Raja Tarumanegara, Purnawarman memerintahkan pembuatan terusan sungai dengan maksud…

Tanya Jawab Sekolah

Raja Tarumanegara, Purnawarman memerintahkan pembuatan terusan sungai dengan maksud…

A.Memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Tarumanegara ke pesisir selatan Jawa Barat

B. Memperjelas batas dengan kerajaan lain

C. Mendorong aktivitas perekonomian di Kerajaan Tarumanegara

D. Benteng menahan serangan musuh dari arah laut

E.Menunjukkan bahwa kerajaan Tarumanegara merupakan KerajaAn yang kaya

Kunci : C

Pembahasan :

Sejak tahun 400-500 Mkerajaan Tarumanegara terletak tidak jauh dari pantai utara Jawa Barat. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, letak pusat Kerajaan Tarumanegara kira-kira di antara Sungai Citarum dan Cisadane Bukti keberadaan kerajaan ini ditunjukkan dengan ditemukannya beberapa prasasti yang juga berhuruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Sumber sejarah kerajaan Tarumanegara terutama sekali tujuh buah prasasti. Prasasti-prasasti itu berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

Ketujuh prasasti tersebut adalah sebagai berikut.

1) Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini ditemukan di pinggir sungai Ciaruron yang muaranya dekat dengan sungai Cisadane. Dalam prasasti ini tertulis bahwa “ini bekas dua kaki yang seperti kaki dewa Wisnu adalah kaki Yang Mulia Sang Pūrnawarman, raja di negeri Tārumā, raja yang gagah berani di dunia”.

2) Prasasti Kebon Kopi

Prasasti Kebon Kopi terdapat di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibung-bulang, Bogor. Pada prasasti ini ada pahatan gambar tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata (gajah kendaraan DewaWisnu).

3) Prasasti Jambu

Prasasti Jambu ditemukan di perkebunan jambu, Bukit Koleangkok, kira-kira 30 km sebelah barat Bogor. Dalam prasasti itu disebut bahwa Raja Purnawarman adalah raja yang gagah, pemimpin yang termasyhur, dan baju zirahnya tidak dapat ditembus senjata musuh.

4) Prasasti Tugu

Prasasti Tugu ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta. Prasasti ini menerangkan tentang penggalian saluran Gomati dan Sungai Candrabhaga. Mengenai nama Candrabhaga, Purbacaraka mengartikan candra sama dengan bulan sama dengan sasi. Jadi, Candrabhaga menjadi sasibhaga dan kemudian menjadi Bhagasasi kemudian menjadi bagasi, akhirnya menjadi menjadi Bekasi.

5) Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Bogor.

6) Prasasti Muara Cianten

Prasasti Muara Cianten ditemukan di daerah Bogor.

7) Prasasti Lebak

Prasasti Lebak ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan Muncul, Banten Selatan. Prasasti ini menerangkan tentang keperwiraan, keagungan, dan keberanian Purnawarman sebagai raja dunia. Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang pada abad ke-5 M dengan raja terkenal adalah Purnawarman. Ia dikenal sebagai raja yang jujur, adil, dan arif di dalam memerintah yang kekuasaannya sampai ke daerah Banten. Kerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan dengan kerajaan lain, misalnya dengan Cina. Dalam kehidupan agama, sebagian besar masyarakat Tarumanegara memeluk agama Hindu. Berdasarkan berita dari Fa[1]Hien, di Tolomo ada tiga agama, yakni agama Hindu, agama Budha dan kepercayaan animisime. Raja memeluk agama Hindu. Hal itu diperkuat dengan adanya gambar tapak kaki raja yang diibaratkan tapak kaki Dewa Wisnu, pada prasasti Ciaruteun. Untuk memajukan bidang pertanian, raja memerintahkan pembangunan irigasi dengan cara menggali sebuah saluran sepanjang 6112 tumbak (±11 km). Saluran itu disebut dengan Sungai Gomati. Saluran itu selain berfungsi sebagai irigasi juga untuk mencegah bahaya banjir. Dari berita ini juga dapat diketahui bahwa penduduk Tarumanegara sudah mengenal penanggalan. Sebab dikatakan bahwa pelaksanaan penggalian saluran itu dimulai pada tanggal 8 paro petang bulan Palguna dan diakhiri pada tanggal 13 paro terang bulan Caitra. Dalam prasasti itu tidak disebutkan tahunnya. Setelah selesai penggalian, raja mengadakan upacara kurban dengan memberikan hadiah 1.000 ekor lembu kepada para brahmana. Raja juga memerintahkan mengadakan penggalian Sungai Candrabhaga. Sampai abad ke-7, perkembangan Kerajaan Tarumanegara masih dapat diketahui. Misalnya, pada waktu Tarumanegara mengirim utusan ke Cina. Akan tetapi dalam perkembangan berikutnya tidak ada keterangan yangjelas.

