Wali Songo dan Pembentukan Masyarakat Islam di Nusantara, Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Hikmah dan Pesan

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Wali Songo dan Pembentukan Masyarakat Islam di Nusantara | Sunan Gresik | Sunan Ampel, Sunan Bonang | Sunan Drajat | Sunan Kudus | Sunan Giri | Sunan Kalijaga | Sunan Muria | Sunan Gunung Jati |Hikmah dan Pesan Damai dari Dakwah Wali Songo di Tanah Jawa |

Sunan Gresik

Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gresik, merupakan tokoh yang pertama kali dipercaya sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Jawa. Diperkirakan Maulana Malik Ibrahim datang ke Gresik pada kurun waktu tahun 1404 M.

Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ulama yang berasal dari Arab. Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai nasab dan asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, namun masyarakat pada umumnya menyepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Ia juga disebut dengan julukan Syekh Maghribi yang kemungkinan mengisyaratkan asal keturunannya, yakni wilayah Arab Maghrib di Afrika Utara. Peran dakwah Maulana Malik Ibrahim dilakukan di Gresik hingga wafat pada tahun 1419 M.

Kerajaan yang berkuasa pada saat era dakwah Maulana Malik Ibrahim adalah Kerajaan Majapahit yang kebanyakan masyarakatnya masih menganut ajaran Hindu atau Budha, mengikuti agama dari raja yang saat itu berkuasa. Kondisi keberagamaan masyarakat Gresik waktu itu sudah terbelah. Karena sudah ada yang menganut Islam, tapi masih banyak yang menganut agama Hindu, bahkan masih ada yang tidak menganut agama apa pun sama sekali.

Namun sifat ramah dan penuh dengan kedamaian yang dimiliki oleh Maulana Malik Ibrahim tidak hanya kepada umat Islam saja tetapi juga kepada pada penganut Hindu dan Budha membuat dirinya dikenal sebagai tokoh yang dikagumi dan dihormati. Kelembutan yang ada dalam dirinya itulah yang menarik hari penduduk setempat secara suka rela masuk agama Islam dan menjadi pengikutnya.

Apalagi dalam ajaran Islam tidak mengenal kastanisasi sebagaimana ajaran Hindu sebelumnya. Pada ajaran Hindu, terdapat sistem kasta yaitu pengelompokan atau penggolongan manusia berdasarkan golongan tertentu yaitu: (1) Kasta paling tinggi adalah kasta Brahmana yaitu golongan tokoh agama, pendeta dan rohaniawan yang bekerja di bidang spiritual; (2) kasta yang kedua adalah Ksatria, yaitu golongan bangsawan, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan; (3) kasta ketiga adalah Waisya yaitu para pekerja di sektor ekonomi seperti pedagang; dan (4) kasta Sudra yaitu para pekerja yang bertugas untuk membantu dan melayani para kasta di atasnya.

Dari keempat kasta tersebut, kasta Sudra-lah yang merupakan kasta yang paling banyak dijumpai di Gresik. Kasta ini terdiri dari rakyat jelata, orang miskin, orang-orang yang tertindas dan orang-orang yang kurang pandai. Pada umumnya mereka adalah pekerja kasar di sektor informal, yang tidak diijinkan untuk bergaul dan menikah dengan orang yang berlainan kasta. Hal tersebut menjadikan Maulana Malik Ibrahim tergerak untuk melakukan perbaikan, karena dalam ajaran Islam, pengelompokan manusia berdasarkan kasta merupakan kerusakan moral dan tidak sesuai dengan ajaran Islam, di mana tidak ada yang membedakan derajat satu orang dengan orang yang lain melainkan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Di antara peninggalan-peninggalan Sunan Gresik adalah percampuran, asimilasi dan akulturasi budaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang fleksibel, tidak kaku dan tidak mengandung unsur paksaan bagi pemeluknya. Dan seharusnya metode dakwah seperti inilah yang dianut oleh para pendakwah kontemporer saat ini. Dalam menghadapi adat istiadat, tradisi, kepercayaan, aliran dan kelompok-kelompok yang berbeda golongan, hendaklah yang dikedepankan adalah sifat humanis, ramah, damai dan menebar kemuliaan, sehingga Islam dapat diterima sebagai sebuah agama dengan pesan damai, bukan sebaliknya, Islam dipandang sebagai kelompok ekstrim dan radikal karena sikapnya terhadap umat dan golongan lain yang sekiranya berbeda.

