Potensi dan Sebaran Sumber Daya Alam Indonesia, Potensi Sumber Daya Alam

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Potensi dan Sebaran Sumber Daya Alam Indonesia | Potensi Sumber Daya Alam Indonesia |

Potensi Sumber Daya Alam Indonesia

Kehutanan

Indonesia memiliki berbagai jenis hutan, seperti hutan sabana, hutan lumut, hutan hujan tropis, hutan hujan pegunungan, hutan mangrove, hutan musim, dan lainnya. Keseluruhan hutan yang ada memiliki peran pada kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat hutan salah satunya pada hutan tropis yaitu mampu menjaga keberlangsungan hidup berbagai jenis vegetasi yang memiliki daun lebar. Pada hutan tropis juga terdapat pohon rotan yang memiliki nilai tinggi dan banyak diminati sebagai komoditas ekspor.

Hamparan lahan yang luas dalam satu kesatuan ekosistem yang berisi sumber daya hayati disebut hutan. Pepohonan dengan alam lingkungan lainnya dimana satu sama lain tidak bisa dipisahkan merupakan bagian utama kawasan hutan (PP No. 23/2021; UU RI No. 41/1999). Pada tahun 2015, kawasan hutan di Indonesia tercatat sejumlah 120.773.441,71 ha. Papua merupakan daerah yang memiliki hutan terluas di negara Indonesia. Berikut ini uraian jenis hutan yang ada di Indonesia.

Hutan Hujan Tropis

Hutan yang di dalamnya terdapat berbagai variasi tumbuhan dan memiliki kerapatan yang tinggi disebut hutan hujan tropis. Sinar matahari tidak bisa mencapai permukaan tanah dan memiliki suhu bulanan >18o . Daerah yang memiliki hutan ini memiliki curah hujan tahunan minimum sebesar 1.750 mm – 2.000 mm. Hutan ini berada pada daerah kering, dataran rendah hingga ketinggian 1.200 mdpl, tanah subur, dan memiliki jumlah bulan kering < 2 per tahun. Tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Hutan Musim (Monsun)

Hutan campuran pada daerah yang memiliki curah hujan tahunan 1.500 – 4.000 per tahun disebut hutan musim. Jumlah bulan kering berkisar 4-6 per tahun. Pada musim kering, pohon yang ada di hutan musim beradaptasi dengan menggugurkan daunnya (mengurangi penguapan) agar dapat tetap hidup dan berkembang. Jenis pohon ini meliputi Jati, Kesambi, Bilang, Bungut, dan Dlingsem. Hutan ini tersebar di wilayah Indonesia bagian tengah yaitu Jawa dan Nusa Tenggara.

Hutan Hujan Pegunungan

Hutan ini memiliki pohon-pohon yang senantiasa hijau dan tidak pernah menggugurkan daunnya. Selain itu, hutan ini memiliki kerapatan tumbuhan yang tinggi. Contohnya rasamala, pinus, damar, dan jemuju. Jenis hutan ini terdiri dari tiga bagian subzona, yaitu submontana (1.000 – 1.500 mdpl), montana (1.500 – 2.400 mdpl), dan subalpin (> 2.400 mdpl). Hutan ini ada di Sumatra, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan.

Hutan Sabana

Hutan dengan mayoritas tumbuhannya berupa semak belukar dan diselingi padang rumput dan tanaman berduri disebut hutan sabana. Tumbuhan yang tumbuh di hutan ini mampu tumbuh meskipun dengan curah hujan yang rendah.

Hutan Rawa

Hutan yang ditumbuhi pohon berakar lutut dengan tunas yang selalu terendam dan memiliki tanah aluvial yang tergenang air tawar disebut hutan rawa. Pohon di hutan rawa memiliki tajuk berlapis yang mencapai ketinggian 50 hingga 60 m. Contoh tumbuhannya seperti pohon jelutung, rengas, resak, serta ramin. Hutan ini ada di sepanjang pantai timur Papua, Kalimantan, dan Sumatra.

Hutan Mangrove/pantai/pasang surut/payau/bakau

Formasi hutan khas tropika adalah jenis hutan ini. Hutan mangrove terdapat di pantai berlumpur, sedikit berpasir, dan tenang. Pohon yang mendominasi pada hutan ini yaitu bakau. Tersebar di pantai Sumatra, Papua, Jawa, Bali, Maluku, dan Kalimantan.

