Peran Ilmu Antropologi dalam Memahami Multikulturalisme di Indonesia, Teori dan Terapan

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Peran Ilmu Antropologi dalam Memahami Multikulturalisme di Indonesia | Teori Keberagaman dalam Melihat Indonesia sebagai Masyarakat Multikultural | Antropologi Terapan |

Teori Keberagaman dalam Melihat Indonesia sebagai Masyarakat Multikultural

Menurut Clifford Geertz

Menurut Clifford Geertz (1983), aneka ragam budaya yang berkembang di Indonesia dapat dibagi menjadi dua tipe berdasarkan ekosistemnya, antara lain:

  • Kebudayaan Indonesia Dalam

Kebudayaan yang berkembang di Indonesia Dalam, yaitu daerah Jawa dan Bali ini, ditandai oleh tingginya intensitas pengolahan tanah secara teratur dan telah menggunakan sistem pengairan dan menghasilkan padi yang ditanam di sawah. Dengan demikian, kebudayaan di Jawa dan Bali yang menggunakan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar disertai peralatan yang relatif lebih kompleks merupakan perwujudan upaya manusia mengubah ekosistemnya untuk kepentingan masyarakat.

  • Kebudayaan Indonesia Luar

Kebudayaan yang berkembang di Indonesia Luar, yaitu di luar Pulau Jawa dan Bali, kecuali di sekitar Danau Toba, dataran tinggi Sumatra Barat, dan Sulawesi Barat Daya yang berkembang atas dasar pertanian perladangan. Ekosistem di daerah ini ditandai dengan jarangnya penduduk yang pada umumnya baru beranjak dari kebiasaan hidup berburu ke arah hidup bertani. Oleh karena itu, mereka cenderung untuk menyesuaikan diri mereka dengan ekosistem yang ada sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mereka melakukan migrasi ke daerah lain. Sistem kebudayaan masyarakat yang berkembang di daerah ini adalah kebudayaan masyarakat pantai yang diwarnai kebudayaan alam pesisir, kebudayaan masyarakat peladang, dan kehidupan masyarakat berburu yang masih sering berpindah tempat.

Menurut Bruner

Menurut Bruner (1974), struktur masyarakat majemuk di Indonesia menunjukkan adanya kebudayaan dominan yang disebabkan oleh dua hal, yaitu:

  • Faktor Demografis

Di Indonesia, kesenjangan jumlah penduduk yang sangat timpang terjadi antara Pulau Jawa dan luar Jawa. Meskipun luas, Pulau Jawa hanya 8 persen dari seluruh wilayah Indonesia. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa sehingga secara demografis penduduk Pulau Jawa lebih dominan.

  • Faktor Politis

Dengan jumlah penduduk yang terkonsentrasi di Jawa dan sistem kekuasaan yang terpusat di ibukota Jakarta membuat banyak kebijakan pemerintah juga cenderung dianggap berorientasi pusat dan banyak mengabaikan kepentingan masyarakat daerah (lokal). Hal ini acapkali menimbulkan ketidakpuasan masyarakat. Kegagalan mengartikulasikan kepentingan politik lokal dan tersumbatnya komunikasi politik tak jarang juga menyebabkan terjadinya ketegangan sosial antar etnis. Dengan struktur sosial yang bersifat majemuk, maka masyarakat Indonesia selalu menghadapi permasalahan konflik etnik, diskriminasi sosial, dan terjadinya disintegrasi masyarakat. Diferensiasi sosial yang melingkupi struktur sosial kemajemukan masyarakat Indonesia, antara lain sebagai berikut:

  • Diferensiasi yang disebabkan oleh perbedaan adat istiadat yang timbul karena perbedaan etnik, budaya, agama, dan bahasa.
  • Diferensiasi struktural yang disebabkan oleh perbedaan kemampuan untuk mengakses sumber ekonomi dan politik antar etnis sehingga menyebabkan kesenjangan sosial antara etnik yang berbeda dalam masyarakat.

