Mensyukuri Nikmat, Pengertian, Perwujudan dan Keuntungan

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Mensyukuri Nikmat | Pengertian Mensyukuri Nikmat | Perwujudan Syukur | Keuntungan Menjadi Orang Bersyukur |

Pengertian Mensyukuri Nikmat

Ada 2 kata dasar yang digunakan, yakni: Syukur dan Nikmat. Syukur, menurut bahasa berarti membuka atau menampakkan. Lawan dari syukur adalah kufur yang berarti menutup dan menyembunyikan. Perhatikan Q.S. Ibrahīm/14: 7, yaitu: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahīm/14: 7).

Syukur merupakan bentuk keridhaan atau pengakuan terhadap rahmat Allah Swt. dengan setulus hati. Makna lainnya adalah pujian atau pengakuan terhadap segala nikmat Allah Swt. yang dibuktikan dengan kerendahan hati dan ketulusan menerimanya yang diwujudkan melalui ucapan, sikap, dan perilaku.

Sementara makna nikmat, menurut bahasa adalah pemberian, anugerah, kebaikan, dan kesenangan yang diberikan manusia, baik berupa rezeki, harta, keluarga, maupun segala kesenangan yang lain. Seringkali kita diingatkan oleh khatib atau dai, bahwa nikmat terbesar itu adalah Iman dan Islam, termasuk juga nikmat sehat wal ‘afiat.

Berdasarkan penjelasan tersebut, mensyukuri nikmat adalah berterima kasih kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Caranya adalah menggunakan segala nikmat tersebut, sesuai dengan tujuan nikmat itu diberikan. Misalnya nikmat tangan, mata, dan kaki, semuanya digunakan untuk hal-hal yang benar menurut Allah Swt, bukan keinginan nafsu, syahwat, apalagi perbuatan maksiat.

Perwujudan Syukur

Tidak terhitung banyaknya nikmat yang sudah kita terima (Perhatikan isi kandungan Q.S. Ibrahīm/14: 34), lalu bagaimana caranya mewujudkan bahwa kita menjadi pribadi yang bersyukur? Jawabannya adalah syukur harus dilakukan dengan 3 hal, yakni: melalui lisan, hati, dan anggota badan.

Pribadi yang bersyukur kepada Allah Swt., ditandai dengan pengakuan, kerelaan, dan kepuasan hati atas segala nikmat yang diterima, dilanjutan dengan lisan yang selalu mengucapkan syukur, misalnya banyak-banyak mengucapkan hamdalah dan kalimat-kalimat pujian yang disampaikan (Q.S. ad-Dhuhā/93: 11). Setelah itu, semua nikmat tersebut diwujudkan dan difungsikan oleh anggota tubuhnya dalam ketaatan hanya kepada Allah Swt.

Imam al-Ghazali membagi syukur itu, menjadi 3 bagian, yaitu: ilmu, hal (keadaan), dan amal (perbuatan). Melalui ilmunya, seseorang menyadari bahwa segala nikmat yang diterima itu semata-mata berasal dari Allah Swt. Keadaannya menyatakan kegembiraan. Selanjutnya, amal perbuatannya sesuai dan sejalan dengan fungsi nikmat tersebut diberikan.

Tersimpul bahwa, wujud syukur harus menyatu antara hati, lisan dan perbuatan. Bukan bersyukur yang benar, jika sering mengucapkan hamdalah, lalu hatinya masih belum puas dengan yang diterima, atau masih iri dan dengki dengan harta benda milik tetangga. Begitu juga, jika kalian memiliki akal yang cerdas, tetapi kelebihan itu hanya disimpan sendiri, tidak disebarkan kepada teman kalian yang masih membutuhkan bantuan dan bimbingan.

Jadi, pribadi yang bersyukur itu, ditandai menyatunya hati, lisan dan perbuatan. Tidak boleh terpisah, atau terpotong-potong, sehingga jika kesatuan itu dapat dilakukan, muncul kepribadian muslim yang utuh, bukan pribadi pecah yang hanya sesuai, misalnya antara lisan dan perbuatan, melupakan hati. Begitu juga, hati dan lisan menyatu, tetapi perbuatannya tidak sesuai.

Keuntungan Menjadi Orang Bersyukur

  • Jauh Lebih Produktif

Saat menghadapi problem, orang yang bersyukur, masih dapat memanfaatkan peluang yang tersisa, sekecil apapun, untuk menangkap peluang yang lain. Tidak menghabiskan waktunya untuk mengeluh dan sesal diri. Apa untungnya menyesali diri? Bangkit dari keterpurukan, itulah cara terbaik menghadapi problema.

  • Lebih Bahagia dan Optimis

Pribadi pesimis, hanya akan sibuk meratapi kegagalan dan nyinyir pada kesuksesan pihak lain. Sementara, orang yang bersyukur, emosinya stabil, dan itu menjadikannya lebih bahagia, sigap mencari solusi dan alternatif terbaik, dan melokalisasi persoalan, bukan melebarkannya, apalagi menyalahkan pihak lain. Semuanya, diambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa yang terjadi.

  • Mafaatnya kembali ke Diri Sendiri

Coba kalian pikirkan berkali-kali. Dunia ini sudah jutaan atau ribuan tahun, tetapi rahmat dan kasih Allah Swt. masih tetap dilimpahkan ke seluruh makhluknya, dan semuanya tercukupi. Jika ada kelaparan di satu tempat, itu karena kesalahan pengelolaan, atau ada pihak lain yang mengambil berlebih dari yang semestinya.

Baca Kumpulan: Rangkuman PAI Kelas 11 SMA

Related posts