Sosiologi Sebagai Ilmu yang Berparadigma Ganda | Paradigma Fakta Sosial |
Paradigma Sosial
Paradigma Fakta Sosial
Paradigma fakta sosial dipengaruhi oleh para sosiolog seperti Emile Durkheim, Karl Marx, Talcott Parsons dan masih banyak lagi. Menurut paradigma ini, fokus kajian sosiologi adalah fakta sosial, baik dalam bentuk bendawi (ragawi, material) maupun tidak berbenda (non-material) seperti ide ataupun gagasan. Berdasarkan paradigma ini norma, aturan, pemerintahan, peran sosial, status sosial, kelas sosial merupakan fakta sosial.
Berbagai teori sosiologi lahir dari paradigma ini seperti teori fungsionalisme struktural, teori konflik, teori sistem dan teori sosiologi makro. Salah satu contoh pendekatan dengan paradigma fakta sosial adalah perilaku individu dibentuk dan dikendalikan oleh berbagai norma dan aturan sosial.
Paradigma Definisi sosial
Paradigma definisi sosial dipengaruhi oleh para sosiolog seperti Max Weber, George Herbert Mead, Herbert Blumer dan masih banyak lagi. Beberapa teori utama yang lahir dari paradigma ini adalah interaksionisme simbolik, tindakan sosial dan fenomenologi. Paradigma definisi sosial menurut Max Weber, berusaha memahami dan menafsirkan mengapa individu melakukan tindakan sosial dan makna dari tindakan tersebut. Selanjutnya interaksionisme simbolik adalah teori yang dikembangkan oleh George Herbert Mead pada tahun 1863-1931. Teori interaksionisme simbolik menjelaskan tentang makna dan simbol dalam interaksi sosial yang dilekatkan individu pada lingkungannya. Dalam melakukan tindakan sosial, individu memiliki berbagai motif yang dilakukan berdasarkan keyakinan individu sebagai bagian dari pemaknaan individu atas situasi dan kondisi suatu masyarakat. Sebagai contoh, kalian memakai pakaian, jaket, sepatu, atau aksesoris lainnya yang menunjukkan suatu merek tertentu ketika bermain dengan teman. Hal ini menunjukkan bahwa kalian memiliki motivasi tertentu ketika memakai barang bermerek, misalnya bermaksud menunjukkan simbol, status sosial, dan selalu mengikuti tren yang kekinian.
Fenomenologi sebagai salah satu teori dalam paradigma ini menjelaskan bagaimana individu membangun makna dan konsep ketika individu berhubungan dengan individu lain. Berdasarkan teori ini, individu memaknai pengalamannya dan mencoba memahami dunia berdasarkan pengalamannya. Teori ini banyak dikembangkan oleh para sosiolog seperti Edmund Husserl, Alfred Schutz dan Peter. L Berger dan masih banyak lagi. Sebagai salah satu metode penelitian, fenomenologi bertujuan untuk mendapatkan data berdasarkan pengalaman-pengalaman individu dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagai contoh penerapan fenomenologi dalam menganalisis gejala sosial adalah; kalian melakukan penelitian tentang adanya pengalaman kelompok minoritas yang mendapatkan diskriminasi sosial.
Penekanan utama dari paradigma definisi sosial adalah individu sebagai subjek dan memahami dari sudut pandang subjek. Bagi penganut paradigma definisi sosial, subjek masih punya kesempatan untuk berkreasi dan otonom. Individu tidak dipandang sebagai subjek yang selalu dikontrol sepenuhnya oleh norma dan aturan sosial. Hal inilah yang membedakan dengan paradigma fakta sosial yang selalu menekankan norma dan aturan sosial yang dianggap mampu menguasai individu ketika hidup bermasyarakat.
Paradigma Perilaku sosial
Berbeda dari dua paradigma sebelumnya, paradigma perilaku sosial menekankan kajiannya pada proses individu dalam melakukan hubungan sosial di lingkungannya. Cara individu beradaptasi dalam proses interaksi sehingga memengaruhi perilaku sosial menjadi penekanan pada paradigma ini. Paradigma perilaku sosial dipengaruhi oleh sosiolog B. F Skiner, George Hoffman dan masih banyak lagi. Terdapat dua teori yang berpengaruh pada paradigma ini yaitu teori perilaku sosiologi dan teori exchange (pertukaran).
Menurut Skiner, manusia bergerak dan berperilaku sebagai reaksi atas rangsangan dari lingkungannya. Rangsangan akan memengaruhi perilaku individu. Sebagai contoh, dalam teori perilaku sosiologi, seorang pelajar belajar dengan giat demi mendapatkan nilai terbaik dan mendapatkan pengakuan sosial atas prestasi akademiknya. Sistem reward (penghargaan), hukuman (punishment) dan konsekuensi sosial memengaruhi perilaku sosial individu. Berdasarkan paradigma ini, individu bukan manusia yang bebas. Individu berperilaku tertentu disebabkan menyesuaikan dan merespon lingkungan sosialnya.
Baca Kumpulan: Rangkuman IPS Kelas 10 SMA

