Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam Muttafaq: Pengertian, Dasar, Rukun, Cara dan Macam

  • Whatsapp
Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam Muttafaq : Pengertian, Dasar, Rukun, Cara dan Macam

Apa hukumnya mengkonsumsi narkoba secara tidak sah? Semestinya kalian sudah tahu kalau mengkonsumsi narkoba itu dilarang atau hukumnya haram. Tetapi tahukah kalian dalil al-Qur’an atau hadis yang melarangnya? Kalau memang tidak ditemukan ayat atau hadis yang melarangnya, lantas atas dasar apa narkoba dilarang atau diharamkan? Sebagaimana kalian ketahui bahwa nass al-Qur’an dan hadis jumlahnya terbatas, sementara itu persoalan kehidupan senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan jaman dan masyarakat.

Perkembangan tersebut tidak menutup kemungkinan menimbulkan persoalan yang harus ditetapkan status hukumnya dan sangat dimungkinkan “tidak dapat diselesaikan” secara langsung oleh nass al-Qur’an dan hadis. Dalam hal demikian, diperlukan penggunaan ra’yu atau akal oleh mujtahid untuk menggali hukum syara’.

Pada dasarya ada dua macam cara penggunaan ra’yu, yaitu: penggunaan ra’yu yang masih merujuk kepada nass dan penggunaan ra’yu secara bebas tanpa mengaitkannya kepada nass. Cara yang pertama secara sederhana disebut dengan qiyas.

Simak penjelasan tentang : Pengertian Qiyas, Dasar-Dasar Kehujjahan Qiyas, Rukun Qiyas, Cara-Cara Mengetahu Illat, dan Macam-Macam Qiyas

PENGERTIAN QIYAS

Qiyas menurut bahasa ialah pengukuran sesuatu dengan yang lainnya atau penyamaan sesuatu dengan sejenisnya.

Sedangkan secara istilah ushul fikih, qiyas adalah menyamakan suatu peristiwa yang tidak ada nass hukumnya dengan peristiwa lain yang ada nass hukumnya, dalam hukum yang ada pada nass karena dua peristiwa tersebut memiliki illat hukum yang sama.

Dasar-Dasar Kehujjahan Qiyas

Adapun yang menjadi dasar kehujjahan qiyas adalah sebagai berikut.

  • Al-Qur’an Surah An-Nisa’ (4): 59

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. Al-Nisa’ (4): 59).

Ayat ini menjadi dasar hukum qiyas, sebab maksud dari ungkapan “kembali kepada Allah dan Rasul” adalah perintah supaya menyelidiki tanda-tanda kecenderungan apa sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dapat diperoleh melalui pencarian illat hukum yang merupakan tahapan dalam melakukan qiyas.

Menurut Abdul Wahab Khallaf alasan pengambilan dalil ayat di atas sebagai dasar hukum kehujjahan qiyas, adalah bahwa Allah Swt telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan atau dipertentangkan di antara mereka kepada Allah dan Rasulullah, jika mereka tidak menemukan hukumnya dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Mengembalikan permasalahan kepada Allah dan Rasulullah tersebut berlaku secara umum atau mencakup semua cara dalam mengembalikan permasalahan itu. Dengan demikian, menyamakan peristiwa yang tidak ada nass hukumnya dengan peristiwa yang sudah ada nassnya dikarenakan adanya kesamaan illat, maka hal tersebut termasuk dalam kategori “mengembalikan permasalahan kepada Allah dan Rasul-Nya” sebagaimana dalam kandungan ayat di atas.

  • Hadis
Baca Juga :   Akhlak Terpuji Pergaulan Remaja : Bentuk, Dampak Positif dan Membiasakan

Ada beberapa hadis yang dapat menjadi dasar kehujjahan qiyas sebagai sumber hukum Islam, yaitu: hadis yang menceritakan dialog Rasulullah Saw dengan Mu’az bin Jabal ketika hendak diutus Rasulullah ke Yaman:

“Diriwayatkan dari penduduk Hams, sahabat Mua’az ibn Jabal, bahwa Rasulullah Saw ketika bermaksud untuk mengutus Mu’az ke Yaman, beliau bertanya: apabila dihadapkan kepadamu satu kasus hukum, bagaimana kamu memutuskannya?, Mu’az menjawab: Saya akan memutuskan berdasarkan al-Qur’an. Nabi bertanya lagi: Jika kasus itu tidak kamu temukan dalam al-Qur’an? Mu’az menjawab: Saya akan memutuskannya berdasarkan Sunnah Rasulullah. Lebih lanjut Nabi bertanya: Jika kasusnya tidak terdapat dalam Sunnah Rasul dan al-Qur’an? Mu’az menjawab: Saya akan berijtihad dengan seksama. Kemudian Rasulullah menepuk-nepuk dada Mu’az dengan tangan beliau, seraya berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah terhadap jalan yang diridloi-Nya.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini menjadi dasar kehujjahan qiyas yang titik tekannya terletak pada kebolehan Mu’az melakukan ijtihad ketika tidak ditemukan dalil di al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Ijtihad ini mencakup juga qiyas, karena qiyas merupakan salah satu macam ijtihad.