Sunan Ampel

Nama asli dari Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Ia lahir pada tahun 1401 M kemudian datang ke pulau Jawa sekitar tahun 1443 M., dan meninggal pada tahun 1481 M. di Demak dan dimakamkan di Ampel, Surabaya. Ia merupakan putra Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dari seorang istri yang berasal dari Negeri Champa. Para sejarawan kesulitan untuk menentukan Negeri Champa tersebut, namun sebagian mereka berkeyakinan bahwa Champa yang dimaksud adalah sebutan sebuah daerah bernama Jeumpa di Aceh.

Sunan Ampel mengenalkan ajaran yang sangat berkaitan dengan kebiasaan masyarakat kala itu, yaitu ajaran Moh Limo. Moh Limo berasal dari Bahasa Jawa yaitu emoh (tidak mau) dan limo (lima). Artinya ajaran yang mengajak masyarakat untuk tidak melakukan lima hal yang tercela. Kelima hal tersebut adalah:

  • Moh main yaitu tidak mau berjudi, mengundi nasib dan memasang taruhan
  • Moh ngombe yaitu tidak mau mabuk, minum-minuman keras dan mengkonsumsi arak/tuak.
  • Moh maling yaitu tidak mau mencuri dan mengambil barang yang bukan miliknya.
  • Moh madat yaitu menolak untuk merokok, menggunakan narkotika dan hal-hal lain yang memabukkan
  • Moh madon yaitu menolak untuk bermain perempuan yang bukan istrinya.

Sunan Ampel menyampaikan ajaran tersebut dengan cara yang lembut dan tanpa paksaan, tanpa kekerasan dan semua aktivitas dakwahnya dilakukan dengan cara ‘mengundang’ bukan dengan ‘menyuruh’. Dan yang harus diperhatikan oleh generasi Islam pada zaman modern saat ini adalah sejak pedagang Arab masuk ke Nusantara untuk pertama kalinya, Islam tidak pernah melakukan kekerasan karena Islam membawa misi perdamaian, baik dalam urusan ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Hal inilah yang menjadi factor utama cepat berkembangnya Islam di tanah Jawa.

Sunan Bonang

Sunan Bonang merupakan salah satu dari Wali Songo yang berperan dalam menyebarkan Islam di pulau Jawa, melanjutkan misi dakwah yang disampaikan sebelumnya oleh Sunan Ampel. Nama asli Sunan Bonang adalah Raden Makdum Ibrahim lahir sekitar abad ke-14 Masehi, kurang lebih pada tahun 1465 M dan wafat pada tahun 1525 M dan dimakamkan di Tuban, Jawa Timur. Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel dengan istrinya Dewi Candrawati, puteri dari salah satu tumenggung kerajaan Majapahit di wilayah Tuban, sehingga dapat dikatakan bahwa Sunan Bonang merupakan keturunan dari salah seorang pembesar kerajaan Majapahit. Nama Sunan Bonang diberikan kepadanya karena salah satu media yang ia pergunakan untuk berdakwah adalah menggunakan alat musik tradisional yaitu gamelan, dan salah satu instrument musiknya bernama bonang. Dengan strategi dan media dakwah tersebut semakin banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya, sehingga lama kelamaan Raden  akdum Ibrahim lebih dikenal dengan nama Sunan Bonang.

