Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 6 SD Halaman 98, 99, 100, 101, 102 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Menuju Masyarakat Sehat | Membangun Masyarakat Sehat |
Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 6 SD Halaman 98, 99, 100, 101, 102
Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 6 Kelas 6 SD Halaman 98, 99, 100, 101, 102? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.
Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 98, 99, 100, 101, 102. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.
Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 6 Kelas 6 Halaman 98, 99, 100, 101, 102) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur.
Jawaban Tema 6 Kelas 6 Halaman 98, 99, 100, 101, 102
Ayah Udin membayar pajak tepat waktu. Membayar pajak merupakan kewajiban warga negara. Adapun tanggung jawab warga negara adalah membayar pajak tepat waktu. Ayah Udin telah membayar pajak tepat waktu.
Artinya, ayah Udin telah melaksanakan kewajiban dengan benar. Oleh karena itu, ayah Udin bisa dikatakan telah melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar yaitu membayar pajak tepat waktu.
Bagaimana jika semua warga negara memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam melaksanakan kewajibannya seperti ayah Udin? Apa dampak yang ditimbulkan?
Jawaban:
Jika semua warga negara memiliki kesadaran untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara seperti yang dilakukan oleh ayah Udin, maka akan tercipta kesejahteraan masyarakat.
Dampak dari membayar pajak yakni pembangunan di Indonesia akan berlangsung dengan baik.
Dampak Pelaksanaan Tanggung Jawab
Pelaksanaan tanggung jawab sebagai warga negara memiliki berbagai dampak, baik positif maupun negatif. Jika semua warga negara memiliki kesadaran untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara maka akan tercipta kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, jika warga negara tidak memiliki kesadaran melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara maka tujuan negara yaitu masyarakat sejahtera tidak akan pernah terwujud.
Salah satu contoh pelaksanaan tanggung jawab sebagai warga negara adalah melaksanakan kewajiban membayar pajak tepat waktu. Pajak yang dibayarkan oleh warga negara sebenarnya digunakan untuk pembangunan bangsa. Misalnya, untuk pembangunan jalan, jembatan, fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit. Jika pembayaran pajak dilakukan tepat waktu maka pembangunan akan berlangsung dengan baik. Hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi melaksanakan tanggung jawab membayar pajak tepat waktu akan memberikan dampak positif bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa juga merupakan bentuk tanggung jawab warga negara yang berdampak pada semakin kuatnya suatu negara. Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga persatuan dan kesatuan dapat dilaksanakan dengan saling membina kerukunan di antara warga masyarakat, antarpemeluk agama, suku, ras, dan budaya. Mengembangkan sikap kekeluargaan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat akan mewujudkan persatuan dan kesatuan. Jika persatuan dan kesatuan terwujud dengan baik akan tercipta kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan tenteram sehingga negara akan semakin kuat.
Tanggung jawab tidak hanya tercermin pada pelaksanaan kewajiban, tetapi juga tercermin pada pelaksanaan hak dengan benar. Contoh pelaksanaan hak dengan benar antara lain memanfaatkan sumber daya alam sesuai kebutuhan, hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam, serta memanfaatan sumber daya alam dengan tetap menjaga kelestariannya. Menjaga kelestarian sumber daya alam bisa dilakukan dengan melakukan pembaruan, misalnya melakukan penghijauan kembali dan pembibitan. Menjaga kelestarian sumber daya alam berkaitan dengan pelaksanaan hak juga dapat dilakukan dengan tidak mengambil habitat laut saat menikmati keindahan alam laut
Pada kenyataannya masih banyak warga negara yang belum melaksanakan tanggung jawabnya atas hak dan kewajiban dengan benar dan sungguh-sungguh. Pelaksanaan tanggung jawab sebagai warga negara yang tidak dilaksanakan dengan benar akan membawa dampak negatif bagi kesejahteraan masyarakat. Contoh perbuatan tidak bertanggung jawab serta merugikan bangsa dan negara antara lain korupsi, kriminalitas, dan penyalahgunaan kekuasaan. Perbuatan-perbuatan tersebut sudah seharusnya dihilangkan dengan menegakkan hukum agar tidak ada lagi perbuatan sama di kemudian hari.
Sebagai warga negara, kita harus selalu melaksanakan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan benar. Dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu diri sendiri misalnya sebagai pelajar selalu rajin belajar agar mendapatkan prestasi yang baik. Selanjutnya penerapan tanggung jawab sebagai warga negara dikembangkan dalam lingkup yang lebih besar yakni keluarga dan pada akhirnya pada lingkup kehidupan masyarakat. Jika pelaksanaan tersebut dapat berlangsung dengan baik, maka masyarakat sejahtera akan tercipta dan negara kuat akan terwujud.
Ayo Berlatih
Teks diatas merupakan teks nonfiksi yang mengandung informasi penting dalam setiap paragrafnya. Informasi-informasi penting tersebut didasarkan pada gagasan utama yang ada pada setiap paragraf. Temukan informasi penting dalam setiap paragraf berdasarkan gagasan utama yang ada didalamnya. Tuliskan hasil temuanmu pada tabel seperti berikut.
