Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Cita-Citaku | Aku Dan Cita-Citaku |
Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44
Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.
Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.
Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 6 Kelas 4 Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur.
Jawaban Tema 6 Kelas 4 Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44
1. Apakah cita-cita atau impianmu?
Jawaban:
Cita-citaku adalah menjadi pelukis.
2. Kegiatan apa saja yang kamu suka lakukan di rumah?
Jawaban:
Kegiatan yang suka aku lakukan di rumah adalah menggambar dan mewarnai.
3. Kegiatan apa sajakah yang kamu sukai di sekolah?
Jawaban:
Kegiatan yang aku sukai di sekolah adalah menggambar, mewarnai dan membaca buku
4. Kegiatan apa yang menurutmu paling sulit dilakukan?
Jawaban:
Kegiatan yang paling sulit dilakukan adalah menggambar dan mewarnai dengan rapih.
5. Jelaskan kegiatan apa saja yang dapat membantumu untuk meraih citacita!
Jawaban:
Kegiatan yang dapat membantuku meraih cita-cita adalah terus berlatih menggambar dengan baik.
Kisah Sukses Mengatasi Kegagalan
Michael Jordan, Pemain Basket Dunia
Saat duduk di bangku SMA, Michael pernah gagal masuk tim basket sekolahnya.
Ia dianggap tidak cukup tinggi untuk memenuhi persyaratan masuk tim kebanggaannya. Dengan usaha yang sangat keras, ia terus berlatih dan berlatih.
Pada saat menjadi pemain basket kelas dunia pun, ia banyak mengalami kegagalan. Ini pengakuannya: “Sepanjang karier saya, lebih dari 9.000 tembakan saya meleset.
Saya pernah kalah dalam 300 pertandingan. Paling tidak, 26 kali saya dipercaya untuk melakukan tembakan penentu kemenangan, dan saya gagal. Saya telah berkali-kali mengalami kegagalan. Tetapi karena kegagalan itulah saya berhasil.”
Thomas Alva Edison, Penemu Lampu Listrik
Semasa sekolah ia pernah dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Thomas kecil bermasalah dengan pendengarannya.
Ia harus berusaha lebih keras dari temantemannya yang lain dengan belajar sendiri di rumah dan membantu ibunya yang miskin.
Dengan belajar sendiri di rumah, Thomas membaca banyak buku yang memacunya melakukan berbagai macam percobaan di bidang sains. Beribu kali ia gagal. Dua ribu kali ia mencoba kembali. Ia tak pernah menyerah.
Kegigihannya berbuah manis, sehingga kita dapat menikmati terangnya lampu pijar ciptaannya. Dapatkah kamu bayangkan jika ia menyerah?
Thomas menceritakan rahasia keberhasilannya. “Jika saya ditanya apakah yang dapat membuat seseorang berhasil dalam hidupnya. Jawaban saya sama. Orang itu harus terus menambah kegagalannya. Jika kamu takut gagal, kamu tidak berani mencoba dan berusaha.”
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
1. Apakah mimpi Michael Jordan dan Thomas Alva Edison?
Jawaban:
Mimpi Michael Jordan adalah menjadi pemain basket, sedangkan Thomas Alva Edision menjadi penemu lampu listrik.
2. Kegiatan apa saja yang senang dilakukan oleh keduanya?
Jawaban:
Kegiatan yang senang dilakukan oleh keduanya adalah terus belajar dan berlatih.
3. Tantangan apa saja yang dihadapi Michael Jordan dan Thomas Alva Edison untuk meraih mimpinya?
Jawaban:
– Tantangan yang dihadapi Michael Jordan adalah pernah gagal masuk tim basket
sekolahnya.
Ia dianggap tidak cukup tinggi untuk memenuhi persyaratan masuk tim kebanggaannya.
– Sementara Thomas kecil bermasalah dengan pendengarannya.
Ia harus berusaha lebih keras dari temantemannya yang lain dengan belajar sendiri di rumah dan membantu ibunya yang miskin.
4. Bagaimana cara mereka menghadapi kegagalannya?
Jawaban:
Cara mereka menghadapi kegagalan adalah dengan tidak mudah menyerah untuk meraih mimpi dan terus berlatih.
Bersama dengan teman sekelompokmu diskusikan beberapa pertanyaan berikut!
1. Bagaimana keragaman orang-orang yang ada di sekitarmu? Adakah ciri fisik berdasarkan suku asal yang membedakannya?
Jawaban:
Di sekitarku tidak ada keragaman orang karena semua berasal dari suku Jawa.
2. Apakah manfaat mengetahui keragaman ras dan ciri fisik suku-suku yang ada di Indonesia?
Jawaban:
Manfaat mengetahui keragaman ras dan ciri fisik suku yang ada di Indonesia adalah bisa menambah pengetahuan.
