Peran Tokoh Ulama dalam Penyebaran Islam di Indonesia (Metode Dakwah Islam Oleh Wali Songo di Tanah Jawa), Sejarah Pra Wali Songo, Sejarah Masa Wali Songo, Metode Dakwah (Rangkuman Materi PAI SMA Kelas 10 Bab 10 ) Kurikulum Merdeka

  • Whatsapp
Menyederhanakan Bentuk Aljabar, Struktur, Penyederhanaan Suku Banyak, Perkalian dan Pembagian Suku Tunggal (Rangkuman Materi Informatika SMP/MTS Kelas 8 Bab 1 ) Kurikulum Merdeka

Rangkuman Materi PAI SMA Kelas 10 Bab 10 | Kurikulum Merdeka | Peran Tokoh Ulama dalam Penyebaran Islam di Indonesia (Metode Dakwah Islam Oleh Wali Songo di Tanah Jawa) | Dakwah Islam Periode Pra Wali Songo | Sejarah Dakwah Islam Masa Wali Songo | Metode Dakwah Wali Songo |

Dakwah Islam Periode Pra Wali Songo

Dalam buku The Golden Kersonese: Studies in the Historical Geography of The Malay Peninsula Before A.D. 1500, karya P. Wheatley, Islam masuk ke Indonesia pada pertengahan abad ke-7. Dan yang paling awal menyebarkan ajaran Islam ke tanah Jawa adalah para pedagang Arab, melalui jalur perdagangan dengan Nusantara, jauh sebelum Islam. Pada abad ke-7 di masa kekuasaan Ratu Simha di kerajaan Kalingga yang terkenal keras dalam penegakan hukum, datangnya para pedagang Arab diberitakan cukup banyak oleh sumber-sumber dari Dinasti Tang di Cina. Dalam Islam Comes to Malaysia, S.Q. Fatimi menuliskan bahwa pada abad ke-10 Masehi telah terjadi migrasi keluarga yang berasal dari bangsa Persia. Dan di antara migrasi keluarga-keluarga tersebut yang terbesar adalah sebagai berikut:

  • Keluarga Lor

Yaitu keluarga yang datang ke Nusantara pada zaman Raja Nashirudin bin Badr yang memegang pemerintahan di wilayah Lor, Persia pada tahun 300 H/912 M. Keluarga Lor ini tinggal di Jawa dan mendirikan sebuah perkampungan dengan nama Loran atau Leran, yang artinya adalah tempat tinggal orang Lor.

  • Keluarga Jawani

Keluarga Jawani adalah keluarga yang datang pada zaman Jawani al-Kurdi yang memerintah Iran pada kurun waktu tahun 301 H/913 M. Keluarga ini menetap di Pasai, Sumatera Utara. Keluarga inilah yang menyusun khat Jawi, yang artinya tulisan Jawi yang diambilkan dai nama Jawani, Sultan Iran waktu itu.

Baca Juga :   Modul Ajar Seni Musik (SD, SMP, SMA) Kurikulum Merdeka 2022


  • Keluarga Syiah

Yaitu keluarga yang datang ke Nusantara pada masa pemerintahan Ruknuddaulah bin Hasan bin Buwaih ad-Dailami pada kurun waktu 357 H/969 M. Keluarga ini tinggal di bagian tengah Sumatera Timur, dan mendirikan perkampungan dengan nama Siak, yang kemudian berkembang menjadi Negeri Siak.

  • Keluarga Rumai

Adalah keluarga yang datang dari Puak Sabankarah yang menetap di utara dan timur Sumatera. Penulis-penulis Arab, kemudian memberikan sebutan untuk pulau Sumatera dengan nama Rumi, al-Rumi, Lambri atau Lamuri.

Dapat dikatakan, bahwa secara umum proses masuknya Islam ke Nusantara yang ditandai dengan kedatangan para saudagar Arab dan Persia pada abad ke-7 Masehi, terbukti tidaklah mulus, namun ada kendala hingga memasuki abad ke-15. Terdapat jeda dan rentang waktu sekitar delapan abad sejak pertama kali Islam datang ke Nusantara yaitu masa di mana Islam belum dianut secara luas oleh penduduk pribumi. Dan baru kemudian pada abad ke-15, yaitu masa dakwah Islam yang dipelopori oleh tokoh-tokoh sufi yang dikenal dengan sebutan Wali Songo, Islam dapat diterima dan diserap ke dalam asimilasi dan akulturasi budaya Nusantara.

Sejarah Dakwah Islam Masa Wali Songo

Wali Songo bagi masyarakat muslim Indonesia, memiliki makna khusus yang berhubungan dengan keberadaan tokoh-tokoh masyhur di Jawa. Mereka berperan penting dalam upaya dakwah dan perkembangan peradaban Islam pada abad ke-15 dan abad ke-16 Masehi. Dalam buku Sekitar Wali Songo yang dituliskan oleh Solichin Salam, Wali Songo berasal dari Wali dan Songo.

Kata wali berasal dari bahasa Arab, suatu bentuk singkatan dari kata waliyullah, yang artinya adalah ‘orang yang mencintai dan dicintai Allah Swt.’ Dan kata songo yang merupakan Bahasa Jawa yag berarti ‘sembilan’.

