Bencana | Pengertian Bencana | Jenis-Jenis Bencana | Dampak Kebencanaan Terhadap Kehidupan | Persebaran Bencana di Indonesia |
Pengertian Bencana
Bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengganggu dan mengancam kehidupan manusia dari faktor alam atau non alam sehingga mengakibatkan kerugian.
Dampak bencana ialah terjadi banyak kerugian. Kerugian atas bencana tidak hanya berupa kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan, tetapi juga dampak psikologis yang dirasakan manusia dan adanya korban jiwa (ADDRN, 2010).
Penyebab bencana dapat berasal dari faktor alam, manusia, dan non alam. Faktor alam (natural disaster) disebabkan fenomena alam yang mengganggu keseimbangan ekosistem tanpa ada campur tangan manusia. Faktor manusia atau sosial (man-made disaster) disebabkan karena tindakan atau kelalaian manusia. Bencana karena faktor non alam (non-natural disaster) disebabkan oleh suatu hal yang bukan dari akibat peristiwa alam maupun perbuatan manusia, seperti gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
Dinamika bencana memengaruhi besar dan kecilnya dampak yang ditimbulkan. Dinamika bencana terjadi karena integrasi beberapa aspek yaitu kerentanan, ancaman, dan kapasitas. Berikut ialah uraian ketiga aspek tersebut.
Kerentanan
Kerentanan merupakan keadaan manusia yang menyebabkan ketidakmampuan dalam merespon ancaman. Perilaku manusia menjadi faktor penting dalam peningkatan kerentanan, bahkan sebagai pemicu bencana (Setyowati, 2019). Kerentanan terdiri dari kerentanan sosial, alam, dan ekonomi. Kerentanan sosial adalah kondisi kerapuhan sosial dalam merespon bencana, meliputi aspek angka kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, serta persentase penduduk usia tua dan anak-anak. Kerentanan alam didefinisikan sebagai sifat struktur fisik yang menentukan potensi kerusakan terhadap bencana untuk jenis material dan kualitas bangunan (Ebert et al., 2009). Selanjutnya, kerentanan ekonomi adalah kondisi kerapuhan ekonomi dalam merespon bencana yang terjadi, meliputi aspek angka persentase rumah tangga yang bekerja dari sektor rentan dan angka persentase rumah tangga dengan ekonomi yang rendah.
Ancaman
Ancaman adalah peristiwa yang berpotensi mengakibatkan kerugian, kerusakan lingkungan, dan korban jiwa (Adiyoso, 2018; Husein & Onasis, 2017). Ancaman disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu teknologi, manusia, lingkungan, dan alam. Ancaman dapat menimbulkan bencana dan juga tidak, tergantung dari kapasitas manusia dan kerentanannya. Ancaman menjadi bencana ketika manusia tidak memiliki kapasitas mengatasi suatu ancaman dan kondisinya dalam keadaan rentan. Sebaliknya, ketika manusia memiliki kapasitas dan tidak dalam kondisi rentan maka suatu ancaman tidak akan menjadi bencana.
Kapasitas
Kapasitas adalah penguasaan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam mencegah, menanggulangi, meredam, dan memulihkan kondisi akibat bencana. Kapasitas dapat dilakukan dengan kegiatan pencegahan terhadap terjadinya ancaman, mengurangi kekuatan ancaman, dan mengurangi kerentanan terhadap ancaman. Kapasitas dapat berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Kapasitas di daerah urban dan sub urban berbeda dalam merespon bencana.
Respon manusia terhadap bencana meliputi tiga kondisi (Husein & Onasis, 2017). Pertama, kurangnya kemauan dan ketidakmampuan manusia untuk mencegah, mengurangi ancaman, dan menanggulangi bencana. Kedua, kurangnya kemauan dan ketidakmampuan manusia untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kerentanan. Mirisnya, manusia lebih sering meningkatkan kerentanan dibandingkan menguranginya dengan melakukan berbagai tindakan/respon yang minim pengetahuan terkait potensi bencana. Ketiga, kurangnya kemauan dan ketidakmampuan dalam meningkatkan kapasitas manusia untuk menghadapi potensi bencana yang ada.
Jenis-Jenis Bencana
Wilayah-wilayah di negara kita terdampak bencana yang sangat beragam. Keberagaman bencana tersebut dikategorikan menjadi tiga yaitu bencana alam, non alam, dan sosial. Berdasarkan UU No. 24/2007, jenis-jenis bencana di Indonesia dapat dijabarkan sebagai berikut.
Bencana Alam
Bencana alam di Indonesia merupakan fenomena yang tidak asing lagi. Wilayah Indonesia sangat unik karena dilalui tiga lempeng besar dunia, curah hujan yang tinggi, berada pada cincin api pasifik, dan dikelilingi oleh lautan. Kondisi tersebut menjadi penyebab Indonesia memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi.
Bencana alam adalah fenomena yang disebabkan oleh suatu aktivitas alam. Bencana alam meliputi tanah longsor, tsunami, kekeringan, gempa bumi, kebakaran hutan, gunung meletus, banjir, dan puting beliung. Berikut akan diuraikan karakteristik dari masing-masing bencana tersebut:
Gempa Bumi
Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia merupakan tiga lempeng besar yang terletak di negara kita. Zona lempeng Pasifik dicirikan dengan adanya palung yang dalam. Lempeng ini berada di Halmahera dan bagian utara Papua. Selanjutnya zona lempeng Indo-Australia dan Eurasia berada di lepas pantai selatan Nusa Tenggara, selatan Jawa, dan barat Sumatra. Kondisi tersebut mengakibatkan negara kita rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Fenomena bergetarnya bumi akibat sesar (patahan), tumbukan lempeng, aktivitas vulkanik, jatuhnya benda langit, atau runtuhan disebut gempa bumi. Fenomena tersebut memiliki sifat merusak, periode waktu yang singkat, dan terjadi kapan saja. Gempa bumi dapat merusak rumah dan fasilitas umum seperti jembatan, jalan, rumah sakit, sekolah, dan lain sebagainya (BNPB, 2017). Terjadinya gempa bumi tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dicegah, namun dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi.