3. Apakah manfaat mengetahui keragaman ras dan ciri fisik masyarakat di sekitar kita?
Jawaban:
Manfaat mengetahui keragaman ras dan ciri fisik suku yang ada di sekitar kita adalah kita bisa tahu dan memahami keragaman untuk menjalin hubungan sosial yang baik.
4. Jelaskan hasil diskusimu di depan kelas!
Jawaban:
Hasil diskusinya adalah Indonesia dalah negara yang memiliki keragaman ras dan suku yang beragam.
Adanya perbedaan tersebut jangan menghalangi kita untuk bersosial.
Makna puisi bait pertama
Jawaban:
Makna dari puisi bait pertama adalah meski berasal dari suku yang berbeda, kita semua tetap satu yaitu orang Indonesia.
Makna puisi bait kedua
Jawaban:
Makna dari puisi bait kedua adalah setiap orang memiliki rasa syukur atas keberagaman yang ada.
Makna puisi bait ketiga
Jawaban:
Makna puisi bait ketiga adalah Indonesia adalah tanah air yang kaya.
Makna puisi bait keempat
Jawaban:
Makna puisi bait keempat adalah nasihat untuk rakyat Indonesia agar merawat dan mencintai Tanah Air Indonesia.
Bonus Cerita Anak SD: Bola Kristal
Bola Kristal
Dahulu kala, ada seorang wanita penyihir yang memiliki tiga anak yang saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya sebagai saudara, tetapi wanita penyihir tua itu tidak mempercayai anaknya sendiri, dan berpikir bahwa ketiga anaknya ingin mencuri kekuatannya darinya. Penyihir itu lalu mengubah anak sulungnya menjadi burung elang, yang terpaksa tinggal di pegunungan berbatu, dan sering terlihat terbang melayang di langit. Yang kedua, disihir sehingga berubah menjadi seekor ikan paus yang hidup di laut dalam, dan terkadang terlihat di permukaan laut menyemburkan sebuah pancuran air yang besar di udara. Kedua anak ini masing-masing masih bisa berubah bentuk menjadi manusia selama dua jam setiap hari. Anak yang ketiga, karena takut bahwa ibunya yang penyihir ini akan mengubahnya menjadi seekor binatang buas, dengan diam-diam pergi meninggalkan ibunya.
Saat itu, di pusat kerajaan, dia mendengar berita tentang seorang putri Raja yang disihir dan dipenjarakan di istana matahari, sedang menanti datangnya pertolongan. Mereka yang mencoba membebaskan sang Putri, mempertaruhkan nyawa mereka karena tugas untuk menyelamatkan sang Putri, tidaklah mudah. Sudah puluhan orang yang mencoba tetapi gagal, dan sekarang tidak ada orang yang berani untuk menyelamatkan sang Putri lagi.
Si Putra Ketiga menguatkan hatinya untuk mencoba menyelamatkan sang Putri. Dia lalu melakukan perjalanan untuk mencari istana matahari itu dalam waktu yang cukup lama tanpa bisa menemukannya. Suatu ketika, dia tiba tanpa sengaja di sebuah hutan yang besar, dan menjadi tersesat. Tiba-tiba dia melihat di kejauhan, dua raksasa yang melambaikan tangan mereka kepadanya, dan ketika dia datang kepada raksasa tersebut, mereka berkata,
“Kami bertengkar mengenai sebuah topi, siapa di antara kami yang berhak memilikinya, karena kami berdua sama kuatnya, tak ada satupun di antara kami yang lebih kuat dibandingkan yang lain. Manusia kecil lebih pandai dari kami, karena itu, kami menyerahkan keputusan kepada mu.”
“Bagaimana kamu bisa bertengkar hanya karena sebuah topi tua?” kata si Putra Ketiga.
“Kamu tidak mengerti keajaiban topi itu! Itu adalah topi yang bisa mengabulkan keinginan kita; barang siapa yang memakainya, dan berharap untuk pergi ke tempat manapun dia mau, dalam sekejap dia akan tiba di tempat tersebut.”
“Berikanlah topi itu kepadaku,” kata si Putra Ketiga, “Saya akan berdiri di sana, ketika saya memanggil kalian, kalian harus berlomba lari, dan topi ini akan menjadi milik orang yang lebih duluan tiba di sana.” Dia lalu memakai topi tersebut lalu berjalan pergi, dan saat berjalan, si Putra Ketiga berpikir tentang sang Putri, melupakan para raksasa dan berjalan terus. Akhirnya dia mendesah dalam hatinya dan bersedih, “Ah, jika saja saya bisa tiba di istana matahari,” tiba-tiba si Putra Ketiga sudah berdiri di sebuah gunung yang tinggi tepat di depan pintu gerbang istana matahari.
