Analisis Laporan Hasil Penelitian Etnografi, Sejarah, Jenis dan Cara Membaca

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Analisis Laporan Hasil Penelitian Etnografi | Sejarah Perkembangan Etnografi | Jenis-jenis Etnografi | Cara Membaca Etnografi |

Sejarah Perkembangan Etnografi

Sejarah perkembangan etnografi tidak lepas dari sejarah peradaban Eropa dan sejarah penjelajahan samudra atau perdagangan internasional. Tentunya kalian sudah mempelajari hal itu pada pembahasan sebelumnya mengenai sejarah perkembangan antropologi. Pada dasarnya antropologi dan etnografi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Awalnya, antropologi merupakan studi yang dilakukan kepada masyarakat dan kebudayaan di luar Eropa. Orang-orang Eropa menjelajah kawasan di luar peradabannya dan mendeskripsikannya dalam sebuah catatan. Oleh karena itu, pada mulanya etnografi tidak dibuat dengan tujuan akademis, tetapi dibuat untuk kepentingan para penjelajah, pegawai kolonial, misionaris, maupun pedagang yang melakukan perjalanan ke luar Eropa. Sejak awal perkembangannya, tradisi penulisan etnografi telah mengalami sejumlah perkembangan penting. Perkembangan ini di pengaruhi oleh dinamika sejarah dan pemikiran yang melingkupinya. Penulisan tentang masyarakat dan kebudayaan telah melalui sejarah panjang, mulai dari zaman Yunani dan Romawi kuno hingga abad ke -20.

Yunani dan Romawi Kuno

Pada perkembangan awal filsafat barat, juga terkait dengan etnografi. Ada beberapa nama yang menarik untuk diulas dalam hal ini. Herodotus (484–425 SM), misalnya menulis tentang masyarakat Mesir. Ia memberikan banyak perhatian kepada kondisi iklim, mata pencaharian, kehidupan sehari-hari laki-laki dan perempuan, semangat keagamaan, praktik ritual, dan kebiasaan-kebiasaan unik yang berbeda dengan yang berlaku di Yunani (Vidich & Lyman, 1994). Megathenes, seorang duta besar Yunani untuk India, juga melukiskan tentang sistem kasta. Publius Cornelius Tacitus (55– 117 SM), seorang sejarawan Romawi, menuliskan pula tentang masyarakat di Eropa Utara dalam buku Germania. Berbeda dengan Herodotus dan Megathenes, Tacitus hanya mendapatkan keterangan dari para serdadu dan orang-orang yang bepergian ke wilayah utara (Barnow, 2013).

Abad Penemuan

Abad ke-15 dan abad ke-17 adalah masa ketika bangsa Eropa bertemu dengan masyarakat yang tinggal di Benua Amerika, Oseania, dan Asia. Mereka menemukan apa yang dikenal dengan istilah Dunia Baru. Penemuan kebudayaan maju di Meksiko dan Peru, misalnya, mengubah pemahaman baru tentang superioritas Eropa atas bangsa lain. Dari sini lahirlah satu kesadaran tentang relativisme kebudayaan. Di antara penulis penting pada masa itu adalah Michel de Montaigne, Garscilaso de la Vega, dan John Scheffer. De la Vega menulis buku berjudul Commentarios Reales Que Tratan del Origen de los Incas yang menggambarkan tentang kebudayaan Inka di Peru. Demikian pula, Scheffer menulis History of Lappland. Periode ini juga ditandai oleh rasa ingin tahu yang lebih besar tentang keragaman budaya dan warna kulit. Pertanyaan yang muncul antara lain tentang asal-usul, sejarah, perkembangan beragam warna kulit, kebudayaan dan peradaban manusia (Vidich & Lyman, 1994).