  • Asar Sahabat
  1. Surat Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al-Asy’ari sewaktu diutus menjadi qadhi di Yaman. Umar berkata yang artinya: “Putuskanlah hukum berdasarkan kitab Allah. Bila kamu tidak menemukannya, maka putuskan berdasarkan Sunnah Rasul. Jika tidak juga kamu peroleh di dalam Sunnah, berijtihadlah dengan menggunakan ra’yu.” Pesan Umar ini kemudian diteruskan dengan kalimat: “Ketahuilah kesamaan dan keserupaan: qiyaskanlah segala urusan waktu itu.”
  2. Terkait dengan kesepakatan sahabat mengangkat Abu Bakar menjadi Khalifah sebagai pengganti Nabi. Mereka menetapkannya dengan dasar qiyas, yaitu karena Abu Bakar pernah ditunjuk Nabi menggantikan beliau menjadi imam shalat jama’ah sewaktu beliau sakit.
  • Logika

Dalil yang keempat adalah dalil rasional atau logika. Tujuan Allah mensyariatkan hukum tak lain adalah untuk menciptakan kemaslahatan manusia. Kemaslahatan manusia itu senantiasa berkembang mengikuti perkembangan kehidupan manusia itu sendiri yang tidak terbatas dan tidak pernah selesai. Sementara itu naṣṣ yang ada baik al-Qur’an maupun hadis jumlahnya terbatas. Perkembangan tersebut tidak menutup kemungkinan menimbulkan persoalan yang harus ditetapkan status hukumnya dan sangat dimungkinkan “tidak dapat diselesaikan” secara langsung oleh naṣṣ al-Qur’an dan hadis. Dalam hal demikian, diperlukan penggunaan ra’yu atau akal oleh mujtahid untuk menggali hukum syara’. Penggunaan ra’yu yang masih merujuk kepada naṣṣ inilah yang disebut dengan qiyas.

Rukun Qiyas

Dari uraian pengertian qiyas dan contohnya di atas dapat dipahami bahwa tidak dapat dikatakan sebagai qiyas kecuali terpenuhinya empat rukun sebagai berikut:

  1. Ashal (pokok), yaitu peristiwa yang ada naṣṣ Ashal disebut juga dengan “al-maqis ‘alaih” atau “al-mahmul ‘alaih” atau disebut juga “al-musyabbah bih”.
  2. Far’un (cabang), yaitu peristiwa baru yang tidak ada naṣṣ Far’un disebut juga dengan istilah “al-maqis”, dan “al-musyabbah”.
  3. Hukum ashal, yaitu hukum syara’ yang terdapat pada ashal (naṣṣ).
  4. Illat, yaitu sifat atau alasan yang dijadikan dasar penetapan hukum pada
Baca Juga :   Sabar: Pengertian, Dalil, Bentuk, Ciri dan Dampak Positif

Untuk lebih jelasnya, dapat kita pahami dari contoh kasus pengharaman sabusabu yang diqiyaskan dengan pengharaman khamr sebagaimana dalam tabel berikut:

No Rukun Qiyas Contoh Keterangan
1 Ashal Minum khamr Peristiwa atau kasus yang ada nass hukumnya yaitu QS. Al-Maidah (5): 90
2 Far’un Konsumsi Sabusabu Peristiwa atau kasus tidak ada nass hukumnya
3 Hukum Ashal Haram Hukum minum khamr berdasarkan pada QS. Al-Maidah (5): 90 adalah haram
4 Illat Memabukkan Khamr dan sabu-sabu sama-sama memabukkan, maka hukumnya disamakan yaitu haram.

Cara-Cara Mengetahui Illat

Dalam hal ini ada beberapa metode yang telah disepakati oleh ulama ushul fikih dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ushul fikih sebagai berikut:

  1. Naṣṣ (al-Qur’an dan Hadis)

Illat dapat diketahui dari nass, yaitu ketika terdapat nass, baik al-Qur’an maupun Sunnah, secara eksplisit menyebut sifat tertentu sebagai illat hukum, maka illat tersebut merupakan illat yang tersurat dalam nass. Akan tetapi, terkadang naṣṣ al-Qur’an atau Sunnah tidak menampilkan illat suatu hukum secara tersurat, melainkan secara tersirat melalui indikasi-indikasi atau isyarat terhadap illat tersebut.

  1. Ijma’

Ijma’ merupakan salah satu metode untuk menentukan illat. Ijma’ menjadi landasan yang kuat untuk dijadikan sandaran hukum. Oleh karenanya, di dalam menemukan illat suatu hukum, ijma’ juga menjadi jalan kedua setelah naṣṣ untuk mencari illat.