Beberapa gempa bumi yang terjadi di Indonesia antara lain gempa bumi pada tanggal 5 Agustus 2018 (Magma Indonesia, 2018), dengan magnitudo 7,0 dan kedalaman 15 km. Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan berat di Lombok. Selain itu, pernah terjadi gempa bumi berkekuatan 7,4 SR di kota Palu pada 28 September 2018. Gempa bumi ini diikuti likuifaksi dan tsunami dengan ketinggian sekitar 6 meter. Lebih dari 2.000 jenazah telah ditemukan. Pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi di Aceh yang pusat gempanya berada 250 km di tenggara Banda Aceh. Dampak gempa ini sangat dahsyat karena diikuti dengan tsunami yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 227.900 orang.
Tsunami
Wilayah-wilayah di negara kita yang dikelilingi laut dan berada pada perbatasan lempeng berpotensi mengakibatkan tsunami. Seperti beberapa waktu lalu, Palu dan Aceh dilanda bencana tsunami. Keduanya dipicu oleh gempa bumi di dasar laut dan mengakibatkan kerusakan yang besar.
Gelombang dari tengah laut yang menghantam wilayah pesisir dengan kecepatan lebih dari 900 km/jam disebut tsunami. Bencana ini diakibatkan oleh beberapa hal seperti letusan gunung api di laut, runtuhan di dasar laut, atau gempa bumi akibat pergerakan lempeng di dasar laut. Ketika gelombang laut tiba di muara sungai, pantai yang dangkal, atau teluk, maka kecepatannya akan menurun. Sedangkan kekuatan merusak dan ketinggiannya meningkat hingga puluhan meter (BNPB, 2017).
Beberapa tsunami yang terjadi di Indonesia meliputi: tsunami dengan ketinggian sekitar 6 meter di Palu pada 28 September 2018. Tsunami dipicu oleh gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR. Lebih dari 2.000 jenazah telah ditemukan (BBC News Indonesia, 2018). Pada tanggal 3 Juni 1994, pernah terjadi tsunami setinggi 7 m di Banyuwangi. Tsunami dipicu oleh gempa bermagnitudo 5,9 dan kedalaman 33 km. Korban tewas lebih dari 264 orang dan 213 rumah rata dengan tanah (Kompas, 2018).
Gunung Meletus
Negara kita yang terletak pada cincin api pasifik mengakibatkan sering terjadi bencana gunung meletus. Fenomena tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kita bandingkan korban jiwa pada letusan tahun 1930 dan 2010 (Khusniani, 2021). Pada tahun 1930, korban jiwa terbesar sebanyak 1.367 penduduk Desa Pagerjurang, Magelang. Pada tahun 2010, terjadi lagi dan mengakibatkan 341 orang tewas, 368 orang harus rawat inap, dan 61.154 orang mengungsi. Bencana gunung meletus ini juga berdampak pada kerusakan lingkungan dan harta benda.
Aktivitas tektonik merupakan fenomena yang berkaitan dengan aktivitas gunung berapi. Aktivitas tersebut mengakibatkan adanya deretan gunung api (volcanic arc) yang membentang dari barat hingga timur mulai dari sepanjang pulau Sumatra, Jawa-Bali-Nusa Tenggara, utara Sulawesi-Maluku, hingga Papua. Kondisi tersebut menyebabkan negara kita rentan terdampak bencana gempa bumi dan erupsi gunung api.
Fenomena proses keluarnya magma dari dalam bumi berupa material cair dan padat ke permukaan bumi disebut bencana letusan gunung berapi. Material-material tersebut meliputi lahar, bom, awan panas, debu vulkanik, dan lapili. Fenomena ini ditandai adanya getaran gempa kecil, perubahan suhu yang meningkat, layunya tumbuhan di lereng gunung, bermigrasinya binatang, keringnya mata air, dan suara gemuruh yang sering terdengar (Sinartejo, 2019).
Tanah Longsor
Periode tanah longsor di negara kita seolah-olah menjadi jadwal yang sudah ditetapkan. Peristiwa longsor berlangsung sangat cepat dan dapat terjadi kapan saja. Memasuki musim penghujan, masyarakat yang tinggal di daerah lereng sering kali mengalami ketakutan. Ketakutan meningkat ketika terjadi hujan deras yang berlangsung lama. Kondisi ini akan mengakibatkan pengikisan tanah yang cepat sehingga terjadi bencana longsor.
Kombinasi dari berbagai kondisi seperti lereng terjal, curah hujan tinggi, pengikisan tanah yang tinggi, getaran, tutupan vegetasi yang berkurang, dan tanah yang kurang padat dan tebal memicu terjadinya tanah longsor. Bencana ini terjadi sangat cepat sehingga proses evakuasi mandiri memiliki keterbatasan waktu. Segala sesuatu yang ada di zona longsoran akan tertimbun material longsor (BNPB, 2017).
Beberapa kejadian tanah longsor yang terjadi di Indonesia yaitu: 1) tanah longsor di Cihanjuang, Sumedang pada 9 Januari 2021 yang disebabkan hujan deras; 2) tanah longsor di Cisolok, Sukabumi pada 1 Januari 2019, daerah ini dikenal dengan daerah rawan bencana dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir; dan 3) tanah longsor di Madiun pada 2 April 2021 akibat hujan deras di seluruh wilayah Kabupaten Madiun dan lereng Gunung Wilis selama tujuh jam.