Jawaban:

Diskusikan bersama kelompokmu tentang dampak pelaksanaan tanggung jawab sebagai warga negara dalam kehidupan sehari-hari. Tuliskan secara rinci tentang pelaksanaan tanggung jawab dan dampak yang ditimbulkan pada tabel berikut!
1. Pelaksanaan Tanggung Jawab sebagai Warga Negara: Melaksanakan kewajiban membayar pajak.
Dampak yang ditimbulkan: Berlangsungnya pembangunan bangsa.
Jawaban:
2. Pelaksanaan Tanggung Jawab sebagai Warga Negara: Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Dampak yang ditimbulkan: Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa berdampak pada semakin kuatnya suatu negara.
3. Pelaksanaan Tanggung Jawab sebagai Warga Negara: Sikap kekeluargaan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat.
Dampak yang ditimbulkan: Mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan masyarakat.
4. Pelaksanaan Tanggung Jawab sebagai Warga Negara: Memanfaatkan sumber daya alam sesuai kebutuhan.
Dampak yang ditimbulkan: Kelestarian sumber daya alam dapat tetap terjaga.
5. Pelaksanaan Tanggung Jawab sebagai Warga Negara: Menjauhi korupsi, kriminalitas, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Dampak yang ditimbulkan: Membangun masyarakat yang sejahtera.
Agar tercipta masyarakat yang sejahtera, selain melaksanakan tanggung jawab sebagai warga negara, juga diperlukan berbagai upaya untuk mengembangkan kehidupan berbangsa.
Upaya mengembangkan kehidupan kebangsaan yang sejahtera telah tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
Hal ini berarti negara selalu mengupayakan kesejahteraan masyarakat dan bangsa.
Namun demikian, upaya tersebut harus selalu mendapat dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh warga negara.
Kamu juga merupakan warga negara, sehingga kamu juga harus mendukung dan berpartisipasi dalam upaya pengembangan kehidupan kebangsaan menuju masyarakat sejahtera.
Bonus Cerita Anak SD: Ikan Mas Ajaib
Ikan Mas Ajaib
Pada zaman dahulu kala, di sebuah pulau bernama Buyan, tinggalah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Mata pencaharian si kakek adalah mencari ikan di laut. Meski hampir setiap hari kakek pergi menjala ikan, namun hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Suatu hari ketika si kakek sedang menjala ikan, tiba-tiba jalanya terasa sangat berat. Seperti ada ikan raksasa yang terperangkap di dalamnya.
“Ah, pasti ikan yang sangat besar,” pikir si kakek.
Dengan sekuat tenaga si kakek menarik jalanya. Namun ternyata tidak ada apapun kecuali seekor ikan kecil yang tersangkut di jalanya. Rupanya ikan kecil itu bukan ikan biasa, badannya berkilau seperti emas dan bisa berbicara seperti layaknya manusia.
“Kakek, tolong lepaskan aku. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu!” kata si ikan emas.
Si kakek berpikir sejenak, lalu katanya, “aku tidak memerlukan apapun darimu, tapi aku akan melepaskanmu. Pergilah!”.
Kakek melepaskan ikan emas itu kembali ke laut, lalu dia pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, nenek menanyakan hasil tangkapan kakek.
“Hari ini aku hanya mendapatkan satu ekor ikan emas, dan itupun sudah aku lepas kembali,” kata kakek, “aku yakin kalau itu adalah ikan ajaib, karena dia bisa berbicara. Katanya dia akan memberiku imbalan jika aku mau melepaskannya.”
“Lalu apa yang kau minta,” tanya nenek.
“Tidak ada,” kata kakek.
“Oh, alangkah bodohnya!” seru nenek. “Setidaknya kau bisa meminta roti untuk kita makan. Pergilah dan minta padanya!” Maka dengan segan kakek kembali ke tepi pantai dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Tiba-tiba si ikan emas muncul di permukaan laut. “Apa yang kau inginkan, kek?” katanya.
“Istriku marah padaku, berikan aku roti untuk makan malam, maka dia akan memaafkanku!” pinta si kakek.
“Pulanglah! Aku telah mengirimkan roti yang banyak ke rumahmu.” kata si ikan.
Maka pulanglah si kakek. Setibanya di rumah, didapatinya meja makan telah penuh dengan roti.
Tapi istrinya masih tampak marah padanya, katanya:
“Kita telah punya banyak roti, tapi wastafel kita rusak, aku tidak bisa mencuci piring. Pergilah kembali ke laut, dan mintalah ikan ajaib memberikan kita wastafel yang baru!” kata nenek.
Terpaksa si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
“ups!” ikan emas muncul, “Apa lagi yang kau inginkan, kek?”
“Nenek menyuruhku memintamu agar memberikan kami wastafel yang baru,” pinta kakek.
“Baiklah,” kata ikan. “Kau boleh memiliki wastafel baru juga.”
Si kakek pun kembali pulang. Belum lagi menginjak halaman, si nenek sudah menghadangnya. “Pergilah lagi! Mintalah pada si ikan emas untuk membuatkan kita sebuah rumah baru. Kta tidak bisa tinggal di sini terus, rumah ini sudah hampir roboh.”
