Masuknya Jepang dan Jatuhnya Hindia Belanda, Ekspansi Jepang, Perang Dunia II dan Jatuhnya Hindia

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Masuknya Jepang dan Jatuhnya Hindia Belanda | Masuknya Jepang | Ekspansi Jepang dan Perang Asia Timur Raya | Perang Dunia II dan Jatuhnya Hindia Belanda |

Masuknya Jepang

Penjajahan Jepang di Indonesia berlangsung dalam waktu yang cukup singkat, yaitu hanya sekitar 3,5 tahun. Penjajahan itu berlangsung dalam konteks Perang Asia Timur Raya yang merupakan bagian dari Perang Dunia II. Karena peristiwa ini berlangsung dalam suasana perang dan tidak terlalu lama, sebagian ahli menyebutnya sebagai ‘pendudukan’. Meskipun demikian, apa yang dilakukan Jepang di Indonesia sejak tahun 1942-1945 dapat disebut sebagai penjajahan karena sifatnya yang eksploitatif. Jepang mengeksploitasi atau menguras kekayaan alam dan sumber daya manusia di Indonesia untuk mengejar ambisinya menguasai wilayah Asia Timur Raya, termasuk Asia Tenggara. Dalam bukunya, Aiko Kurasawa (2016) menyebut mengenai adanya keinginan bangsa Jepang untuk menguasai negeri-negara Asia Tenggara menggantikan negara Barat. Artinya, Perang Asia Timur Raya adalah perang kolonial yang mencari redivision of territory (pembagian ulang wilayah).

Ekspansi Jepang dan Perang Asia Timur Raya

Sejak Restorasi Meiji pada abad ke-19, Jepang mengalami kemajuan yang pesat di bidang ekonomi, terutama industri. Jepang memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Taiwan, Tiongkok, dan Korea. Pada tahun 1905 Jepang bahkan berhasil mengalahkan Rusia. Peristiwa ini menambah kepercayaan diri bangsa Jepang yang merasa dirinya lebih unggul dari bangsa Asia lainnya.

Ekspansi Menuju Selatan

Pada pertengahan 1920-an setelah Perang Dunia Pertama, industriindustri semakin berkembang sejalan dengan kemajuan ekonomi yang diperoleh Jepang. Industri ini terutama adalah perkapalan dan tekstil. Hal ini menimbulkan munculnya para Zaibatsu (klan atau keluarga pengusaha besar seperti Mitsubishi, Sumimoto, Mitsui) yang menginginkan ruang lingkup yang lebih besar lagi dalam pemasaran. Ditambah lagi dengan negara Jepang sendiri yang sudah penuh sesak dengan pabrik dan industri yang bermunculan, sehingga mereka melakukan tekanan kepada pemerintah untuk dapat melakukan perluasan wilayah secepat-cepatnya.

Hal ini kemudian didukung dan diamini oleh beberapa kalangan militer yang berpandangan nasionalis chauvinis yang berkeinginan untuk melakukan ekspansi terhadap daerah-daerah yang dianggap memberikan sumber daya yang cukup bagi perkembangan ekonomi dan industri Jepang.

Mengapa Jepang Menjajah?

Untuk mengetahuinya, kita harus memahami situasi masyarakat Jepang pada 1920-an. Masa antara Perang Dunia I dan II sangat krusial terhadap perkembangan sejarah selanjutnya. Dilihat dari situasi politik dalam negeri Jepang, tahun 1920-an adalah zaman Taisho Democracy. Pada masa ini demokrasi parlementer mulai berkembang. Namun, keadaan ekonomi buruk karena produksi pertanian turun. Kemiskinan membelit seluruh desa di Jepang. Akibatnya, sosialisme mulai menguat dan timbul banyak konflik antara tuan tanah dan petani atau antara pengusaha dan buruh.

Pada zaman itu dunia berada di bawah Versailles Settlement. Salah satu isu yang penting dalam perjanjian ini adalah usaha memperkecil kekuatan militer setiap negara besar, pada khususnya membatasi tonase kapal perang masing-masing negara. Dalam Perjanjian Washington tahun 1922, Jepang didesak menerima rasio 10:10:6 antara Inggris, Amerika, dan Jepang. Angkatan Laut Jepang menerima keputusan ini dengan sangat kecewa dan tidak puas.

Di antara sebagian opsir muda tentara Jepang muncul rasa tidak puas terhadap pemerintah sipil sekaligus khawatir akan situasi politik internasional. Di bawah pengaruh pemimpin ultranasionalis seperti Okawa Shumei dan Kita Ikki, mereka mulai bersikap fasis.

Pada saat yang sama, sebagian wilayah Asia Timur juga sudah dikuasai oleh bangsa Barat, seperti Inggris dan Amerika Serikat yang memiliki konsesi wilayah di Tiongkok.