Pengaruh Perkembangan Agama Hindu-Budha terhadap Masyarakat Indonesia

1 . Seni Bangunan

Bentuk candi-candi di Indonesia yang pada hakikatnya adalah punden berundak. Punden berundak merupakan unsur Indonesia asli. Candi Borobudur merupakan salah satu contoh dari bentuk akulturasi tersebut.

2. Seni Rupa dan Seni Ukir

Relief yang dipahatkan pada dinding-dinding pagarlangkan di Candi Borobudur yang merupakan pahatan riwayat Sang Budha. Di sekitar Sang Budha terdapat lingkungan alam Indonesia, seperti rumah panggung dan burung merpati.

3. Seni Sastra dan Aksara

Berkembangnya huruf Pallawa dari India ke Indonesia, mendorong berkembangnya karya-karya sastra. Pada prasasti[1]prasasti ada unsur India dengan unsur budaya Indonesia. MisaInya, ada prasasti dengan hurufNagari (India) dan huruf Bali Kuno (Indonesia). Salah satu pengaruh yang sangat terkenal dari kedatangan Hindu Budha di Indonesia adalah perkembangan seni sastra dan aksara atau tulisan. Bentuk wiracarita ternyata sangat terkenal di Indonesia, terutama kitab Ramayana dan Mahabarata. Kemudian timbul wiracarita hasil gubahan dari para pujangga Indonesia. Misalnya, Baratayuda yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Juga munculnya cerita-cerita berbentuk Carangan. Walaupun naskah tersebut kandungan utamanya berasal dari India, namun telah digubah oleh para sastrawan Indonesia.

4. Filsafat dan Sistem Kepercayaan

Ketika pengaruh India masuk, pemujaan terhadap roh nenek moyang tidak punah. Hal ini yang menyebabkan terjadinya perubahan fungsi candi di Indonesia selain sebagai tempat pemujaan juga sebagai tempat menyimpan abu jenazah tokoh yang telah meninggal dunia. Tentunya tidak semua candi berfungsi seperti itu. Di atas peripih tempat penyimpanan abu jenazah raja didirikan patung raja dalam bentuk mirip dewa yang dipujanya. Ini jelas merupakan perpaduan antara- fungsi candi di India dengan tradisi pemakaman dan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia.

5. Sistem Pemerintahan

Kedatangan agama Hindu Budha di Indonesia dapat dikatakan hanya meneruskan sistem yang terbentuk dalam masyarakat Indonesia. Bahwa munculnya berbagai kerajaan Hindu Budha di Indonesia telah diawali dengan munculnya sistem pemerintahan kesukuan masyarakat Indonesia. Kepercayaan bahwa pemimpin harus mempunyai berbagai kelebihan kemudian bergabung dengan kepercayaan Hindu Buddha tentang keududukan seorang raja. Setelah pengaruh India masuk, maka pemimpin suku diubah menjadi raja dan wilayahnya disebut kerajaan. Hal ini secara jelas terjadi di Kutai. Sehingga, semenjak itulah tumbuh dan berkembang kerajaan bercorak Hindu Buddha di Indonesia.

Related posts