Penelitian Tentang Stunting | Kualitatif | Kuantitatif | Penelitian Relevan (Terdahulu) | Proposal Penelitian | Skripsi | Tesis | Disertasi | Jurnal Ilmiah | Hasil Penelitian |
Di bawah ini adalah sejumlah Penelitian Tentang Stunting yang diambil dari beberapa kampus di Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan berbagai macam metode dan pendekatan penelitian, sehingga untuk kamu yang sedang mencari informasi tentang penelitian dengan tema serupa punya banyak pandangan.
Kumpulan Penelitian Tentang Stunting, sangat bermanfaat sebagai sumber penulisan “penelitian relevan” (atau penelitian terdahulu) yang ada dalam proposal penelitian, agar penelitian yang akan dilakukan dapat menemukan hasil penelitian terbaru.
10 Penelitian Tentang Stunting
Hubungan Riwayat Sakit dengan Kejadian Stunting pada Balita
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Latar belakang : Kejadian stunting merupakan salah satu masalah gizi pada anak yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia. Cut off point kejadian stunting tidak boleh lebih dari 20%, sedangkan jumlah kejadian stunting di Surabaya sebanyak 22,8%. Salah satu penyebab tingginya kejadian stunting yaitu penyakit infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat sakit dengan kejadian stunting pada Balita. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan rancang penelitian case control. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 40 Balita dengan usai 24-36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Simomulyo Surabaya. Sampel penelitian Balita stunting merupakan kelompok kasus dan Balita non-stunting merupakan kelompok kontrol. Pengambilan data untuk kelompok kasus menggunakan purposive sampling dan pada kelompok kasus menggunakan matching sampling dengan menyesuaikan usia bayi dan jenis kelamin pada kelompok kasus. Pengumpulan data mengguanakan instrumen kuisioner. Uji statistik menggunakan chi square Hasil : Hasil penelitian ini didapatkan Balita stunting memiliki riwayat sakit sebanyak 90%, sedangkan pada Balita non-stunting sebanyak 45%. Uji statistik menggunakan mengenai hubungan riwayat sakit dengan kejadain stunting pada Balita dengan uji Chi square didapatkan hasil yang signifikan yaitu p=0,002 (<0,05) dan OR 4,889. Kesimpulan : Balita stunting memiliki riwayat sakit lebih sering daripada Balita non-stunting.
Perbedaan Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus, Bahasa, Dan Personal Sosial Pada Anak Stunting Dan Non Stunting
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Latar Belakang : Kegagalan pertumbuhan (stunting) pada anak usia di bawah lima tahun dapat menyebabkan berbagai macam gangguan perkembangan, termasuk perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan personal sosial. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda, dimana status gizi (stunting) tidak berhubungan dengan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan perkembangan pada anak stunting dan non stunting.Metode : Penelitian obeservasional dengan pendekatan cross sectional, bertempat di Keluarahan Jangli Semarang dengan jumlah sampel 49 anak (11 stunting dan 38 non stunting) berusia 24-59 bulan yang dipilih dengan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi data karakteristik subyek, karakteristik ibu, status gizi, dan perkembangan anak. Status gizi diukur dengan membandingkan tinggi badan dengan umur, dan data perkembangan anak diukur dengan Kusioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 22,4% anak tergolong stunting.Status perkembangan kategori mencurigakan pada anak stunting lebih tinggi (72,2%) dibandingkan dengan non stunting (31,6%).Terdapat perbedaan perkembangan pada anak stunting dan non stuntingdengan nilai p 0,033. Jenis perkembangan pada anak stunting yang masuk pada kategori mencurigakan secara berturut-turut meliputi perkembangan personal sosial (87,5%), bahasa (75%), motorik kasar (25%), dan motorik halus (12,5%).Simpulan : Terdapat perbedaan perkembangan pada anak stunting dan non stunting, meliputi perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa dan personal sosial.