Syair-syair dengan nilai sastra berisi tentang keindahan dan disisipkan ajaran-ajaran Islam yang diciptakan oleh Sunan Bonang ini, kemudian dikenal dengan nama Suluk. Sampai saat ini suluk-suluk tersebut masih dapat dibaca dan dipahami sebagai referensi untuk menjalankan ajaran dakwah Islam di era modern saat ini pun. Suluk tersebut berbentuk prosa atau puisi-puisi yang kemudian dilantunkan dengan iringan alat musik bonang.

Sunan Bonang memang tidak pernah tercatat memiliki pasukan dari pengikutnya, untuk memerangi masyarakat yang enggan memeluk agama Islam. Pun juga tidak pernah melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang menentangnya. Justru dengan kepandaiannya berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat setempat, ia mampu menyatu dengan aspek-aspek kehidupan yang kemudian ia manfaatkan untuk menyisipkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.

Memang seharusnya demikianlah strategi dakwah yang harus dilakukan untuk menyampaikan ajaran kepada masyarakat, dilakukan dengan penuh kedamaian, tidak konfrontatif, penuh kelembutan dan kasih sayang serta menghindari permusuhan dengan tidak memancing dan terpancing untuk melakukan dakwah dengan kekerasan, apalagi pada masyarakat yang majemuk dan plural di era modern saat ini.

Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah salah satu putra dari Sunan Ampel, dan merupakan saudara dari Sunan Bonang. Nama aslinya adalah Raden Qosim atau juga dikenal dengan nama Syarifuddin. Ia lahir pada abad ke-15 M. sekitar tahun 1470 M. dan wafat pada tahun 1522 M. dan dimakamkan di Desa Drajat, wilayah Lamongan Jawa Timur.

Ia melakukan dakwah pertama kali di wilayah Gresik. Dakwahnya dilakukan dengan menyusuri pantai utara Jawa. Sepanjang perjalanan dakwahnya Sunan Drajat bertemu dengan masyarakat penganut Hindu-Budha dan berdakwah secara langsung. Tidak seperti Sunan Bonang yang menggunakan media gamelan untuk menyampaikan misi dakwahnya kepada masyarakat saat itu.

Ia terkenal dengan nasihat-nasihatnya tentang kehidupan yang kemudian disesuaikan dengan ajaran Islam. Sunan Drajat memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara yang bijak dan tidak memaksa.

Dalam menyampaikan ajarannya ia menemput empat cara yaitu:

  • Pengajian secara langsung di langar atau musala
  • Penyelenggaraan pendidikan di pesantren
  • Memberikan nasihat dan fatwa untuk penyelesaian sebuah masalah
  • Melalui kesenian tradisional yaitu melalui tembang pangkur (pangudi isine Qur’an/mendalami makna Al-Qur’an) dengan iringan gending gamelan.

Adapun inti dari ajaran Sunan Drajat adalah Catur Piwulang (Empat Pengajaran) yaitu:

  • Paring teken marang wong kang kalunyon lan wuto (memberikan tongkat kepada orang yang buta)
  • Paring pangan marang wong kang kaliren (memberi makan kepada orang yang kelaparan)
  • Paring sandhang marang wong kang kawudan (memberi pakaian kepada orang yang telanjang)
  • Paring payung marang wong kang kodanan (memberikan payung kepada orang yang kehujanan)

Sunan Drajat banyak memberikan pesan-pesan yang menjadi pengingat bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang menekankan pada perdamaian, baik perdamaian kepada Yang Maha Kuasa maupun perdamaian kepada diri sendiri. Ia selalu mengingatkan murid-muridnya agar selalu bersikap saling tolong menolong terhadap sesama demi terciptanya sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang akur dan makmur.