Banjir
Setiap musim penghujan, banjir selalu terjadi di berbagai daerah negara kita. Daerah dataran rendah lebih berisiko terkena banjir dibandingkan dengan dataran tinggi. Masyarakat perlu mengetahui letak dan kondisi tempat tinggalnya. Dengan demikian, mereka akan sadar dan dapat mengantisipasi terjadinya banjir.
Banjir adalah peristiwa tergenangnya air dalam jangka waktu tertentu pada wilayah yang mulanya tidak tergenang air. Penyebab bencana ini yaitu curah hujan lebat yang berlangsung lama sehingga menyebabkan danau, sungai, atau drainase meluap karena melebihi daya tampungnya. Selain itu, banjir juga diakibatkan oleh perilaku manusia. Contohnya yaitu hutan yang gundul, hunian dan bangunan di bantaran sungai, alih fungsi lahan, pembuangan sampah sembarangan, dan kurangnya daerah resapan air (BNPB, 2017).
Beberapa contoh peristiwa banjir di negara kita yaitu: 1) Banjir Jakarta pada 1 Januari 2020 yang melanda Tangerang, Bogor, Depok, DKI Jakarta, dan Bekasi yang diakibatkan gegabahnya pengelolaan di daerah hulu sehingga membuat limpahan air yang dahsyat; 2) Banjir bandang disertai longsor di Sentani, Jayapura tanggal 16 – 17 Maret 2019 yang terjadi karena intensitas hujan tinggi dan gundulnya pegunungan Cycloops; 3) Banjir Kalimantan Selatan yang terjadi pada 9 – 29 Januari 2021 akibat anomali cuaca dan curah hujan dengan intensitas tinggi sehingga memicu luapan air sungai.
Kekeringan
Datangnya musim kemarau mengisyaratkan negara kita akan terlanda bencana kekeringan. Dalam dekade terakhir, kekeringan berlangsung di berbagai tempat di Indonesia. Akibatnya jutaan hektar area pertanian di Jawa maupun luar Jawa terancam gagal panen. Selain itu, berbagai spesies tumbuhan banyak yang mati akibat bencana ini.
Keadaan kelangkaan air dari sumber hujan pada periode tertentu, satu atau lebih musim penghujan, yang menyebabkan kekurangan air di berbagai kegiatan, lingkungan, atau masyarakat tertentu disebut bencana kekeringan (UNISDR, 2019). Bencana alam ini terjadi secara perlahan, berlangsung lama hingga musim hujan tiba, berdampak sangat luas, serta bersifat lintas sektor (sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain). Di Indonesia kekeringan dikenal dengan sebutan kemarau yang ditandai dengan mengeringnya sungai, danau, waduk, dan hilangnya keanekaragaman hayati (Hermon, 2018).
Beberapa bencana kekeringan di Indonesia antara lain, pada bulan Agustus 2020 ratusan hektar lahan pertanian di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat mengalami kekeringan yang menyebabkan petani terancam gagal panen. Bencana serupa terjadi di Aceh Utara pada Maret 2021 lalu. Sekitar 90-an hektare lahan sawah di Desa Paya Beunot, Kecamatan Banda Baro, Aceh Utara dilanda kekeringan. Petani terancam gagal panen akibat musim kemarau.
Kebakaran Hutan dan Lahan
Ketika musim kemarau berlangsung di negara kita, beberapa potensi yang dapat terjadi selain kekeringan dan kekurangan air bersih, ialah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Dampak kebakaran ini mengakibatkan penyakit pernapasan pada manusia dan kematian berbagai flora fauna di negara kita.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah kondisi hutan dan lahan yang rusak dikarenakan api yang melanda kawasan tersebut sehingga berdampak merugikan di berbagai sektor. Suatu wilayah akan sangat rentan terjadi karhutla jika didukung adanya fenomena alam El Nino yang membuat curah hujan berkurang dan terjadi peningkatan suhu panas disertai angin (Zatul, 2021).
Contoh kebakaran hutan di Indonesia terjadi pada tanggal 1 Januari 2019, kebakaran hutan melanda provinsi Riau. Kebakaran terjadi dalam tempo 8 bulan sampai 31 Oktober 2019, dan ditetapkan status siaga darurat. Hingga bulan September 2019 luas lahan yang terbakar di seluruh Riau sejumlah 6.425,39 hektare. Salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau adalah aktivitas masyarakat dalam mengolah lahan pertanian atau perkebunan dengan menggunakan metode tebas bakar (slash and burn).
Angin Puting Beliung
Angin puting beliung umumnya terjadi saat musim pancaroba. Penyebutan angin puting beliung berbeda-beda di setiap daerah, misalnya orang Jawa menyebutnya Angin Puyuh, sedangkan di Sumatra menyebutnya Angin Bahorok. Terdapat istilah lain di negara Amerika Serikat, yaitu tornado. Bencana angin puting beliung ini sulit diprediksi kapan akan terjadi.
Intensitas fenomena hidrometeorologis yang meningkat pada musim pancaroba (peralihan) mengakibatkan bencana puting beliung. Angin ini merupakan bagian proses pertumbuhan dari awan cumulonimbus yang muncul akibat intensifnya pemanasan. Ancaman fenomena skala lokal ini sulit diprediksi (BNPB, 2017).
Beberapa peristiwa puting beliung yang pernah terjadi di Indonesia yaitu puting beliung di Desa Panguragan, Cirebon pada 30 Desember 2018. Selanjutnya pada 2 Januari 2021, tepatnya di Desa Selangit, Kecamatan Klangenan. Kabupaten Lampung Timur (Provinsi Lampung) pada 7 September 2021 juga dilanda bencana ini yang mengakibatkan rumah warga rusak ringan hingga berat.