Hutan Gambut

Daerah beriklim tipe A dan B yang memiliki tanah organosol atau histosol banyak ditumbuhi hutan gambut. Hutan jenis ini memiliki pH rata-rata 3,5 – 4,0 dan selalu digenangi air tawar secara periodik. Hutan ini tumbuh di tumpukan bahan organik dan keberlangsungan hidupnya tergantung pada hujan. Hutan ini tersebar di Kalimantan Barat, Papua, Riau (Sumatra), dan Kalimantan Tengah.

Hutan Lumut

Banyaknya lumut yang tumbuh menutupi muka tanah dan batang pohon disebut hutan lumut. Hutan ini ada pada daerah dengan ketinggian >1.000 mdpl, seperti di wilayah Papua, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Sumatra.

Berdasarkan UU No.41 tahun 1999, fungsi hutan di Indonesia terbagi menjadi 3 jenis, yaitu hutan produksi, hutan konservasi, dan hutan lindung. Hutan produksi merupakan kawasan hutan yang mempunya fungsi untuk memproduksi hasil hutan seperti kayu, rotan, dan gaharu (Golar et al., n.d.). Sedangkan hutan yang memiliki fungsi utama pengawetan/pemeliharaan keanekaragaman flora dan fauna beserta ekosistemnya disebut hutan konservasi (Safe’i et al., 2018). Selanjutnya hutan yang memiliki fungsi pokok sebagai sistem penyangga kehidupan yang mengatur kesuburan tanah, menjaga tata air, mencegah banjir, mencegah intrusi air laut, dan mengendalikan erosi disebut hutan lindung (Haryani & Rijanta, 2019).

Keberadaan ketiga jenis hutan sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia, hewan, tumbuhan, serta ekosistem.

Kelautan

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan sebutan negara maritim. Wilayah Indonesia sebagian besar berupa perairan dengan luas laut 5,9 juta km2. Indonesia juga negara nomor dua dengan garis pantai terpanjang yaitu 95.161 km setelah Kanada (Arianto, 2020). Oleh karena itu, Indonesia juga memiliki sumber daya kelautan yang melimpah. Indonesia memiliki laut yang luas dan potensi yang tinggi. Hal ini meliputi hutan mangrove (4,25 juta ha atau 19% dari luas hutan mangrove dunia), terumbu karang (18% dari luas terumbu karang dunia), dan padang lamun.

Potensi sumber daya kelautan indonesia terbagi menjadi dua, yaitu potensi SDA kelautan yang dapat diperbarui dan tidak dapat diperbarui. Potensi SDA kelautan yang dapat diperbarui (renewable resource) terdiri atas potensi kelautan, hutan mangrove, dan potensi bioteknologi. Potensi SDA kelautan yang tidak dapat diperbarui seperti tambang dasar laut berupa aluminium, mangan, tembaga, dan sebagainya.

Potensi Hutan Mangrove

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di sepanjang pantai (estuari) pada daerah tropis yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove bermanfaat dalam segi fisik, penguatan ekonomi, dan biologis. Dalam segi fisik, hutan mangrove dapat mencegah erosi, abrasi air laut, mengolah limbah beracun, dan lainnya. Sedangkan secara ekonomi, hutan ini dapat dijadikan sebagai sumber penghasil kayu, tempat wisata, bahan bangunan dan lainnya. Secara biologis, dapat dijadikan sebagai sumber plasma nutfah, tempat pemijahan dan perkembangbiakan ikan, kerang, kepiting, dan perkembangbiakan satwa burung, dan lainnya.

Potensi Perikanan

Potensi SDA yang dapat diperbaharui berupa potensi perikanan tersebar di seluruh pesisir di wilayah Indonesia. Potensi yang tinggi ini baik dari jenis keanekaragamannya hingga jumlahnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki potensi perikanan pelagis. Jenis ikan pelagis besar, tuna, dan cakalang banyak ditemukan di Indonesia bagian timur. Jenis ikan pelagis kecil banyak ditemukan di Indonesia bagian timur. Selain jenis ikan tersebut, ikan bandeng dan udang merupakan jenis ikan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat pesisir Indonesia.

Potensi Lamun

Lamun merupakan tumbuhan yang sepenuhnya sudah beradaptasi dengan terendamnya air laut. Lamun ini dapat mencapai kedalaman empat meter. Pantai dengan lumpur, pecahan kerang, kerikil, dan pasir merupakan daerah tumbuhnya lamun. Selain itu, daerah pasang surut juga menjadi daerah tempat tumbuhnya lamun. Seiring waktu berjalan, pertumbuhan dan perkembangan lamun akan membentuk seperti padang. Keberadaan lamun bermanfaat sebagai tempat habitat biota, pendaur zat hara, dan penangkap sedimen.

