Akhir Masa Negara Kolonial Belanda | Krisis Ekonomi Global/Great Depression | Kisah Wabah dan Penyakit di Nusantara | Perang Dunia II (PD II) | Detik-Detik Belanda Menyerah kepada Jepang |
Krisis Ekonomi Global/Great Depression
Peristiwa krisis ekonomi yang berdampak global paling bersejarah salah satunya adalah krisis yang dialami Amerika Serikat. Krisis yang berlangsung lama tersebut terbilang cukup parah hingga berimbas kepada negara-negara lainnya di dunia. Krisis tersebut dikenal dengan sebutan Depresi Dunia atau Great Depression. Padahal ekonomi Amerika Serikat sempat mengalami perkembangan yang begitu pesat pada tahun 1920-an, dengan indikator peningkatan tajam pada kekayaan pada kurun waktu tahun 1920-1929. Namun ekonomi AS berubah drastis pada tahun 1929 ketika bank-bank di AS kesulitan modal akibat nasabah memindahkan tabungan mereka ke pasar saham yang berpusat di New York. Akibatnya pasar saham mengalami pertumbuhan yang cepat dengan puncaknya terjadi pada tahun 1929. Situasi ini membuat bank-bank kesulitan mengucurkan modal hingga membuat dunia usaha terjerembab selama tiga tahun sampai dengan musim panas tahun 1932. Efek krisis semakin meluas di seluruh dunia. Terjadi penurunan indeks penjualan partai besar. Seperlima dari yang mengandalkan gaji harus kehilangan pekerjaannya di berbagai negara, termasuk di Hindia Belanda (Sugianto Padmo, 2007).
Depresi besar dunia menimbulkan situasi yang sulit untuk ekonomi di seluruh dunia, termasuk Hindia Belanda terutama di perdagangan ekspor yang semakin menurun. Walaupun demikian, bunga dari utang luar negeri masih harus dibayar hingga berakibat pada impor barang-barang hasil menurun drastis dan masih tetap rendah selama Great Depression melanda pada tahun 1931-1935. Hal tersebut menimbulkan banyak kesulitan perekonomian di seluruh daerah jajahan. Kondisi ini juga menimbulkan bangkrutnya perusahaan-perusahaan perkebunan baik di Jawa maupun di Sumatra. Jika diurutkan dampak utama dari depresi bagi Hindia Belanda adalah 1) harga pasar semakin jatuh dan permintaan komoditas internasional menurun, 2) terdapat permasalahan dalam usaha tanaman perdagangan khususnya gula dan karet, 3) krisis keuangan yang terjadi di hampir seluruh pelosok negeri disebabkan oleh berkurangnya penerimaan dan belanja negara. Hal ini mengakibatkan turunnya kesempatan kerja, pendapatan, dan daya beli masyarakat.
Kisah Wabah dan Penyakit di Nusantara
Sumber tertua yang mengisahkan wabah penyakit di bumi Nusantara adalah sebuah naskah lontar kuno yang dituliskan dalam aksara Bali dengan bahasa Jawa Kuno pada tahun 1462 Saka (1540 Masehi). Naskah itu adalah naskah Calon Arang yang menjelaskan terjadinya wabah penyakit. Kisah Calon Arang diperkirakan hidup pada saat pemerintahan Raja Airlangga (1006-1042) di Jawa Timur (Harriyadi, 2020). Masa itu wabah dihubungkan dengan peristiwa magis dan kutukan.