Bencana non Alam
Masyarakat lebih banyak mengetahui jenis bencana alam dibandingkan bencana lain di sekeliling kita yang disebabkan oleh faktor non alam. Bencana non alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa non alam, seperti kegagalan teknologi, kegagalan modernisasi, dan epidemi atau wabah penyakit. Berikut akan diuraikan karakteristik dari masing-masing bencana tersebut:
Kegagalan Teknologi
Teknologi berkembang semakin pesat dan canggih. Tidak mengherankan jika penggunaan teknologi semakin hari meningkat tajam karena teknologi menyediakan berbagai hal yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia. Namun di sisi lain, apabila penggunaan teknologi tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan terjadinya bencana kegagalan teknologi.
Kegagalan teknologi adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian, atau kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan/atau industri. Bencana teknologi terdiri dari tiga kelompok, yaitu: 1) kecelakaan industri. Contoh: tumpahan barang kimia, runtuhnya infrastruktur dari industri, ledakan, kebocoran gas, keracunan, dll.; 2) kecelakaan transportasi, seperti kecelakaan udara, jalan, atau air yang berhubungan dengan alat transportasi; 3) kecelakaan lainnya, seperti runtuhnya domestik. Contoh bencana kegagalan teknologi di Indonesia adalah jatuhnya pesawat Adam Air KI 574 pada 1 Januari 2007, selain disebabkan oleh cuaca buruk, jatuhnya pesawat juga disebabkan karena kerusakan pada alat bantu navigasi Inertial Reference System (IRS) dan kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi situasi darurat.
Kegagalan Modernisasi
Tidak setiap lapisan masyarakat dapat menghadapi era modernisasi. Hanya masyarakat tertentu yang dapat bertransformasi dari keadaan yang kurang maju ke arah yang lebih baik. Harapan masyarakat yang berdampingan dengan teknologi yaitu tercapainya kehidupan masyarakat yang lebih maju dan sejahtera.
Modernisasi adalah upaya yang bertujuan untuk menyamai standar yang dianggap modern, baik oleh rakyat maupun oleh elite penguasa (Rosana, 2015). Jadi kegagalan modernisasi dapat diartikan sebagai kegagalan masyarakat dalam mengejar ketertinggalan dari masyarakat paling maju yang hidup berdampingan dengan mereka dalam periode historis yang sama dalam lingkup masyarakat global.
Kemiskinan merupakan contoh dari bencana kegagalan modernisasi. Papua merupakan daerah termiskin di Indonesia dengan persentase 26,8%, daerah kedua Papua Barat dengan persentase 21,7%, dan NTT menempati urutan ketiga daerah termiskin di Indonesia dengan persentase 21,21%. Ketertinggalan pembangunan di berbagai sektor telah menempatkan suatu daerah mengalami kemiskinan dan tertinggal dari masyarakat yang paling maju.
Epidemi atau Wabah Penyakit
Satu dekade terakhir menunjukkan bertambahnya frekuensi terjadinya bencana dengan skala lebih besar. Peluang terjadinya wabah penyakit semakin meningkat ditengah anomali iklim yang semakin memburuk. Hal ini menyebabkan sebuah wilayah dapat terjangkit endemi, pandemi, ataupun epidemi.
Epidemi adalah suatu penyakit yang menyebar dengan cepat ke wilayah atau negara tertentu dan mulai memengaruhi populasi penduduk di wilayah atau negara tersebut. Contoh epidemi yang pernah terjadi di Indonesia yaitu flu burung (H5N1) pada tahun 2012 (Marcelina, 2012). Selain itu, wabah penyakit yang lebih meluas juga bisa menjadi bencana non alam yang kita kenal sebagai pandemi dimana wabah penyakit meliputi daerah geografis yang luas meliputi seluruh negara atau benua.
Salah satu contoh kasus bencana ini yaitu pandemi Covid-19. Secara global, negara terdampak Covid-19 sebanyak 226 negara, jumlah terkontaminasi 248.467.363 orang, dan jumlah meninggal sebanyak 5.027.183 orang. Data tentang Covid-19 di Indonesia, jumlah positif Covid-19 sebanyak 4.247.320 orang, jumlah pasien sembuh sebanyak 4.092.586 orang, dan jumlah meninggal sebanyak 143.519 orang (Wicaksono, 2021).
Bencana Sosial
Kemajemukan bangsa yang memiliki ragam etnis, agama, bahasa, dan budaya menjadi ancaman jika perbedaan pendapat dan sudut pandang tidak menemukan jalan tengah. Apabila tidak dapat diredam, maka bencana sosial berwujud konflik dan aksi teror pun tidak dapat dielak. Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh manusia yang meliputi kerusuhan atau konflik sosial antar kelompok maupun antar komunitas masyarakat, dan teror disebut bencana sosial. Terdapat beberapa karakteristik dari masing-masing bencana tersebut.
Kerusuhan atau Konflik Sosial
Sebagai gejala sosial, kerusuhan atau konflik sosial merupakan peristiwa yang seringkali tak dapat dihindari kejadiannya di masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, setiap individu atau kelompok mempunyai keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan, kekuasaan, prestise, maupun dukungan sosial yang mungkin berbeda satu dengan yang lain. Jika dalam suatu kondisi tertentu dihadapkan secara bersama, maka dapat menimbulkan konflik. Suatu kondisi huru-hara berlangsung, kerusuhan, perang, atau keadaan yang tidak aman di suatu daerah tertentu yang melibatkan lapisan masyarakat, golongan, suku, atau pun organisasi disebut kerusuhan atau konflik sosial (BNPB, 2012).