Terumbu Karang

Bangunan kapur yang diciptakan oleh jasad hidup seperti alga berkapur dan karang batu disebut terumbu karang. Keberadaan sumber daya alam ini sangat penting untuk mendukung keberlangsungan hidup manusia. Kebermanfaatan ini meliputi sebagai objek wisata, pelindung fisik pantai (menahan dan memecah gelombang air laut), dan sumber daya hayati (menghasilkan alga, udang karang, teripang, dan kerang mutiara).

Terumbu karang terluas di dunia ada di negara Indonesia. Kekayaan ini meliputi keragaman hayati di dalamnya dan jumlah luas terumbu karangnya. Keragaman hayati pada terumbu karang Indonesia juga merupakan kekayaan tertinggi di dunia. Keragaman hayati ini meliputi karang sebanyak 590 jenis, moluska sebanyak 2500 jenis, udang-udangan sebanyak 1500 jenis, dan ikan sebanyak 2500 jenis.

Terumbu karang memiliki berbagai manfaat dari segi sosial-ekonomi, ekonomi, dan ekologis. Terumbu karang yang dijadikan sebagai sumber penghasilan bagi nelayan merupakan manfaat secara sosial-ekonomi. Pemanfaatan terumbu karang sebagai benteng pelindung daerah pesisir dan pencegahan abrasi dari gelombang laut merupakan manfaat dari segi ekologis. Selain itu, terumbu karang juga memiliki manfaat ekonomi secara khusus yaitu dimanfaatkan sebagai destinasi wisata bahari, obat-obatan, dan dijadikan sebagai sumber makanan. Terumbu karang tersebar di Indonesia bagian tengah dan timur meliputi Papua, Sulawesi, Lombok, dan Bali. Selain itu, terumbu karang juga dapat ditemui di pantai barat dan ujung Sumatra, serta di Kepulauan Riau.

Pariwisata

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan dengan berbagai suku, bahasa, ras, budaya, agama, dan berbagai macam keindahan alam yang dapat dijumpai. Keberagaman yang ada di Indonesia menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan budaya (Rahma, 2020). Dengan keberagaman yang ada Indonesia menjadi negara dengan tujuan pariwisata setiap tahunnya.

Sumber daya yang ada di Indonesia sangat mendukung untuk pengembangan pariwisata. Sumber daya di Indonesia sangat beragam seperti sumber daya alam, budaya, kuliner dan kekayaan yang ada di tanah air lainnya (Destiana & Astuti, 2019). Sumber daya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sektor pariwisata merupakan sektor yang menjanjikan dalam mendatangkan devisa dan menciptakan lapangan kerja. Pariwisata adalah segala aktivitas wisata yang didukung dengan sarana prasarana untuk kepentingan hiburan atau kepentingan pribadi lainnya. Pariwisata juga berarti rangkaian kegiatan wisata yang didukung fasilitas dan layanan dari masyarakat, pengusaha, dan pemerintah (UU No. 10/2009). Sedangkan kegiatan perjalanan yang bertujuan untuk pengembangan diri, perluasan pengetahuan, rekreasi, dan proses belajar dalam jangka waktu tertentu mengenai destinasi wisata yang dilakukan seorang atau kelompok tertentu disebut wisata. Potensi pariwisata Indonesia diuraikan di bawah ini.

Wisata Alam

Kegiatan rekreasi yang memanfaatkan keberadaan sumber daya alam secara alami maupun dengan budi daya disebut wisata alam. Keunikan dan keragaman kondisi alam menjadi daya tarik utama dalam wisata ini. Wisata ini dapat menimbulkan kecintaan terhadap alam. Contoh dari wisata ini yaitu wisata petualangan, bahari, dan ekowisata.

Wisata Budaya

Kegiatan rekreasi dengan tujuan untuk memperkaya dan perluasan sudut pandang hidup manusia tentang budaya, adat istiadat, keadaan rakyat, perilaku, dan kebiasaan disebut wisata budaya. Wisata ini meliputi wisata sejarah (situs purbakala dan candi), kuliner, wisata kota/ desa, dan warisan budaya lainnya.

Wisata Buatan

Kegiatan rekreasi dengan tujuan, cara, upaya, aktivitas, dan pengaruh manusia disebut wisata buatan. Ini berkaitan dengan hasil kreasi manusia. Wisata ini mencakup wisata olahraga, taman hiburan, pameran karya, dan lainnya.

