Pengertian Pemanasan Global | Fakta-Fakta Perubahan Lingkungan | Peningkatan Kadar CO2 Atmosfer di Balik Peningkatan Suhu Bumi | Mekanisme Terjadinya Efek Rumah Kaca | Aktivitas Manusia yang Menyebabkan Perubahan Lingkungan | Solusi Mengatasi Pemanasan Global |
Pengertian Pemanasan Global
Pemanasan global merupakan gejala peningkatan rata-rata suhu permukaan Bumi. Berdasarkan analisis data yang dihimpun oleh para ilmuwan di Institut Goddard NASA untuk Studi Luar Angkasa (GISS) yang ditunjukkan pada Gambar 8.2, Bumi telah mengalami peningkatan suhu global rata-rata lebih dari 1 o C sejak 1880. Badan Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi kenaikan suhu udara hingga 1,5 o C pada 2024.
Fakta-Fakta Perubahan Lingkungan
Peningkatan Suhu Permukaan Air Laut
Berdasarkan data yang dirilis badan Pengamat kondisi samudera dan atmosfer Amerika NOAA, suhu samudra secara global mengalami peningkatan sebesar 0,02 o C pada Agustus 2019. Permukaan laut mencapai suhu tertingginya sepanjang sejarah pada 2019. Suhu air laut meningkat dua sampai tiga derajat Celcius dibandingkan dengan tiga sampai lima juta tahun sebelumnya.
Ekosistem laut merupakan eksosistem yang paling sensitif terhadap peningkatan suhu. Pemanasan ini terjadi hingga kedalaman 700 meter dari permukaan laut. Berdasarkan pembagian zona lautan, wilayah kedalaman tersebut merupakan wilayah yang paling tinggi keanekaragaman hayatinya.
Suhu perairan berpengaruh pada karang. Meningkatnya suhu perairan menyebabkan karang mengalami pemutihan (bleaching), sehingga karang sulit tumbuh dan rentan penyakit sehingga terjadi kematian masal. Seperti yang telah kita ketahui bahwa karang merupakan habitat berbagai biota laut. Ketika karang mengalami kerusakan berarti kehidupan biota laut lainnya terancam.
Beberapa spesies memiliki siklus hidup dan proses reproduksi yang dipengaruhi oleh suhu. Contohnya adalah udang Krill. Udang ini bereproduksi dalam jumlah yang sedikit jika suhu perairan meningkat. Begitu pula penyu, jenis kelamin anakan penyu dipengaruhi suhu. Jika suhu perairan hangat maka anakan penyu dominan betina sedangkan jika perairan dingin maka anakan penyu dominan jantan.
Dengan demikian peningkatan suhu dapat mempengaruhi populasi organisme laut dan bahkan dapat pula menyebabkan kepunahan. Selain itu pula, peningkatan suhu berpengaruh pada penyebaran spesies dan juga penyakit laut. Pada wilayah tertentu bakteri akan meningkat jumlahnya sehingga mengurangi kadar oksigen pada wilayah tersebut. Hal ini mengakibatkan organisme lainnya bermigrasi ke tempat lainnya dan bisa berujung pada kematian.
Menghilangnya Salju Abadi di Pegunungan Puncak Jaya, Papua
Satu-satunya tempat di wilayah Indonesia yang diselimuti lapisan salju berada di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua. Salah satu puncak Pegunungan Jaya Wijaya yang terkenal adalah Puncak Cartenz. Puncak Cartenz ini masuk ke dalam tujuh puncak tertinggi di dunia (World Seven Submit) yang menjadi destinasi favorit para pendaki
Kini, hamparan es yang disebut-sebut sebagai salju abadi itu tak lagi abadi. Pada tahun 1850, gletser memiliki luasan 19,3 km2 . Pada tahun 2018, luasan gletser tersebut hanya tersisa 0,5 km2 . Proses pengurangan luas gletser tersebut seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8.4. Peristiwa berkurangnya salju abadi dari Pegunungan Jaya Wijaya ini menjadi salah satu gejala bahwa peningkatan suhu global benar-benar terjadi, sebab gletser tropis sangat rentan atau sensitif terhadap perubahan suhu.