Dia lalu masuk dan memeriksa semua kamar, saat sampai pada kamar terakhir dia menemukan putri Raja. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah sang Putri. Wajahnya pucat abu-abu penuh keriput, mata rabun, dan berambut merah.”
Apakah kamu adalah putri raja, yang kecantikannya terkenal di seluruh pujian dunia?” tanyanya.
“Ah,” jawabnya,” ini bukan bentuk saya yang sebenarnya, mata manusia hanya bisa melihat saya dalam keadaan buruk rupa ini, tetapi kamu mungkin bisa melihat bentuk saya yang sebenarnya, lihat melalui cermin ini, karena cermin ini tidak akan salah dan akan menampilkan wajah saya yang sebenarnya.”
Dia lalu memberinya cermin yang di pegangnya, dan saat si Putra Ketiga melihat bayangan di dalam cermin, dilihatnya wajah yang paling cantik di seluruh penjuru dunia, dan dia juga melihat butiran air mata yang bergulir di pipi sang Putri.
Lalu si Putra Ketiga bertanya, “Bagaimana kamu dapat dibebaskan ? Aku tidak takut akan mara bahaya.
Sang Putri berkata, “Dia yang mendapatkan bola kristal, dan mengacungkannya kehadapan penyihir, akan menghancurkan kekuatan sihirnya dengan bola kristal itu, dan saya akan kembali ke bentuk sejati saya. “Ah,” dia menambahkan, “sudah banyak yang mencoba dan gagal, kamu begitu muda, saya sangat sedih karena kamu harus menghadapi bahaya yang begitu besar.”
“Tidak ada yang bisa mencegah saya melakukannya,” kata si Putra Ketiga, “coba katakan padaku apa saja yang harus kulakukan.”
“Kamu harus tahu semuanya,” kata sang Putri,” ketika kamu menuruni gunung di mana istana ini berdiri, kamu akan menemukan seekor banteng liar di dekat sebuah mata air, dan kamu harus berkelahi dengan banteng itu, dan jika kamu bisa membunuhnya, seekor burung yang berapi-api akan muncul yang membawa sebuah telur yang membara, dan sebuah bola kristal terletak di dalam telur tersebut. burung itu tidak akan membiarkan telur tersebut terlepas kecuali dipaksa untuk melakukannya, dan saat telur itu jatuh di tanah, semuanya akan menyala dan membakar segala sesuatu yang berada dekat telur tersebut, dan dengan bola kristal semua masalahmu akan terselesaikan.”
Pemuda itu lalu pergi ke mata air, di mana seekor banteng liar mendengus dan berteriak marah padanya. Setelah melalui perjuangan yang panjang, si Putra Ketiga berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh hewan itu yang akhirnya jatuh mati. Seketika itu juga, seekor burung api muncul dan hendak terbang, tapi kakak si Putra Ketiga yang berubah bentuk menjadi elang, menukik turun, mengejar burung api tersebut sampai ke laut, dan memukul dengan paruhnya sampai sang Burung Api melepaskan telur yang dipegangnya. Telur tersebut tidak jatuh ke laut, tetapi ke sebuah gubuk nelayan yang berdiri di tepi pantai dan gubuk itu langsung terbakar api. Lalu tiba-tiba muncullah gelombang laut setinggi rumah, menerjang gubuk tersebut hingga seluruh api menjadi padam. Ternyata, saudara lain si Putra Ketiga yang menjadi ikan paus, yang telah mendorong dan menciptakan gelombang laut tersebut. Ketika api itu padam, si Putra Kegita mencari telur itu dan menjadi sangat bahagia saat menemukannya. Kulit telur tersebut menjadi retak dan pecah akibat suhu panas yang tiba-tiba berubah menjadi dingin saat tersiram air, sehingga bola kristal di dalamnya dapat diambil oleh si Putra Ketiga.
Ketika pemuda pergi menghadap ke si Penyihir dan mengacungkan bola kristal itu di hadapannya, si Penyihir berkata, “kekuatan sihir saya telah hancur, dan mulai dari saat ini, kamulah yang menjadi raja di istana matahari. Dengan bola kristal itu juga, kamu telah mengembalikan bentuk saudara-saudara-mu ke bentuk manusia seperti semula.”
Si Putra Ketiga pun bergegas menemui sang Putri, dan ketika dia memasuki ruangan, dia mendapati sang Putri berdiri di sana dengan segala kecantikan dan keindahannya, dan tidak lama, merekapun menikah dan hidup berbahagia selamanya.