Ketiga wisata di atas memiliki keterkaitan satu sama lain. Ketiga jenis wisata ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Pembangunan destinasi wisata Indonesia terdiri dari dua perwilayahan (PP No. 50/2011) sebagai berikut:

  • Lima puluh destinasi pariwisata nasional (DPN) ditetapkan ada pada 34 provinsi di Indonesia
  • Delapan puluh kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) yang tersebar pada 50 DPN. Kawasan strategis pariwisata nasional adalah kawasan yang memiliki fungsi utama sebagai wilayah pariwisata atau memiliki potensi dalam pengembangan pariwisata nasional. KSPN memiliki potensi dengan memberikan pengaruh baik kepada dua atau lebih aspek lainnya. Aspek tersebut meliputi budaya, pertumbuhan ekonomi, daya dukung lingkungan, keamanan, dan pertahanan.

Tambang

Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak dalam kawasan “Ring of Fire”. Posisi Indonesia yang terletak di pertemuan Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik menjadikan Indonesia memiliki banyak gunung berapi (Utomo & Purba, 2019). Magma yang keluar dari perut bumi pada wilayah “Ring of Fire” mengandung berbagai logam berharga (Sunan & Pratomo, 2020). Oleh karena itu, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi bahan tambang yang melimpah.

Pertambangan adalah kegiatan pengambilan endapan bahan galian berharga dan bernilai ekonomis dari dalam kulit bumi, baik secara mekanis maupun manual yang terletak di permukaan, di bawah permukaan bumi, dan di bawah permukaan air. Pertambangan menurut UU No.4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara merupakan tahapan kegiatan penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan, dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang (Alkhabsi & Trianda, 2020). Oleh karena itu, sumber daya tambang merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat menguntungkan bagi negara.

Bahan tambang terbagi menjadi 3 golongan, yaitu golongan A, B, dan C. Hal tersebut sesuai dengan isi UU No.4 Tahun 2009. Bahan galian A merupakan bahan strategis yang berfungsi untuk pertahanan, keamanan, dan perekonomian negara seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam (Lutfi et al., 2019). Bahan galian B merupakan bahan vital karena untuk menjamin kepentingan hidup orang banyak seperti besi, mangan, tembaga, dsb (Arianto, 2020). Bahan galian C merupakan bahan yang tidak termasuk dalam bahan galian A dan B, serta mudah untuk didapatkan seperti marmer, pasir, pasir kuarsa, dsb (Alkhabsi & Trianda, 2020).

Berdasarkan wujudnya, barang tambang dibedakan menjadi tiga, yaitu padat, cair, dan gas. Barang tambang berwujud padat seperti batu bara, nikel, bijih besi, dan bauksit. Minyak bumi merupakan barang tambang berwujud cair, dan gas bumi merupakan contoh dari barang tambang berwujud gas.

Minyak bumi

Minyak bumi dan gas bumi merupakan sumber energi yang banyak digunakan untuk keperluan industri, transportasi, dan rumah tangga. Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) menyatakan cadangan minyak mentah akan bertahan untuk sekitar 23 tahun. Kebanyakan produksi minyak di Indonesia dilaksanakan oleh para kontraktor asing menggunakan pengaturan kontrak pembagian produksi. Chevron Pacific Indonesia, anak perusahaan Chevron Corporation adalah produsen minyak mentah terbesar di negara ini, berkontribusi sekitar 40% dari produksi nasional. Pemain-pemain besar lainnya di industri minyak Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina, Total, ConocoPhillips, PetroChina, CNOOC, Medco, BP, Kodeco, dan Exxon Mobil.

Ladang Minyak Banyu Urip di Jawa Timur, bagian dari Blok Cepu, memiliki cadangan minyak terbesar (mengandung sekitar 450 juta barel minyak) yang belum dieksploitasi dan dapat berkontribusi secara signifikan untuk volume produksi minyak Indonesia. Proyek yang dikelola Exxon Mobil dan Pertamina ini, dengan kepemilikan saham masing-masing 45% (melalui anak-anak perusahaannya Mobil Cepu dan Pertamina EP Cepu), mulai beroperasi di 2015. Produksi diperkirakan untuk mencapai tingkat puncak pada 165.000 barel per hari di 2016. Selanjutnya Ladang Minyak Bukit Tua (bagian dari Blok Ketapang di Jawa Timur, dioperasikan oleh Petronas Carigali) mulai beroperasi di bulan Maret 2015 dan produksi mungkin meningkat menjadi 20.000 barel per hari pada akhir 2015. (indonesia-investments.com)

