Tulisan Persuasi, Pengertian, Ciri dan Contoh

Tulisan Persuasi, Pengertian, Ciri dan Contoh

Tulisan Persuasi | Pengertian Tulisan Persuasi | Ciri-Ciri Tulisan Persuasi | Contoh Tulisan Persuasi |

Pengertian Tulisan Persuasi

Persuasi sering disamakan dengan argumentasi. Kenyataannya, kedua jenis tulisan itu berbeda. Walaupun sama-sama bertujuan memengaruhi pembaca, argumentasi memerlukan sebanyak mungkin bukti untuk meyakinkan pembaca bahwa masalah yang dibicarakan itu mengandung kebenaran, sedangkan persuasi tak memerlukan pembuktian yang banyak asal penulis yakin bahwa bukti-bukti itu telah memadai untuk mendapatkan kesepakatan pembaca tentang masalah yang dibahas. Dalam hal ini, merebut hati pembaca untuk menyepakati masalah yang dibicarakan paling diutamakan di dalam tulisan argumentasi.

Dalam persuasi penulis tak hanya berupaya membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang dibahasnya, tetapi dia juga berupaya ingin mengajak pembaca menyetujui dan pada saat yang sama mengikuti pendapat atau anjurannya. Dalam hal ini, diperlukan kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang sugestif dan merangsang sisi emosional pembaca. Tujuan akhirnya adalah agar pembaca melakukan atau mengikuti ajakan penulis pada saat itu atau pada waktu yang akan datang.

Tokoh-tokoh politik, perancang mode, dan ahli periklanan umumnya sangat mahir membuat persuasi. Dengan demikian, mereka akan memperoleh banyak pengikut atau pembeli, yang memang mereka harapkan sesuai dengan profesi mereka. Oleh sebab itu, tulisan persuasi sangat akrab dengan dunia politik, khususnya tulisan yang bernuansa kampanye politik, bisnis mode, dan periklanan.

Ciri-Ciri Tulisan Persuasi

Ciri-ciri tulisan persuasi umumnya sama dengan ciri-ciri tulisan argumentasi. Akan tetapi, ada ciri yang lebih khas persuasi. Ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Tulisan persuasi bersifat mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu yang dianjurkan penulis pada saat ini juga atau pada waktu yang akan datang.
  • Tulisan persuasi menekankan nada emotif untuk merangsang emosi pembaca.
  • Tulisan persuasi berupaya merebut kesepakatan pembaca tentang kebenaran masalah yang dibicarakan.
  • Tulisan persuasi memerlukan fakta yang seperlunya saja sepanjang telah diyakini mampu menimbulkan kepercayaan pembaca tentang masalah yang dibicarakan.
  • Tulisan persuasi merupakan hasil analisis situasi yang melatari pembaca secara menyeluruh, terutama tentang sesuatu yang disukai dan tak disukai dan yang boleh dan tak boleh dilakukan pembaca sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan mereka. Faktor kepercayaan dan keyakinan itu sangat penting dipertimbangkan, apa lagi yang berhubungan dengan keyakinan agama karena hal itu umumnya sangat sensitif bagi pembaca.

Contoh Tulisan Persuasi

Anugerah Dua Termasa

“Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua termasa.” Kutipan itu sudah pasti sangat akrab dengan kita. Tak ada suatu ungkapan dalam bahasa mana pun yang serupa dengannya. Itu saja telah menunjukkan kelasnya sebagai karya yang agung. Siapa pun yang akrab dengan sastra klasik Melayu pasti tahu bahwa itu adalah petikan Pasal yang Kedua, bait 3, Gurindam Dua Belas (GDB), karya agung sastrawan, budayawan, pakar bahasa, ilmuwan, sejarawan, ulama termasyhur, Pahlawan Nasional, dan Bapak Bahasa Indonesia: Raja Ali Haji (RAH). Bersempena bulan suci ibadah puasa dalam bulan yang penuh berkah ini. Bahwa bahasannya mengandung kealpaan, sangat disadari sebab itulah bukti bahwa manusia tak dianugerahi ilmu oleh Allah Yang Mahatahu, kecuali hanya sedikit. Mudah-mudahan pula, sajian ini menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan oleh para leluhur kita, “Lebih beri-memberi, kurang isi mengisi. “Ramadan ini sengaja bait itu diangkat untuk menjadi renungan, dan mudah-mudahan menuntun, kita dalam menunaikan ibadah puasa dalam bulan yang penuh berkah ini. Bahwa bahasannya mengandung kealpaan, sangat disadari sebab itulah bukti bahwa manusia tak dianugerahi ilmu oleh Allah Yang Mahatahu, kecuali hanya sedikit. Mudah-mudahan pula, sajian ini menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan oleh para leluhur kita, “Lebih beri-memberi, kurang isi mengisi.”

Bait 3 yang dipetik itu menggunakan kalimat negasi yang ditandai dengan kata meninggalkan pada baris pertama dan kata tidaklah pada baris kedua. Kedua-dua ungkapan negasi itu sengaja digunakan RAH untuk menegaskan amat pentingnya amanat yang terkandung di dalamnya. Puasa sebagai ibadah utama di dalam Islam seyogianya diamalkan dengan ikhlas, jangan sekali-kali ditinggalkan. Sebab apa? Sebab, di dalamnya terkandung hikmah dan anugerah Allah berupa kenikmatan yang sangat kita dambakan, baik dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini maupun lebih-lebih sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Jadi, meninggalkan puasa, bukan hanya berdosa, melainkan juga menyia-nyiakan anugerah yang, padahal, pasti diberikan Allah kepada makhluknya yang beriman dan bertakwa.

Termasa adalah kosakata bahasa klasik Melayu, yang di dalam bahasa modern Melayu dan atau bahasa Indonesia berubah bunyinya menjadi tamasya. Secara harfiah, artinya ‘keindahan’. Itulah sebabnya, dalam bahasa kita sekarang ada kata bertamasya yang bermakna ‘pergi melihat tempat-tempat yang indah-indah’. Secara konotatif, termasa atau tamasya dapat bermakna ‘kenikmatan, kebahagiaan, dan kegembiraan’.

Related posts