Musyaḥadah : Pengertian, Dalil dan Pencapaian

  • Whatsapp
Musyaḥadah : Pengertian, Dalil dan Pencapaian

Wislahcom | Referensi | : Musyaḥadah merupakan ajaran tasawuf dimana seorang hamba berkeyakinan bahwa dirinya telah berhadapan langsung dengan Allah Swt saat melakukan ibadah. Seorang hamba tidak lagi memperhatikan bahwa Allah Swt telah berada di sampingnya, maka dirinya sendiri tidak dihiraukan lagi. Mengapa demikian?

Nah bagaimana seseorang mencapai tingkat musyahadah?

Simak Penjelasan singkat tentang : Pengertian Musyaḥadah, Dalil Tentang Musyahadah dan Pencapaian Musyaḥadah.

Pengertian Musyaḥadah

Musyahadah berasal dari kata syahada, yusahidu, musyahadah berarti melihat, memandang atau menyaksikan. Secara istilah, Imam al-Qusyairiyah mengatakan bahwa musyahadah adalah merasakan adanya kehadiran Allah Swt.

Dalil Tentang Musyahadah

  • Firman Allah Swt
Baca Juga :   Shalat Bagi Musafir : Ketentuan dan Hikmah

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah (2): 115).

  • Hadis Rasulullah Saw

“Jika kamu tidak melihat-Nya, kamu harus yakin bahwa Dia melihatmu”. Rasulullah tidak menyabdakan “seakan-akan melihatmu.” (HR. Muslim).

Pencapaian Musyaḥadah

Tercapainya musyaḥadah ini adalah dengan adanya mujahadah dalam beramal. Terjadinya keadaan yang demikian apabila seorang sudah berada dalam maqam fana, yakni penglihatannya hanya ditujukan kepada Allah semata-mata. Karena pada hakikatnya wujud hakiki yang kekal hanyalah Allah Swt, sedang wujud yang lain tiada lagi. Maka hanya orang-orang yang mau menghiasi diri dengan mujahadah dengan senantiasa berdzikir dan membersihkan hatinya saja yang dapat mencapai musyahadah. Sebagaimana dijelaskan Imam al-Qusyairiyah: “Barangsiapa menghiasi dirinya dengan mujahadah niscaya Allah memperbaiki hatinya dengan musyahadah.

Namun, bagaimana dengan orang yang tidak dapat mencapai musyahadah ini. Imam al-Ghazali memberikan satu ibarat terhadap masalah hati dalam mencapai musyahadah. Sebuah hati diibaratkan dengan sebuah kepingan baja hitam, bagaimanapun hitamnya kepingan baja tersebut, apabila diasah dan senantiasa dibersihkan terus menerus, maka lempengan baja hitam ini akan berusaha menjadi putih, sekaligus mampu berkilau sehingga dapat menerima cahaya dari arah manapun sekaligus bisa memantulkan terpaan cahaya yang mengenainya. Dengan demikian kunci utama dalam mencapai musyahadah adalah hati yang suci.

Related posts