Batu Bara

Batu bara digunakan sebagai sumber energi untuk berbagai keperluan. Energi yang dihasilkan batu bara dapat digunakan untuk pembangkit listrik, untuk keperluan rumah tangga (memasak), pembakaran pada industri batu bata atau genteng, dan sebagainya. Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan pemilik cadangan batu bara terbesar dunia. Indonesia memiliki cadangan batu bara sebanyak 0,5% dari cadangan batu bara dunia. Akan tetapi pemanfaatan batu bara tersebut masih belum optimal. Sejak tahun 2016, pemanfaatan batu bara domestik masih pada kisaran 20-25% dan selebihnya diperuntukkan bagi ekspor.

Batu bara menjadi salah satu hasil tambang mineral di Indonesia. Hasil produksi batu bara di Indonesia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), produksi barang tambang mineral di tahun 2017 adalah sebanyak 461.087.221 ton, tahun 2018 sebesar 557.983.706 ton, dan tahun 2019 sebanyak 616.154.054 ton.

Pemerintah berupaya meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan batu bara dalam negeri. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara mengamanatkan agar tidak lagi dilakukan ekspor bahan mentah. Pengembangan di sektor mineral dan batu bara dimaksudkan sebagai salah satu upaya mengoptimalkan produk hasil pertambangan.

Terdapat tujuh skema hilirisasi untuk batu bara yang disiapkan pemerintah, mulai dari peningkatan mutu batu bara, pembuatan briket, pembuatan kokas, pencairan batu bara, gasifikasi batu bara termasuk underground coal gasification, dan campuran batu bara-air. Selain itu, UndangUndang tersebut juga mengamanatkan pemanfaatan batu bara. Salah satunya pemanfaatan secara mandiri oleh pemegang izin usaha pertambangan untuk pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di mulut tambang. (apbi-icma.org).

Salah satu perusahaan di Indonesia yang akan menerapkan proses hilirisasi batu bara ialah PT Bukit Asam Tbk. Dalam pembangunanya, PT Bukit Asam Tbk bekerjasama dengan PT Pertamina dan Air Products and Chemicals, Inc. (USA) sebagai investor. PT Bukit Asam Tbk akan melakukan hilirisasi dengan teknologi gasifikasi yang dilakukan di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatra Selatan.

Melalui proses gasifikasi batu bara akan diubah menjadi dimethyl ether (DME), maka nilai batu bara akan bertambah. Persiapan pembangunan proyek batu bara menjadi DME ini akan dimulai pada awal tahun 2021 dan ditargetkan pabrik beroperasi pada Triwulan-II tahun 2024. DME dapat digunakan sebagai alternatif pengganti LPG yang angka impornya terus meningkat setiap tahun. Dengan adanya proses hilirisasi batu bara menjadi DME, diharapkan impor LPG dapat ditekan dan ketahanan energi nasional dapat dipertahankan.

Nikel

Nikel merupakan suatu logam mengkilap dengan warna putih keperakperakan. Nikel memiliki beberapa sifat sebagai berikut a) keras dan mulus, b) bila terkena udara tidak mengalami perubahan, c) tahan terhadap oksidasi, d) pada suhu ekstrim masih bisa mempertahankan sifat aslinya, dan e) banyak digunakan dalam berbagai industri serta aplikasi komersial.

Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah. Indonesia memiliki 30% cadangan nikel dunia, yaitu sebesar 21 juta ton yang ditemukan di Halmahera Timur di Maluku Utara, Morowali di Sulawesi Tengah, pulau Obi di Maluku Utara, dan pulau Gag di Kepulauan Raja Ampat. Bijih nikel laterit (limonit dan saprolit) merupakan komoditas umum di industri nikel di Indonesia yang sangat berlimpah. Kondisi ini menjadi alasan dibangunnya industri baterai kendaraan listrik berjenis NCA (nikel kobalt aluminium oksida) dan NMC (nikel mangan kobalt oksida).