Memasuki masa Islam dan masa kolonial, sumber sejarah yang dimiliki bangsa ini semakin lengkap dan rinci. Bahkan sumber sejarah tidak hanya berasal dari dalam negeri, tapi juga dari catatan-catatan dan naskah-naskah asing. Sumber-sumber tersebut turut andil di dalam merangkai potongan-potongan kisah bangsa kita. Di dalam catatan para penjelajah juga diterangkan kisah wabah penyakit yang pernah terjadi di wilayah Asia Tenggara. Di antara beberapa sejarawan yang menjelaskan hal ini adalah Anthony Reid dalam buku berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Dijelaskan bahwa hubungan perdagangan antarbangsa yang melalui jalur maritim dan perdagangan menyebabkan kemungkinan besar penyebaran berbagai penyakit. Sumber sejarah Portugis dan Spanyol juga menyebutkan bahwa penyakit cacar menjadi penyakit paling ditakuti di Asia Tenggara, karena telah banyak penderitanya yang meninggal. Wabah cacar juga pernah melanda Maluku pada tahun 1558.
Selain penduduk Maluku, penduduk Banten dan Jawa Tengah pada tahun 1622-1623 juga menghadapi wabah besar berupa “penyakit dada” yang membunuh banyak orang. Saat itu sepertiga penduduk Banten dan dua pertiga penduduk Jawa Tengah meninggal dunia. Di Makassar pada tahun 1636 juga pernah terjadi serangan wabah epidemi yang kejadiannya berlangsung sekira 40 hari dan menewaskan 60.000 orang. Kemudian di Jawa pada tahun 1643-1644 kembali terjadi wabah penyakit yang menyebabkan ratusan orang meninggal setiap hari. Pada tahun 1665 juga dikisahkan pernah terjadi wabah penyakit di Makassar, Bali, Jawa, dan Sumatra. Jumlah korban terbanyak berasal dari Jawa dan Makassar. Sekitar tahun 1625-1630 sempat terjadi wabah penyakit luar biasa besar di Indonesia. De Graaf menjelaskan wabah itu membunuh dua pertiga penduduk Jawa Tengah pada tahun 1626. Penyakit yang dulu menyerang wilayah ini adalah penyakit yang saat ini kita kenal dengan TBC.
Memasuki abad ke-20, sejarah Indonesia juga diwarnai oleh kejadian kematian akibat wabah. Sepanjang tahun 1910-1936 puluhan ribu orang meninggal akibat wabah pes di Pulau Jawa (Safitry, 2013). Pada tahun 1918-1919,wabah Influenza yang dikenal dengan Flu Spanyol menyebar di seluruh Jawa hingga ke wilayah Indonesia bagian timur. Tercatat 1,5 juta orang meninggal akibat wabah ini. De Sumatra Post edisi 11 Desember 1920 menjelaskan, Flu Spanyol menginfeksi 13,3 persen dari 35 juta penduduk Hindia Belanda pada saat itu. Kondisi saat itu juga diperparah oleh krisis pangan yang terjadi akibat adanya great depression yang menyebabkan kesengsaraan rakyat terutama di Jawa. Krisis tersebut sekaligus menghambat aktivitas pertanian dan perekonomian sehingga banyak yang kelaparan dan menambah jumlah kematian.
Perang Dunia II (PD II)
Penyebab utama PD II bermula dari konflik dan peperangan yang dilakukan oleh Italia, Jerman, dan Jepang. Konflik-konflik yang terjadi selama 1931-1939 disebabkan oleh perebutan wilayah kekuasaan milik bangsa/negara lain. Forum internasional sekelas Liga Bangsa-Bangsa tidak mampu mencegah dan menghentikan agresi Italia di Ethiopia, Jepang di Cina, dan pengambilalihan Austria oleh Jerman.
Pada tahun 2019, Saut Pasaribu menulis buku berjudul History of The World War. Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa, Amerika Serikat memprotes dan mengkritik tindakan-tindakan dari Italia, Jerman, dan Jepang. Di sisi yang lain, Inggris dan Prancis justru setuju dan membiarkan Benito Mussolini (Italia) dan Adolf Hitler (Jerman) mengambil dan menguasai wilayah yang ingin mereka kuasai. Inggris dan Prancis berharap kebijakan tersebut akan mencegah potensi perang-perang lainnya. Inggris dan Prancis telah bersepakat di kota Munich untuk membiarkan negara Jerman memiliki sebuah bagian dari Cekoslovakia yang disebut Sudetenland pada 30 September 1938. Saat itu Hitler berjanji bahwa kesepakatan ini akan menjadi permintaan teritorial terakhirnya di Eropa.
