Guru menerapkan aturan disiplin kelas, peserta didik yang terlambat lebih dari lima menit dihukum lari keliling lapangan sepakbola sebanyak 4 kali. Pengelolaan kelas ini menggunakan pendekatan:
A. Otoriter
B. Permisif
C. Modifi kasi TI ngkah laku
D. Kelompok
E. Individual
Kunci: A
Pembahasan
Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977)
diklasifi kasikan kedalam TI ga pengerTI an, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (autorityapproach),
pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifi kasi TI ngkah laku. Berikut dijelaskan
pengerTI an masing-masing pendekartan tersebut,
Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter (authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru
untuk mengontrol TI ngkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui
penerapan disiplin secara ketat (weber)
Kedua, pendekatan permisif mengarTI kan pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru
untuk memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai akTI fi tas sesuai dengan yang mereka
inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan
akTI fi tas di dalam kelas.
KeTI ga, pendekatan modifi kasi TI ngkah laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan
proses perubahan TI ngkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mengembangkan dan
memfasilitasi perubahan prilku yang bersifat posiTI f dari siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin
mencegah munculnya atau memperbaiki prilaku negaTI f yang dilakukan oleh siswa.
Adapun macam-macam pendekatan-pendekatan lainya:
1. Pendekatan Kekuasaan
Pendekatan kekuasaan seperTI yang diuraikan oleh Djamarah (2006 : 179) guru menciptakan dan
mem pertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut murid
un tuk mentaaTI nya. Di dalam kelas ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaaTI anggota
kelas.
2. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan pengajaran, pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam perencanaan
dan pelaksanaannya akan mencegah munculnya masalah TI ngkah laku murid dan memecahkan
masalah itu bila TI dak bisa dicegah.
3. Pendekatan Kerja Kelompok
Pendekatan kerja kelompok, dalam pendekatan ini guru menciptakan kondisi – kondisi yang
memungkinkan kelompok yang produkTI f, selain itu guru juga harus dapat menjaga kondisi itu agar
tetap baik.
4. Pendekatan elekTI s atau pluralisTI c
KeTI ga pendekatan tersebut oleh guru digabungkan digunakan untuk mengelola kelas. Sehingga
tercipta pendekatan elekTI s atau pluralisTI c. Menurut Djamarah, Pendekatan elekTI s yaitu guru
kelas memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapi dalam suatu situasi
mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi yang lain mungkin mengkombinasikan keTI ga
pendekatan tersebut.
Pendekatan elekTI s (elecTI c approach) ini menekankan pada potensialitas, kreaTI fi tas, dan inisiaTI f wali
atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya.
Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi
lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau keTI ga pendekatan tersebut. Pendekatan elekTI s
disebut juga pendekatan pluralisTI k, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai
macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu
kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efekTI f dan efi sien. Guru memilih dan
menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud
dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru
untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar
mengajar berjalan secara efekTI f dan efi sien.
Selain keTI ga pendekatan yang disebutkan diatas menurut pendapat lain ada yang mengatakan
adanya pendekatan ancaman, pendekaran resep, pendekatan perubahan TI ngkah laku, pendekatan
kebebasan, dan Pendekatan sosio-emosional
5. Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau inTI midasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses
untuk mengontrol TI ngkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol TI ngkah laku anak didik dilakukan
dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
6. Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daŌ ar yang dapat menggambarkan
apa yang harus dan apa yang TI dak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah
atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daŌ ar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus
dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuTI petunjuk seperTI yang tertulis dalam resep
7. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diarTI kan sebagai suatu proses untuk mengubah
TI ngkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan TI ngkah laku anak didik yang baik,
dan mencegah TI ngkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan TI ngkah laku
(behavior modifi caTI on approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral. Program
atau kegiatan yang yang mengakibatkan TI mbulnya TI ngkah laku yang kurang baik, harus diusahakan
menghindarinya sebagai penguatan negaTI f yang pada suatu saat akan hilang dari TI ngkah laku murid
atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan TI ngkah laku yang baik
atau posiTI f harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan
senang atau puas. Sebaliknya, TI ngkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas
diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan TI dak puas dan pada gilirannya TI ngkah
laku tersebut akan dihindari.
8. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diarTI kan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk
mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal
mungkin kebebasan anak didik.
9. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang
baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut melipuTI hubungan antara guru dan murid serta
hubungan antar murid. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut.
Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan
hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan murid yang posiTI f, sikap
mengerTI dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan penTI ngnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness,
congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring,
trust) dan mengerTI dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphaTI c understanding).