Sunan Kudus

Sunan Kudus merupakan salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan Isalm di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan. Ia diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1500 M. di daerah Jipang Panolan, sebelah utara kota Blora, wafat tahun 1550 M. dan dimakamkan di Kudus, Jawa Tengah. Ayahnya adalah Sunan Ngudung dan ibunya Bernama Syarifah. Jika diurutkan nasabnya, Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad Saw.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus adalah mengadopsi cara-cara yang telah dilakukan sebelumnya oleh Sunan Bonang. Penjelasan mengenai metode dakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut:

  • Tidak menggunakan jalan kekerasan atau radikalisme untuk mengubah masyarakat yang masih taat dengan kepercayaan lamanya. Ia memberikan kelonggaran terhadap tradisi yang sudah berkembang sejak lama, namun pelan-pelan ia sisipkan ajaran Islam kedalamnya.
  • Jika ada tradisi atau kebiasaan buruk yang berkembang di masyarakat, maka selagi hal tersebut dapat dirubah, maka Sunan Kudus berusaha merubahnya dengan pelan-pelan
  • Mengembangkan prinsip tutwuri handayani yaitu turut membaur dan ikut serta dalam kegiatan masyarakat, dan sedikit demi sedikit menanamkan pengaruh lalu berkembang menjadi prinsip tutwuri hangiseni yaitu perlahan-lahan menberikan nuansa Islam di dalamnya
  • Tidak melakukan perlawanan dan konfrontasi langsung terhadap tindak kekerasan.
  • Berusaha menarik simpati masyarakat agar tertarik dengan ajaran Islam.
  • Masyarakat Kudus saat itu masih banyak yang menganut kepercayaan Hindu-Budha. Meski sebagian kecil sudah ada yang menganut agama Islam,

Sunan Kudus memahami bahwa ada 8 (delapan) ajaran pada agama Budha yang dikenal dengan Asta Sanghika Marga, yang kemudian simbol jumlah 8 tersebut dijadikan sebagai jumlah pancuran wudlu yang ia bangun. Asta Sanghika Marga tersebut adalah:

  • Memiliki pengetahuan yang benar
  • Mengambil keputusan yang benar
  • Berkata yang benar
  • Bertindak yang benar
  • Hidup dengan cara yang benar
  • Bekerja dengan benar
  • Beribadah dengan benar
  • Menghayati agama dengan benar

Dan nampaknya strategi yang dilakukan oleh Sunan Kudus ini menarik umat Budha. Kemudian banyak masyarakat yang datang ke masjid kemudian Sunan Kudus mulai mengenalkan ajaran Islam. Terhadap persoalan adat istiadat, Sunan Kudus tidak serta merta menentang masyarakat yang sering menabur bunga di jalan, meletakkan sesajen di kuburan, dan adat-adat lain yang dianggap melenceng dari ajaran Islam dan mengandung unsur syirik. Sunan Kudus justru berfikir bahwa hal tersebut bisa dijadikan media untuk menarik masyarakat. Ia memodifikasi hal-hal tersebut dan mengarahkannya agar sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Pola pendekatan semacam inilah yang mendatangkan simpati dan ketertarikan masyarakat untuk mempelajari Islam, bukan sebaliknya dengan mengedepankan sifat-sifat kekerasan dalam menentang dan memberantas kebiasaan dengan atas nama pemberantasan tahayul, bid’ah dan khurafat dengan serta merta menghapuskan adat lama, yang telah berkembang sebelumnya. Karena jika hal tersebut dilakukan bukan simpati yang akan diperoleh namun kebencian, resitensi dan penolakan dari masyarakat yang akan diterima. Dalam hal ini Sunan Kudus memberikan teladan yang sangat berguna yaitu strategi dakwah yang masih relevan kiranya diterapkan di era modern saat ini, tentu dengan menyesuaikan kultur dan karakter masyarakat di sekitar kita, dan kecerdasan dalam merumuskan strategi yang tepat tanpa melukai dan menyakiti hati siapa pun. Dan inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Sunan Giri

Nama asli dari Sunan Giri adalah Raden Paku dan memiliki nama panggilan lain yaitu Ainul Yaqin. Ia lahir di Blambangan (sekarang Banyuwangi) pada abad ke-15 M. sekitar tahun 1442 M., wafat pada tahun 1506 M., dimakamkan di Dusun Giri, Desa Giri, Gresik, Jawa Timur. Ayahnya bernama Maulana Ishaq (saudara kandung Maulana Malik Ibrahim/ Sunan Gresik) dan ibunya adalah seorang putri yang bernama Dewi Sekardadu.