Analisis Program Intervensi Gizi Spesifik pada Ibu Menyusui terhadap Kejadian Stunting Anak Usia 25-36 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Antang Kota Makassar
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
The critical period for a child’s growth and development called the First 1000 Days of Life is influenced by the nutritional status of the mother during breastfeeding. The nutritional problem that can occur at this time is stunting (short). One of the programs contained in the First 1000 Days of Life Movement in an effort to prevent stunting is specific nutrition intervention. The aim of this research conducted is to knowthe analysis of the specific nutrition intervention program for breastfeeding mothers onthe occurrence of stunting through infectious diseases in children 25-36 months in the work area of the Antang Community Health Center, Makassar in 2021. This research used quantitative research by using path analysis method. The populationsof this research were all children in age 25-36 months with 543 children. The samples of this research were 128 children, with the mother of the children as the respondent. The sampling technique in this study was purposive sampling. The results of this study indicate that the significance value of (1) the effect of breastfeeding counseling on the occurrence of stunting is 0.006, (2) the IMD on the incidence of stunting is 0.162, (3) exclusive breastfeeding on the incidence of stunting is 0.933, (4) the frequency of breastfeeding on the occurrence of stunting is 0.617, (5) the time giving complementary feeding to the occurrence of stunting is 0.446, (6) the effect of breastfeeding counseling on the occurrence of stunting through infectious diseases is the direct influence value 0.245, while the indirect effect value is 0.00015, (7) the effect of IMD on the occurrence of stunting through infectious diseases is the direct influence value of 0.126, while the indirect effect value is 0.00405, (8) the effect of exclusive breastfeeding on the occurrence of stunting through infectious diseases with the direct effect value is 0.010, while the indirect effect value is 0.0233, (9 ) the effect of breastfeeding on the occurrence of stunting through the direct effect is 0.045, while the value of the indirect effect is 0.0604, (10) the effect of the time giving complementary feeding to the incidence of stunting through infectious diseases with the direct effect value is 0.097 while the indirect effect is 0.01115. The conclusion of this research indicate that specific nutrition intervention program for breastfeeding mothers on stunting has not shown a reduction in stunting occurrence in the work area of the Antang Community Health Center, Makassar City. Suggestions, it is hoped that health services need to provide socialization and counseling to mothers about the importance of breastfeeding counseling, exclusive breastfeeding, early initiation of breastfeeding, the right time for giving complementary feeding for mothers.
Perbedaan Asupan Zat Gizi dan Prestasi Belajar pada Anak Sekolah Dasar Stunting dan Tidak Stunting di Kota Kupang
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi referensi Internasional (Gibney, 2008). Stunting menggambarkan keadaan gizi kurang yang sudah berjalan lama dan memerlukan waktu bagi anak untuk berkembang serta pulih kembali. Sejumlah penelitian memperlihatkan keterkaitan antara stunting dengan perkembangan motorik dan mental yang buruk dalam usia kanak-kanak dini, serta prestasi kognitif dan prestasi sekolah yang buruk dalam usia kanak-kanak lanjut (Gibney, 2008). Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak Sekolah Dasar di Kota Kupang yang stunting dan tidak stunting yang berjumlah 106 anak. Hasil analisis perbedaan asupan energi, protein dan lemak menunjukkan tidak terdapat perbedaan asupan zat gizi pada siswa stunting dan non stunting, sedangkan hasil analisis asupan karbohidrat, menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa stunting dan tidak stunting (p = 0,012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki prestasi belajar dengan kategori cukup. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa stunting dan tidak stunting (0,369).
Stunting atau Pendek: Awal Perubahan Patologis atau Adaptasi Karena Perubahan Sosial Ekonomi yang Berkepanjangan?