Peristiwa mencairnya es gletser
Pegunungan Jaya Wijaya ini akan berdampak pada kuantitas dan kualitas air pada daerah tersebut, seperti perubahan debit air, suhu air, dan lain-lain. Perubahan kuantitas dan kualitas air tersebut dapat mengganggu ekosistem air tawar. Mencairnya Es di Kutub Bumi ini memiliki hamparan daratan yang berupa es. Sekitar 90% bagian hamparan daratan es berada di Antartika, sedangkan 10% bagian sisanya berada di lapisan es Greenland. Es Antartika dan Greenland memiliki peran sebagai penutup pelindung Bumi dan lautan.
Apabila dicitrakan dari luar angkasa, es Antartika dan Greenland nampak seperti hamparan atau bintik berwarna putih cerah. Putih merupakan warna yang dapat memantulkan gelombang atau panas dengan baik, sehingga fungsi hamparan putih es tersebut adalah untuk memantulkan kembali panas berlebih menuju ke luar angkasa agar suhu bumi terjaga. Hal tersebut juga menyebabkan kutub utara lebih dingin dibandingkan bagian Bumi lainnya, sehingga hilangnya es di kutub dapat memperburuk kondisi peningkatan suhu permukaan Bumi.
Perubahan kondisi gletser es di kutub dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup mahkluk hidup yang hidup di daerah tersebut. Makhluk hidup selalu berusaha melakukan adaptasi terhadap perubahan kondisi habitatnya. Akan tetapi, tidak semua mahkluk hidup dapat melakukan adaptasi terhadap perubahan kondisi habitatnya.
Salah satu hewan yang tinggal di daerah kutub dan terdampak perubahan kondisi gletser es di kutub adalah beruang es. Beruang es terpaksa mencari makanan di daratan akibat es di atas lautan banyak yang telah mencair. Berkurangnya wilayah tempat berburu beruang es tentunya mempersempit peluang bertahan hidupnya beruang es sehingga menurunkan populasi hewan ini. Jika hal ini terus terjadi secara terus menerus maka beruang es bisa mengalami kepunahan.
Kenaikan Permukaan Air Laut
Salah satu dampak mencairnya es di kutub adalah kenaikan permukaan air laut, sebab air limpasan pencairan es tentu akan bermuara di laut, dan meningkatkan ketinggian permukaan air laut. Menurut data yang dirilis oleh NASA, kenaikan permukaan air laut secara global meningkat sebesar 97 mm dengan rata-rata peningkatannya adalah 3,3 mm per tahun.
Dampak peningkatan ketinggian permukaan air laut ini akan sangat dirasakan bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di pesisir laut. Bencana banjir rob dan kenaikan permukaan air yang lebih tinggi saat terjadi pasang akan sering terjadi.
El Niño dan La Niña: Cuaca Ekstrem
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena iklim dimana sirkulasi atmosfer global berubah akibat suhu perubahan suhu permukaan air laut. ENSO memiliki dua fase yang berlawanan dan satu fase tambahan, yaitu El Niño, La Niña, dan Netral.
El Niño
Peristiwa El Niño merupakan peristiwa meningkatnya suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian timur dan tengah di atas rata-rata normal suhu permukaan laut. Pengaruh peristiwa El Niño di wilayah Indonesia adalah curah hujan cenderung berkurang. Sementara di Samudera Pasifik tropis, curah hujan meningkat. Angin permukaan tingkat rendah yang biasanya bertiup dari timur ke barat (angin timur) di sepanjang ekuator mengalami penyimpangan arah, sehingga angin bertiup dari arah barat ke timur (angin barat).
