Pemikiran Socrates Tentang Pendidikan | Makalah Pemikiran Socrates Tentang Pendidikan | Penelitian Pemikiran Socrates Tentang Pendidikan |
Pemikiran Socrates Tentang Pendidikan
Dalam sejarah filsafat muncullah salah seorang pemikir besar kuno (470-399 SM) yang mana gagasan-gagasan filosofisnya dan metode pengajarannya ditunjukan untuk mempengaruhi secara mendalam dan abadi terhadap teori dan praktik pendidikan diseluruh dunia Barat. Socrates yang dilahirkan di Athena, is adalah putra seorang pemahat dan seorang bidan yang hanya sedikit dikenal kecuali nama mereka, yaitu Sophonicus dan Phaenarete.
Gerakan pendidikan yang dilakukan oleh Socrates yang dikenal dengan Metode Socratic: gnoti seauton, maieutica-technic, dan dialektika. Socrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhnic) dalam berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Socrates (sebagai sang bidan) untuk “melahirkan” pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian Socrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif
Adapun prinsip-prinsip dasar pendidikan menurut Socrates adalah, metode dialektis, yang digunakan oleh Socrates yang mana telah menjadi dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seorang belajar untuk berpikir secara cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seseorang guru tidak memaksa wibawanya atau memaksa gagasan-gagasan atau pengetahuan kepada seorang siswa, yang mana seorang siswa dituntut untuk mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis, ini adalah suatu metode untuk meneruskan inteleknya dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaannya dan kekuatan mental.
Tujuan pendidikan yang benar menurut Socrates adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan standar moral yang tinggi
Dengan menggunakan metode mengajar yang dialektis ini Socrates menunjukkan bahwa jawaban-jawaban terbaik atas pertanyaan moral menurut pendapatnya adalah cita-cita yang diajarkan oleh para pendiri-pendiri agama, cita-cita yang melekat pada ketuhanan, cinta pada umat manusia, keadilan, keberanian, pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan, hormat terhadap kebenaran, sikap yang tak berlebih-lebihan, kebaikan hati, kerendahan hati, toleransi, kejujuran, segala kebajikan¬kebajikan lama. Salah satu pendirian Socrates yang terkenal bahwa kekuatan utama adalah pengetahuan. Jadi bagi Socrates yang terkenal, adanya pendidikan sudah membuktikan bahwa keutamaan tidak dapat diajarkan dan pendidikan tidak mungkin dijalankan.
Seruan alternatif Socrates ditujukan pada kemampuan manusia untuk berpikir menertibkan, meningkatkan dan mengubah dirinya. Pengetahuan, la menyatakan adalah kebajikan; orang yang sekedar tidak berpura-pura saja terhadap cita-cita teoritis, tetapi sungguh-sungguh mengetahui dan mengerti apa yang benar, karena ia telah mengalami dan menyadari konsekuensi-konsekuensi akan berbuat apa yang benar.
Cara mengajar Socrates pada dasarnya disebut dialekta, yang disebabkan dalam pengajaran itu dialog memegang peranan penting. Socrates tidak seperti Plato, ia tidak membangun suatu sistem filsafat yang luas, tidak pernah menggali secara mendalam bidang psikologi, emosi, motivasi, kebiasaan dan aspek-aspek dari proses pengetahuan tersebut. Namun demikian la telah membuat suatu permulaan yang besar dalam membangun konsepsi-konsepsi dan metode-metode yang lebih luas, lebih sungguhsungguh dan lebih efektif. Dalam pendidikan Socrates mengemukakan sistem atau cara berpikir yang bersifat induksi, yaitu menyimpan pengetahuan yang bersifat umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal khusus.
Beberapa Penelitian Pemikiran Socrates Tentang Pendidikan
Berikut adalah beberapa penelitian “Pemikiran Socrates Tentang Pendidikan” :
Antisofisme Socrates, oleh Fahriansyah
Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Fahriansyah dengan judulAntisofisme Socrates dalam Jurnal Al ‘Ulum Vol.61 No.3 Juli 2014
Contoh Antisopisme yang dikembangkan Socrates dalam dua bentuk yakni Gerakan Pemikiran dan Gerakan Pendidikan, dua hal yang sangat penting dalam melakukan pencerdasan terhadap masyarakat yang mengidap penyakit Nihilisme suatu bentuk yang bisa menghambat proses pencerdasan kehidupan suatu masyarakat.
LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN: Telaah Pemikiran Socrates, Plato dan Aristoteles, oleh Muhammad Tang dkk.
Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Muhammad Tang dkk dengan judul LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN: Telaah Pemikiran Socrates, Plato dan Aristoteles dalam Journal of Islamic Studies Review Volume. 01, Number. 01, Maret 2021.
Setelah membahas pemikiran ketiga filusuf tersebut di atas tentang pendidikan, maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, pendidikan hendaknya dikembangkan dengan dialektika (dialogis) atau dalam istilah sekarang ini metode diskusi (Socrates). Kedua, seseorang guru tidak memaksa kehendak atau memaksa gagasan-gagasan atau pengetahuan kepada seorang siswa, yang mana seorang siswa dituntut untuk mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis, ini adalah suatu metode untuk meneruskan inteleknya dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaannya dan kekuatan mental. Ketiga, tujuan pendidikan yang benar menurut Socrates adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan standar moral yang tinggi. Keempat, pemerintah harus berperang aktif dalam mengembangkan pendidikan (Plato). Kelima, tujuan pendidikan menurut Plato adalah untuk menemukan kemampuan-kemampuan ilmiah setiap individu dan melatihnya sehingga ia akan menjadi seorang warga negara yang baik, dalam suatu masyarakat yang harmonis, melaksanakan tugas-tugasnya secara efisien sebagai seorang anggota kelasnya. Keenam, menurut Aristoteles, agar orang dapat hidup baik, maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, akan tetapi soal memberi bimbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi, supaya mengarah diri kepada akal, sehingga dapat dipakai akal guna mengatur nafsu-nafsu. Dan ketujuh, aristoteles mengemukakan bahwa pendidikan yang baik adalah yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan. Kebahagiaan tertinggi adalah hidup spekulatif.