Sejarah mencatat reaksi yang beragam. Bangsa Barat yang memiliki kepentingan kolonial tentu saja tidak senang dengan langkah Jepang memperluas kekuasaannya, terutama ke Tiongkok, Korea, dan Taiwan, begitu pula dengan bangsa-bangsa yang dijajah Jepang. Namun di lain pihak, kemenangan Jepang dalam berbagai perang dan ekspansinya seperti membawa harapan baru bagi sebagian bangsa Asia lainnya. Bangsa Asia ternyata juga bisa maju dan mengalahkan bangsa Barat. Kurasawa (2016) mencatat beberapa pemimpin nasionalis Asia seperti Phan Boi Chau (Vietnam), Rikarte (Filipina) dan U Ottama (Birma) datang ke Jepang dan mengharapkan bantuan Jepang dalam membebaskan wilayahnya dari penjajahan bangsa Barat. Perkembangan ini tentu saja mengkhawatirkan bagi kolonialis Barat. Mereka berusaha membendung laju ekspansi Jepang dengan berbagai upaya, misalnya Amerika Serikat menghentikan ekspor minyak ke Jepang sejak 1 Agustus 1941. Peristiwa inilah yang justru mendorong Jepang melakukan ekspansinya ke Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.

Belanda pada awalnya tidak terlibat konflik secara langsung dengan Jepang. Namun, sejak tahun 1930-an, Pemerintah Hindia Belanda sudah mengawasi dengan ketat aktivitas orang Jepang di wilayahnya. Selain itu, penguasa kolonial juga menerapkan kontrol yang lebih ketat terhadap pergerakan kebangsaan di Indonesia. Kebangkitan Jepang sebagai salah satu kekuatan Asia turut memberikan inspirasi dan kepercayaan diri kepada tokoh nasionalis Indonesia. Slogan dan ideologi Asia untuk orang Asia juga semakin menyebar

Beberapa tokoh pergerakan menunjukkan simpatinya terhadap Jepang, misalnya E.F.E. Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) pada 1936 menulis buku Sejarah Dunia yang lebih mengedepankan peran orang Asia dalam sejarah. Namun, sebelum sempat terbit, buku ini sudah disita dan dilarang beredar oleh pemerintah kolonial karena dianggap pro Jepang dan anti Belanda (Surjomiharjo, 1995). Selain itu, ada pula M.H. Thamrin yang dalam sidang Volksraad (Dewan Rakyat) tahun 1934 menunjukkan simpatinya kepada Jepang (Gonggong, 1995). Sikap para tokoh ini perlu dipahami dalam konteks sejarah di masa itu. Pada tahun 1930-an, mereka belum mengetahui bahwa Jepang ternyata tidak kalah eksploitatif dari Belanda saat menjajah.

Perang Dunia II dan Jatuhnya Hindia Belanda

Perang Dunia II mulai meletus pada September 1939. Belanda ikut terseret dalam perang ini. Pada Mei 1940, Jerman berhasil menduduki Belanda dan membuat Ratu Belanda beserta keluarganya mengungsi ke Inggris. Karena itulah, saat Inggris berperang dengan Jepang di Asia, Belanda dan koloninya pun akhirnya ikut terlibat.

Jepang tidak langsung menyerang pulau Jawa yang merupakan pusat pemerintah kolonial Belanda. Serangan pertama justru diarahkan ke berbagai sumber minyak di luar Jawa. Mengapa demikian?

Pada saat Amerika menghentikan suplai minyaknya untuk Jepang pada tahun 1941, pihak Jepang sebenarnya berusaha untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan minyak. Namun, usaha ini gagal. Oleh karenanya, Jepang kemudian menyerang Indonesia untuk mendapatkan sumber daya alamnya. Karena Jepang sangat memerlukan minyak bumi, Tarakan diserang Jepang pada 11 Januari 1942 karena wilayah ini dan sekitarnya kaya akan minyak. Jepang kemudian menyerang Balikpapan yang juga memiliki banyak ladang minyak.

Setelah menguasai ladang-ladang minyak di Kalimantan, Jepang kemudian melanjutkan ekspansinya ke wilayah Indonesia bagian timur seperti Ambon, Morotai, Manado, dan Kendari. Setelah berbagai wilayah di kawasan timur berhasil dikuasai, Jepang mengarahkan ekspansinya ke wilayah barat, yaitu ke Palembang yang juga kaya akan minyak. Jatuhnya Palembang ini membuka jalan bagi Jepang untuk menguasai Jawa.

Belanda sebagai penguasa di Jawa tidak bisa melakukan banyak perlawanan kepada Jepang. Meskipun pada saat itu Belanda adalah salah satu bagian dari sekutu, tapi negara-negara sekutu sibuk memikirkan kepentingan masing-masing dan tidak banyak menolong. Negeri Belanda sedang diduduki oleh Jerman dan tidak bisa banyak membantu koloninya. Dengan demikian, Belanda tidak dapat mempertahankan Jawa. Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda akhirnya menyerah kepada Jepang di Kalijati pada 8 Maret 1942. Tahukah kalian makna dari peristiwa ini terhadap sejarah Indonesia? Peristiwa ini dapat diartikan sebagai berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia. Selain itu, peristiwa ini juga menunjukkan bahwa bangsa Belanda yang sudah menjajah begitu lama ternyata bisa dikalahkan oleh bangsa Asia.

Baca Kumpulan: Rangkuman Sejarah Kelas 11 SMA

Related posts