La Niña
Peristiwa La Niña merupakan peristiwa menurunkan suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian timur dan tengah di bawah rata-rata normal suhu permukaan laut. Pengaruh peristiwa La Niña di wilayah Indonesia adalah curah hujan cenderung meningkat. Sementara di Samudera Pasifik tropis, curah hujan menurun. Angin timur laut yang normal di sepanjang ekuator menjadi lebih kuat.
Netral
Kondisi netral ini bukan merupakan keadaan El Niño atau La Niña. Kondisi ini merupakan kondisi ketika suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis umumnya mendekati rata-rata. Fenomena El Niño dan La Niña ini berdampak pada makhluk hidup.
Di sisi lain, pada daerah yang perubahan musim kemaraunya panjang, mengakibatkan intensitas kebakaran hutan meningkat. Hal ini dapat terjadi karena tumbuhan banyak yang kekeringan karena kekurangan air. Oleh karena itu, penurunan populasi tumbuhan akan terjadi dan bahkan dapat menimbulkan punahnya spesies tanaman.
Peningkatan Kadar CO2 Atmosfer di Balik Peningkatan Suhu Bumi
Peningkatan kadar CO2
Peningkatan kadar CO2 di atmosfer telah dicatat sejak tahun 1958 oleh ilmuwan bernama Charles David Keeling. Selanjutnya para ilmuwan melacak data akumulasi CO2 di atmosfer bumi menggunakan kurva Keeling yang datanya diukur terus-menerus dari Observatorium Mauna Loa di Hawai.
Peningkatan kadar CO2 dari waktu ke waktu terus terjadi dimulai sejak zaman Eosen yaitu periode dalam skala geologi yang terjadi sekitar 60–40 juta tahun yang lalu. Hal ini penting dipelajari dalam sejarah catatan CO2 yang memberi bukti kuat hubungan antara tingkat CO2 dan keadaan iklim yang menghangat. Dengan mempelajari perubahan iklim bumi di masa lalu maka pemanasan global di masa yang akan datang dapat diprediksi dengan lebih baik.
Kadar CO2 yang tercatat pada 60 tahun yang lalu adalah 315 ppm. Namun, angka tersebut naik teratur melebihi 410 ppm pada tahun 2018. Catatan terakhir pada 11 Februari 2021, kadar CO2 tercatat mencapai angka 417,21 ppm, artinya terdapat 417,21 mg CO2 yang terkandung dalam satu juta mg udara).
Kandungan CO2 di atmosfer adalah hasil aktivitas manusia yang sebagian besar berasal dari penggunaan bahan bakar dari fosil baik untuk kegiatan industri maupun berkendara. Bahan bakar digunakan melalui reaksi pembakaran.
Gas CO2 hasil pembakaran diemisikan ke atmosfer sekitar 57% sedangkan sisanya masuk ke laut dan terserap oleh reaksi fotosintesis, Ingatlah bahwa Hukum Lavoisier berlaku untuk keadaan ini. Jumlah atom karbon selalu sama baik dalam bentuk CO2 di udara maupun dalam bentuk senyawa lainnya di luar emisi CO2. Oleh karena itu, emisi CO2 di udara inilah yang harus dikurangi.
Mekanisme Terjadinya Efek Rumah Kaca
Sumber panas utama permukaan Bumi adalah sinar Matahari. Energi yang dipancarkan Matahari disalurkan ke Bumi berupa radiasi, kemudian energi ini berubah menjadi panas di permukaan Bumi. Energi Matahari yang sampai di permukaan Bumi dimanfaatkan dalam menunjang aktivitas manusia, seperti mengeringkan baju, mengeringkan hasil pertanian, pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Radiasi tersebut merupakan gelombang pendek bersuhu hangat.
Gelombang pendek bersuhu hangat tersebut tidak seluruhnya diserap oleh permukaan Bumi, sebagian lagi dipantulkan kembali menuju luar angkasa berupa gelombang inframerah, sehingga suhu permukaan Bumi tidak akan kelebihan panas.