Maka si kakek pun kembali ke tepi laut dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Buatkanlah kami rumah baru!” pinta kakek, “istriku sangat marah, dia tidak ingin tinggal di rumah kami yang lama karena rumah itu sudah hampir roboh.”
“Tenanglah kek! Pulanglah! Keinginanmu sudah kukabulkan.”
Kakek pun pulang. Sesampainya di rumah, dilihatnya bahwa rumahnya telah menjadi baru. Rumah yang indah dan terbuat dari kayu yang kuat. Dan di depan pintu rumah itu, nenek sedang menunggunya dengan wajah yang tampak jauh lebih marah dari sebelumnya.
“Dasar kakek bodoh! Jangan kira aku akan merasa puas hanya dengan membuatkanku rumah baru ini. Pergilah kembali, dan mintalah pada ikan emas itu bahwa aku tidak mau menjadi istri nelayan. Aku ingin menjadi nyonya bangsawan. Sehingga orang lain akan menuruti keinginanku dan menghormatiku!”
Untuk kesekian kalinya, si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku tidak bisa membuatku tenang. Dia bahkan semakin marah. Katanya dia sudah lelah menjadi istri nelayan dan ingin menjadi nyonya bangsawan” pinta kakek
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Alangkah terkejutnya si kakek ketika kembali ternyata kini rumahnya telah berubah menjadi sebuah rumah yang megah. Terbuat dari batu yang kuat, tiga lantai tingginya, dengan banyak sekali pelayan di dalamnya. Si kakek melihat istrinya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sibuk memberi perintah kepada para pelayan.
“halo istriku,” sapa si kakek.
“Betapa tidak sopannya,” kata si nenek. “Berani sekali kau mengaku sebagai suamiku. Pelayan! Bawa dia ke gudang dan beri dia 40 cambukan!”
Segera saja beberapa pelayan menyeret si kakek ke gudang dan mencambuknya sampai si kakek hampir tidak bisa berdiri. Hari berikutnya istrinya memerintahkan kakek untuk bekerja sebagai tukang kebun. Tugasnya adalah menyapu halaman dan merawat kebun. “Dasar perempuan jahat!” pikir si kakek. “Aku sudah memberikan dia keberuntungan tapi dia bahkan tidak mau mengakuiku sebagai suaminya.”
Lama kelamaan si nenek bosan menjadi nyonya bangsawan, maka dia kembali memanggil si kakek: “Hai lelaki tua, pergilah kembali kepada ikan emasmu dan katakan ini padanya: aku tidak mau lagi menjadi nyonya bangsawan, aku mau menjadi ratu.”
Maka kembalilah si kakek ke tepi laut dan berseru”
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku semakin keterlaluan. Dia tidak ingin lagi menjadi nyonya bangsawan, tapi ingin menjadi ratu.”
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Sesampainya kakek di tempat dulu rumahnya berdiri, kini tampak olehnya sebuah istana beratap emas dengan para penjaga berlalu lalang. Istrinya yang kini berpakainan layaknya seorang ratu berdiri di balkon dikelilingi para jendral dan gubernur. Dan begitu dia mengangkat tangannya, drum akan berbunyi diiringi musik dan para tentara akan bersorak sorai.
Setelah sekian lama, si nenek kembali bosan menjadi seorang ratu. Maka dia memerintahkan para jendral untuk menemukan si kakek dan membawanya ke hadapannya. Seluruh istana sibuk mencari si kakek. Akhirnya mereka menemukan kakek di kebun dan membawanya menghadap ratu.
“Dengar lelaki tua! Kau harus pergi menemui ikan emasmu! Katakan padanya bahwa aku tidak mau lagi menjadi ratu. Aku mau menjadi dewi laut sehingga semua laut dan ikan-ikan di seluruh dunia menuruti perintahku.”
Kakek terkejut mendengar permintaan istrinya, dia mencoba menolaknya. Tapi apa daya nyawanya adalah taruhannya, maka dia terpaksa kembali ke tepi laut dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Kali ini si ikan emas tidak muncul di hadapannya. Kakek mencoba memanggil lagi, namun si ikan emas tetap tidak mau muncul di hadapannya. Dia mencoba memanggil untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba laut mulai bergolak dan bergemuruh. Dan ketika mulai mereda muncullah si ikan emas, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku benar-benar telah menjadi gila,” kata kakek. “Dia tidak mau lagi menjadi ratu tapi ingin menjadi dewi laut yang bisa mengatur lautan dan memerintah semua ikan.”
Si ikan emas terdiam dan tanpa mengatakan apapun dia kembali menghilang ke dalam laut. Si kakek pun terpaksa kembali pulang. Dia hampir tidak percaya pada penglihatannya ketika menyadari bahwa istana yang megah dan semua isinya telah hilang. Kini di tempat itu, berdiri sebuah gubuk reot yang dulu ditinggalinya. Dan di dalamnya duduklah si nenek dengan pakaiannya yang compang-camping. Mereka kembali hidup seperti dulu. Kakek kembali melaut. Namun seberapa kerasnya pun kakek bekerja, hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