Namun keserakahan Hitler pada Maret 1939 membawanya untuk melanggar perjanjian tersebut, dengan mengambil alih sisa negeri itu. Kejadian ini seketika memancing kemarahan Inggris dan Prancis. Perdana Menteri Edouard Daladier dari Prancis dan Perdana Menteri Neville Chamberlain dari Britania Raya berjanji akan membantu Polandia jika terjadi serangan dari Nazi Jerman. Di sisi lain pada Mei tahun 1939, Italia dan Jerman menandatangani sebuah perjanjian untuk saling membantu dalam urusan perang Hitler dan para pemimpin Jerman yang lainnya meyakini kekalahan Jerman pada Perang Dunia I karena harus bertempur di dua front. Untuk mencegah pengulangan seperti itu, Hitler (Jerman) dan Joseph Stalin (Soviet) bersepakat untuk menandatangani perjanjian non-agresi selama 10 tahun pada 23 Agustus 1939. Kemudian pada 1 September 1939, Jerman mencoba mengambil Kota Danzig dan menyerbu Polandia. Kejadian penyerangan ini menyebabkan Perang Dunia II dimulai.
Setidaknya ada dua faktor yang melatarbelakangi terjadinya perang dunia II, yaitu faktor umum dan faktor khusus. Faktor umum adalah:
- Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) menciptakan perdamaian dunia.
- Munculnya keinginan melebarkan wilayah (ekspansi) di bidang ekonomi, Irredenta (Italia), Lebensraum (Jerman), dan Hakko I Chiu (Jepang).
- Munculnya paham ideologi yang saling bertentangan, yaitu fasisme, komunisme, dan liberalisme.
- Terdapat perlombaan pembuatan senjata antarnegara dan bangsa untuk memperkuat dan memperkokoh diri.
Munculnya strategi politik untuk mencari kawan (aliansi) dan dukungan menimbulkan terjadinya blok-blok antarnegara (negara menjadi terkotak-kotak) sehingga melibatkan banyak negara terlibat peperangan dahsyat ini. Dalam hal ini terdapat dua blok, yaitu Blok Fasis dan Blok Sekutu. Blok Fasis terdiri atas Jerman, Jepang, dan Italia (juga bersekutu dengan Bulgaria, Hongaria, Slowakia, Rumania, dan Kroasia). Sementara Blok Sekutu terdiri atas blok komunis dan demokrasi. Blok Komunis terdapat Uni Soviet dan Mongolia, sedangkan Blok Demokrasi beranggotakan Inggris, Prancis, Amerika Serikat, dan Republik Tiongkok (juga bersekutu dengan Afrika Selatan, Australia, Brasil, Belgia, Belanda, Cekoslowakia, Etiopia, India, Filipina, Kanada, Kuba, Meksiko, Luksemburg, Yugoslavia, Norwegia, Polandia, Selandia Baru, dan Yunani). Faktor khusus adalah:
- Invasi Jerman ke Polandia (1 September 1939).
- Invasi Jepang ke Manchuria, Cina (1931).
- Invasi Italia di Ethiopia (1935-1939).
- Serangan Jepang ke Pearl Harbor (7 Desember 1941).
Negara Jerman kemudian berhasil menaklukkan Prancis dan memberikan kesempatan kepada Jepang untuk mendirikan pangkalan militer di wilayah Indo-cina (Asia Tenggara). Kondisi seperti ini menyebabkan Jepang merasa mendapatkan peluang besar untuk mengambil alih kawasan Nusantara (Indonesia) dari Belanda. Belanda yang sangat menolak kehadiran Jepang di Asia Tenggara berusaha membekukan seluruh aset milik Jepang yang ada di Nusantara (Indonesia). Perlu dipahami bahwa selama 1938-1939 Jepang berhasil masuk ke Indonesia dengan misi ekonomi. Oleh sebab itu, Jepang memiliki aset di bumi Nusantara (Indonesia) yang masih ditahan dalam cengkeraman pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dampak paling berpengaruh dari PD II bagi Indonesia adalah pasca serangan Pearl Harbour, Belanda menyerah kepada Jepang secara resmi pada 8 Maret 1942.