Gas-gas penyebab efek rumah kaca, seperti gas karbon dioksida (CO2), gas metana (CH4), klorofluorokarbon (CFC), nitrogen monoksida (NO2), nitrogen dioksida (NO), dan belerang dioksida (SO2) yang berada pada atmosfer Bumi menyerap energi dari gelombang pada rentang panjang gelombang 5 – 50 nm. Molekul-molekul gas rumah kaca menyerap energi untuk dapat bervibrasi dan berotasi, dan sebagian besar energi lainnya dipancarkan lagi ke permukaan Bumi.
Akibatnya, gelombang inframerah tidak dapat dilepaskan menuju luar angkasa, melainkan dipantulkan kembali menuju Bumi, sehingga kebutuhan suhu rata-rata 15 oC untuk permukaan Bumi dari efek rumah kaca dapat terpenuhi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca berfungsi untuk untuk menjaga agar suhu antara siang dan malam tidak berbeda jauh, dan menjaga suhu Bumi tetap hangat. Jika pada atmosfer Bumi kekurangan gas rumah kaca, suhu Bumi akan menurun dan permukaan Bumi akan ditutupi es.
Anomali Efek Rumah Kaca
Jika jumlah gas rumah kaca pada atmosfer berlebihan, peningkatan suhu Bumi akan terjadi secara tidak wajar, Kini, temperatur yang dihasilkan oleh emisi gelombang panas gas rumah kaca terhadap bumi telah meningkatkan temperatur Bumi sebesar 0,6 oC sampai dengan 0,9 oC.
Aktivitas Manusia yang Menyebabkan Perubahan Lingkungan
Kegiatan terkait alih fungsi lahan
Guna memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia tidak menyadari bahwa telah melakukan berbagai aktivitas yang berdampak buruk bagi lingkungan. Salah satu aktivitas manusia yang berdampak buruk adalah alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan khususnya lahan hutan selain mengurangi habitat hewan, tumbuhan, bahkan mengganggu keanekaragaman hayati ternyata juga memiliki andil dalam peningkatan suhu dunia. Alih fungsi lahan dilakukan dengan cara yang paling umum yaitu membakar lahan hutan. Hal ini menyebabkan pelepasan gas rumah kaca (CO2) dan gas karbon monoksida (CO) yang berbahaya bagi kesehatan.
Selain itu pembalakan liar yang marak terjadi belakangan ini juga ikut andil dalam pengurangan populasi pohon di hutan. Pembalakan liar adalah kegiatan pemanenan pohon hutan, pengangkutan, serta penjualan kayu maupun hasil olahan kayu yang tidak sah dan tidak memiliki izin dari otoritas setempat. Kegiatan ini sering tidak terkendali dan tanpa disadari populasi tanaman yang menyumbang gas O2 dan penyerap CO2 berkurang. Seperti yang telah Kalian pelajari, gas CO2 merupakan salah satu gas efek rumah kaca. Semakin tinggi gas efek rumah kaca maka semakin panas suhu bumi. Di sisi lain, bagi tumbuhan, gas CO2 ini digunakan dalam proses fotosintesis.
Penggunaan Freon dalam Kehidupan Sehari-hari
Freon adalah nama dagang dari senyawa klorofluorokarbon. Senyawa ini mengandung 3 jenis atom dari unsur klor (Cl), fluor (F), dan karbon (C). Klorofluorokarbon sering ditulis dan disebut sebagai CFC. Freon umumnya berupa gas tidak berwarna atau cairan yang tidak berwarna yang mudah menguap pada suhu kamar.
Jenis-jenis freon
- Freon 11, Rumus : CCl3F, Nama kimia : triklorofluorometana
- Freon 12, Rumus : CCl2F2, Nama kimia : diklorodifluorometana
- Freon 22, Rumus : CHClF3, Nama kimia : klorotrifluorometana
- Freon 113, Rumus : C2Cl3F3, Nama kimia : triklorotrifluoroetana
- Freon 114, Rumus : CClF2CClF2, Nama kimia : diklorotetrafluoroetana
- Freon 115, Rumus : CClF2CF3, Nama kimia : kloropentafluoroetana
Freon 11, 12, atau 22 banyak dimanfaatkan sebagai bahan refrigeran atau bahan pendingin ruangan dalam sistem pendingin ruangan atau air conditioning (AC), kulkas, dan bahan aerosol.
