Abdul Somad al-Falimbani : Sosok dan Keteladanan

Abdul Somad al-Falimbani : Sosok dan Keteladanan

Wislahcom | Referensi | : Perkembangan ajaran-ajaran tasawuf di Indonesia tidak lepas dari jasa para sufi yang telah menyebarkannya. Berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari tantangan sosial yang tak jarang dikucilkan dari masyarakat, tantangan ekonomi, hingga tantangan keselamatan diri. Tak jarang kita dapati informasi sejarah para sufi yang dibunuh karena perbedaan pandangan dan kepentingan kekuasaan. Namun, itu semua tidak menghalangi mereka untuk terus menebarkan ajaran-ajaran yang pada umumnya bertujuan membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di antara para sufi tersebut adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdul Somad al-Falimbani, Abdul Rauf as-Sinkili, Abdul Muhyi Pamijahan, Syaikh Yusuf al-Makasari, Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari.

Perjalanan kehidupan dan ilmu para sufi perlu dipelajari sebagai referensi dan hikmah teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat.

Pada kesempatan kali ini akan membahas tentang Abdul Somad al-Falimbani.


Simak penjelasan singkat tentang : Sosok Abdul Somad al-Falimbani dan Keteladanan Abdul Somad al-Falimbani.


Sosok Abdul Somad al-Falimbani

Syaikh Abdul Samad al-Falimbani dilahirkan di Palembang tahun 1116 H/1704 M, dan meninggal di Patani Thailand tahun 1832 M. Nama lengkapnya adalah Abdul Samad bin Abdullah bin al-Jawi al-Falimbani. Semasa hidup di Patani beliau merupakan panglima perang Patani dan Kedah melawan tentara Siam. Syaikh Abdul Samad al-Falimbani adalah penulis yang produktif, di antara karya-karyanya yang sangat dikenal adalah : Zurah al-Murid fi al-Bayan Kalimah al-Tauhid, Hidayah al-Salikin fi Suluk al-Maslak alMuttaqin, Tuhfat al-Raghibin fi Bayan Haqiqat alIman al-Mukminin, al-‘Urwah al-Wusqa wa Silsilah Ulil Ittiqa, Ratib Abdal Samad, Zat al-Muttaqin fii Tauhid Rabb al-Alamin.

Keteladanan Abdul Somad al-Falimbani

Syaikh Syamsuddin adalah sosok ulama yang sangat kritis. Dia selalu mengkritisi kalangan yang mempraktikkan tasawuf secara berlebihan, dan mengingatkan akan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat, khususnya tarekat Wujudiyah Mulhid yang telah banyak membawa kesesatan di Aceh. Untuk mencegah apa yang diperingatkannya itu Syaikh Abdul Samad menulis intisari dua kitab karangan Imam al-Ghazali, ulama dan ahli filsafat abad pertengahan yaitu Kitab Ihya ‘Ulumuddin dan Kitab Bidayat al-Bidayah.

Keteladanan lain dari sosok Syaikh Syamsuddin adalah memiliki keteguhan dalam berprinsip. Ia sangat membenci penjajah Belanda karena telah menguasai sepenuhnya kerajaan Islam dan para sultan tidak memiliki kuasa untuk mempertahankan wilayahnya. Ia memutuskan untuk merangkul otoritas politik dengan memberi spirit jihad kepada para penguasa dengan mengirimkan surat kepada Pangeran Pakunegara yang disertai dengan jimat berupa panji-panji. Substansi surat itu berisi motivasi pada penguasa Jawa agar jangan takut harus gugur karena dalam Jihad, karena ganjaran yang diterima ialah surga. Motivasi Jihad ini ia tulis berupa buku yang berjudul Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mukminin fi fadhail Jihadi si Sabilillah wa Karamatul Mujtahidin fi Sabilillah.

Related posts