Di kalangan Wali Songo, Sunan Giri dikenal sebagai seorang wali yang ahli dalam bidang politik ketatanegaraan. Pandangan politiknya dijadikan rujukan, bahkan ketika Raden Patah melepaskan diri dari kerajaan Majapahit, Sunan Giri dipercaya meletakkan dasar-dasar kerajaan masa perintisan atau ahlal-halli wa al-‘aqd (sebuah lembaga atau dewan yang berwenang dalam memutuskan tentang pengangkatan seorang pemimpin dalam sistem politik Islam/ semacam DPR dalam era pemerintahan modern) di kerajaan Demak Bintoro. Dalam bidang budaya, Sunan Giri mengembangkan dakwah Islam dengan memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Sunan Giri di kenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana dan Pucung, Padhang Bulan, Jor, Gula Ganti dan permainan anak Cublak-cublak Suweng.

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga termasuk salah seorang dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Said yang lahir pada sekitar tahun 1450 M. di Tuban dan wafat pada abad ke-16 M. sekitar tahun 1580 M. Dapat dikatakan bahwa Sunan Kalijaga hidup selama lebih dari 100 tahun. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, dan ibunya bernama Dewi Retno Dumilah.

Ayahnya merupakan seorang tumenggung di wilayah Tuban, di bawah pemerintahan kerajaan Majapahit.

Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai seorang dalang yang mahir memainkan wayang kulit. Dengan media ini Sunan Kalijaga mampu menarik perhatian banyak orang untuk berkumpul, menyaksikan dan mengadakan pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga membuat cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat. Kemudian Sunan Kalijaga menyelipkan ajaran-ajaran Islam di dalam lakonnya. Dengan metode yang demikian, masyarakat yang menyaksikan pertunjukan wayang itupun akan tertarik untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam.

Dalam hal berpakaian, Sunan Kalijaga tidak menggunakan pakaian jubah atau pakaian seperti yang dikenakan oleh para ulama yang lain. Sunan Kalijaga membaur dengan masyarakat sehingga masyarakat tidak merasa asing dengannya, bahkan menganggapnya seperti masyarakat Jawa kebanyakan dan masyarakat pun menerimanya dengan senang hati. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa, penting terlebih dahulu merebut hati masyarakat, dan yang paling utama adalah bagaimana masyarakat mau menerima kehadirannya. Dengan demikian, setelah masyarakat mau menerima kehadirannya, maka pelan-pelan mereka pun akan menerima ajarannya. Sedemikian elok strategi, kesabaran, kesungguhan dan kegigihan para wali dalam menyebarkan agama Islam, bil hikmah wal maudlatil hasanah sehingga begitu cepatnya ajaran Islam diterima oleh masyarakat.

Sunan Muria

Sunan Muria termasuk salah satu Wali Songo yang dilahirkan pada abad ke-15 M. dan wafat pada awal abad ke-16 M. dan dimakamkan di Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Nama aslinya adalah Raden Umar Said atau Raden Prawoto. Ia merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Sarah binti Maulana Ishak. Ia menikah dengan Dewi Sujinah yang merupakan putra Sunan Ngudung dan menjadi adik ipar dari Sunan Kudus.

