Shirath, Pengertian, Dalil, Golongan dan Pendapat Ulama

Shirath, Pengertian, Dalil, Golongan dan Pendapat Ulama

Shirath | Pengertian Shirath | Dalil Tentang Shirath | Golongan yang Melewati Shirath  | Pendapat Para Ulama Tentang Shirath |

Pengertian Shirath

Shirath adalah jembatan lebar yang terbentang di atas neraka Jahannam dan dilewati oleh manusia dan jin. Salah satu ujungnya berada di bumi yang telah diganti oleh Allah (al Ardl al Mubaddalah) dan ujung yang lain berada di suatu tempat dekat surga.

Dalil Tentang Shirath

Al-Qur’an

Firman Allah : Artinya: “Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (melewatinya) (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan”. (QS. Maryam: 71).

Hadis

Rasulullah Saw bersabda : “Dan dibentangkanlah jembatan Jahannam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada saat itu: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. Pada shirath itu, terdapat pengait-pengait seperti duri pohon sa’dan. Pernahkah kalian melihatnya?” Para Sahabat menjawab, “Pernah, wahai Rasulullah. Maka ia seperti duri pohon sa’dan, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah. Maka ia mengait manusia sesuai dengan amalan mereka”. (HR. al-Bukhari).

Golongan yang Melewati Shirath

Para ulama menjelaskan orang-orang yang melewati shirath ada beberapa golongan, di antaranya yaitu:

  • Ada yang melewatinya lalu masuk ke neraka (wurud dukhûl). Mereka adalah orang-orang kafir dan sebagian pelaku dosa di antara kaum muslimin, yakni mereka terpeleset dari shirath ke neraka Jahannam.
  • Ada yang mendatangi shirath dengan melewatinya di atas udara shirath (wurud murur). Dan mereka ini juga ada beberapa macam, yaitu:
  • Ada yang melewatinya seperti kilat yang menyambar.
  • Ada yang melewatinya secepat kedipan mata.
  • Ada yang melewatinya secepat hembusan angin.
  • Ada yang melewatinya secepat larinya hewan kuda.
  • Ada yang melewatinya secepat orang naik kendaraan.
  • Ada yang melewatinya seperti orang lari kencang.
  • Ada yang melewatinya seperti orang berjalan.
  • Ada yang melewatinya dengan merangkak.

Pendapat Para Ulama Tentang Shirath

kalam tentang shirath Para ulama kalam berbeda pendapat tentang shirath. Ahlus Sunnah berpendapat bahwa jembatan shirath benar adanya berdasarkan nash al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Adapun kelompok yang mengingkari shirath adalah Jahamiyah, pengikut Jahm ibn Sufwan, mereka tidak percaya tentang perkara yang gaib di antaranya shirath

Di samping itu, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa shirath tersebut lebih halus dari pada rambut, lebih tajam dari pada pedang dan lebih panas dari pada bara api, licin dan mengelincirkan. Hal ini berdasarkan pada beberapa riwayat, baik yang disandarkan langsung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun kepada para sahabat tetapi dihukumi marfû’. Sebab, para sahabat tidak mungkin mengatakannya dengan dasar ijtihad pribadi mereka tentang suatu perkara yang ghaib, melainkan hal tersebut telah mereka dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah riwayat dari sahabat Abu Sa’id al Khudri: : “Telah sampai kepadaku bahwa shirath lebih tipis dari pada sehelai rambut dan lebih tajam dari pada pedang”. (HR. Muslim).

Para ulama menjelaskan bahwa maksud dari riwayat di atas atau semacamnya, bukan berarti kenyataannya memang lebih tipis dari pada sehelai rambut dan lebih tajam dari pada pedang. Akan tetapi maksudnya adalah bahaya melewati jembatan shirath itu sangat besar, tergantung amal ibadah seseorang. Karena mudah dan sulitnya melewati shirath itu tergantung pada kadar ketaatan dan maksiat seseorang dan tidak ada yang mengetahui perihal tersebut kecuali Allah. Sebagaimana dalam hadits yang shahih ditegaskan: “bahwa amal perbuatan mereka menjadi sarana (melewati shirath).

Related posts