Abdul Rauf as-Singkili : Sosok dan Keteladanan

Abdul Rauf as-Singkili : Sosok dan Keteladanan

Wislahcom | Referensi | : Perkembangan ajaran-ajaran tasawufdi Indonesia tidak lepas dari jasa para sufi yang telah menyebarkannya. Berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari tantangan sosial yang tak jarang dikucilkan dari masyarakat, tantangan ekonomi, hingga tantangan keselamatan diri. Tak jarang kita dapati informasi sejarah para sufi yang dibunuh karena perbedaan pandangan dan kepentingan kekuasaan. Namun, itu semua tidak menghalangi mereka untuk terus menebarkan ajaran-ajaran yang pada umumnya bertujuan membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di antara para sufi tersebut adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdul Somad al-Falimbani, Abdul Rauf as-Singkili, Abdul Muhyi Pamijahan, Syaikh Yusuf al-Makasari, Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari,

Perjalanan kehidupan dan ilmu para sufi perlu dipelajari sebagai referensi dan hikmah teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat.

Pada kesempatan kali ini akan membahas tentang Abdul Rauf as-Singkili.


Simak penjelasan singkat tentang : Sosok Abdul Rauf as-Singkili dan Keteladanan Abdul Rauf as-Singkili.

Sosok Abdul Rauf as-Singkili

Nama lengkapnya adalah Abdul Rauf bin Ali al-Jawiy al-Fansuri al-Singkel. Seperti tercermin dalam namanya, ia adalah orang Melayu dari Fansur, Singkel, di wilayah pantai Barat Laut Aceh. Latar belakang keluarganya hingga riwayat kelahiran secara pasti tidak diketahui. Voerhoove menyebut tahun 1620 M. Rinkes menyebutnya 1615 M, dan ada pula yang menyebut 1593 M. Beliau wafat pada tahun 1693 M.

Sepanjang hayatnya Syaikh Abdul Rauf as-Singkili telah menghasilkan puluhan karya tulis diberbagai bidang tasawuf dan fiqih. Abdul Ra’ud masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Hamzah Fansuri. Saat Abdul Rauf pulang dari menimba ilmu di Jazirah Arab, kondisi Aceh masih dalam kecamuk. Terjadi perseteruan terkait paham Wujudiyah atau Kesatuan Wujud (Waḥdatul Wujud) dengan tokohnya Hamzah Fansuri dan muridnya Syamsudddin as-Sumatrani dengan ar-Raniri, dan eksekusi terhadap para penganutnya.


Nuruddin ar-Raniri sebagai mufti Kesultanan Aceh mengeluarkan fatwa bahwa paham wujudiyah sesat dan mereka yang menolak untuk taubat dianggap kafir dan layak dihukum mati. Karena posisi Nuruddin ar-Raniri sebagai pejabat agama, maka perbedaan pemikiran itu tidak hanya selesai di soal pendapat. Saat Abdul Rauf as-Singkili menggantikan posisi ar-Raniri sebagai mufti, perseteruan ini masih tetap terjadi di Aceh. As-Singkili di daulat Sultanah Safiyatuddin sebagai Qadhi Malik al-Aidil atau mufti yang bertanggungjawab atas masalah-masalah keagamaan. Dalam kapasitasnya sebagai Mufti Kesultanan Aceh, beliau mempunyai dua kewenangan Pertama, dia punya kewenangan untuk membuat undang-undang atau sebagai dewan fatwa. Kedua, beliau punya wewenang mengawasi pelaksanaan undang-undang kalau sultan tidak melaksanakannya.

Abdul Rauf as-Singkili memiliki gelar Teungku Syiah Kuala. Dalam Bahasa Aceh artinya Syekh Ulama di Kuala. Gelarnya ini kemudian diabadikan menjadi salah satu perguruan tinggi di Aceh, Universitas Syiah Kuala. Semasa pemerintahannya, ketika menyelesaikan permasalahan paham wujudiyah beliau tidak mau berpolemik. Walaupun ada beberapa aspek yang tidak disetujuinya, ia memilih menyampaikan pendapatnya secara tidak kasar apalagi menyerang. Saat mengkritik ia tidak menyampaikan secara terbuka. Ajarannya toleran. Beliau berpegang kepada sebuah hadis yang artinya: “Jangan menuduh orang lain menjalankan kehidupan penuh dosa dan kafir, sebab tuduhan itu akan berbalik jika ternyata tidak benar.”

Keteladanan Abdul Rauf as-Singkili

Adapun keteladanan Abdul Rauf, beliau lebih menekankan sisi kekuatan integritas modal dan etika. Kekuasaan yang besar itu tidak untuk memvonis seseorang salah beragama. As-Singkili sangat menekankan bahwa kerukunan di antara sesama muslim yang menganut wujudiyah yang anti atau kontra dengan paham itu. Dengan cara seperti ini ia membuka jalan terciptanya resolusi konflik antara mereka yang pro dan kontra. Berbeda dengan ar-Raniri, as-Singkili berupaya mendamaikan dua paham atau kelompok yang berseteru. Keteladanan yang didapat dari seorang Syaikh Abdul Rauf beliau mampu membangun kerukunan umat beragama dan berpandangannya moderat. Dari aktivitas Abdul Rauf as-Singkili kita bisa mengambil teladan terutama dari semangat membangun kerukunan umat beragama.

Related posts