Sejarah Desa Tulungrejo | Asal Usul Desa Tulungrejo | Profil Desa Tulungrejo | Kabupaten Tulungagung |
Sejarah Desa Tulungrejo Kabupaten Tulungagung (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap
Desa Tulungrejo dimulai dari asal mula tahun 1910 sejak zaman penjajah Belanda, tidak banyak sumber yang menjelaskan asal mula terbentuknya Desa Tulungrejo karena kebanyakan sudah meninggal dunia, kalaupun masih ada daya ingatannya sangat lemah. Wilayah yang sekarang bernama Tulungrejo pada mulanya bernama Jebuk, karna saat itu banyak pohon Jebuk (sejenis pinang) yang merupakan sebuah dusun merupakan bagian dari desa Punjul yang saat itu dari Punjul yang dipimpin oleh Uceng Dusun yang bernama Sumorejo, Jebuk memisahkan diri dari Punjul dan Uceng saat Sumorejo oleh masyarakat diangkat menjadi demang atau lurah.
Jebuk terkenal dengan tanahnya yang cukup luas, sangat subur dan merupakan sumber pangan pada saat itu banyak orang mencari kehidupan di Jebuk baik kayu untuk dijual, mencari pakan ternak maupun bahan makan, sehingga Jebuk terkenal diberbagai desa dan sekitarnya yang dapat memberi kehidupan atau tetulung ke desa-desa sekitarnya yang sangat kesulitan bahan makan, Jebuk yang terkenal dengan kondisi yang memberi pertolongan (tulung dalam bahasa jawa), akhirnya terkenal sebutannya menjadi Tulungrejo sampai sekarang, sedangkan Jebuk sudah tidak pernah terdengar lagi.
Kabupaten Tulungagung banyak menyimpan situs-situs purbakala yang hingga kini dikelola relatif dengan baik. Salah satunya adalah situs Tulungrejo di Desa Tulungrejo Kecamatan Karangrejo. Situs Tulungrejo dibagi menjadi dua. Situs yang pertama dikenal sebagai Reco Manten berada di lereng Gunung Wilis. Situs Reco Manten berupa sebuah yoni Naga Raja yang terbuat dari batu andesit yang ukuranya cukup besar yaitu tinggi 85cm, panjang dan lebar 115cm dan batu bata kuno yang berserakan. Yoni tersebut memiliki dua Cerat yaitu Cera Naga yang menghadap ketimur dan Cerat Gana yang menghadap ke utara dengan memegang bintang di atas kepala. Arca tersebut milirik kesegala arah. Mulai dari itulah asal muasal Reco Manten.
Situs Tulungrejo yang kedua terletak di Desa Tulungrejo Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung, atau lebih tepatnya berjarak kira-kira 700m dari situs Tulungrejo yang pertama. Masyarakat menyebut situs ini dengan nama Reco Guru. Dahulu disitus ini terdapat arca Wahito atau Suhita, dewi kecantikan, sayangnya arca tersebut sudah diboyong ke Belanda. Yang tersisa saat ini adalah satu buah yoni yang terbuat dari batu andesit dengan ukiran naga atau yoni naga raja dengan tinggi 65cm, panjang dan lebar 75cm. satu buah lagi yoni yang terbuat dari batu andesit tapi tanpa ukiran dengan panjang dan lebar 75cm, tinggi 65cm, serta 8 buah umpak disitus ini juga ditemukan tumpukan batu bata kuno. Sebagian dari batu batu tersebut ditata dan dijadikan alas untuk yoni. Dilihat dri strukturnya, diperkirakan situs ini adalah bagian dari sebuah candi pada masa dahulu.
Meskipun hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan dan siapa yang membangun kedua situs ini, masyarakat setempat memiliki kesadaran untuk menjaga keberadaannya. Beberapa warga bahkan masih melangsungkan ritual dilokasi situs diwaktu-waktu tertentu. Melihat keberadaanya sebagai penanda sejarah khususnya bagi warga Tulungrejo dan kecamatan Karangrejo. Situs ini patut dilestarikan, kedua situs juga berpotensi menjadi situs wisata purbakala