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Pendek atau stunting pada anak Balita merupakan salah indikator status gizi kronis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau. Penerjemahan stunting dengan pendek dapat meredusir aspek patologis dari stunting. Memang makhluk hidup mempunyai kemampuan beradaptasi dengan memperlambat pertumbuhannya karena pasokan gizi yang diperlukan terbatas atau kurang, sehingga didapatkan ukuran yang sesuai. Kemampuan adaptasi semua makhluk hidup terbatas, sehinga bila batas tersebut dilampaui maka makhluk yang berangkutan akan sakit dan bahkan mati. Apakah tingginya prevalensi stunting di negara berkembang merupakan fenomena adaptasi semata atau memberikan indikasi terjadinya gangguan yang merugikan pertumbuhan. Makalah ini mengkaji masalah stunting pada tingkat individu, masyarakat, dan faktor yang berpengaruh dan manfaat serta interpretasi prevalensi stunting dalam pembangunan secara umum maupun pembangunan kesehatan
Resiko Terjadinya Kegemukan Pada Anak Usia 3-5 Tahun Dengan Status Gizi Pendek Di Indonesia
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Kependekan dan kegemukan pada anak mengalami kecenderungan yang selalu meningkat berdasarkan basil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007-2013. Beberapa analisis sebelumnya mengemukakan bahwa ada hubungan antara kependekan dengan terjadinya kegemukan. Analisis ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara kependekan dengan terjadinya kegemukan pada anak usia 3-5 tahun di Indonesia. Data diambil dan data Riset Kesehatan Dasar 2013. Secara keseluruhan, sebanyak 25.107 anak usia 3-5 tahun dari seluruh provinsi di Indonesia yang memiliki data yang lengkap menjadi sampel dalam analisis ini. Uji analisis regresi logistik digunakan untuk menganalisis hubungan antara kependekan pada anak dengan terjadinya kegemukan pada anak. Hasil analisis menunjukkan bahwa status pendek anak merupakan resiko terjadinya kegemukan pada anak dengan OR 2,54 (2,24-2,89) setelah di koreksi oleh faktor social ekonomi, jenis kelamin anak, pendidikan ayah, dan status gizi ayah. Besarnya resiko anak pendek untuk menjadi gemuk membuat pentingnya pengaturan gizi dan pola makan yang tepat bagi anak yang pendek, agar tidak menjadi gemuk di kemudian harinya.
Kejadian Hipertensi Pada Remaja Putri Stunted Obesity Di Pedesaan Bangsri Kabupaten Jepara
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Latar belakang: Stunting dengan indikator tinggi badan per umur memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis. Stunting dapat meningkatkan risiko obesitas. Stunting juga dapat dihubungkan dengan hipertensi. Hal ini disebabkan adanya ekspresi dan aktifitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme) yang tinggi pada anak-anak stunting yang berhubungan dengan tingkat tekanan darah dan status gizi. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis perbedaan kejadian hipertensi. Metode: Skrining dilakukan pada 1002 remaja putri di SMP dan MTS Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara. Penelitian yang dilakukan berupa observasional dengan desain case control . Pemilihan subjek penelitian menggunakan multistage random sampling. Dua kelompok penelitian yaitu kelompok kasus /stunted obesity (n=11) dan kelompok kontrol / stunted non-obesity (n=11). Pengukuran berupa tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang. Pengukuran tekanan darah menggunakan sfigmo-manometer air raksa sebanyak dua kali pengukuran. Analisis data menggunakan uji independent t-test.Hasil: Sebanyak 234 orang (23,35%) remaja putri mengalami stunted. Pada kelompok kasus (stunted obesity) diketahui sebanyak masing-masing 2 orang (18,2%) dalam kategori tingkat tekanan darah borderline sistolik dan diastolik.Simpulan: Pada kelompok kasus (stunted obesity) lebih berisiko untuk mengalami hipertensi borderline daripada kelompok kontrol (stunted non-obesity)
Hulu-hilir Penanggulangan Stunting di Indonesia
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Stunting menjadi isu yang mendesak untuk diselesaikan karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Sumber daya manusia adalah faktor utama penentu kesuksesan sebuah negara. Studi ini bertujuan melihat hulu-hilir upaya penanggulangan stunting di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisa deskriptif. Sumber data berupa analisis dokumen kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, di hulu (level kebijakan) telah banyak sekali kebijakan pemerintah yang dilahirkan sebagai upaya percepatan penanggulangan stunting, namun pada Kenyataannya angka penurunan stunting masih jauh dari yang ditargetkan. Di hilir, masih terdapat banyak masyarakat maupun implementer program di level akar rumput yang belum memiliki penguasaan pengetahuan yang memadai terkait stunting itu sendiri, baik dampaknya, faktor penyebabnya, hingga cara penanggulangannya. Kebijakan penanggulangan stunting terkesan masih berada pada tataran menara gading, sementara pada tataran akar rumput sendiri yang merupakan ujung tombak upaya percepatan penanggulangan stunting, isu stunting seolah masih terdengar asing. Oleh karena itu, masih sangat diperlukan sosialisasi secara massif terkait stunting, dampak yang ditimbulkan, urgensi penanggulangannya, dan upaya penanggulangan stunting pada tataran akar rumput, sebagai bentuk upaya preventif individual tanpa bergantung pada program pemerintah saja, sebab penanggulangan stunting adalah masalah mendesak yang mesti ditangani oleh semua pihak dengan segera tanpa menunggu apapun.