Indonesia memiliki wilayah luas dengan keanekaragaman suku, bahasa, agama, ras, dan etnis. Keragaman sosial tersebut dapat menjadi kekuatan pemersatu bangsa apabila dikelola dengan baik, dan sebaliknya dapat menjadi sumber konfik atau kerusuhan sosial jika tidak terkelola dengan baik. Pemerintah, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan memiliki peran penting dalam mengupayakan integrasi sosial di atas keragaman tersebut.
Masyarakat Indonesia pernah mengalami beberapa kali kerusuhan dan konflik sosial hingga menjadi bencana sosial yang merugikan kehidupan masyarakat. Peristiwa kerusuhan itu telah meningakibatkan kerugian, tidak hanya harta benda tetapi juga hilangnya nyawa manusia. Kerusuhan dan konflik sosial tersebut terjadi karena ada salah pengertian, persaingan dalam usaha hingga perebutan sumberdaya. Namun, dengan kerjasama yang baik antara pemerintah setempat, aparat keamanan, dan tokoh-tokoh masyarakat, peristiwa konflik dan kerusuhan sosial tersebut dapat diatasi dan kita dapat terhindar dari konflik sosial yang mengarah pada disintegresi masyarakat.
Aksi Teror
Aksi terorisme kerap terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun. Mulai dari maraknya aksi radikalisme hingga bom bunuh diri menjadi salah satu serangan teror di wilayah NKRI. Berulangnya aksi teror melalui kelompok/ jaringan menunjukkan eksistensi masing-masing kelompok.
Aksi teror atau sabotase adalah semua tindakan yang menyebabkan keresahan masyarakat, kerusakan bangunan, dan mengancam atau membahayakan jiwa seseorang/banyak orang oleh seseorang atau golongan tertentu yang tidak bertanggung jawab. Bencana aksi teror atau sabotase pada suatu tempat tidak dapat diperkirakan karena hal tersebut terjadi secara tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat (BNPB, 2012).
Beberapa aksi terorisme yang terjadi di Indonesia antara lain: 1) Bom Bali 2002, menjadi salah satu sejarah terorisme terbesar di Indonesia; 2) Bom Surabaya 2018, rangkaian peristiwa meledaknya bom di tiga tempat di Surabaya dan Sidoarjo; dan 3) Pengeboman Makassar 28 Maret 2021, sebuah ledakan bom yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar.
Dampak Kebencanaan Terhadap Kehidupan
Berbagai jenis bencana telah kalian pelajari sebelumnya. Bencana sangat memengaruhi aktivitas dan kehidupan sehari-hari manusia berupa dampak positif dan negatif. Dampak positif yaitu bencana dapat memberikan keberkahan, sebaliknya dampak negatif dapat memberikan kerugian bagi kehidupan manusia. Beberapa dampak bencana yang memengaruhi kehidupan manusia sebagai berikut:
Letusan Gunung Berapi
Beberapa dampak negatif bencana yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Tercemarnya udara dari abu vulkanik. Gas di dalamnya seperti sulfur dioksida, nitrogen dioksida, hidrogen sulfida, dan partikel debu lain yang dapat membunuh makhluk hidup.
- Lumpuhnya berbagai kegiatan atau aktivitas manusia, rusaknya ekosistem, dan hancurnya berbagai bangunan.
- Material letusan gunung berapi berpotensi menyebabkan penyakit seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
Terdapat beberapa dampak positif bencana yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Tanah menjadi subur dikarenakan telah dilalui abu vulkanik gunung berapi. Abu vulkanik mengandung mineral primer yang memiliki kandungan nutrisi yang melimpah dan baik bagi tanah.
- Tercipta mata pencaharian baru, yaitu penambang pasir dan bebatuan.
- Terdapat geyser (sumber mata air panas) yang sangat baik untuk kesehatan kulit manusia.
Tanah Longsor
Beberapa dampak negatif dari tanah longsor yang memengaruhi kehidupan manusia sebagai berikut:
- Sanitasi lingkungan menjadi buruk.
- Harga jual tanah menurun.
- Infrastruktur di lokasi tanah longsor rusak, jalur transportasi terputus, dan perekonomian tersendat.
Terdapat beberapa dampak positif dari tanah longsor yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Kondisi tanah akan kembali menjadi gembur, terjadi perubahan tekstur tanah, dan mempercepat terjadinya proses peleburan batu dalam tanah.
- Masyarakat sadar pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup dan melestarikan hutan.
- Munculnya motivasi atau penelitian oleh ahli geologi dan masyarakat tentang penyebab dan pencegahan tanah longsor.
Gempa Bumi
Beberapa dampak negatif dari gempa bumi yang memengaruhi kehidupan manusia ialah sebagai berikut:
- Jaringan transportasi dan komunikasi terganggu, serta banyak bangunan dan fasilitas umum menjadi rusak.
- Munculnya rekahan (patahan), longsoran, dan luncuran tanah yang dapat terjadi bersamaan dengan gempa.
- Air bawah tanah dapat mengalami perubahan disebabkan oleh sesar atau guncangan, dan d. memicu timbulnya tsunami apabila gempa bumi berkekuatan besar dan berasal dari laut dangkal.
Beberapa dampak positif dari gempa bumi yang memengaruhi kehidupan manusia ialah sebagai berikut:
- Dapat memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di bawah tanah, sehingga dapat membuat ekstraksi minyak dan gas lebih efisien.
- Dapat memberikan informasi tentang struktur bumi misalnya, ruang magma yang memungkinkan ilmuwan untuk memonitor aktivitas gunung berapi.
- Memberikan informasi tentang struktur internal Bumi. Dengan mengukur waktu yang diperlukan gelombang seismik untuk melintasi bumi maka dapat memetakan struktur bumi.