Pembuatan freon berkembang sejak tahun 1930 namun karena menimbulkan penipisan ozon, membentuk lubang pada ozon di atas wilayah Antartika, dan meningkatkan efek rumah kaca maka melalui Perjanjian Montreal yang dibuat oleh PBB pada tahun 1987 penggunaan Freon dibatasi. Mengapa demikian? Mari kita kenali dulu ozon (O3) yang merupakan molekul unsur mengandung atom oksigen. Sekitar 90% ozon terdapat pada lapisan stratosfer yang mempunyai ketinggian 15-30 km dari permukaan bumi. Tidak seperti ozon yang terdapat pada lapisan troposfer atau pada permukaan tanah, ozon yang terdapat pada lapisan stratosfer ini adalah ozon baik karena menyaring sebagian besar radiasi sinar ultraviolet tipe B yang berbahaya. Ayo kita cermati reaksi kimia yang menyebabkan penipisan ozon bahkan membentuk lubang pada ozon. Pada lapisan stratosfer terdapat molekul klorin monoksida (ClO). Molekul ini merupakan senyawa dengan jumlah paling banyak dan bersifat paling reaktif di lapisan stratosfer. Sumber tambahan atom klorin yang berasal dari aktivitas manusia adalah dari penggunaan senyawa klorofluorocarbon (CFC). Ketika CFC mencapai lapisan stratosfer, radiasi UV dengan energi tinggi mengurai CFC dan menghasilkan Cl. Reaksi ClO di atmosfer ditunjukan pada persamaan reaksi kimia berikut:
Cl (g) + O3 (g) à ClO + O2 (g) (Persamaan 1)
ClO (g) + O (g) à Cl (g) + O2 (g) (Persamaan 2)
ClO (g) + ClO (g) à O2 (g) + 2 Cl (g) (Persamaan 3)
(dengan bantuan sinar ultraviolet)
Berdasarkan persamaan reaksi kimia tersebut diketahui bahwa jumlah ozon akan semakin berkurang. Dampak negatif penipisan ozon adalah timbulnya penyakit kanker, katarak, dan gangguan imun pada manusia, kerusakan pada ekosistem laut, dan menurunnya produktivitas tanaman.
Penggunaan senyawa HFC (hidrofluorokarbon) sebagai pengganti CFC memang mengurangi penipisan ozon namun ternyata menimbulkan peningkatan gas CO2 yang berdampak pada perubahan iklim. Oleh karena itu melalui amandemen Kigali yang diberlakukan pada Januari 2019 penggunaan senyawa hidrofluorokarbon juga harus dibatasi selama tiga dekade ke depan. Penelitian terhadap teknologi pendingin yang ramah iklim sedang terus dilakukan sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. Desain bangunan yang tidak bergantung pada penggunaan sistem pendingin ruangan juga menarik untuk dikembangkan dan diterapkan.
Aktivitas kendaraan bermotor
Menurutsumber https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210203115349- 384-601700/sensus-kendaraan-di-indonesia-lebih-dari-133-juta-unit jumlah kendaraan bermotor terus meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan pada tahun 2019 populasi seluruh kendaraan di Indonesia mencapai lebih dari 133 juta unit atau terjadi peningkatan jumlah kendaraan sebesar 5,3 persen. Lalu apa akibatnya? Udara adalah faktor penting dalam kehidupan. Akibat aktivitas kendaraan bermotor meningkat maka emisi gas buang hasil reaksi pembakaran juga meningkat sehingga menyebabkan pencemaran udara terutama di perkotaan yang mencapai angka 70%. Gas-gas buang hasil reaksi pembakaran mengandung gas nitrogen oksida (NOx), gas sulfur dioksida (SO2), gas karbon monoksida (CO), gas metana (CH4), dan pencemar partikulat berupa hidrokarbon dan logam timbal. Bagaimana reaksi pembakaran yang terjadi dalam mesin kendaraan bermotor? Kalian tahu bahwa bahan bakar kendaraan bermotor baik bensin maupun solar berasal dari minyak bumi yang mengandung atom karbon (C) dan hidrogen (H) yaitu senyawa hidrokarbon (CxHy). Senyawa hidrokarbon yang dimaksud adalah heptana (C7H16) dan isooktana (C8H18).