Koordinasi dalam Implementasi Kebijakan Pencegahan Stunting di Kota Padang
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Kajian untuk menganalisis koordinasi kebijakan pencegahan stunting di Kota Padang. Mekanisme koordinasi kebijakan pencegahan stunting di Kota Padang. Dan faktor penghambat koordinasi pencegahan stunting di Kota Padang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Penelitian ini adalah instansi terkait di Kota Padang yang relevan dengan pelaksanaan koordinasi kebijakan pencegahan stunting di Kota Padang. Instansi terkait ini juga menjadi informan penelitian. Mendapat informasi bahwa koordinasi kebijakan pencegahan stunting di Padang hanya berjalan di tingkat sektoral. Dinas Kesehatan beserta jajarannya dan belum melakukan koordinasi lintas sektor dengan instansi lain yang khusus membahas pencegahan stunting. Mekanisme koordinasi dalam pelaksanaan kebijakan pencegahan stunting di Kota Padang baru dilaksanakan di jajaran Dinas Kesehatan beserta jajarannya dalam bentuk mini workshop yang melibatkan tim puskesmas, aparat kecamatan dan aparat desa melalui program gizi. Faktor penghambat pelaksanaan koordinasi kebijakan penanggulangan stunting di Kota Padang adalah belum adanya peraturan yang mempengaruhi kejelasan fungsi pokok dan tugas instansi terkait, belum adanya anggaran khusus untuk penanggulangan stunting. Hal ini disebabkan masih rendahnya persepsi kejadian stunting di Kota Padang dan Kota Padang yang tidak termasuk dalam wilayah lokus stunting.
Pentingnya Pemberian Asi Eksklusif untuk Mencegah Stunting pada Anak
Dalam abstraksi terdapat informasi ini:
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linier yang tidak sesuai dengan usia. Salah satu faktor penyebab stunting adalah tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi (Sholihah, 2019). Prevalensi Stunting Sebanyak 151.398 anak di Sulawesi Selatan menderita stunting atau gagal tumbuh pada tahun 2020. Mereka tersebar di lima kabupaten dengan angka stunting tertinggi. Dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, terdapat empat daerah dengan angka stunting tertinggi yaitu di Kabupaten Bone 43 persen, Enrekang 39 persen, Jeneponto 36 persen, Takalar 34 persen, dan Bantaeng 33 persen. Dinas Kesehatan Pemerintah). Dalam setahun terakhir, terjadi penurunan angka stunting sekitar 7000 kasus. Sementara itu, tahun lalu, Sulawesi Selatan masih masuk 10 besar dengan angka stunting tertinggi secara nasional. Tujuannya agar peserta dapat mengetahui tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif untuk mencegah stunting pada anak. Metode pengabdian kepada masyarakat ini adalah tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Target pelaksanaan pelayanan ini adalah 9 ibu hamil. Pelaksanaan ini dibantu oleh berbagai pihak antara lain Kabid Kebidanan di Puskesmas Paccing, bidan Posyandu dan mahasiswa untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Hasil pengabdian masyarakat ditemukan ibu hamil akan menerapkannya saat bayi lahir, mulai dari bayi usia 0 sampai 6 bulan. Kesimpulannya pengabdian masyarakat yang dilakukan berhasil meningkatkan pemberian ASI eksklusif untuk mencegah stunting pada anak di UPT Puskesmas Paccing Kab. Tulang.
Note: Informasi yang kamu dapatkan adalah informasi abstraksi dari penelitian tentang Stunting. Untuk Selengkapnya kamu bisa klik link atau judul dari masing-masing daftar di atas.