Salah satu keberhasilan dakwah Sunan Muria sebagaimana para wali lainnya adalah kemampuannya memahami kondisi sosial masyarakat. Tradisi lama yang sebelumnya bercorak Hindu-Budha yang disesuaikan dengan ajaran Islam, kemudian tetap dilestarikan dan menjadi kekayaan budaya Nusantara dan kearifan lokal di Indonesia saat ini, sehingga tidak tercerabut dan punah begitu saja.

Berikut ini catatan sejarah tentang alasan mengapa Sunan Muria lebih senang berdakwah kepada masyarakat lapisan bawah, adalah karena ia mengikuti jejak ayahandanya Sunan Kalijaga. Dalam hal ini, para sejarawan menggolongkan pola dakwah Wali Songo menjadi dua tipe yaitu:

  • Golongan Abangan

Golongan ini disebut juga aliran Tuban atau aluran. Dalam berdakwah para wali yang termasuk dalam golongan ini menggunakan cara-cara yang moderat, lunak dan menggunakan media kesenian dan kebudayaan serta tradisi yang  sudah ada di masyarakat dan menyisipkan dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. Termasuk pada golongan ini adalah Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunungjati. Golongan ini lebih suka melakukan dakwahnya kepada rakyat jelata.

  • Golongan Putihan

Golongan ini juga disebut aliran santri. Mereka berdakwah dengan menggunakan metode yang langsung bersumber dari Al-Qur’an dan sunah, pedoman umat Islam pada umumnya. Golongan ini lebih suka berdakwah kepada golongan ningrat dan bangsawan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah Sunan Giri, Sunan Ampel dan Sunan Drajat.

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari Wali Songo yang lahir pada tahun 1450 M. dengan nama asli Syarif Hidayatullah. Ia adalah putra dari Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, dari seorang ibu bernama Nyai Rara Santang. Jamaluddin Akbar kakek buyut dari Syarif Hidayatullah adalah seorang mubaligh besar dari Gujarat, India yang dikenal dengan Syekh Maulana Akbar. Ia merupakan keturunan Rasulullah Saw. dari jalur Husain bin Ali.

Sunan Gunungkati adalah seorang wali yang memberikan banyak kontribusi untuk penyebaran agama Islam. Ia pun pernah mengunjungi Prabu Siliwangi, kakeknya di Kerajaan Pajajaran. Saat itu ia mengajak kakeknya untuk memeluk agama Islam, namun ditolak. Meskipun demikian sang kakek tidak menghalangi cucunya untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran.

Adapun ragam metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati dalam proses Islamisasi tanah Jawa adalah sebagai berikut:

  • Metode muidlah hasanah/nasihat-nasihat yang baik
  • Metode al-hikmah/menggunakan cara-cara yang bijaksana
  • Metode tadarruj/berjenjang, tingkatan belajar seorang murid (pesantren)
  • Metode ta’awun yaitu saling tolong menolong dan berbagi ketugasan dalam menyebarkan agama Islam di kalangan para wali
  • Metode musyawarah untuk membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas dan perjuangan dakwah para wali
  • Pembentukan kader dai.

Meskipun kasultanan Cirebon adalah kerajaan Islam, namun Sunan Gunung Jati tidak serta merta hidup dalam kebudayaan yang Islami. Masih banyak corak kebudayaan lain yang dipertahankan dan diserap untuk menunjukkan bahwa Islam memiliki nilai toleransi yang tinggi terhadap kepercayaan lain. Hal tersebut terlihat dari corak ornamen, arsitektur atau pun hiasan-hiasan yang masih memasang sejumlah piring keramik sebagai hiasan dinding. Hiasan tersebut kemudian menjadi bukti kedekatan antara Tiongkok dengan budaya Islam saat itu.

Hikmah dan Pesan Damai dari Dakwah Wali Songo di Tanah Jawa

Jauh sebelum Islam datang ke Indonesia, terlebih dahulu telah berkembang agama dan budaya dengan corak Hindu-Budha. Bahkan sebelum Hindu dan Budha berkembang pun, telah didahului dengan perkembangan kepercayaan yang dianggap asli kepercayaan nenek moyang yaitu kepercayan animisme dan dinamisme.