Dampak Multikulturalisme di Indonesia

Gejala sosial tidak terlihat secara nyata di permukaan dalam kehidupan sehari-hari tetapi bersemayam di dalam tata kehidupan masyarakat Indonesia yang dapat dilihat melalui keragaman suku bangsa. Hal ini pula yang sering menimbulkan potensi konflik di daerah. Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan sosial lainnya karena mempunyai ciri-ciri paling mendasar dan umum berkaitan dengan asal usul dan tempat asal serta kebudayaanya. Adapun ciri-ciri suku bangsa adalah:

  • Berkembang biak dalam kelompoknya secara tertutup.
  • Memiliki nilai-nilai dasar yang terwujud dan tercermin dalam kebudayaan.
  • Mewujudkan arena komunikasi dan interaksi.
  • Mempunyai anggota yang mengenali dirinya serta dikenal oleh orang lain sebagai bagian dari satu kategori yang dibedakan dengan yang lain.

Ketika seseorang yang menjadi bagian dari suku bangsa tertentu mengadakan interaksi maka akan tampak adanya simbol-simbol atau karakter khusus yang digunakan untuk mengekspresikan perilakunya sesuai dengan karakteristik suku bangsanya. Misalnya ciri-ciri fisik ataupun rasial, gerakan-gerakan tubuh atau muka, ungkapan-ungkapan kebudayaan, nilai-nilai budaya serta keyakinan keagamaan. Seseorang yang dilahirkan dalam suku bangsa tertentu maka sejak dilahirkannya mau tidak mau harus hidup berpedoman pada kebudayaan suku bangsanya sebagaimana yang digunakan oleh orang tua dan keluarganya dalam merawat dan mendidiknya sehingga menjadi manusia sesuai dengan konsepsi kebudayaan tersebut.

Sadar ataupun tidak masyarakat suku bangsa ini mengembangkan ikatan yang bersifat primordial, yaitu pemikiran yang mengutamakan atau menonjolkan kepentingan suatu kelompok atau komunitas tertentu dalam hal ini tentu saja kelompoknya sendiri. Bagi anggota-anggota suku bangsa yang bersangkutan, budaya mereka menjadi pedoman kehidupan mereka, diyakini kebenarannya, dan menjadi hal utama di dalam kehidupan mereka. Dengan kata lain, hal tersebut sudah mendarah daging dalam kehidupan mereka.

Kondisi tersebut berpotensi memunculkan pandangan etnosentrisme yaitu pandangan yang menempatkan bahwa kelompoknya adalah pusat segalanya dan semua kelompok yang lain dibandingkan dan dinilai sesuai standar kelompok tersebut. Dengan mengatakan bahwa suku bangsa sendirilah yang paling baik, sesungguhnya merupakan perwujudan pandangan etnosentrisme. Di sisi lain, etnosentrisme merupakan pengembangan sifat yang mampu meningkatkan nasionalisme dan patriotisme suatu suku bangsa tertentu. Tanpa etnosentrisme maka kesadaran nasional untuk mempertahankan suatu bangsa dan meningkatkan integrasi bangsa akan sulit dicapai. Selain itu etnosentrisme juga dapat menghambat perubahan yang datang dari luar baik yang menghancurkan kebudayaan itu sendiri maupun yang mampu mendukung tujuan masyarakat suku bangsa tersebut. Masih sulit memang mengatakan bahwa etnosentrisme ini baik atau buruk.

Menyikapi Masyarakat Multikultural

Keragaman budaya memunculkan sebuah pemahaman baru tentang budaya daerah yang mempunyai ciri khas dan karakteristik sendiri serta berbeda dengan yang lain sehingga perlu dipertahankan. Namun, hal itu berpotensi memunculkan paham etnosentrisme. Hal terpenting bahwa keberagaman budaya yang ada di Indonesia ini adalah kita tidak boleh memahami perilaku kelompok lain hanya dengan membandingkan kebiasaan dan perilaku budaya sendiri.

Relativisme budaya haruslah dikembangkan dalam memandang keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Relativisme budaya mampu menggambarkan kenyataan bahwa fungsi dan arti suatu unsur kebudayaan tergantung pada konteks lingkungan di mana kebudayaan itu berkembang. Konsep relativisme budaya tidak berarti bahwa semua adat istiadat mempunyai nilai dan makna yang sama. Di beberapa tempat, beberapa perilaku mungkin dipandang merugikan tetapi di tempat lain pola semacam itu dipandang memiliki tujuan tertentu. Masyarakat akan menderita tanpa pola semacam itu kecuali jika ada penggantinya. Misalnya suku bangsa yang terdapat di Papua membuat rumah yang disebut Honai dengan menggunakan jerami dengan tujuan menjaga dan memerangkap panas agar penghuni rumah tidak kedinginan. Sedangkan suku bangsa Minang dengan konsep rumah Gadang dengan tujuan dapat menahan getaran gempa hingga 8 skala Richter. Dalam konteks lokal keindonesiaan di mana peri kehidupan beragama sangat beragam dan plural maka relativisme budaya merupakan salah satu cara terbaik menuju sikap arif dan bijaksana dalam melihat perbedaan-perbedaan kebudayaan.