Masa Pembaruan

Menjelang akhir abad ke-19, banyak keterangan yang lebih lengkap tentang masyarakat dan kebudayaan di dunia yang terkumpul dan dapat dibaca. Voltaire dan Montesquieu memanfaatkan tulisan-tulisan tersebut untuk menyusun pandangan-pandangan mereka tentang kejayaan dan keruntuhan peradaban. Mereka memahami bahwa India, Cina, dan Amerika Tengah telah lama mencapai kemajuan yang tinggi, sehingga penulisan tentang peradaban dunia tidak boleh hanya berkutat tentang Eropa. Dalam L’esprit de Lois, Montesquieu menulis perbandingan peraturan di berbagai masyarakat. Selain itu, Montesquieu mengemukakan bahwa masyarakat berevolusi dari liar (savage), menuju kepada barbar (barbarism), dan akhirnya sampai kepada peradaban (civilization). J.J. Rousseau, dalam Social Contract, menyatakan bahwa pada dasarnya manusia terlahir bebas, tetapi hidupnya dibelenggu oleh hal-hal yang melingkupinya. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa manusia pada dasarnya baik. Peradaban mem buat sifat baik itu sirna.

Baca Juga :   Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi, Pengertian, Ciri dan Contoh

Abad ke-19

Munculnya gerakan konservatif yang menentang gagasan-gagasan Rousseau melahirkan pemikiran dan penulisan etnografi yang didominasi oleh aliran evolusi. Secara garis besar, tema-tema kebudayaan yang ditulis kala itu terpusat pada keyakinan adanya tahapan-tahapan perkembangan kebudayaan dan masyarakat dari yang sederhana menuju masyarakat yang lebih kompleks. Sebagian menyebutnya primitif menuju modern. Tulisan-tulisan yang berpengaruh kala itu adalah Primitive Culture oleh E.B. Tylor dan Ancient Society oleh Lewis Henry Morgan. Tylor adalah sosok yang pertama kali menyebut konsep culture (kebudayaan). Menurutnya, kebudayaan berkembang melalui tahap-tahap keliaran, kebiadaban, dan akhirnya menuju kepada peradaban.

Morgan awalnya menulis tentang kehidupan suku Indian Iroquois di Amerika. Setelah melakukan kajian perbandingan atas sejumlah masyarakat, sebagaimana tercantum dalam Ancient Society, ia menegaskan kembali rumusan yang dikemukakan Tylor tentang perubahan kebudayaan. Morgan menambahkan tiga kategori pada dua tahap pertama, yaitu rendah, menengah, dan atas. Pandangan-pandangan Tylor dan Morgan dikritik oleh Franz Boas. Tidak percaya dengan argumen-argumen evolusionistik, Boas meyakini bahwa kebudayaan harus dipahami sesuai dengan konteks masyarakat yang melingkupinya. Argumen ini kemudian menginspirasi dilakukannya berbagai penelitian lapangan oleh para antropolog. Etnografi pun menemukan corak baru (Moore, 1997, 42–52).

Etnografi Abad-20

Sebagai metode ilmiah, etnografi muncul dari studi perbandingan antropologi budaya yang dilakukan oleh para antropolog pada awal abad ke-20. Beberapa antropolog seperti Franz Boas, Malinowski, RedcliffeBrown, dan Mead menggunakan metode pengumpulan data dari tangan pertama (first-hand experience) yaitu dengan melakukan pengamatan partisipasi langsung pada kebudayaan masyarakat yang dikaji. Hal inilah yang membedakan para antropolog tersebut dengan para antropolog sebelumnya.


Semenjak itu, penelitian lapangan etnografi telah menjadi pusat antropologi. Sebagian antropolog kini tidak lagi menganggap bahwa etnografi merupakan ilmu yang mempelajari kebudayaan masyarakat liyan, yaitu pada masyarakat yang hidup terisolasi dengan teknologi sederhana. Kini, etnografi telah menjadi alat penting dalam memahami masyarakat kita sendiri maupun masyarakat berkebudayaan lain di berbagai belahan dunia. Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer biasanya tinggal bersama sekelompok masyarakat dalam waktu lama, seringkali satu tahun atau lebih, untuk mendokumentasikan dan menginterpretasikan cara hidup mereka yang khas, maupun kepercayaan dan nilai-nilai yang menyatu dengan kelompok yang dikaji.


