Syamsuddin Sumatrani : Sosok dan Keteladanan

Syamsuddin Sumatrani : Sosok dan Keteladanan

Wislahcom | Referensi | : Perkembangan ajaran-ajaran tasawuf di Indonesia tidak lepas dari jasa para sufi yang telah menyebarkannya. Berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari tantangan sosial yang tak jarang dikucilkan dari masyarakat, tantangan ekonomi, hingga tantangan keselamatan diri. Tak jarang kita dapati informasi sejarah para sufi yang dibunuh karena perbedaan pandangan dan kepentingan kekuasaan. Namun, itu semua tidak menghalangi mereka untuk terus menebarkan ajaran-ajaran yang pada umumnya bertujuan membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di antara para sufi tersebut adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdul Somad al-Falimbani, Abdul Rauf as-Sinkili, Abdul Muhyi Pamijahan, Syaikh Yusuf al-Makasari, Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari.

Perjalanan kehidupan dan ilmu para sufi perlu dipelajari sebagai referensi dan hikmah teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat.

Pada kesempatan kali ini akan membahas tentang Syamsuddin Sumatrani.

Simak penjelasan singkat tentang : Keteladanan Syamsuddin Sumantrani dan Keteladanan Syamsuddin Sumantrani.

Sosok Syamsuddin Sumantrani

Syamsuddin Sumatrani adalah tokoh sufi Aceh yang hidup pada masa kejayaan kesultanan Aceh, Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636 M). Informasi tentang perjalanan hidupnya tidak banyak dan asal-usul kelahirannya juga tidak diketahui. Namun sejarah mencatat bahwa beliau wafat pada tahun 1630 M. Beliau adalah murid Hamzah Fansuri. Sebutan Sumatrani yang selalu diikuti di belakang namanya karena dirinya berasal dari Sumatra. Terkadang beliau dipanggil Syamsuddin Pasai karena di Pulau Sumatra ini pada tempo dulu pernah berdiri sebuah kerajaan yang cukup ternama yaitu Samudra Pasai.

Syamsuddin Sumatrani merupakan tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani masyarakat dan menjadi kepercayaan sultan Aceh pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589–1604 M). Ia pernah berada dalam lingkungan dan bahkan berhubungan erat dengan penguasa kerajaan Aceh Darussalam. Beliau adalah salah seorang ulama yang paling terkemuka dan berpengaruh dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas ke-Islaman Aceh di abad 17 M. Beliau juga perumus ajaran Martabat Tujuh di Nusantara serta pengaturan nafas saat berzikir.

Keteladanan Syamsuddin Sumantrani

Syamsuddin Sumatrani adalah sosok ulama yang berpikiran terbuka. Sifat ini menjadikannya sebagai tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani semua kalangan. Beliau sempat menjadi orang kepercayaan sultan Aceh pada pemerintahan Sayyid Mukammil (1589-1604). Ia pernah berada dalam lingkungan dan bahkan berhubungan erat dengan penguasa kerajaan Aceh Darussalam. Beliau adalah satu dari empat ulama yang paling terkemuka dan ia mempunyai pengaruh serta peran yang cukup signifikan dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas keislaman Aceh pada sekitar abad ke 17 dan beberapa dasawarsa sebelumnya. Selain itu, dia merupakan perumus ajaran martabat tujuh petama di Nusantara beserta pengaturan nafas waktu zikir. Adapun karya-karya beliau yaitu: Jauhar al-Haqaiq, Risalah Tubayyin Mulahazat al- Muwahhidin wa al-Muwahhidin fi zikirillah, Mir’ah al-Mukminin, Nur al-Daqaiq, Tā riq al-Sālikin, Mir’ah al-Iman, Kitab al-Haraqah, Syarah Ruba’I Hamzah al-Fansuri, Syarah Syair Ikan Tongkol.

Related posts