Empat badan usaha milik negara, yaitu PLN, Antam, Inalum, dan Pertamina membentuk Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk mendukung upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas mineral yang lebih strategis. IBC membuka kesempatan bekerja sama untuk proyek sektor hilir berdasarkan profitabilitas. Kerja sama ini mencakup kemampuan akses pasar dan pen-danaan untuk mengembangkan produksi mineral dari cadangan perusahaan. Selain itu, IBC juga turut serta dalam upaya hilirisasi nikel dengan membangun smelter feronikel di Halmahera Timur bernama Haltim. Smelter ini memiliki kapasitas produksi 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun. (bkpm.go.id),

Bijih besi

Seperti yang kita ketahui, bijih besi merupakan salah satu unsur yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak jenis besi yang kita temui berasal dari peleburan dan pencampuran antara bijih besi dengan unsur lainya. Bijih besi memiliki beberapa manfaat seperti: bahan baku pembuatan kawat dan besi baja, bahan dasar dalam pembuatan lampu penerangan jalan dan tiang rambu lalu lintas, bahan baku pembuatan besi tempa dan besi tiang, serta bahan pembuatan baja sedang dan lunak.

Indonesia yang kaya bijih besi ini disebabkan oleh struktur geologi yang dimiliki Indonesia yang sangat kompleks. Sumber daya bijih besi yang tersebar di tiap Provinsi Indonesia mencapai 1 miliar ton (kurang lebih 0,49% dari total sumber daya dunia). Daerah penghasil Bijih Besi di Indonesia dapat dijumpai di Cilacap (Jawa Tengah), Cilegon (Banten), pulau Derawan (Kalimantan Selatan), pulau Sebuku (Kalimantan Selatan), Gunung Tegak (Lampung), Lengkabana (Sulawesi Tengah), Longkana (Sulawesi Tengah), dan Pegunungan Verbeek (Sulawesi Tengah). Penambangan bijih besi skala besar di Indonesia banyak dilakukan di daerah Kalimantan Selatan. Sementara pertambangan skala kecil lainnya banyak dilakukan di daerah Kalimantan Barat, Jambi, Riau, Bangka Belitung, dan Sulawesi Utara. (duniatambang. co.id).

Bauksit

Bauksit merupakan suatu mineral yang susunannya didominasi oleh oksida aluminium dengan warna kekuningan atau putih. Aluminium tersebut banyak digunakan untuk industri pesawat terbang, onderdil otomotif, dan perkapalan yang banyak menggunakan bauksit secara masif. Kementerian Perindustrian mendorong percepatan industri pemurnian dan pengolahan bauksit menjadi alumina. Salah satu daerah yang mengembangkan industri ini ialah Kalimantan Barat. Salah satu fasilitas pemurnian bauksit yang menghasilkan alumina yaitu PT Well Harvest Winning di Ketapang, Kalimantan Barat.

Fasilitas pemurnian ini tepatnya ber-lokasi di Sungai Tengar, Mekar Utama, Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Jika menggunakan perjalanan darat dari ibukota Kalbar, Pontianak, mencapai 17 jam atau sekitar 480 km. Ketapang merupakan salah satu dari 14 kawasan industri yang tengah dikembangkan Kemenperin dengan konsentrasi pengolahan alumina.

Kemenperin menghitung nilai tambah industri bauksit berlipat-lipat dibanding bahan mentah. Kalkulasinya, bijih bauksit sebanyak 6 ton yang sekitar USD 3,85 per ton (nilai penjualan USD 23,1) menghasilkan metallurgical grade bauxite (MGB) sebanyak 3 ton yang harganya USD 38 per ton (nilai penjualan USD 114). (kemenperin.go.id).

Proses terbentuknya bahan galian, khususnya tambang, sangat beragam dengan waktu yang sangat lama. Bahan tambang umumnya terbentuk ratusan juta tahun yang berasal dari endapan tumbuhan, hewan, serta plankton. Waktu yang diperlukan setiap bahan tambang untuk terbentuk tergantung pada jenis tambang itu sendiri.

Bahan tambang tergolong dalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Oleh sebab itu diperlukan tindakan yang tepat dalam pemanfaatan dan pengelolaannya. Kegiatan pertambangan terdiri atas kegiatan observasi dan eksploitasi di permukaan bumi maupun di daerah litosfer.

  • Observasi pada kegiatan pertambangan dilakukan dengan pengamatan ke daerah yang secara teoritis diperkirakan memiliki sumber tambang.
  • Eksplorasi pada kegiatan pertambangan dilakukan dengan penyelidikan terhadap keadaan mineral tambang serta kemungkinannya untuk dimanfaatkan secara ekonomis. Eksplorasi terdiri atas dua macam kegiatan, yakni kegiatan penyelidikan tentang jumlah mineral dan persebarannya, serta keuntungan ekonomisnya jika sudah dikelola, dan penentuan syarat teknis.

Baca Kumpulan: Rangkuman Geografi Kelas 11 SMA

Related posts