Muhasabah : Pengertian, Dalil, Urgensi dan Objek

  • Whatsapp
Muhasabah : Pengertian, Dalil, Urgensi dan Objek

Wislahcom | Referensi | : Manusia sepanjang hidupnya harus melakukan muhasabah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk kebaikan masa depan, dengan kata lain harus memiliki tujuan dan target sehingga manusia memiliki hidup yang terarah dan penuh makna. Mengapa demikian? Karena di dalam muhasabah seseorang terus menerus melakukan analisis terhadap diri dan jiwa beserta sikap dan keadaannya yang selalu berubah-ubah. Sebagaimana Imam al-Ghazali yang mengatakan: Selalu memikirkan dan merenungkan apa yang telah diperbuat dan apa yang akan diperbuat. Orang tersebut menghisab dirinya sendiri tanpa menunggu hingga hari-hari kebangkitan.

Simak penjelasan singkat tentang : Pengertian Muhasabah, Pengertian Muhasabah Menurut Para Ulama, Dalil Tentang Sikap Mental Muhasabah, Urgensi Muhasabah dan Objek Muhasabah.

Pengertian Muhasabah

Muhasabah secara bahasa adalah menilai diri sendiri, mengevaluasi dan introspeksi diri, sedangkan menurut istilah memperhatikan dan merenungkan hal-hal baik dan buruk yang telah dilakukan.

Baca Juga :   Sejarah Perkembangan Tarekat : Tahap Khanaqah, Tahap Ṭariqah dan Tahap Ṭaifah

Pengertian Muhasabah Menurut Para Ulama

  1. Menurut Imam al-Ghazali, muhasabah adalah memerinci perbuatan yang telah lalu dan yang akan datang.
  2. menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, muhasabah adalah suatu sikap yang selalu menghitung atau menghisap sikap yang layak atau tidak bertentangan dengan kehendak Allah Swt, sehingga terhindar dari perasaan bersalah yang berlebihan, cemas dan lain sebagainya.

Dalil Tentang Sikap Mental Muhasabah

Allah Swt berfirman dalam al-Quran yang menjelaskan tentang sikap mental muhasabah ini, yaitu: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hashr (59): 18).

Ayat ini menekankan adanya perencanaan yang baik dalam diri manusia atas segala tindakan di dunia. Sehingga mendapatkan keselamatan di akhirat. Manusia sepanjang hidupnya harus melakukan introspeksi diri (muhasabah) memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk kebaikan masa depan, dengan kata lain harus memiliki tujuan dan target sehingga manusia memiliki hidup yang terarah dan penuh makna.

Baca Juga :   Syamsuddin Sumatrani : Sosok dan Keteladanan

Urgensi Muhasabah

  1. Selalu berada dalam hidayah. Seseorang bisa terus berada dalam petunjuk jika rajin mengoreksi amalan-amalan yang telah ia lakukan.
  2. Mampu mengobati hati. Seseorang yang menghadirkan dirinya untuk selalu bermuhasabah tentu hatinya akan selalu mendapatkan Cahaya Illahi. Hati yang sakit tidaklah mungkin hilang dan sembuh melainkan dengan muhasabah diri.
  3. Menumbuhkan sikap tawadhu. Seseoarng berusaha setiap waktu dan kesempatan untuk bermuhasabah. Ini dilakukan dengan selalu menganggap diri penuh kekurangan dan tidak tertipu dengan amal yang telah dilakukan.
  4. Tidak membuang waktu. Muhasabah yang dilakukan oleh seseorang akan memanfaatkan waktu dengan baik.

Objek Muhasabah

Memiliki pribadi yang sempurna (Insan Kamil), seorang hamba harus melakukan muhasabah dalam semua aspek kehidupan, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, hingga yang berhubungan dengan Allah Swt. Adapun aspek-aspek yang membutuhkan muhasabah diri yaitu:

Baca Juga :   Sunan Muria: Biografi, Pengembangan Islam dan Sikap Positif
  1. Aspek ibadah yang berhubungan dengan Allah. Menjalankan ibadah sebagai bentuk pertanggungjawaban kita sebagai makhluk Tuhan, harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Quran dan Sunnah. Jangan mengada-ngada dalam melaksanakan ibadah.
  2. Aspek pekerjaan dan perolehan rizki. Seringkali manusia terlena dengan kehidupan duniawi. Kesibukan yang tiada henti semata. Tak selamanya pekerjaan dan harta mampu membahagiakan manusia, suatu saat kondisi ini akan berbalik menjadi bumerang. Oleh karena itu, manusia membutuhkan waktu untuk bermuhasabah, bertanya kepada diri sendiri adakah pekerjaan dan harta menjadi penolong dirinya.
  3. Aspek kehidupan sosial. Hubungan manusia dengan manusia lainnya disikapi dengan akhlak yang mulia, tidak menyakiti satu sama lain. Saling membantu, yang senang membantu yang susah, yang dewasa menolong

Related posts