Sejarah Perkembangan Antropologi, di Dunia dan di Indonesia

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Sejarah Perkembangan Antropologi | Perkembangan Antropologi di Dunia | Perkembangan Antropologi di Indonesia |

Perkembangan Antropologi di Dunia

Fase Pertama (sebelum abad ke-18)

Pada fase pertama, kelahiran antropologi sebagai ilmu tidak langsung dirumuskan menjadi satu disiplin keilmuan tersendiri. Se jarah kelahiran antropologi tidak terlepas dari keberadaan catatan-catatan etnografi bangsa-bangsa Eropa dimulai sejak era “merkantilisme” pada abad ke-14. Dimulai dari kedatangan bangsa Eropa Barat ke benua Asia, Afrika, Oseania, dan Amerika selama empat abad yang banyak dilakukan oleh para pedagang, musafir, pelaut, pendeta Nasrani, dan pegawai pemerintah kolonial. Mere ka mengumpulkan laporan, kisah perjalanan dan pengetahuan berupa deskripsi tentang adat istiadat, susunan masyarakat, dan ciri-ciri fisik penduduk pribumi (Gunsu, Rodliyah, and Hapsari 2019). Bahan deskripsi itu disebut etnografi yang berasal dari gabungan kata ethnos yang bermakna ‘bangsa’ dan graphy yang berarti ‘penggambaran’ (Koentjaraningrat, 2009). Namun, beberapa lapor an etnografis yang memuat pandangan orang Eropa terhadap masyarakat pribumi tersebut acap kali mengandung bias. Bias tersebut ditandai dengan laporan yang kabur, tidak teliti, dan hanya memperhatikan halhal yang dianggap menarik bagi orang Eropa.

Ada beberapa kontroversi catatan etnografis yang dibuat oleh orang-orang Eropa Barat terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan orang-orang Indian di Amerika. Pertama, adanya pendapat bahwa bangsa-bangsa di luar Eropa bukan manusia sebenarnya, melainkan manusia liar kemudian dikenal istilah savages primitives. Kedua, adanya pandangan bahwa masyarakat di luar Eropa kala itu masih murni belum mengenal kejahatan. Ketiga, adanya kumpulan-kumpulan adat istiadat dan bendabenda aneh yang diperolehnya dari bangsa-bangsa Afrika, Asia, Oseania, dan Amerika, sehingga dikumpulkan menjadi koleksi museum-museum di Eropa (Koentjaraningrat, 2009).

Fase Kedua (Pertengahan Abad ke-19)

Pada fase ini tumbuh subur penganut Darwinisme dengan teori evolusinya. Evolusi merupakan cara berpikir yang melihat manusia berevolusi dengan sangat lambat yakni dalam jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat yang rendah, melalui beberapa tingkat, sampai ke tingkat yang paling tinggi. Teori evolusi ini berkembang di Eropa pada pertengahan abad ke-19, dan segera meraih pengaruh berbagai pemikiran, tidak terkecuali antropologi. Tulisan-tulisan etnografi kala itu juga tumbuh subur dengan semangat evolusionismenya. Cara berpikir semacam ini, menurut Koentjaraningrat (2009), melihat masyarakat dan kebudayaan lahir, bertahan dan berkembang melalui proses evolusi. Cara pandang ini memiliki konsekuensi adanya cara pandang bahwa perbedaan manusia ditentukan seberapa jauh manusia telah melintasi tahap-tahap evolusinya, sehingga ada ras manusia yang dianggap unggul dan ada pula manusia yang masih dinilai primitif. Pada tahap ini antropologi sudah mulai ke ranah akademik. Sudah banyak bermunculan jurusan-jurusan antropologi di beberapa universitas di dunia.

Fase Ketiga (Permulaan Abad ke-20)

Pada fase ini antropologi dijadikan ilmu praktis yang melayani kepentingan kolonialisme Eropa untuk mengukuhkan kekuasaan di daerah-daerah jajahannya di luar Eropa. Antropologi sebagai satu ilmu yang mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa semakin penting kedudukannya. Di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Banyak sarjana antropologi mengabdikan hasil penelitian etnografinya pada pemerintah penjajah seperti Christiaan Snouck Hurgronje di Aceh. Menurut Koentjaraningrat (2009), pada fase ini antropologi mempelajari masyarakat dan kebudayaan sukusuku bangsa di luar Eropa untuk kepentingan pemerintah kolonial guna mendapatkan suatu pengertian masyarakat setempat yang kian kompleks (Koentjaraningrat, 2009).

Fase Keempat (Sesudah Tahun 1930-an)

Pada fase ini ilmu antropologi berkembang sangat pesat, baik bertambahnya bahan pengetahuan yang lebih teliti maupun bertambahnya metode-metode ilmiah (Koentjaraningrat, 2009). Hal ini didorong oleh spirit anti kolonialisme dalam rentang waktu Perang Dunia ke-2 dan hilangnya bangsa-bangsa primitif di luar Eropa. Dari segi tujuan, perkembangan ilmu antropologi pada fase keempat ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu tujuan akademis dan tujuan praktis. Tujuan akademik antropologi adalah mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari keragaman bentuk fisiknya, masyarakat serta kebudayaannya. Sedangkan tujuan praktisnya adalah mempelajari manusia dalam keragaman masyarakat suku bangsa guna membangun bangsa tersebut (Gunsu et al. 2019).

Fase Kelima (Antropologi Masa Kini)

Perkembangan terkini, antropologi telah memasuki fase kelima. Kajian tentang perkotaan, politik, kebencanaan, hingga perkembangan masyarakat digital menjadi arena kajian para antropolog pula. Antropologi bahkan tampil sebagai disiplin ilmu yang merespon perkembangan dan tantangan zamannya. Kajiankajian antropologi misalnya merespon isu ancaman perubahan iklim yang berdampak besar bagi lingkungan dan keberlanjutan kehidupan manusia. Antropologi juga menaruh perhatian terhadap Revolusi Industri 4.0 yang memunculkan fenomena disrupsi pada segala bidang. Pada gilirannya, studi-studi antropologi merambah pada beragam arena yang terhubung dengan kompleksitas manusia, masyarakat, kebudayaan, dan lingkungannya di zaman serba rentan dan beresiko.

Perkembangan Antropologi di Indonesia

Fase Pertama (Sebelum Abad ke-18)

Dimulai dari kedatangan orang Eropa di bumi Nusantara, Ex. W. Marsden (Inggris) di Bengkulu tahun 1873 menulis “The History of Sumatra” tentang suku-suku bangsa di Indonesia (Minangkabau, Rejang).

Fase Kedua (Pertengahan Abad ke-19)

Mulai ada catatan sejarah dari bangsa-bangsa Eropa di Nusantara misalnya catatan sejarah tentang jalur rempah.

Fase Ketiga (Permulaan Abad ke-20)

Banyak etnografi yang dibuat oleh para pendeta agama Nasrani, penerjemah Kitab Injil dan pegawai pemerintah Hindia Belanda sebagai sebuah laporan. Ilmu antropologi digunakan untuk kepentingan praktis penjajah. Misalnya kajian yang dilakukan oleh Christiaan Snouck Hurgronje di Aceh.

Fase Keempat (Sesudah Tahun 1930)

Mulai banyak para antropolog yang datang dan meneliti di Indonesia pada masa kolonialisme salah satunya yang terkenal adalah Clifford Geertz yang banyak menghasilkan karya etnografi di Indonesia.

Baca Kumpulan: Rangkuman Antropologi Kelas 11 SMA

Related posts