Metode yang dipergunakan untuk penyebaran agama Islam di Jawa, dilakukan oleh para wali dengan memanfaatkan budaya lokal yang berkembang saat itu. Seperti halnya wayang, tembang-tembang atau syair Jawa, gamelan atau alat musik Jawa serta upacara-upacara adat yang dipadukan dengan unsur-

Baca Juga :   Modul Ajar Seni Rupa (SD, SMP, SMA) Kurikulum Merdeka 2022

unsur ajaran Islam. Para wali memasukkan nilai-nilai dan ajaran agama ke dalam berbagai unsur budaya tersebut, sehingga dari yang sebelumnya masih bernuansa ajaran Hindu-Budha, maka terjadilah asimilasi dan akulturasi budaya dengan ajaran Islam yang menghasilkan harmonisasi dan keserasian.




Adapun Sembilan orang wali yang diyakini masyarakat sebagai Wali Songo adalah sebagai berikut:

  • Sunan Gresik
  • Sunan Ampel
  • Sunan Bonang
  • Sunan Drajat
  • Sunan Kalijaga
  • Sunan Kudus
  • Sunan Muria
  • Sunan Gunung Jati
  • Sunan Giri

Metode Dakwah Wali Songo

Ceramah

Merupakan strategi dakwah yang dilakukan dengan jumlah jamaah yang cukup banyak. Sampai dengan saat ini, metode ini masih sering dipergunakan oleh para mubaligh, ustadz atau penceramah dalam rangka syiar Islam kepada masyarakat luas.

Tanya Jawab-Diskusi

Metode ini tidak saja dilakukan dalam konteks dakwah, namun dalam penyampaian materi di dunia pendidikan pun, masih menggunakan metode ini, karena dirasa masih efektif untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan pemikiran orang lain, serta efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai pada seseorang yang terlibat dalam forum diskusi dan tanya jawab tersebut. Terhadap tokoh-tokoh masyarakat garis keras pun, para wali menerapkan metode diskusi atau musyawarah untuk mencapai sebuah kesepakatan tentang sikap saling toleran dan menghormati satu sama lain dengan baik.

Keteladanan

Wali Songo memberikan teladan yang nyata kepada masyarakat. Seorang tokoh agama dan seorang mubaligh harus mampu memberikan teladan, karena masyarakat akan benar-benar secara suka rela mengikuti ajaran yang dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa mulia lahir dan batin, dan layak dijadikan figur panutan oleh mereka

Pendidikan

Pesantren-pesantren, pengajian dan juga pengajaran yang dilakukan oleh para Wali Songo merupakan lembaga yang produktif untuk melakukan transfer of knowledge dan transfer of value kepada para santri (murid) yang belajar di dalamnya.

Bi’tsah dan Ekspansi

Beberapa Wali Songo menempuh strategi mengirimkan utusan kepadabeberapa daerah tertentu untuk melakukan ekspansi dan perluasan syiarIslam. Contoh yang dilakukan oleh Sunan Giri yang mengirimkan utusansekaligus bertindak sebagai juru dakwah keluar Pulau Jawa yaitu Madura, Bawean, Kangean, Ternate dan Tidore. Hal ini semakin menjadikanakselerasi ketersebaran ajaran Islam di Nusantara terjadi dengan lebih cepat.

Baca Juga :   Download Buku Siswa Bahasa Indonesia SMA / SMK / MA Kelas 10, 11, 12 Kurikulum Merdeka

Kesenian

Kekayaan budaya, bahasa, adat dan kesenian daerah menjadi salah satumetode yang mengalami akulturasi dan asimilasi dengan nilai-nilai danajaran Islam yang populer sebagai media dakwah pada masa Wali Songo.Bagaimana para wali menyisipkan ajaran-ajaran Islam pada kesenian wayang yang semula berisi kisah-kisah Maha Bharata dari India, disisipkan kisah-kisah bernuansa Islami, kesenian gamelan dengan gending-gending Jawa yang syairnya digubah sedemikian rupa dengan syair yang berisi syiar Islam, nilai-nilai tauhid, kerelaan menyembah Allah Swt, tidak menyekutukannya dengan menyembah sesuatu selain dari Allah Swt dan sebagainya. Hal tersebut menjadi sarana dakwah yang efektif karena para wali bisa menyisipkan tuntunan Islam melalui tontonan budaya yang sangat ampuh untuk menarik minat dan perhatian masyarakat untuk lebih memperdalam ajaran Islam.

Silaturrahim

Para Wali Songo tidak jarang melakukan kunjungan dan silaturahim kepada masyarakat. Menyisipkan pesan damai, ajaran Islam yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, disampaikan dengan akhlak yang baik dan penuh dengan adab dan sopan santun, sehingga membuat masyarakat menjadi tertarik dan terpesona dengan keindahan ajaran Islam yang dibawa oleh para wali tersebut. Demikianlah, Wali Songo melakukan upaya-upaya dakwah dengan penuh kedamaian. Pendekatan kepada masyarakat pribumi, dilakukan dengan menggunakan akulturasi dan asimilasi budaya Islam dengan budaya lokal.

Metode ini merupakan metode yang dikembangkan oleh para sufi golongan Sunni yaitu menerapkan ajaran Islam dengan keteladanan yang baik. Adapun aliran teologi yang dianut oleh para Wali Songo merupakan aliran teologi Asy’ariyah dan ajaran sufisme mengarah kepada ajaran sufi dari Al-Ghazali.

Baca Kumpulan: Rangkuman PAI Kelas 10 SMA




Related posts