Udara sebagian besar mengandung gas nitrogen (N2) dan gas oksigen (O2). Dengan bantuan gas oksigen dalam udara dan kondisi dalam mesin kendaraan bermotor yang suhu dan tekanannya tinggi maka hidrokarbon CxHy diubah menjadi gas-gas karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O). Namun seringkali terjadi keadaan kurang udara atau kurang gas oksigen dalam dalam mesin kendaraan menyebabkan reaksi kimia yang menghasilkan gas beracun yaitu gas CO dan partikulat hidrokarbon (HC). Cermati persamaan reaksi kimia berikut.
2 C8H18 (l) + 7 O2 (g) à 17 H2 (g) + 14 CO (g) + 2 HC (g)
Sifat gas nitrogen adalah inert yaitu tidak mudah bereaksi dengan zat lainnya. Namun kondisi dalam mesin kendaraan bermotor yang suhu dan tekanannya tinggi juga mengubah gas N2 ini menjadi berbagai gas nitrogenoksida (NOx) yang berbahaya. Semakin tinggi suhu dalam mesin kendaraan bermotor maka semakin banyak gas NOx yang dihasilkan. Berikut adalah beberapa contoh persamaan reaksi kimia yang menghasilkan senyawa gas NOx.
N2 (g) + O2 (g) à 2 NO (g)
N2 (g) + 2 O2 (g) à 2 NO2 (g)
2 N2 (g) + O2 (g) à 2 N2O (g)
2 N2 (g) + 5 O2 (g) à 2 N2O5 (g)
Untuk mengurangi emisi gas buang yang berbahaya maka dalam mesin kendaraan bermotor dipasang alat bernama katalitik konverter. Alat ini berfungsi mengubah gas-gas beracun menjadi gas-gas yang lebih ramah lingkungan. Persamaan reaksi kimia yang terjadi dalam katalitik konverter ditulis sebagai berikut.
- Mengubah gas NOx menjadi gas N2 dan O2
NOx (g) à Nx (g) + Ox (g)
(x disini adalah angka yang disesuaikan dengan nama senyawa kimianya)
Misalnya: 2 NO2 (g) à N2 (g) + 2 O2 (g)
- Mengubah gas CO menjadi gas CO2
2 CO (g) + 1 O2 (g) à 2 CO2 (g)
- Mengubah cairan CxHy dalam bahan bakar menjadi gas CO2 dan uap H2O
CxHy (g) + (x + ¼ y) O2 (g) à x CO2 (g) + ½ y H2O (g)
(x disini adalah angka yang menyatakan koefisien reaksi kimia yang disesuaikan dengan nama senyawa kimianya).
Bahan bakar kendaraan mengandung senyawa heptana (C7H16) dan isooktana (C8H18).
Sebagai contoh reaksi pembakaran heptana (C7H16) ditulis sebagai berikut: C7H16 (g) + 11 O2 (g) à 7 CO2 (g) + 8 H2O (g).
Berdasarkan persamaan reaksi kimia itu, ternyata penggunaan alat katalitik konverter pada mesin kendaraan bermotor dapat mengurangi emisi gas beracun namun tetap dihasilkan gas karbon dioksida (CO2). Hal ini akan terus berdampak pada pemanasan global. Selain itu gas-gas buang ini dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yaitu penyakit kanker, gangguan terhadap pernafasan, sistem metabolisme tubuh, fungsi hati, kinerja hemoglobin dan darah serta menurunnya tingkat kecerdasan. Oleh karena itu mobil listrik menjadi solusi yang lebih tepat untuk mencegah hal-hal tersebut dan juga perubahan iklim di planet bumi ini.