Kekeringan
Terdapat beberapa dampak negatif dari kekeringan yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Banyak tanaman mati karena tidak bisa mendapatkan sumber air untuk hidup, kecuali beberapa jenis pohon seperti pohon jati dan kaktus.
- Meningkatkan polusi karena tanaman sebagai agen yang memproses gas karbondioksida berkurang.
- Sumber air bersih berkurang dan gersangnya tanah lahan bercocok tanam.
Terdapat beberapa dampak positif dari kekeringan yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Kekeringan dapat mempercepat proses panen garam, meningkatnya kualitas panen buah-buahan dari tanaman pohon, mempercepat proses penjemuran ikan asin, tingginya peluang untuk menanam palawija, dan terdapat potensi energi sinar matahari sebagai pembangkit listrik.
- Keringnya genangan air membuat sanitasi menjadi lebih baik sehingga beberapa jumlah penyakit seperti diare menurun.
- Jalur transportasi laut akan jarang menemui kendala dan perbaikan jalan aspal akan berjalan lancar.
Banjir
Berikut beberapa dampak negatif dari banjir yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Kerusakan jalan raya, bangunan, jembatan, sistem selokan, kanal, dan sarana prasarana lainnya.
- Terjadi masalah kesehatan (wabah penyakit) akibat air kotor dan kesulitan persediaan air bersih.
- Bidang pertanian mengalami kerugian (gagal panen), kerusakan spesies tertentu, dan kelangkaan barang yang mendorong kenaikan harga.
Berikut beberapa dampak positif dari banjir yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Lapangan kerja baru pada bidang transportasi. Banyak orang yang membutuhkan sarana transportasi air sehingga dapat meningkatkan kreativitas dalam menciptakan sarana transportasi air.
- Mempermudah sosialisasi terkait penghijauan dan kepedulian lingkungan.
Kebakaran Hutan
Berikut beberapa dampak negatif dari kebakaran hutan yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Rusaknya ekosistem hutan, musnahnya flora fauna, mengganggu bidang transportasi penerbangan, berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.
- Asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung, dan iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung.
Berikut beberapa dampak positif dari kebakaran hutan yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Pasca kebakaran akan berdampak pada suburnya lahan. Kebakaran di kawasan gambut dapat mengurangi atau menurunkan keasaman.
- Kebakaran lahan berdampak pada pembunuhan penyakit tanaman, serta dapat membersihkan fondasi tanah dari tanaman pengganggu.
- Beberapa tanaman memerlukan adanya api seperti semak manzanita dan chamise. Tanaman tersebut memerlukan nyala api untuk proses perkembangbiakan biji. Api pembakaran digunakan untuk menghasilkan regenerasi tanaman.
Tsunami
Berikut beberapa dampak negatif dari tsunami yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Tsunami merusak apa saja yang dilaluinya, seperti sarana prasarana, tumbuh-tumbuhan, dan menimbulkan korban jiwa.
- Tsunami menyebabkan gagal panen, menimbulkan genangan air, dan pencemaran air asin pada tanah maupun air bersih.
Berikut beberapa dampak positif dari tsunami yang memengaruhi kehidupan manusia.
- Kita dapat mengetahui kekuatan konstruksi bangunan serta kelemahannya, dan melakukan perbaikan dalam konstruksi bangunan agar lebih kuat.
- Dapat memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di bawah laut dan aktivitas vulkanik di dalamnya.
- Motivasi dan penelitian oleh ahli geologi tentang aktivitas vulkanik dan hubungannya dengan kebencanaan tsunami.
Persebaran Bencana di Indonesia
Posisi geografis Indonesia berpengaruh pada kondisi wilayah yang rawan bencana. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng besar dunia. Aktivitas lempeng menyebabkan Indonesia terdampak fenomena vulkanik dan gempa bumi. Selain itu, juga mengakibatkan terbentuknya relief muka bumi yang khas dan bervariasi sehingga dapat menyebabkan tanah longsor. Selain itu, terdapat ancaman bencana banjir, tsunami, angin puting beliung, penurunan lahan, dan lainnya.
Pengurangan risiko dan dampak bencana dapat dilakukan dengan mengetahui persebaran daerah rawan bencana. Persebaran daerah rawan bencana dapat diinformasikan pada masyarakat melalui pemetaan. Pemetaan akan membantu masyarakat memiliki sikap siap siaga apabila terjadi bencana sehingga dampak bencana dapat diminimalisir. Berikut ini adalah persebaran wilayah rawan bencana alam di negara kita.
Gempa Bumi
Daerah di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, pulau Jawa bagian selatan, Lombok, hingga Maluku sering dilanda getaran gempa. Beberapa tempat tersebut memiliki getaran gempa yang kuat bahkan kuat sekali, sehingga menimbulkan bencana gempa Bumi. Getaran gempa yang kita rasakan terkadang hanya menggetarkan barang disekitar, namun juga sering menjatuhkan bahkan meruntuhkan bangunan di berbagai wilayah Indonesia.
Gempa bumi terjadi secara tiba-tiba dan dapat berdampak besar terhadap daerah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Kekuatan gempa sebesar 5 atau 6 SR sering terjadi di negara kita, namun tidak berdampak pada kerugian. Kekuatan gempa lebih dari 7 Skala Richter dapat menyebabkan kerugian besar di Indonesia. Hal ini terjadi dua atau tiga kali setiap tahunnya. Gempa bumi berdampak pada aktivitas manusia hingga kondisi lingkungan hidup.