Agama Islam datang sebagai pembaharu, yang tentu saja tidak bisa serta merta merubah begitu saja budaya dan kepercayaan lama yang telah dipegang teguh secara turun temurun oleh masyarakat Nusantara. Datangnya sebuah kebudayaan baru, tidak akan mungkin langsung mempengaruhi keseluruhan masyarakat, sehingga diperlukan proses yang bertahap dan pelan-pelan.

Para Wali Songo, menyisipkan nilai-nilai dan ajaran Islam sedikit demi sedikit melalui pendekatan budaya yang sudah berkembang di masyarakat, sehingga terjadilah apa yang dinamakan akulturasi dan asimilasi budaya yaitu adaptasi budaya lama yang sudah ada, dan disesuaikan dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam.

Metode dakwah yang dilakukan oleh para Wali Songo benar-benar merangkul dan merengkuh semua lapisan masyarakat. Tidak ada satupun wali yang melakukan cara-cara kekerasan dalam berdakwah sehingga proses adaptasi, asimilasi dan akulturasi budaya tersebut dapar berjalan dengan harmonis dan minim konflik. Dengan masuknya ajaran Islam, tidak lalu membuat tradisi Hindu dan Budha hilang begitu saja. Bentuk-bentuk budaya baru yang merupakan hasil dari proses asimilasi tersebut, tidak hanya yang bersifat kebendaan dan materialis, namun juga budaya yang menyangkut perilaku masyarakat Nusantara.

Proses masuknya budaya yang baik, adalah dengan tidak menggunakan cara-cara yang kasar dan melukai hati, meskipun juga tetap harus mengandung unsur ketegasan. Hal inilah yang selalu menjadi pegangan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara yang pada saat itu masih menganut agama kepercayaan dan masih banyak ditemui praktik syirik dan musyrik dalam kehidupan sehari-hari. Namun kiranya strategi dakwah bil lisan, bilhikmah wal mauidlatil hasanah, para wali pun menunjukkan sifat-sifat uswatun hasanah merupakan strategi dakwah yang masih relevan untuk diteladani kembali saat ini.

Tengoklah di masa modern saat ini, berkembangnya cara-cara yang tidak beretika dalam pelaksanaan dakwah Islam, memunculkan kekhawatiran akankah wajah Islam di mata pemeluk agama lain, kemudian membentuk framing dan citra yang buruk? Berkembangnya pemikiran-pemikiran ekstrim di Indonesia saat ini seolah memberi ruang untuk saling memaki, saling mencaci, saling mencela, berdebat yang tidak ada ujung pangkalnya.

Forum dan kajian dakwah Islam yang dihiasi dengan pernyataan-pernyataan menghasut dan menghina ormas lslam lain, sungguh merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan apabila masih dibiarkan dan tidak dilakukan upaya-upaya perbaikan.

Oleh karena itulah, melalui kalangan pelajar dan remaja, hendaklah Kembali digaungkan semangat berdakwah, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kelembutan, keramahan, penuh dengan norma dan sopan santun serta menghindari tindakan kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh para Wali Songo, diteladani dan dikembangkan dalam frame negara kesatuan Republik Indonesia dengan beragam suku bangsanya ini.

Bahwa dakwah adalah untuk mengajak, bukan untuk mengejek. Dakwah adalah untuk mengajar, bukan untuk menghajar, dakwah dilakukan untuk membina bukan untuk menghina, dakwah dilakukan untuk mencintai bukan untuk mencaci, dan dakwah dilakukan untuk menasehati, bukan untuk menusuk hati golongan yang lain.

Baca Kumpulan: Rangkuman PAI Kelas 10 SMA

DOWNLOAD DI SINI

Related posts