Pada era selanjutnya berkembang etnografi baru sekitar tahun 1950 dan 1960an. Etnografi baru merupakan teknik yang dikembangkan dari paradigma antropologi kognitif ditambah dengan kekuatan sastra. Paradigma kognitif dalam antropologi dipengaruhi oeh filsafat fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund Husserl. Salah satu ciri utamanya adalah upaya menghindari bias etnosentris peneliti dan lebih menonjolkan sudut pandang pelaku kebudayaan (Seymour-Smith, 1986).

Baca Juga :   Download Buku Guru PAI SMA / SMK / MA Kelas 10, 11, 12 Kurikulum Merdeka

Etnografi dituntut untuk melakukan pemaparan tentang realitas budaya dengan merujuk kepada pandangan, penghayatan, dan pemaknaan masyarakat setempat (Kaplan & Menners, 2012). Salah seorang antropolog yang secara intensif mendalami dan mempraktikkan etnografi baru adalah James Spradley. Ia menyatakan bahwa tujuan utama penelitian lapangan adalah memahami cara hidup masyarakat lain dengan menggunakan sudut pandang pelaku kebudayaan. Tidak sekedar mempelajari, etnografi bahkan dapat disebut sebagai “belajar dari masyarakat” (Spradley, 1979b:3).

Dalam fase ini juga berkembang varian baru, otoetnografi, yaitu penelitian tentang kebudayaan sendiri (Seymour-Smith, 1986). Sebagai contoh, seorang antropolog berlatar belakang budaya Jawa meneliti tentang perubahan pola mata pencaharian masyarakat pedesaan di Malang, Jawa Timur. Menyebut contoh lain, seorang antropolog Minang meneliti tentang tradisi merantau pada masyarakat Minang.

Jenis-jenis Etnografi

Etnografi Awam

Etnografi awam merupakan cara kerja etnografi yang digunakan oleh masyarakat awam dan tidak bersifat akademis atau ilmiah. Etnografi awam pada dasarnya mendekati ciri catatan perjalanan yang dapat dijadikan sebagai “bahan mentah” oleh para antropolog dalam karya etnografis. Etnografi awam, pada paparannya juga secara mendetail menyajikan gambaran tentang suatu masyarakat, tetapi tidak diikuti oleh analisis berbasis perspektif antropologis. Judul dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian pembaca. Jenis etnografi model ini tidak mengenal kerangka teori. Uraian dibuat dengan tidak runtut. Penulis tidak melakukan refleksi dalam tulisannya (Ahimsa Putra, 1997). Salah satu contohnya adalah etnografi para jurnalis yang sedang melakukan ekspedisi. Misalnya ekspedisi yang dilakukan oleh Kompas seperti ekspedisi jalur rempah, ekspedisi kuliner nusantara, dan ekspedisi cincin api.

Etnografi Akademis

Seperti nama yang disandangnya, etnografi akademis bersifat ilmiah dan sistematis. Etnografi ini bersifat ilmiah karena terdapat kerangka teori dan ada upaya untuk mengaitkan fenomena yang diteliti dengan konteks yang lebih luas (Ahimsa Putra, 1997). Etnografi ini juga bersifat sistematis karena kerangka kerja penelitian disusun berdasarkan metodologi yang dipelajari di universitas. Contoh karya etnografi akadamis ini antara lain Tradisi Pesantren (Dhofier, 1984), Minawang (Ahimsa-Putra, 1988), dan Carok (Wiyata, 2002).