Mayoritas bencana gempa bumi diakibatkan oleh patahan (aktivitas tektonik atau deformasi batuan). Sebaran pusat gempa tersebar pada perbatasan lempeng (divergen, konvergen, dan transform), sehingga terdapat hubungan sangat erat antara aktivitas tektonik dengan bencana gempa bumi. Posisi Indonesia pada perbatasan lempeng menyebabkan banyaknya jumlah patahan dan tingginya ancaman gempa bumi. Pulau Papua bagian utara, Nusa Tenggara, Sumatra, Jawa, dan Sulawesi bagian utara memiliki potensi terdampak gempa bumi yang tinggi.
Bagian selatan Indonesia (Nusa Tenggara, Sumatra, Jawa) memiliki risiko yang tinggi. Selanjutnya, Sulawesi bagian utara, Ambon, dan Papua bagian utara juga memiliki risiko yang sama tingginya. Ancaman ini dikarenakan adanya lempeng-lempeng kecil di daerah utara seperti Lempeng Filipina. Pulau Jawa bagian tengah, Maluku, dan Sumatra bagian tengah masuk pada zona ancaman sedang. Pulau Kalimantan memiliki ancaman rendah karena jauh dari perbatasan dan pertemuan lempeng.
Sesar Semangko yang ada di Sumatra membentang dari teluk semangko (selatan Lampung) sampai Banda Aceh. Zona subduksi dengan sesar ini membentang secara paralel. Hal ini merupakan akibat dari Eurasia dan IndoAustralia. Zona patahan dengan variasi gempa Sumatra memiliki kedalaman dangkal (≤ 20km) dan berkekuatan sedang hingga kuat. Tingginya kerusakan yang parah dilihat dari semakin tingginya kekuatan dan kedangkalan pusat gempa. Selain sesar semangko, terdapat juga sesar lainnya seperti sesar cimandiri, opak, dan grindulu yang ada di Jawa.
Letusan Gunung Berapi
Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi mengenal beberapa hal yang tak biasa. Tanda-tanda yang muncul ketika gunung akan meletus ialah suara gemuruh, getaran-getaran gempa, air yang tiba-tiba menghilang, beberapa tumbuhan layu, suhu terasa lebih panas, bahkan hewan-hewan mulai bermigrasi.
Menurut laporan evaluasi Kementerian ESDM pada tahun 2017, aktivitas gunung berapi di Indonesia ialah sebagai berikut:
- Level awas (level IV) diantaranya yaitu G. Sinabung.
- Level waspada (level II). Tercatat 15 gunungapi meliputi G. Kerinci, G. Lokon, G. Semeru, G. Karangetang, G. Ibu, G. Gamkonora, G. Gamalama, G. Sangeang Api, G. Anak Krakatau, G. Dukono, G. Bromo, G. Rinjani, G. Soputan, G. Rokatenda, dan G. Merapi.
- Level normal (level I) kondisi ini menunjukkan belum adanya aktivitas vulkanik dan tidak ada korban jiwa dari wisatawan.
Indonesia memiliki banyak gunung berapi. Persebaran gunung berapi di Indonesia berhubungan dengan lokasi zona subduksi lempeng seperti Sumatra, Jawa, Nusa tenggara, Maluku, dan Sulawesi. Pulau Papua dan Kalimantan adalah pulau yang tidak dijumpai gunung berapi. Wilayah sekitar gunung berapi memiliki risiko yang tinggi terdampak erupsi. Bahaya fenomena ini meliputi letusan akibat aktivitas vulkanik berupa benda cair, padat, dan gas yang akan membahayakan manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Tsunami
Tinggal di pesisir merupakan kesenangan tersendiri untuk dapat melihat panorama air biru dan keindahan gelombang lautnya. Di samping keindahan tersebut, tanda-tanda alam yang tak biasa perlu kita pahami karena dapat memberikan informasi terjadinya bencana. Tanah bergetar, suara gemuruh ombak yang tak biasa, dan air laut mendadak surut merupakan tanda-tanda yang disinyalir akan terjadi bencana tsunami.
Sumatra bagian selatan, kepulauan Maluku, dan Papua bagian utara memiliki risiko tsunami yang tinggi berdasarkan peta indeks ancaman tsunami Indonesia. Ancaman risiko tsunami yang rendah berada di Jawa dan pegunungan Sumatra. Selain itu, risiko yang rendah juga ada di pulau Kalimantan.
Salah satu bencana tsunami yang diakibatkan aktivitas tektonik terjadi pada tahun 2006 di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Tsunami ini berawal dari gempa bumi berkekuatan 6,8 SR, dengan titik pusat gempa berada di kedalaman ≤ 30 km. Tsunami menerjang pantai selatan Jawa Barat seperti Cipatujah, Pangandaran, pantai selatan Cianjur, Cilauteureun, dan Sukabumi. Akibat bencana ini ratusan orang meninggal, hotel sepanjang pantai hancur, puluhan jiwa hilang, ratusan orang mengalami cedera, dan ratusan rumah hancur.
Banjir
Kita sering mendengar bahwa ketika curah hujan tinggi terjadi maka potensi bencana banjir akan meningkat. Langit berwarna gelap, hujan turun dengan deras dan berlangsung lama dapat menjadi tanda-tanda banjir. Kondisi ini memicu terjadinya banjir seperti yang terjadi di Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Kapuas Hulu di tahun 2021. Akibatnya banyak rumah rusak, sawah maupun ladang tergenang lumpur, bahkan banyak korban jiwa akibat bencana ini.
Mayoritas wilayah di Indonesia memiliki potensi bencana banjir. Potensi banjir dapat disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan keberadaan rawa-rawa seperti di Papua bagian selatan. Namun tidak hanya dari faktor fisik tersebut yang berkontribusi terjadinya banjir, faktor dari aktivitas dan kesadaran manusia juga menjadi penyebab terjadinya banjir.
Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya banjir dari peran manusia. Pertama, pembangunan di kawasan ruang terbuka hijau seperti pemukiman, jalan, dan gedung perkantoran. Kedua, berkurangnya resapan air hujan akan mengalirkan air ke jalanan dan mengakibatkan banjir. Ketiga, sistem drainase yang buruk juga menyumbang terjadinya banjir. Keempat, pemanfaatan waduk yang kurang maksimal. Kelima, normalisasi sungai yang rendah juga menjadi penyebab banjir dimana perlu relokasi permukiman bantaran sungai ke tempat layak huni.
Kekeringan
Beberapa wilayah di Pulau Jawa saat bulan tertentu mengalami musim kemarau. Wilayah tersebut diantaranya yaitu Kabupaten Kebumen, Wonogiri, Tasikmalaya, Bekasi, Ciamis, Cianjur, Mojokerto, Trenggalek, dan Ponorogo. Pada bulan-bulan tertentu, sawah-sawah menjadi kering dan tak ada lagi air untuk tanaman/irigasi. Waduk dan sungai juga mengalami kekeringan. Warga di tempat tersebut mengalami kesulitan air bersih untuk minum, mandi, dan cuci.
Ancaman bencana kekeringan yang tinggi terdapat di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Wilayah yang terancam kekeringan ini yaitu daerah gardu luar, daerah irigasi golongan, daerah pertanian tadah hujan, dan titik endemik kekeringan. Kekeringan suatu daerah sangat dipengaruhi kondisi curah hujan, iklim yang kering, lahan yang mampu meloloskan air, atau adanya fenomena el nino.
Kekeringan di beberapa daerah merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim. Indikasi utama perubahan ini yaitu adanya anomali cuaca, pembalakan hutan besar-besaran, pertambangan non berkelanjutan, tingginya intensitas pembangunan gedung, dan tingginya alih fungsi lahan daerah pegunungan/perbukitan menjadi permukiman. Aktivitas tersebut mengakibatkan beberapa waduk di Jawa mengalami penurunan debit sehingga mengalami defisit air dalam memenuhi kebutuhan irigasi pertanian dan mengeringnya sumur masyarakat.
Tanah Longsor
Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang kerap terjadi di negara kita. Banyak wilayah Indonesia yang berpotensi mengalami bencana tersebut seperti Kabupaten Bogor, Cianjur, Bandung, Purwakarta, Sukabumi, Tegal, Purbalingga, dan Sumedang. Potensi bencana tanah longsor terjadi karena beberapa faktor, yaitu topografi wilayah yang bergunung-gunung dan berbukit-bukit dengan lereng yang terjal, daerah dataran tinggi, curah hujan yang tinggi/ekstrim, dan endapan tanah remah.
Salah satu bencana longsor di Indonesia yang sering terjadi yaitu pada tahun 2016. Sebanyak 612 kali tercatat bencana ini di tahun 2016. Contohnya di Purworejo yang menyebabkan puluhan korban jiwa. Pada tahun 2017, tanah longsor di Ponorogo mengakibatkan korban jiwa yaitu 17 orang lukaluka, dan 28 orang diprediksikan tertimbun.
Kebakaran Hutan
Hampir setiap musim kemarau kita menyaksikan pemandangan asap yang menutup jarak pandang hingga tinggal beberapa meter. Asap itu seringkali mengganggu penerbangan, lalu lintas jalan, bahkan menimbulkan penyakit pernapasan. Asap tersebut berasal dari kebakaran hutan.
Indonesia banyak memiliki titik api yang disinyalir sebagai kebakaran hutan. Titik api ini didapati pada Kalimantan dan Sumatra. Pembakaran lahan yang tidak terkendali dan tidak memperhitungkan aspek keberlanjutan menyebabkan titik api menyebar ke lahan lainnya. Pembukaan lahan dilakukan oleh masyarakat atau perusahaan. Ketika pembakaran lahan dilakukan dalam skala besar, maka dapat memicu terjadinya kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan. Berikut Peta Potensi Kemudahan Terjadinya Kebakaran Ditinjau dari Analisa Parameter Cuaca.
Angin Puting Beliung
Pada tahun 2018, di saat yang tak terduga-duga di Desa Mulyorejo, Jawa Timur terjadi angin yang kencang disertai gerakan berputar. Tiupan dan putaran udara itu menimbulkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk. Atap rumah hancur, bahkan sebagian atap yang terbuat dari seng dan plastik terlempar jauh akibat tiupan angin. Itulah yang disebut bencana angin puting beliung.
Ancaman angin puting beliung relatif rendah di Indonesia. Pulau Jawa memiliki ancaman dari skala sedang hingga tinggi, sehingga memerlukan perhatian khusus. Angin puting beliung terbentuk akibat adanya awan Cumulonimbus (Cb) yang biasa ada selama musim penghujan. Namun, tidak semua awan Cb dapat mengakibatkan bencana angin puting beliung.
Penyebab terjadinya angin puting beliung dikarenakan bertemunya udara dingin dengan udara panas, sehingga terjadi bentrokan dan membentuk puting beliung. Kuatnya arus udara naik ke atas di dalam awan juga menjadi penyebab utama. Air hujan yang masih tertahan oleh udara naik ini membentuk awan Cb yang berpotensi menimbulkan puting beliung.
Ciri-ciri bencana angin puting beliung diantaranya yaitu sering terjadi pada siang hari. Biasanya puting beliung terjadi di daerah dataran rendah. Bencana puting beliung belum dapat diprediksikan karena terjadi secara tibatiba (5-10 menit) pada skala lokal. Pusaran angin berbentuk seperti belalai gajah, dan jika kehadirannya berlangsung lama, maka lintasan yang dilaluinya mengalami kerusakan.
Baca Kumpulan: Rangkuman Geografi Kelas 11 SMA