Antropologi Terapan

Antropologi sebagai ilmu terapan muncul sebagai jawaban dari semakin meningkatnya masalah yang ada di masyarakat terkait budaya dan manusia. Peran antropologi sebagai ilmu terapan makin terlihat saat para antropolog mulai menggunakan pendekatan antropologi dalam menjembatani jurang-jurang kebudayaan dengan pesatnya perubahan yang terjadi. Para antropolog masuk dalam kehidupan masyarakat yang mengenal kebudayaannya dan dinamika yang terjadi kemudian memberikan gambaran pada pemangku kebijakan terkait perubahan yang dilakukan agar masyarakat lebih baik dan dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Untuk memberikan gambaran yang lebih spesifik maka berikut disampaikan penerapan antropologi dalam kehidupan sehari-hari:

Antropologi Politik

Spesialisasi antropologi pada bidang ini dilatarbelakangi oleh munculnya beragam perbedaan ideologi terkait kekuasaan di masyarakat. Kesenjangan asas terlihat dalam penyelenggaraan pemerintahan modern (industri) dengan masyarakat nonindustri. Peran antropolog dibutuhkan terkait penyelarasan tujuan dan teknis penyelenggaraan pemerintahan agar tidak terjadi konflik sosial dan tujuan masyarakat dengan perkembangan zaman dapat melaksanakan pembangunan yang lebih maksimal.

Antropologi Kesehatan dan Gizi

Isu antropologi sangatlah luas termasuk di dalamnya adalah kesehatan. Konsentrasi para antropolog terhadap pengobatan tradisional atau nonmedis, sistem kesehatan masyarakat, dan gizi menjadikan antropologi kesehatan ini sangat menarik untuk dipelajari. Istilah antropologi kesehatan digunakan oleh para ahli antropologi untuk mendefinisikan:

  • Penelitian antropologi yang tujuannya mendefinisikan hubungan timbal balik biologi dan budaya, antara tingkah laku manusia di masa lalu hingga masa kini dengan derajat kesehatan dan penyakit.
  • Partisipasi profesional mereka dalam program-program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman derajat kesehatan (Foster/Anderson, 2013). Isu mengenai kesehatan dan kebugaran manusia menjadi salah satu isu penting dalam antropologi.

Antropologi Perkotaan

Antropologi perkotaan adalah pendekatan dari antropologi terapan dalam melihat berbagai masalah yang timbul dalam masyarakat di wilayah perkotaan. Kajian ini muncul akibat berkembangnya masyarakat yang semakin kompleks. Kajian antropologi memulai dari masyarakat tradisional (perdesaan) menuju masyarakat modern (perkotaan). Beberapa objek kajian dalam antropologi perkotaan yang menarik untuk dikaji antara lain, kemiskinan di perkotaan dan urbanisasi.

Antropologi Hukum

Kajian antropologi terkait norma-norma yang ada di masyarakat dan memiliki tujuan akhir yaitu keteraturan pola perilaku individu dalam masyarakat. Norma-norma tersebut dibuat oleh lembaga-lembaga yang berwenang dan bersifat mengikat, baik di masyarakat modern maupun tradisional.

Antropologi Lingkungan

Salah satu sub bidang antropologi yang membahas atau mempelajari adaptasi manusia pada lingkungannya. Definisi lain mengatakan bahwa antropologi lingkungan merupakan sub bidang dari antropologi yang mengkaji hubungan antara populasi manusia dan lingkungan biofisiknya. Fokus kajiannya mengarah pada praktik budaya yang terkait erat dengan lingkungan. Misalnya pada masyarakat adat yang menjaga lingkungannya seperti menjaga dirinya sendiri. Seperti kasus sebelumnya pada masyarakat adat Ammatoa Kajang dan Tengger yang memiliki keyakinan untuk menjaga alam lingkungannya.

Baca Kumpulan: Rangkuman Antropologi Kelas 11 SMA

Related posts