Cara Membaca Etnografi

Ketika belajar menulis etnografi, calon etnografer juga dituntut membaca paparan berulang terhadap teks etnografi lainnya yaitu dengan membaca etnografi (Blasco & Wardle, 2007:2). Dalam hal ini, kemampuan menulis etnografer juga dinilai dari kemampuannya membaca teks etnografi. Secara sederhana, untuk dapat menuliskan etnografi yang baik, etnografer perlu untuk membaca teks etnografi yang ditulisnya secara berulang untuk dapat mengetahui apakah tulisan tersebut sudah mampu untuk membawa pembaca merasakan apa yang dialami oleh etnografer dan informan terkait fenomena sosial budaya yang dikaji. Keterampilan etnografer diuji dari kemampuannya untuk menggambarkan ke pembaca apa yang dialami oleh masyarakat yang dikajinya sekaligus membaca makna kebudayaan masyarakat.

Baca Juga :   Kesenjangan Ekonomi, Pengertian, Penyebab, Ketimpangan dan Solusi

Membaca etnografi tidak sekadar kemampuan mengumpulkan data tentang kelompok tertentu, kegiatan, atau teori. Membaca etnografi merupakan aktivitas mengambil pendekatan antropologis terhadap teks etnografi (Blasco & Wardle, 2007). Dengan membaca karya etnografi, pembaca belajar bagaimana seorang penulis menemukan data lapangan dan menguji teori-teori tentang kebudayaan. Penulis etnografer menguraikan evaluasi mereka terhadap karya orang lain yang berisi teori tersebut sambil menggambarkan posisi etnografer itu sendiri. Kemudian dari rumusan masalah yang diajukan oleh penulis etnografer tersebut, kita bisa mengetahui apa yang akan menjadi fokus penelitian etnografer. Penjelasan lebih detail tentang fokus penelitian dapat kita baca melalui wawancara dan catatan etnografis atau field note yang dibuat oleh penulis.

Oleh karena itu, dengan membaca etnografi, pembaca memperoleh pemahaman yang lebih besar tentang sudut pandang dan argumen penulis. Hal itu akan mengarahkan kita pada apresiasi yang lebih baik terhadap kehidupan orang-orang yang coba digambarkan oleh seorang etnografer. Etnografi merupakan pedoman yang memberi tahu kepada pembaca tentang “untuk siapa” tulisan itu ditujukan, “untuk apa” teksnya ditulis, serta “ mengapa” pertanyaan dan argumennya dibuat sedemikian rupa.

Dalam memahami etnografi, terdapat beberapa hal yang harus ditemukan dalam tulisan etnografi di antaranya: 1) pertanyaan atau permasalahan penelitian, 2) jawaban, penjelasan atau penafsiran yang diberikan atau disajikan peneliti, 3) data yang diberikan untuk menunjukkan permasalahan penelitian dan menunjang penafsiran yang dilakukan oleh peneliti, serta 4) pengorganisasian dari ketiga unsur tersebut, yaitu pertanyaan atau permasalahan penelitian, penjelasan atau penafsiran, dan bukti atau data penunjang.

Dalam proses membaca tersebut kita harus membayangkan ke dalam diri penulis etnografer tentang suasana budaya yang terbentuk di sana. Kemudian kita catat istilah-istilah asing yang tidak kita ketahui dan kita bisa lihat dalam kamus atau bagian glosarium. Hasil penelitian tersebut kemudian membentuk teori-teori kebudayaan yang bisa kita jadikan petunjuk penelitian ataupun kritik terhadapnya. Selebihnya, dalam membaca etnografi, kuncinya harus memperbanyak bacaan etnografi. Secara sederhana kita bisa membacanya saat waktu luang dengan intensif. Di samping itu, membaca etnografi dapat mengasah kita dalam menganalis secara sederhana dengan pertanyaan 5 W + 1H (What, Where, When, Who, Why dan How). Dengan banyak membaca etnografi, kemampuan literasi dan menganalisis fenomena kita akan bertambah.

Baca Kumpulan: Rangkuman Antropologi Kelas 11 SMA



Related posts