Tulisan Argumentasi | Pengertian Tulisan Argumentasi | Syarat-Syarat Tulisan Argumentasi | Struktur Tulisan Argumentasi | Ciri-Ciri Tulisan Argumentasi | Perbedaan dan Persamaan Tulisan Eksposisi dan Tulisan Argumentasi | Contoh Tulisan Argumentasi |
Pengertian Tulisan Argumentasi
Argumentasi adalah jenis tulisan yang berupaya memengaruhi pembaca agar pembaca menyesuaikan pendapat, pandangan, dan sikap mereka sejalan dengan penulis. Oleh sebab itu, penulis argumentasi akan berusaha menyajikan pendapat, pandangan, dan atau sikapnya disertai dengan bukti-bukti, alasan, dan fakta-fakta sehingga pembaca merasa yakin tentang masalah yang dibahas oleh penulis. Dalam hal ini, argumentasi lebih menekankan pembuktian-pembuktian terhadap topik yang dibicarakan. Agar benar-benar meyakinkan, bukti-bukti, alasan, data, dan fakta yang disajikan haruslah sahih dan akurat.
Karena mengharuskan pembuktian-pembuktian, penyusunan tulisan argumentasi memerlukan pengumpulan data-data. Makin banyak data yang dikumpulkan untuk kemudian disajikan sebagai penunjang tulisan, makin meyakinkan pembuktian yang dilakukan oleh penulis di dalam tulisannya. Data-data itu dapat berupa angka-angka statistik, grafik, peta, pendapat para pakar, dan lain-lain. Di samping itu, argumentasi dapat juga menggunakan fakta-fakta yang dikumpulkan dari pengamatan dan atau penelitian, yang hasilnya diperoleh melalui proses analisis dan sintesis.
Syarat-Syarat Tulisan Argumentasi
- Penulis mengetahui benar topik yang dibicarakannya karena kekuatan jenis tulisan ini pertama-tama bergantung kepada fakta-fakta, informasi, dan jalan pikiran yang menghubungkan fakta-fakta itu.
- Penulis bersedia mempertimbangkan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri sesuai dengan fakta-fakta yang ditemukan.
Struktur Tulisan Argumentasi
- Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan penulis harus menegaskan apa alasan yang tepat untuk membicarakan masalah itu pada saat itu. Dapat juga dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa lainnya yang mendapat perhatian pada waktu itu. Di samping itu, di dalam pendahuluan penulis juga dapat menjelaskan latar belakang historis yang berhubungan dengan persoalan yang diargumentasikan sehingga pembaca memperoleh pengertian dasar mengenai hal yang diargumentasikan.
Selanjutnya, pendahuluan hendaklah cukup mengandung hal-hal yang menarik perhatian pembaca. Ada baiknya disajikan kepada pembaca fakta-fakta pendahuluan yang diperlukan untuk memahami argumentasi.
- Pembuktian
Pada tahap pembuktian, penulis mengemukakan pembuktian-pembuktian tentang topik yang dibahas melalui data-data yang terkumpul hingga simpulan dilahirkan pada tahap ketiga nantinya dianggap sudah memiliki kebenaran. Oleh sebab itu, jumlah dan kualitas data yang terkumpul akan menentukan mutu tulisan argumentasi. Maksudnya, makin banyak dan makin berkualitas data yang dikemukakan, akan makin meyakinkan tulisan yang dihasilkan, yang sudah barang tentu makin bermutu pula argumentasi penulisnya. Pada gilirannya, tulisan argumentasi yang bermutulah yang mampu mencapai tujuannya, yaitu meyakinkan dan mengubah pendapat, pandangan, dan sikap pembaca sesuai dengan keinginan penulis.
- Simpulan atau Ringkasan
Simpulan argumentasi harus sesuai dengan pembuktian yang dikemukakan sebelumnya. Simpulan yang meyakinkanlah yang mungkin memengaruhi pembaca. Oleh sebab itu, simpulan harus kuat dan bernas (berisi).
Ciri-Ciri Tulisan Argumentasi
Seperti halnya tulisan eksposisi, argumentasi pun memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan tulisan jenis lain. Berikut ini adalah ciri-ciri argumentasi:
- Tulisan argumentasi berisi materi yang diolah sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan dan memengaruhi pembaca.
- Tulisan argumentasi menggunakan angka-angka statistik, data, gambar, peta, bagan, pendapat para pakar, dan lain-lain untuk membuktikan bahwa persoalan yang dibahas itu memang benar adanya.
- Tulisan argumentasi memerlukan data yang dianalisis dan disintesis dengan metode yang tepat dan baik.
- Tulisan argumentasi berupaya mengubah pandangan, pendapat, dan atau sikap pembaca terhadap masalah yang dibahas.
- Tulisan argumentasi, walaupun berupaya memengaruhi pembaca, bebas dari nada yang emosional dan subjektif.