Detik-Detik Belanda Menyerah kepada Jepang
Perjanjian Kalijati adalah sebuah hasil perundingan pihak Belanda dan Jepang yang ditandatangani di sebuah rumah dinas milik seorang perwira staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di daerah Lanud Kalijati, Subang, Jawa Barat pada 8 Maret 1942. Isi Perundingan Kalijati tersebut adalah bukti sejarah awal berakhirnya era pemerintah kolonial Belanda di bumi Nusantara di mana pemerintahan tersebut segera digantikan oleh pemerintah militer Jepang.
Mengutip dari National Geographic Indonesia, dijelaskan bahwa serangan terakhir Belanda terjadi di Jawa Barat. Pada 6 Maret 1942, Panglima perang Belanda Angkatan Darat yang bernama Letnan Jenderal Ter Poorten memberikan arahan kepada Komandan Pertahanan di Bandung yang bernama Mayor Jenderal JJ Pesman agar tidak melakukan peperangan di wilayah Bandung. Alasannya di kota Bandung sudah banyak penduduk sipil terutama wanita dan anak-anak kecil. Jika peperangan terjadi di sana, banyak korban warga sipil akan berjatuhan. Akhirnya Letnan Jenderal Ter Poorten berunding dengan Jepang. Singkat cerita, pada sore 7 Maret 1942, Lembang berhasil dikuasai Jepang sehingga memaksa KNIL melakukan gencatan senjata. Mayor Jenderal JJ Pesman pun akhirnya mengirimkan utusan ke Lembang untuk melakukan perundingan.
Pada 8 Maret 1942, Jenderal Imamura meminta agar perundingan dilakukan bersama dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer di Kalijati, Subang, pada pagi hari. Letnan Jenderal Ter Poorten menyarankan Gubernur Jenderal Tjarda menolak usulan tersebut. Jenderal Imamura yang marah mendengar penolakan itu pada akhirnya mengancam akan membumihanguskan Bandung dengan bom jika pada pukul 10.00 pagi hari pada 8 Maret 1942 para petinggi Belanda belum datang ke Kalijati.
Tidak ingin ancamannya dianggap sekadar gertakan, Jepang menyiapkan banyak pesawat pengebom di Landasan Udara Kalijati. Melihat situasi dan kondisi yang semakin mengkhawatirkan, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda memerintahkan Mayjen JJ Pesman agar segera menghubungi Komandan Tentara Jepang untuk melakukan perundingan. Namun utusan dari pihak Belanda ditolak oleh Panglima Jenderal Imamura. Sang Jenderal hanya ingin berbicara secara langsung dengan Panglima Tentara Belanda atau Gubernur Jenderal.
Dari Transkrip percakapan perundingan antara Jenderal Imamura, Gubernur Jenderal Tjarda, dan Letnan Jenderal Ter Poorten dapat dipahami bahwa sebenarnya pihak Belanda menolak untuk menyerahkan kekuasaannya di Jawa dan seluruh Nusantara dengan dalih bahwa wewenang penuh ada di tangan Ratu Wilhelmina. Kemudian Jenderal Imamura dengan tegas mengatakan ia hanya menginginkan salah satu dari dua hal, yaitu perang atau menyerah. Singkat cerita, akhirnya Gubernur Jenderal Tjarda dan Letnan Jenderal Ter Poorten mau menandatangani dokumen kapitulasi atau penyerahan tanpa syarat pemerintahan Hindia Belanda kepada pemerintahan Jepang.
Baca Kumpulan: Rangkuman Sejarah Kelas 11 SMA