Solusi Mengatasi Pemanasan Global
- Penggunaan Energi Terbarukan sebagai Sumber Energi yang Ramah Lingkungan
Alasan pentingnya penggunaan energi terbarukan adalah lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan sumber energi tak terbarukan; bahan bakar fosil, karena penghasil CO2 terbesar saat ini adalah dari sektor penyediaan energi.
Upaya lain yang dapat dilakukan adalah pengembangan teknologi yang ramah lingkungan dan menggunakan sumber energi terbarukan. Beberapa contoh pengembangan teknologi yang masih dalam tahap pengembangan atau riset saat ini adalah sebagai berikut:
- Teknologi kendaraan hybrid yang menggunakan bahan bakar listrik, dan pembangunan stasiun pengisian bahan bakar listrik.
- Riset nanomaterial untuk produksi skala besar sel surya dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat dan sektor industri sebagai sumber energi listrik.
- Pengembangan mesin untuk bahan bakar biogas, biodiesel, dan bahan bakar sejenisnya. Dulu, bahan bakar biogas, biodiesel, dan sejenisnya masih memerlukan campuran bahan bakar solar agar mesin dapat bekerja. Kini, sudah banyak riset yang mengembangkan dan memodifikasi suku cadang mesin, sehingga mesin dapat bekerja tanpa perlu lagi menggunakan bahan bakan solar sebagai bahan bakar pencampur. Kemudian, mesin seperti ini dapat digunakan oleh masyarakat untuk keperluan genset untuk pembangkit listrik, bahan bakar kendaraan, dan lain-lain.
- Gaya hidup yang berkelanjutan
Pemerintah Indonesia sedang berupaya untuk membangun pembangkit listrik sumber energi alternatif, dan membangun fasilitas transportasi umum yang lebih memadai dan ramah lingkungan. Namun, dalam proses persiapannya, bahan bakar fosil masih menjadi sumber energi utama yang digunakan saat ini. Di tengah penggunaan bahan bakar fosil (penghasil CO2 terbesar) sebagai sumber energi utama, hampir seluruh aktivitas manusia sangat membutuhkan energi listrik saat ini. Oleh karena itu, melakukan penghematan energi menjadi sangat penting untuk dilakukan. Kalian dapat mulai dengan melakukan banyak hal kecil yang sederhana, seperti meminimalisir penggunaan lampu pada siang hari, mematikan peralatan elektronik jika sudah tidak digunakan, mematikan lampu dan AC jika meninggalkan ruangan, mematikan lampu kamar atau menggunakan lampu tidur dengan daya rendah pada malam hari, dan lain-lain.
Selain itu, CFC dan aerosol kaleng penyemprot (contohnya hair spray, dan lain-lain) juga turut andil dalam terjadinya efek rumah kaca. Oleh karena itu, Kalian harus memilih produk-produk elektronik yang tidak menggunakan CFC. Produk-produk elektronik tersebut misalnya adalah AC dan Kulkas tidak menggunakan CFC atau Freon sebagai refrigeran (cairan yang digunakan dalam proses pendinginan pada AC dan kulkas).
Kalian juga perlu membiasakan diri dengan beberapa kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan, seperti :
- Bersepeda atau jalan kaki jika bepergian dalam jarak dekat, serta menggunakan transportasi umum jika bepergian dalam jarak jauh untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil,
- Memilih untuk membeli alat-alat elektronik yang hemat daya.
- Meluangkan waktu senggang untuk berkebun di rumah; dengan banyaknya tanaman di rumah Kalian, akan mengurangi kadar CO2 di lingkungan rumah Kalian, sehingga lingkungan rumah Kalian akan lebih asri dan segar.
Baca Kumpulan: Rangkuman IPA Kelas 10 SMA