  1. Al-Taqsim wa al-Sabru (Pemilahan dan Penyelidikan)

Al-Taqsim adalah upaya seorang mujtahid untuk menginventarisir semua sifat yang terkandung dalam ashal yang disinyalir pantas dan layak untuk dijadikan sebagai illat dari hukum ashal. Sedangkan al-sabru adalah upaya penyelidikan seorang mujtahid untuk menentukan satu dari sekian banyak sifat yang terkandung dalam ashal yang berhasil diinventarisir, dengan cara membuang semua sifat yang dinilai tidak layak dijadikan sebagai illat. Dalam metode al-Taqsīm wa al-Sabru ini ada tiga tahapan yang harus dilalui seorang mujtahid yang hendak melakukan penelitian di dalam menemukan illat suatu hukum. Ketiga tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Takhrij al-manaṭ

Takhrij al-manaṭ adalah upaya seorang mujtahid untuk menemukan sifat-sifat yang pantas dijadikan sebagai illat hukum yang masih tersembunyi dalam kandungan nass atau ijma’.

  • Tanqiḥ al-manaṭ

Setelah sifat-sifat dikeluarkan melalui metode takhrij al-manaṭ, maka tahap selanjutnya adalah penyeleksian sifat-sifat tersebut untuk kemudian ditentukan manakah sifat yang layak menjadi illat.

  • Tahqiq al-manaṭ

Tahqiq al-manaṭ ialah upaya seorang mujtahid dalam meneliti apakah sifat yang sudah diketahui unsur-unsurnya itu terdapat dalam kasus-kasus yang hendak dikaji. Tahqiq al-manaṭ disebut juga sebagai metode penetapan illat dalam far’un.

Macam-Macam Qiyas

Segi kekuatan illat yang terdapat pada furu’ (cabang) dibandingkan dengan yang terdapat pada ashal, qiyas dibagi kepada tiga bentuk, yaitu:

  • Qiyas al-Aulawi, yaitu qiyas yang hukumnya pada furu’ lebih kuat dari pada ashal, karena illat yang terdapat pada cabang (far’un) lebih kuat daripada illat yang ada pada Misalnya mengqiyaskan larangan memukul orang tua kepada larangan berkata “Ah” kepada kedua orang tua sebagaimana firman Allah dalam surah al-Isra’ (17): 23 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Larangan memukul orang tua illatnya lebih kuat dari pada illat pada larangan berkata “ah” kepada orang tua. Kalau alasan atau illat larangan berkata “ah” kepada kedua orang tua itu karena menyakitkan hati orang tua, maka illat dalam larangan memukul orang tua lebih manyakitkan hati.
  • Qiyas al-musawi, yaitu qiyas yang hukumnya pada furu’ sama kualitasnya dengan hukum yang ada pada ashal, karena kualitas illat pada keduanya juga sama. Contoh larangan membakar harta anak yatim diqiyaskan kepada larangan memakan harta anak yatim seperti firman Allah dalam QS. An-Nisa (4): 2 “Dan berikan kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan makan harta mereka bersama hartamu. Para ulama ushul fikih mengqiyaskan membakar harta anak yatim kepada memakan harta anak yatim karena sama-sama menghabiskan hartanya.
  • Qiyas al-Adna, yaitu qiyas di mana illat yang ada pada furu’ lebih lemah dibandingkan dengan illat yang ada pada ashal misalnya mengqiyaskan apel pada gandum dalam hal berlakunya riba fadhl. Atau mengqiyaskan haramnya perak bagi laki-laki dengan haramnya laki-laki memakai emas.
Baca Juga :   Minuman Haram: Pengertian, Hukum, Jenis, Konsumsi, Manfaat dan Hikmah

Segi kejelasan illatnya, qiyas dibagi kepada dua macam:

  • Qiyas al-Jaliy, yaitu qiyas yang illatnya ditetapkan oleh nass bersamaan dengan hukum ashal atau nass tidak menetapkan illatnya, tetapi dipastikan bahwa tidak ada pengaruh perbedaan antara ashal dengan far’un. Contoh illat yang ditetapkan naṣṣ bersamaan dengan hukum ashal adalah mengqiyaskan memukul orang tua kepada ucapan “Ah” yang terdapat dalam QS. al-Isra (17): 23 yang illatnya sama-sama menyakiti orang tua.
  • Qiyas al-khafiy, yaitu qiyas yang illatnya tidak disebutkan dalam Contoh mengqiyaskan pembunuhan dengan benda berat kepada pembunuhan dengan benda tajam dalam memberlakukan hukum qishash, karena illatnya sama-sama pembunuhan sengaja.

 

Sumber: Buku Ushul Fiqih Kelas X MAPK

 

Related posts