari kalangan pemuda. Para pemuda yang diliputi euforia (perasaan gembira) kemerdekaan ingin segera mengambil alih kekuasaan dan persenjataan dari tangan Jepang. Beberapa di antaranya berjalan dengan damai atau tanpa perlawanan dari pihak tentara Jepang, namun ada pula yang disertai dengan konflik atau bentrokan bersenjata seperti yang terjadi di Surabaya.

Para pemuda melakukan perebutan senjata, kantor pemerintahan, dan sarana yang strategis. Selain itu, kelompok pemuda di Jakarta memprakarsai rapat raksasa di Lapangan Ikada Jakarta yang berlangsung pada 19 September 1945. Dalam rapat yang diawasi secara ketat oleh tentara Jepang itu, Sukarno yang telah ditunjuk oleh PPKI sebagai presiden Indonesia menyampaikan pidato singkatnya. Setelah itu, pemuda dan rakyat yang hadir dalam rapat itu meninggalkan Lapangan Ikada dengan damai tanpa ada bentrokan seperti yang sempat dikhawatirkan sebelumnya.

Pada hari yang sama di Surabaya terjadi insiden perobekan bendera. Pada saat itu tentara Sekutu telah datang dan membebaskan sebagian orang Eropa yang sebelumnya menjadi tawanan perang Jepang. Beberapa di antara mereka menginap di Hotel Yamato. Orang-orang Belanda juga mengalami euforia karena Jepang kalah dan mereka telah dibebaskan sehingga salah satu di antara mereka yang bernama Ploegman mengibarkan bendera Belanda. Residen Surabaya sempat memperingatkan agar bendera tersebut diturunkan, akan tetapi permintaan itu tidak mendapat tanggapan yang baik. Oleh karena itu, para pemuda Surabaya kemudian menyerbu hotel tersebut dan merobek warna biru dari bendera Belanda. Bendera itu kemudian dikibarkan kembali sebagai bendera Merah Putih.

Dukungan terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia datang dari Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII pada 19 Agustus 1945 menyampaikan selamat atas proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kedua tokoh tersebut kemudian mengeluarkan amanat yang menyatakan dukungan terhadap pemerintah Republik Indonesia pada 5 September 1945. Dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia juga ditunjukkan dengan pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah di berbagai wilayah seperti di Aceh, Palembang, Yogyakarta, Surakarta, dan sebagainya.

Respon dukungan terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia juga diwujudkan dalam bentuk grafiti atau tulisan di dinding bangunan di berbagai kota. Grafiti itu menunjukkan semangat dan euforia kemerdekaan Indonesia. Banyak di antara grafiti itu ditulis dalam Bahasa Inggris.

Abdulgani (1973) mengungkapkan bahwa para pemuda yang mengikuti perkembangan politik luar negeri sudah memperkirakan tentang kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Mereka juga telah memperhitungkan bahwa tentara Sekutu akan masuk ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. Mereka juga mengetahui bahwa pihak Sekutu sejak tahun 1941 telah menyetujui Atlantic Charter yang salah satunya menyebutkan bahwa semua bangsa memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Para pemuda sebenarnya ingin menarik perhatian pihak Sekutu dan dunia internasional terhadap perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri. Oleh karena itulah, banyak di antara semboyan-semboyan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ada di dinding bangunan ditulis dalam Bahasa Inggris.

Sambutan Terhadap Berita Proklamasi di Luar Negeri

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak hanya disambut gembira oleh bangsa Indonesia yang ada di tanah air, tapi juga oleh diaspora Indonesia di luar negeri. Sebagai contoh, orang-orang Indonesia yang berada di Mesir mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui siaran radio pada 18 Agustus 1945. Berita itu tidak hanya disambut gembira oleh orang Indonesia di sana, tapi juga oleh orang-orang Mesir yang mengulas dan memberitakannya dengan penuh simpati melalui media massa (Sulistiono, 2013).

Orang-orang Indonesia yang berada di Australia juga gembira mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang mereka tangkap melalui siaran radio pada 18 Agustus 1945. Mereka menyatakan dukungannya terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia. Orang-orang Indonesia yang bekerja sebagai pelaut dan buruh pelabuhan di Australia melakukan mogok kerja dan menolak bertugas di kapal-kapal Belanda yang akan berangkat ke Indonesia karena mereka tidak ingin kembali dijajah Belanda. Gerakan pemogokan ini juga diikuti oleh buruh-buruh Australia yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Baca Kumpulan: Rangkuman Sejarah Kelas 11 SMA

Related posts