- Tulisan argumentasi menyajikan simpulan yang meyakinkan berdasarkan data yang digunakan untuk pembuktian.
Perbedaan dan Persamaan Tulisan Eksposisi dan Tulisan Argumentasi
Persamaan
- Eksposisi dan argumentasi sama-sama bersifat menjelaskan pendapat, gagasan, dan keyakinan.
- Eksposisi dan argumentasi sama-sama bersifat menjelaskan analisis dan sintesis pada waktu membahas topik yang dikemukakan.
- Eksposisi dan argumentasi sama-sama menggali dari sumber yang sama, yaitu dari pengamatan atau penelitian, pengalaman, dan atau sikap.
- Eksposisi dan argumentasi sama-sama memerlukan fakta yang diperjelas dengan angka-angka, grafik, peta, statistik, gambar, dan sebagainya.
Perbedaan
- Tujuan eksposisi adalah menerangkan dan menjelaskan supaya pembaca benarbenar memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya, sedangkan tujuan argumentasi adalah memengaruhi pembaca supaya pembaca akhirnya berpihak kepada pendapat, keyakinan, dan atau sikap penulis.
- Peta, grafik, statistik, dan lain-lain dipergunakan dalam eksposisi untuk menjelaskan topik, sedangkan dalam argumentasi dipergunakan untuk membuktikan bahwa topik itu benar.
- Penutup dalam eksposisi berfungsi menegaskan materi yang diuraikan sebelumnya, sedangkan penutup dalam argumentasi berfungsi menyimpulkan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya.
Contoh Tulisan Argumentasi
P(em)ilu
Pemilihan umum yang disingkat pemilu merupakan istilah pungutan terjemahan dari bahasa Inggris general election. Kalau istilah dari bahasa aslinya itu dipindahkan ke dalam budaya kita yang penggemar akronim dan dengan menggunakan adaptasi (penyesuaian lafal dan atau ejaan), tentulah akan diperoleh istilah gelek (kedua-dua e pada akronim gelek itu dibaca seperti pada kata merek). Kebetulan dalam bahasa kita ada kata gelek yang bermakna ‘goyang’. Kalau sampan atau kapal diterpa gelombang sehingga bergoyang ke kiri dan ke kanan atau sebaliknya, disebutlah sampan atau kapal itu gelek adanya. Jika gerakannya terlalu kencang, kendaraan air itu pun karamlah. Jadi, gelek yang akronim general election yang diadaptasikan itu berpotensi membuat karam.
Di tempat asalnya, seperti Inggris dan Amerika Serikat, siapakah yang digelek dan menggelek dalam peristiwa pemilu itu? Yang digelek pasti para kontestan atau calon yang akan dipilih. Para calon harus betul-betul dapat meyakinkan pemilih bahwa dia memang layak menjadi nakhoda sehingga dalam keadaan segala apa pun, kapal tak akan karam. Ukurannya tentulah kemampuan dan kinerja yang ditunjukkannya selama ini yang memang berpihak kepada rakyat pemilih dan kemajuan bangsa. Kalau tidak, si calon pasti digelek (baca juga, digoyang) sekuat-kuatnya sehingga karam. Nah, yang menggeleknya adalah rakyat atau para pemilih. Dalam hal ini, rakyat memiliki standar tentang nakhoda yang mampu membawa mereka selamat sampai ke tujuan.
Dalam Pemilihan Presiden ke-44 Amerika Serikat beberapa waktu lalu, Mc Cain, calon Partai Republik, menerima akibat dari gelekan keras rakyat sehingga harus karam. Dalam pada itu, Barack Hussein Obama, calon Partai Demokrat, menerima hembusan angin buritan dari rakyat sehingga kapalnya dapat berlabuh di dermaga Gedung Putih, walaupun dia tak berkulit putih, untuk memulai kerja keras menuju pulau impian rakyat Amerika Serikat, yang memang tak semuanya orang putih. Semua itu dapat terjadi karena rakyat Amerika Serikat celik (melek) politik sehingga mampu mengarahkan haluan negara.
Di kancah domestik, yang digelek dan menggelek boleh jadi kebalikannya. Rakyat pemilih yang digelek dan kontestan berperan sebagai penggelek. Karena bangsa kita sering terpesona dan terpukau dengan slogan dan janji, sarana utama itulah yang biasa digunakan oleh para penggeleknya. Pada 2004 kita sangat terpukau dengan slogan “kebersamaan” dan “kebisaan”. Kala itu, bahkan mungkin untuk sebagian orang sampai hari ini, slogan itu ibarat dawai sakti yang memiliki kekuatan ajaib sehingga dikira dapat menyambungkan asa kita yang nyaris putus. Eeee … belum apa-apa para pembuat komitmen kebersamaan itu sudah bergerilya ke mana-mana mencari kebersamaan yang lain. Padahal, kebersamaan lama belum lagi selesai dikerjakan.






